
WARNING : Part ini bisa menyebabkan mual dan muntah pelangi 😵
Flasback ON
Indah menghampiri Jhon yang tengah berada di ruangannya, wajah pria itu begitu muram bahkan tampak memijat-mijat keningnya.
"Honey..." Sapa Indah lembut.
"Iya, kenapa sayang? apa kamu masih gak enak badan?"
"I-iya, aku izin pulang ya."
"Aku antar."
"Tidak perlu, aku sudah pesan taksi, kan kamu masih banyak kerjaan."
"Ya sudah, hati-hati nanti pulang kerja aku kesana."
Jhon membelai lembut rambut Indah dan mengecupnya, wajah wanita itu tampak pucat dan terlihat banyak pikiran.
Setelah izin dengan Jhon, Indah kembali ke apartemen yang ia tinggali, tak lupa ia pergi ke apotek untuk membeli beberapa buah alat tes kehamilan.
Pikirannya terus melayang kemana-mana, ia sungguh takut jika dugaannya semua benar. Sesampainya di Apartment, ia segera masuk ke dalam toilet untuk mengetes urine miliknya. Perasaannya begitu tidak karuan, perlahan ia mencoba satu persatu testpack yang telah ia beli.
Deg!
Jantungnya seolah berhenti berdetak, tubuhnya gemetar melihat 2 buah garis merah yang menandakan ia positif hamil.
Air matanya tidak dapat terbendung lagi, ia memastikan sekali lagi semua tes kehamilan yang telah ia gunakan dan semua menunjukkan hasil yang sama.
"Mih...maafin Indah Mih, Indah harus apa!" Rintih Indah dalam tangisnya, ia memeluk erat perutnya yang kini telah tertanam benih dari kekasihnya.
Berjam-jam ia larut dalam kesedihannya, ia berkali-kali mencoba menghubungi Jhon namun ponselnya tidak dapat di hubungi hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke apartemen sahabatnya, walaupun sesungguhnya ia sangat malu dan berdosa pada Mikha.
Flasback Off
......................
Indah menangis tersedu-sedu di pelukan sahabatnya, Mikha membawa Indah masuk lalu menyuguhkan segelas air untuk menenangkan Sahabatnya.
"G-gue minta maaf Kha."
"Sudahlah, Ndah. semuanya udah terjadi!" Ucap Mikha yang sedikit merasa kesal dengan kebodohan Indah.
"G-gue takut bilang sama mamih, mamih dan papih pasti kecewa dan marah sama gue."
Max yang penasaran menghampiri Indah dan Mikha, wajah pria itu tampak bingung melihat wajah Indah yang begitu sembab dan menangis di pelukan istrinya.
"Sayang, Indah kenapa?"
"Gara-gara kakakmu!" Ucap Mikha ketus, Max hanya menggaruk tengkuknya melihat jawaban istrinya yang terlihat kesal.
"Kakakku? Jhon?"
"Iyalah, emang kakakmu ada berapa!"
"Kenapa dengan Jhon?"
"Ia sudah menghamili Indah!"
"What!!!"
Kedua mata Max terbelalak, ia nyaris tak percaya kakaknya yang ia kenal begitu pengecut terhadap wanita bisa berubah menjadi begitu nakal dan agresif.
Maxim langsung beranjak mengambil kunci mobil miliknya.
"Sayang, kamu jaga Indah dulu sebentar!" Ucap Max sambil memakai jaket dan langsung melangkah keluar.
Max melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera menemui Jhon untuk membahas dan menuntut pertanggung jawaban prihal masalah kehamilan Indah.
"Max, tumben kesini." ucap Jhon kala melihat adiknya datang tiba-tiba dan masuk tanpa izin.
"Ikut aku!"
"Ada apa? aku banyak pekerjaan, nanti saja pulang kerja."
"Tidak bisa Jhon, ini masalah Indah!"
"Indah? Indah Kenapa?"
"Kau sudah membuatnya hamil, sekarang dia ada di rumahku!"
"Apa? I-Indah hamil? Indah hamil anakku! Ayo cepat aku ingin bertemu dengannya."
Jhon terkejut mendengar ucapan adiknya, tampak senyuman tersungging di bibirnya pria berusia 36 tahun itu, Jhon lekas membawa tas kerja miliknya lalu bergegas keluar ruangannya.
......................
"Mih, kau kenapa?" Tanya Pak Arjun yang bingung melihat tingkah istrinya.
"Aku kepikiran Indah Pih, perasaan aku tiba-tiba gak enak."
"Coba telepon saja."
Ibu Vera mencoba menelpon putrinya namun Indah tak kunjung mengangkat panggilan telepon dari ibunya.
"Gak di angkat Pih."
"Ya mungkin dia lagi kerja, di sana kan waktu masih siang Mih. Kalau besok pagi Indah belum ada kabar baru kita menyusul kesana, atau coba mamih telepon Mikha dulu!"
"Oh iya, mamih lupa!"
.....................
Di Apartemen Maxim, Mikha masih terus menerus memeluk sahabatnya. Sebisa mungkin ia memenangkan hati Indah walau dirinya sendri bingung harus berbuat apa, berkali-kali ponsel milik Indah berdering namun gadis itu enggan mengangkat panggilan masuk dari Ibunya.
Drttt...
Kini ponsel milik Mikha yang berdering, lagi-lagi Bu Vera yang menghubunginya lalu ia segera mengangkatnya.
📱"Assalamualaikum Hallo Mikha, tante mau minta tolong nih."
📱"Waalaikumsalam, iya Tan, ada apa?"
📱"perasaan Tante gak enak nih, Indah di telepon gak di angkat. Bisa tolong pastiin kondisi Indah gak? tante takut ia kenapa-kenapa."
📱"I-iya Tante, aku telepon kantornya dulu ya nanti aku kabari Tante.
📱" Makasih banyak ya Nak, maaf Tante sudah ngerepotin."
Panggilan berakhir, Mikha nampak merasa lega walaupun ia merasa tidak enak hati telah membohongi ibu Vera.
"Maafin gue Kha, udah ngerepotin lu." Ucap Indah sendu.
"Hemmmm"
Tak lama pintu terbuka, tampak Maxim kembali membawa serta Jhon di belakangnya.
Jhon segera menghampiri Indah dan memeluknya, berbanding terbalik dengan Indah raut wajah pria itu nampak berseri-seri.
"Honey kamu hamil?" Ucap Jhon menatap lekat wajah Indah, gadis itu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jhon. John kembali memeluk Indah dengan senyuman yang semakin mengembang sedangkan Maxim dan Mikha hanya berdengus kesal dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Jhon.
"Kak, aku tau kau senang tapi kau harus sadar adat istiadat Indah itu seperti apa. Sungguh aib bagi seorang gadis lajang karena hamil di luar nikah." Ucap Max menyadarkan Kakaknya.
"Kak Jhon, segeralah menikahi Indah dan jelaskan semua pada orang tuanya. Kalian sudah melakukan hal sejauh ini, kalian berdua harus berani mempertanggung jawabkan semuanya!" Sambung Max.
Pikiran Jhon melayang kemana-mana, ia ingin sekali menikahi kekasihnya namun kehadiran Rhine membuatnya berpikir dua kali untuk menikahi Indah. Jhon tidak ingin jika kejadian buruk yang menimpa mendiang istrinya kembali terulang pada Indah, bagaimanapun ia tahu bahwa Rhine adalah wanita licik.
"Menikah? aku gak bisa menikah secepat ini."
Kedua mata Indah terbelalak mendengar jawaban dari Jhon, tubuhnya bergetar menahan gejolak emosi yang tengah memenuhi hatinya.
PLAK!!!
"Kamu jahat Jhon! kau bilang mau menikahiku tapi setelah aku mengandung anakmu, kau jadi seperti ini. Aku benci padamu, Jhon!"
"T-tunggu sayang, dengarkan penjelasanku dulu!"
Indah menampar wajah Jhon dan berlari pergi, Jhon tampak panik seketika mengejar kekasihnya sedangkan Mikha hanya mampu memandang dan memijat-mijat keningnya.
"Astagfirullah, drama apa lagi ini!" Ujar Mikha yang tampak pusing.
"Serasa nonton sinetron ku menangis ya yank!" Celetuk Maxim asal bicara yang membuat Mikha mencubit perut suaminya.
"Sono bantu kejar, malah ngelawak!"
"ah...percaya deh 15 menit kemudian mereka baikan!" Ucap Max malas.
"Maxim Andreas Larry! kau benar-benar mau tidur di luar ya!" titah Mikha menatap tajam suaminya.
"O-oke, aku kejarrrr duluuu"
Dengan terpaksa Maxim menuruti keinginan istrinya, walaupun ia sudah menduga kalau pasangan bucin itu pasti sudah berbaikan saat ia melihatnya.
Max mencari hingga di tepian jalan raya, matanya tertuju pada sepasang makhluk yang tengah berpelukan.
"Tuh kan! apa gue bilang, dah lah males!"