
Maxim terlihat berlari menuju apartemen miliknya, ia mencari keberadaan Mikha namun tak kunjung menemukannya.
"Mikha, kamu di mana sayang!?" Teriak Max hingga mengisi penuh seluruh ruangan.
Ia segera mengambil ponsel di saku celananya namun nomer telepon Mikha sama sekali tidak dapat di hubungi.
"Mikha! Jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu!" Teriak Max yang mulai panik, terlebih ia mendapati baju-baju milik sang istri sudah tidak ada di dalam lemari.
"Hahahaha, percuma! Kau teriak hingga pita suaramu putus pun wanita itu takkan pernah kembali lagi! hahaha"
Suara misterius tiba-tiba muncul dan membuat Max terlihat semakin frustasi. Ia mencari sumber suara tersebut namun tidak menemukan apa-apa.
Kedua manik mata berwarna biru pria itu mulai memanas, hingga menitikan air mata yang begitu saja keluar seiring dengan rasa takut yang semakin besar akan kehilangan sang istri.
"Mikha!!!"
Kedua mata Max terbuka, pria itu nampak baru saja terbangun dari mimpi buruknya dengan nafas terengah-engah. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Max, kenapa sayang?" tanya Mikha yang baru saja terusik dari tidurnya akibat pekikan sang suami.
Max tampak langsung memeluk erat tubuh polos sang istri, yang hanya tertutup selimut yang sama dengan yang ia kenakan.
"Kenapa sayang? mimpi buruk?" Tanya Mikha yang menatap intens wajah sang suami.
"Jangan pernah meninggalkanku ya sayang, aku mimpi kau pergi dan aku takut sekali." Ucap pria itu sendu.
Mikha mengecup bibir dan memeluk balik Maxim, ia tampak membenamkan kepalanya pada dada sang suami yang ditumbuhi bulu halus kecoklatan.
"Aku gak akan kemana-mana sayang, kamu itu terlalu banyak bantu kak Jhon mencari Indah sampai ketakutan sendiri. Selama kamu gak aneh-aneh aku gak akan kemana-mana." Ucap Mikha menenangkan sang suami.
Max mengecup pucuk kepala Istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu menenangkan baginya.
"Aku gak bisa membayangkan hidupku tanpamu."
Mikha hanya mengulas senyuman kala mendengar perkataan sang suami, Max mengelus lembut perut istrinya yang semakin lama terlihat semakin membesar.
Dug!
"Hei, Baby twin juga terbangun ya sayang? kasian mama kalau kalian menendang terlalu kencang." Max tampak berbicara pada sang buah hati yang tengah aktif menendang-nendang dari dalam rahim sang istri.
Setidaknya gerakan-gerakan yang di lakukan oleh sang jabang bayi, membuat pria blonde itu melupakan mimpi buruknya yang begitu mengerikan.
......................
Di tempat lain terlihat pria berwajah oriental tengah berdiri mematung memandangi London Bridge yang menjadi salah satu ciri khas kota tersebut, kota di mana ia pertama kali bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
Dengan sebuah koper yang cukup besar di sisi kanannya, Tuan Chandra Wang nampaknya tengah menikmati detik-detik terakhir ia berada di kota tersebut sebelum akhirnya kembali ke Negeri Tirai Bambu.
"Chandra..." Sapa seorang gadis yang ternyata adalah Seul ye, tunangannya.
Gadis itu perlahan mendekati Chandra Wang dan menatap lekat manik hitam pria itu.
"Jika kau masih mencintainya, kejarlah dia. Aku gak apa-apa, aku rela asalkan kau menemukan kebahagiaanmu." Ucap Gadis itu tertunduk lirih.
"我很爱你虽然你不爱我 ( wo hen ai ni suiran ni bu ai wo)." sambung Seul ye lirih, gadis itu nampak menundukan kepalanya.
*Aku sangat mencintaimu walaupun kau tidak mencintaiku.
"Seul ye, 爱本来就不简单 (ai benlai jiu bu jiandan). Ayo berjuang bersamaku, aku akan berusaha mencintaimu." Ucap Tuan Wang tersenyum simpul dan membentangkan Kedua tangannya.
*Cinta itu tidak mudah.
Seul ye tampak terperangah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Tuan Chandra Wang, gadis itu segera berhambur dan memeluk Tuan Chandra Wang.
"Aku gak akan pernah menyia-nyiakan gadis baik seperti dirimu, mohon bersabarlah sayang." Ucap Tuan Wang lirih dan mengecup kepala Seul ye yang tengah berada di pelukannya.
......................
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah sebulan lebih berlalu namun Indah tak kunjung memberikan kabar.
Mikha dan Dilla terlihat sedang berbincang di sebuah restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan, sedangkan suami-suami mereka sedang menghadiri acara jumpa fans di mall tersebut.
Mereka tampak serius membicarakan Indah yang bagai hilang bak ditelan bumi.
Hingga tiba-tiba ponsel milik Mikha berdering dan menunjukkan sebuah panggilan masuk dari nomer tak di kenal berkode +62.
"Hallo" Sapa Mikha memulai pembicaraan.
"Kha, ini gue." Ucap seseorang di panggilan telepon tersebut dengan suara yang sangat begitu familiar di telinga Mikha.
"INDAH!!!" pekik Mikha yang berhasil membuat Dilla juga terkejut.
Indah menceritakan semua kepulangannya ke kampung halaman sang ayah di pulau Kalimantan, ia juga meminta maaf karena baru mengabari kedua sahabatnya. Namun sungguh di sayangkan, ia masih menutupi identitas aslinya pada Mikha dan Dilla.
"Ndah, lu bener-bener gak mau rujuk sama kak Jhon? udah sebulan dia masih terus mencari Lo, jujur terkadang gue kasihan melihatnya." Ucap Mikha mencoba membujuk Indah.
"Enggak, gue sama sekali gak mau rujuk sama dia. Hati gue udah terlanjur sakit, Kha" Ucap Indah sungguh-sungguh.
Tak lama Mikha melihat Sang suami dan kedua sahabatnya berjalan menuju ke arahnya, Mikha seketika harus terpaksa mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Telepon dari siapa, yank?" Tanya Max yang baru saja datang lalu mengecup kening istrinya.
"E-emm R-Rika." Jawab Mikha gugup.
"Bagaimana? Apa dia mau kuliah disini?" Tanya Max tanpa rasa curiga.
"Emmm... D-dia masih memikirkannya, katanya mau coba tes SPMB dulu di UGM." Jawab Mikha, beruntung sebelum pergi ia sempat menelpon sang adik yang baru saja mengumumkan nilai hasil kelulusannya yang begitu memuaskan.
Kini Max dan Mikha berpisah dengan para sahabarnya, Mereka nampak antusias membeli perlengkapan bayi, dimulai dari baju hingga ranjang bayi, mengingat usia kandungan Mikha yang semakin membesar.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata memandang tajam mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.
"Sial! karena mereka, aku di kebiri kimia oleh si monster itu. Lalu sekarang mereka berbahagia di atas penderitaanku! Gak akan aku biarkan, jika aku memang tidak bisa memilikimu maka aku akan menghancurkan hidupmu, Maxim Andreas Larry!" Seru seorang pria yang bernama Jesson dengan tangan yang mengepal erat.
......................
Hari itu bertepatan dengan ulang tahun Mikha ke 24 yang merupakan ulang tahun pertamanya, merayakan bersama Maxim.
Max menggiring sang istri menuju balkon di unit Apartemen miliknya, Pria itu sudah mendekor sedemikian rupa dengan menyuguhkan makanan hasil masakannya sendiri.
"Surprise! Happy Birthday to you Sayangku."
Pekik Max yang kemudian mengecup kening istrinya.
"Ayo sayang, jangan takut! Ini bunga imitasi kok, tapi cintaku padamu asli bukan sebuah kepalsuan." Ucap Max menggoda istrinya.
Mikha tampak terkekeh dengan gombalan renyah sang suami, terlebih saat ia melihat 3 potong Sandwich yang tersaji di meja tersebut.
"Sandwich?" tanya Mikha nampak memicingkan matanya.
"Bukankah cinta kita berawal dari 3 potong Sandwich lalu turun ke hati?" Jawab Max yang kemudian bersimpuh dihadapan sang istri dengan membawa sebuah kotak beludru berwarna merah.
"Hadiah untukmu sayang, dan juga untuk anak kita jika salah satu dari mereka ada yang perempuan." Ucap Max, menunjukan 2 buah kalung emas putih berliontin hati yang terukir nama Max & Mikha.
"Untuk si Jagoan, kamu kasih apa?" Tanya Mikha kembali.
"Jam tangan yang sama seperti yang aku kenakan, tentu dengan nama kita berdua terukir di belakangnya." Jawab Max dengan percaya dirinya.
"Lalu jika ternyata dua-duanya laki-laki, bagaimana?" Tanya Mikha kembali, yang berhasil membuat Max sedikit pusing.
Max menatap erat kedua manik netra sang istri, lalu mencubit gemas kedua pipi milik Mikha.
"Tinggal pesan satu lagi sayang, aduh kamu ini bawel banget kalau menyangkut baby twin." Ucap Max yang kemudian memasangkan salah satu kalung tersebut di leher Mikha.
Tak lama alunan musik menyala otomatis, Max nampak mengajak sang istri berdansa di iringi lagu nan romantis.
Endless Love - Diana Ross and Lionel Richie
My love, there's only you in my life
The only thing that's right
My first love
You're every breath that I take
You're every step I make
And I, I want to share
All my love with you
No one else will do
And your eyes, your eyes, your eyes
They tell me how much you care
Ooh, yes
You will always be
My endless love
Two hearts
Two hearts that beat as one
Our lives have just begun
Forever (oh)
I'll hold you close in my arms
I can't resist your charms
And love, oh love
I'll be a fool for you I'm sure
You know I don't mind (oh)
You know I don't mind
'Cause you
You mean the would to me (oh)
I know, I know
I've found, I've found in you
My endless love
Max perlahan mengangkat dagu sang istri, dan mengecup bibirnya perlahan lalu ia menempelkan keningnya pada kening Mikha. Max terlihat begitu menikmati kebersamaannya bersama kekasih halalnya, wanita yang begitu di cintainya.
Hingga waktu tak terasa begitu cepat berlalu, tiba-tiba ponsel milik Max berdering.
Max segera mengangkat panggilan telpon tersebut dan seketika raut wajah pria blonde itu berubah 180 derajat.
"Ada apa, Max?"Tanya Mikha yang mulai khawatir melihat ekspresi wajah sang suami.
"Kak Jhon, kecelakaan."
^^^Bersambung...^^^
......................