Oh My Mister

Oh My Mister
Tentang Cinta



Rika tampak bergeming, gadis berusia 21 tahun itu nampak masih mencerna kejadian yang baru saja menimpanya. Sementara Ryan hanya tersenyum dan lekas menarik tangan Rika,


"Tunggu aku! Aku ganti baju dulu ya, bee," tuturnya lembut dengan panggilan sayang di akhir kalimatnya, membuat Rika semakin mematung karena otak cerdasnya yang tiba-tiba terasa blank.


Tak butuh waktu lama, pria berwajah oriental itu kembali dan segera menarik tangan Rika yang masih terlihat bodoh mendadak.


Ryan membukakan pintu mobil untuk Rika lalu dia memutar dan membuka pintu kemudi untuknya.


Sejenak ia melirik Rika yang masih tetap diam dalam lamunannya, hingga dia memutuskan untuk memasangkan sabuk pengaman gadis itu.


"Ya Tuhan, apa lagi ini?" rintihnya dalam hati, kala Ryan berjarak begitu dekat dengannya.


Gadis manis itu nampak menelan salivanya kasar dan menahan napasnya.


Jantungnya begitu berpacu dengan cepat, merasakan perasaan yang begitu asing baginya.


Sepanjang perjalanan ia hanya terdiam, Rika benar-benar merasa bodoh. Otaknya terus saja mengulang kejadian saat Ryan mengecup bibirnya, ingin rasanya ia belari dan menutupi wajahnya karena malu.


Ryan memarkirkan mobilnya di suatu restoran Indonesia, ia tahu bahwa gadisnya pasti sangat rindu masakan dari tanah kelahirannya.


You know all the things I've said


Kau tahu semua yang tlah kukatakan


You know all the things that we have done


Kau tahu semua yang tlah kita lakukan


And things I gave to you


Dan semua yang tlah kuberikan padamu


There's a chance for me to say


Ada kemungkinan untukku katakan


How precious you are in my life


Betapa berharganya dirimu di hidupku


And you know that it's true


Dan kau tahu yang kukatakan ini bukan buatan


To be with you is all that I need


Bersamamu, hanya itu yang ku mau


'Cause with you


Karena denganmu


My life seems brighter 


Hidupku terasa lebih cerah


And these are all the things


Dan inilah


I wanna say...


Yang ingin kukatakan


I Will fly into your arms


Aku kan terbang ke dalam pelukmu


And be with you


Dan bersamamu


Till the end of time


Hingga akhir waktu


Why are you so far away


Mengapa kau begitu jauh


You know it's very hard for me


Kau tahu sangat sulit bagiku


To get myself close to you


Tuk mendekat padamu


^^^Ten2Five-I Will Fly^^^


Alunan musik terdengar dari panggung mini yang berada di sudut restoran, Ryan menarik sebuah kursi yang akan di duduki Rika lalu ia beralih dan duduk pada kursi tepat di hadapan Rika.



"Bakso saja," jawabnya.


"Oke, minumnya apa?" tanya Ryan kembali.


"Es teh manis anget," jawabnya cepat yang berhasil membuat Ryan tertawa terbahak-bahak. Ryan mencubit hidung Rika dengan tawa yang belum reda, "Hei, kamu ini dari tadi memikirkan apa sih? hahahaha," tanyanya.


Rika tersentak dan nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menyengir layaknya kuda, "He he he kenapa Kak, ada apa?" tanyanya kembali yang membuatnya terlihat semakin bodoh.


......................


Max nampak membuka matanya, pandangan pria itu beralih pada istrinya yang tengah tertidur di kursi samping ranjang rawatnya. Perlahan pria itu membelai lembut pucuk kepala sang istri dengan perlahan.


Pria berkulit putih itu merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, berkali-kali ia mencoba menggerakan kakinya namun tak kunjung bisa. Pikirannya tersentak, ia sangat takut jika dugaannya benar adanya.


Max berusaha keras menggerakkan jemari kakinya namun tetap tidak bisa, hingga pada akhirnya Mikha terbangun dan melihat kedua netra sang suami sudah nampak memerah.


"Sayang, kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya lembut, menatap sang suami.


"Mikha kenapa dengan kakiku? Kenapa tidak terasa apa-apa dan tidak dapat di gerakkan?" tanya Max yang nampak panik, pria itu terus berusaha menggerakkan kakinya walaupun tubuhnya masih sangat lemah.


Mikha hanya terdiam, ia sangat takut jika kondisi Max akan kembali drop setelah mengetahui kondisinya.


Sedangkan Max kini menatap tajam pada sang istri,


"Mikha, apakah aku lumpuh?" tanyanya kembali dengan suara parau, setetes air mata begitu saja mengalir dari manik mata birunya. Kini ia benar-benar merasa tidak berguna menjadi seorang suami.


"Bagaimana aku menjagamu dan anak-anak kita, jika berjalan saja aku gak mampu? Aku hanya bisa menyusahkanmu," lirihnya yang kini memalingkan wajahnya dari istrinya.


Mikha menangkup wajah suaminya, ia berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis di hadapan sang suami.


"Maxim, look at me! Apapun keadaanmu, aku akan selalu bersamamu. Kamu jangan berpikir terlalu jauh,


I love you just the way you are," tutur Mikha dengan tegas meyakinkan Maxim.


"Ta-Tapi...," ucap Max lirih namun segera di sanggah oleh sang istri. "Max, sewaktu dulu aku sakit. Apakah kamu merasa terbebani?" ucap Mikha menatap dalam-dalam kedua netra suaminya.


Max tampak termenung, pikirannya kembali berputar mengingat kala sang istri mengidap komplikasi pasca sadar dari komanya hingga membuatnya tidak dapat melakukan apapun.


"Tidak, aku ikhlas merawatmu," jawab pria blonde bermanik mata biru itu.


Mikha tersenyum dan memeluk suaminya, "Begitu pula denganku. Max, kamu telah kembali di tengah-tengah keluarga kecil kita saja, aku sudah sangat sangat bersyukur. Masalah kaki kamu, kamu bisa melakukan terapi dan akan pulih perlahan. Aku sangat mencintaimu sayang, bagaimana pun keadaanmu," tuturnya dengan halus dan lembut hingga mampu menyentuh relung hati terdalam Maxim.


Mikha mengecup kening dan hidup mancung suaminya, lalu beralih pada bibir merah milik Maxim.


"Aku begitu beruntung memiliki istri sepertimu," ucap pria blonde itu. Ia berjanji akan berusaha keras untuk pulih, agar mampu melindungi keluarga kecilnya kembali.


......................


Sedangkan di sebuah gedung perkantoran, Marrie terlihat sibuk dengan berkas-berkas di mejanya. Gadis blonde itu selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya hingga nyaris setiap hari ia lembur bekerja.


Cklek


Pintu ruangan terbuka, tampak Jhon di balik pintu bdan berjalan menghampiri adik perempuannya.


"Marrie, mengapa kau mau lembur lagi?" tanya Jhon menyelidik, mengingat sikap dan sifat Marrie yang berubah belakangan ini.


Gadis itu terlihat lebih dingin dengan lawan jenis dan menutup dirinya, ia hanya terlihat hangat pada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Tidak nampak lagi Marrie yang manja, kini yang terlihat hanyalah sosok wanita yang gila kerja.


Jhon yang sebenarnya telah mengetahui permasalahan adiknya dari Istrinya hanya mampu mengulas senyuman tipis.


"Kejarlah cintamu jika itu bisa mengembalikan sosok adik kecilku yang manja," tutur Jhon yang membuat Marrie terperangah.


Gadis itu menatap sang kakak dengan mimik wajah bertanya-tanya, sedangkan Jhon mengacak-acak puncak kepala adiknya.


"Gak usah banyak tanya. Kau boleh cuti lama, mumpung aku lagi baik," tutur Jhon dengan tawanya yang masih terdengar.


......................


Hai pembacaku,


Karena dikit lagi Novel ini tamat, aku minta pendapatnya dong.


Please kalian bersuara...


Aku mau gantung kisah Rika dan Marrie disini, karena jika di lanjut akan jauh keluar dari konteks dan malah jadi ngalor ngidul. 😁


Rencananya aku mau bikin Novel baru sekuel kisah Rika dan Marrie tentu dengan sentuhan masalah yang berbeda dari novel ini, bagaimana menurut kalian? Setuju tidak?


Komentarnya aku tunggu ya,


Terima kasih


^^^Salam sayang, ^^^


^^^Author Kentang❤❤❤^^^