Oh My Mister

Oh My Mister
Penderitaan Jerry 2



Jerry tampak kesakitan kala adiknya yang belum sembuh sepenuhnya iri di paksa untuk bekerja, Dilla tampak panik seketika membantu sang suami untuk berjalan ke arah kamar yang paling dekat dengan dapur.


Perlahan ia membaringkan tubuh suaminya di atas ranjang dan dengan begitu sigap memberikan Jerry obat pereda nyeri yang telah di resepkan oleh dokter..


"Maaf ya, gara-gara aku mancing-mancing kamu malah jadi bikin kamu sakit lagi"


Ucap Dilla lirih, Jerry hanya tersenyum dan mencubit halus pipi istrinya.


"Pokoknya kalau aku udah sembuh, kita langsung honey moon! sabar ya paling setengah atau satu bulan lagi."


"H-honey m-moon? u-untuk Apa?" Tanya Dilla gugup, ia menahan malu menyadari apa yang baru saja terjadi antara ia dan Jerry.


"Pokoknya aku akan memberikanmu pelayanan ekstra spesial ! spesial dari yang spesial untuk orang yang paling spesial di hati dan hidupku, aku mencintaimu Dilla. Dulu aku memang pria b*rengs*k penjelajah wanita yang gak pernah mau terikat dengan sebuah pernikahan.


Namun setelah mengenalmu lebih lama aku sangat menginginkanmu, aku ingin selalu bersamamu seumur hidupku, membentuk sebuah keluarga bersama dirimu. Sungguh aku bersumpah tidak akan pernah macam-macam apalagi menduakanmu!"


Jerry menggenggam Kedua tangan Dilla lalu mengecupnya, wajah Dilla merona bagaikan tomat karena ulah suaminya. Ia segera beranjak untuk mengalihkan rasa malu dan gugupnya.


"A-Aku mau masak dulu!"


Ucap Dilla pergi meninggalkan Jerry, pria itu tersenyum melihat sikap istrinya yang menggemaskan baginya.


......................


Mikha tampak sibuk berkutat di dapur, aroma ayam goreng kremes yang begitu menyebar membuat perut siapapun menjadi lapar menuntut di isi.


"Hemm enak nih!"Ucap Max yang tiba-tiba muncul dan mengambil sepotong ayam yang masih tampak panas itu.


"Ih jangan di gadoin! kalau kamu makanin terus nanti kurang!" Pekik Mikha menepis tangan suaminya agar menjauh dari tumpukan ayam goreng yang begitu menggoda.


"Yankkk, boleh yaaa satuuuuuuuuuuu aja" pinta Max mengiba, wajah pria itu tampak begitu memelas minta di kasihani. Mikha menghela nafas kasar melihat suaminya yang memang begitu menyukai masakannya.


"Emang udah masukin baju ke koper? gak ada yang ketinggalan?" Ucap Mikha mengingatkan suaminya karena besok pagi mereka harus pergi ke Dublin untuk mengisi sebuah acara konser The Prince.


Max mengangguk dan tersenyum, lagi-lagi Mikha menahan tawa melihat Maxim yang sudah seperti anak kucing.


"ya sudah ambil, habis ini bantu aku masukin semua ke kotak makan. Cepatlah nanti Ryan keburu datang!"


......................


Kembali ke Apartemen milik pasangan rusuh itu, Jerry yang sudah merasa baik, menyusul istrinya yang sibuk mencuci sayuran dan buah-buahan di dapur.


"Aku bantu ya!" ucapnya mengambil sebuah spatula dan penjepit.



"Memangnya udah gak sakit?" tanya Dilla yang kini tampak memainkan ponselnya untuk mencari sebuah resep membuat pasta carbonara.


"Tidak, yuk kita mula!"


Jerry dan Dilla memulai aktivitasnya, menu yang seharusnya mudah di buat cukup membuat dapur mereka begitu berantakan.


Setelah berjuang susah payah akhirnya selesailah dua buah porsi pasta yang tidak enak di pandang.


Jerry dan Dilla nampak memandang masakan buatan mereka dan saling pandang satu sama lain.


"Jer, aku gak yakin ini layak di makan!" Ucap Dilla mengernyitkan dahinya.


"Jangan di lihat dari tampilannya sayang, ini makanan yang di buat dengan cinta, pasti enak!" Ucap Jerry ragu.



Dilla mengambil sebuah garpu dan mulai menyicipi buah karyanya.


Mimik wajahnya berubah drastis kala memasukan pasta tersebut ke dalam mulutnya.


"Asinnnnn, wekkkkk!"


Dilla bergegas meminum segelas air mineral, Sementara Jerry yang penasaran ikut menyicipi makanan yang jelas-jelas asin tersebut.


"uhuk...uhukkk...ki-kita pesan makanan saja." ujar Jerry menahan tawa.


Ting Tong!


Bel berbunyi, Dilla segera pergi untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum beb! liat nih gue bawa apa!" Pekik Mikha sesaat setelah Dilla membukakan pintu.


Dilla mempersilahkan Mikha, Max serta Ryan untuk masuk. Mikha tampak mengendus-endus dan mencari aroma aneh yang bersumber dari dapur.


"Astagfirullah Dilla, Jerry ini dapur udah kaya kapal pecah!"


Mendengar pekikan Mikha, Max dan Ryan menyusul Mikha ke dapur. Mereka terkejut dan nampak tertawa melihat keadaan dapur yang berantakan dengan Jerry yang kotor dengan wajah dan baju yang belepotan saus tomat dan tepung maizena.



"Hahaha tunggu gue foto dulu!" Ucap Max, menahan tawanya dan segera memfoto Jerry dengan ponselnya.


"Si*lan, temen gak ada akhlak!"


Jerry berdengus kesal dan meleparkan sebuah jeruk ke arah Maxim namun sayang pria itu berhasil menghindar.


......................


Seusai makan malam mereka berbincang ria, Max yang tampak manja dengan istrinya tak sudah-sudah membelai lembut perut istrinya.


"eh kok gerak?" Ucap Max terkejut saat sepasang malaikat kecil pertama kali bergerak walau dengan gerakan yang masih cukup lembut.


"Iya kan udah 4 bulan sayang"


"Heiii kesayangan papa, sudah semakin besar ya." Ucap Max mencium perut istrinya dan beralih ke kening, kedua pipi lalu, mengecup singkat bibir istrinya tanpa malu. Sementara Ryan hanya tersenyum masam guna menutupi perasaannya.


"eh eh udah dong mesra-mesraannya, kasian noh yang LDR!" Ucap Jerry melirik menggoda Ryan.


"Lebih kasihan mana, yang LDR atau yang pasangannya ada di sampingnya tapi gak bisa ngapa-ngapain?" Ucap Ryan menggoda balik Jerry.


"Bocah setan!" Pekik Jerry melempar sebuah majalah kearah Ryan.


Malam semakin larut, Dilla dan Mikha sudah terlebih dahulu pergi tidur. Max dan Ryan memang sengaja menginap di apartemen Jerry karena besok pagi-pagi mereka ada jadwal talk show dan langsung akan terbang menuju Dublin, sebuah kota besar di Republik Irlandia.


Setelah cukup puas berbincang mereka memutuskan beristirahat, Ryan menuju kamar yang terletak dekat dapur sedang Max sengaja memilih kamar yang bersebelahan dengan kamar Jerry. Bukan tanpa tujuan, Max sengaja ingin menyiksa sahabatnya yang masih dalam kondisi "puasa" itu, karena kamar-kamar yang berada di Apartemen milik Jerry itu tidak kedap suara.


Max melangkah masuk ke dalam kamar, ia menatap istrinya yang tengah tertidur lelap. Sebenarnya ia tidak tega mengusik Mikha namun sikap jahilnya yang sudah menggebu-gebu telah mendominasi pikirannya, yang bahkan sudah tertawa sendiri membayangkan ekspresi Jerry.


"Sayang..."


Max membelai lembut wajah istrinya, ia menghujani seluh wajah dan leher sang istri dengan kecupan-kecupan lembut nan sensual hingga berhasil membuat Mikha terbangun.


"Mmmm kenapa Max?" Ucap Mikha mengucek-ngucek matanya.


"Mau nengokin si kembar." jawab Max yang terus menjilati leher jenjang istrinya.


"Sekarang? emmm akh..."


"Iya dong sayang." Ucap Max yang mulai melucuti pakaiannya piyama istrinya.


Sementara Itu Jerry tampak berguling-guling di ranjang mencoba untuk memejamkan matanya, Pikirannya mengawang-awang mengingat aksi agresif Dilla yang begitu menggoda baginya.


"Sabar Sabar dikit lagi sembuh, ayoo otakku jangan mikir macam-macam biar si junior cepat sembuh!" Gumam Jerry memukul-mukul kepalanya sendiri.


Jerry memiringkan tubuhnya membelakangi sang istri, ia tidak mau juniornya kembali terbangun karena pastinya akan begitu menyakitkan dan bisa berakibat lukanya kembali terbuka.


"Akhhh geli Max! emmmph akh...Oh yes baby..."


Suara-suara aneh mulai samar terdengar dari kamar yang di tempat Maxim dan istrinya. Jerry nampak mengernyit kesal dengan tingkah Maxim.


"Pasti sengaja si kampr*t!" gumam Jerry berdengus kesal.


Suara-suara decitan asmara semakin terdengar disertai geraman dan desahan dari sepasang suami istri yang tengah menikmati penyatuan keduanya.


Jerry tampak kesal, ia berguling sambil menutup telinganya dengan bantal namun yang ia dapati malah sang istri yang tertidur pulas dengan piama yang menyingkap ke atas memperlihatkan bagian perut mulusnya.


Jerry menelan salivanya berat, cobaan malam itu sungguh berat baginya untuk menahan hasrat alamiahnya. Ia segera menutupi tubuh istrinya Dengan selimut lalu beranjak dari ranjang dan memutuskan tidur di sofa, tak lupa ia memasang earphone dan menyetel musik dengan suara kencang.


"Dasar temen jahanam! pasti sengaja mau nyiksa gue!"


Oh Jerry sungguh malang nasibmu..


😭


......................