Oh My Mister

Oh My Mister
Balada nasi goreng



Hai-hai teman-teman


Jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Boleh dong Author keripik kentang ini minta hadiah dan Vote mingguannya 😁


biar makin semangat update...


Untuk teman-teman Author sabar ya soalny berapa hari ini aku lagi sakit gigi😭


nanti aku feedback kok.


...selamat membaca💗💗💗...


......................


Sebuah taksi melaju memasuki sebuah gedung majalah teen yang berada di tengah kota London.


Sementara Mikha terus-menerus khawatir memikirkan adik iparnya yang menangis tersedu-sedu di teleponnya.


"Kakak..." Ucap Marrie berlari menghampiri kakak iparnya, gadis itu memeluk Mikha erat-erat dengan mata sembab dan pipi yang sedikit memerah.


"Kamu kenapa?" tanya Mikha pada Adik iparnya.


Namun Gadis cantik berambut blonde itu hanya menggelengkan kepalanya, mungkin ia tidak nyaman bercerita di tempat umum seperti itu.


"Ya sudah cerita nanti saja yaa." Ucap Mikha tersenyum, membelai rambut halus milik adik iparnya.


Selepas pekerjaan Maxim usai, Mereka memuji apartemen milik Max dan Mikha. Berkali-kali Jhon nampak menelpon Maxim namun Marrie selalu mencegah kakak keduanya menerima telepon dari Jhon.


"Kak, aku mau menginap disini. Bolehkah?" tanya Marrie yang bergelayut manja pada lengan Mikha.


"Ya boleh dong." Ucap Mikha menepuk-nepuk pundak adik iparnya, namun tiba-tiba Maxim memaksa duduk di tengah-tengah antara Marrie dan Mikha.


"Enak saja, cuma aku yang boleh bermanja-manja dengan Mikha. Sana kau makanya cari pacar!" Ucap Max mengerucutkan bibirnya yang membuat Mikha menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Maxim.


"Dasar bucin!!!" Ucap Marrie beranjak dan berpindah duduk di sisi lain sebelah Mikha.


"Udah dong Max! aku mau nanya Marrie, kenapa kamu menangis histeris di telepon? apa ada yang menyakitimu?"


Marrie nampak menunduk, perlahan gadis itu menceritakan kronologi pertikaiannya dengan Jhon karena kehadiran Rhine.


"Apa! Jhon menamparmu? kurang ajar!" Pekik Max gusar yang baru menyadari pipi kanan Marrie memerah, ia tiba-tiba berdiri dan segera mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.


"Hei, sayang kamu mau kemana?" tanya Mikha menahan tangan suaminya.


"Aku harus memberikan pelajaran pada si tua itu, bisa-bisanya berlaku kasar pada adik perempuannya!br*ngs*k!"


Mikha semakin menahan lengan suaminya, ia sungguh tidak ingin ada pertikaian antara kakak dan adik tersebut terlebih Maxim dalam keadaan tersulut emosi, karena bisa saja terjadi perkelahian fisik antara Maxim dan Jhon.


"Max, gak gini caranya. kau malah akan membuat semua jadi rumit, dinginkan kepalamu dulu baru kita cari solusinya." Ucap Mikha yang langsung memeluk tubuh suaminya.


Maxim menghembuskan nafasnya kasar, ia membalas pelukan istrinya dan mengecup pucuk kepala Mikha.


"Maaf ya, sudah buat kamu khawatir."


Senyuman terukir dari bibir wanita itu, segera ia melepaskan pelukan suaminya.


"ya sudah, Marrie obati dulu pipimu. kakak buatkan makan siang dulu, Oh iya kakak bolehkah minta sesuatu padamu?"


"Apa kak?" Ucap Marrie mengeryitkan keningnya.


"Sore tolong masakin kakak nasi goreng, keponakanmu ini ingin masakan buatanmu." Ucap Mikha sambil mengusap-usap perutnya, hingga membuat Maxim yang sedang minum tersedak.


"Pffttt uhuk...uhuk..ma-masih aja ingat!"


"Hehe tapi kan aku gak bisa masak."Ucap Marrie lirih, gadis itu tersenyum tersipu malu.


"Gak masalah, pokoknya buatin yaa."


......................


Waktu menunjukan jam makan siang, tampak Jhon yang sibuk memikirkan adiknya, jika saja Mikha tidak memberi kabar keberadaan Marrie mungkin saja kini ia di buat pusing mencari keberadaan adiknya.


"Ah... maafkan Kakak." Ucapnya lirih sambil memandang foto keluarganya yang terpampang di atas meja kerjanya.


Ia sangat menyesal telah berlaku kasar pada sang adik, Marrie adalah gadis berhati lembut yang tumbuh dan berkembang dengan kasih sayang penuh dari kedua kakak dan Orang tuanya, sehingga sedikitpun ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar.


Namun hari itu pertama kalinya Jhon menorehkan luka pada hati sang adik.


Cklek


Pintu ruang kerja Jhon terbuka, Rhine tampak tersenyum menghampiri Jhon dengan membawa sebuah nampan.


"Cel...,oh...maaf Tuan Jhon, Anda tidak makan siang?" Tanya Rhine berdiri di hadapan Jhon.


"Tidak usah formal kalau di luar jam kerja."


"O-oke, Cello kau tidak makan siang?"


"Tidak, aku sedang tidak bernafsu makan."


"Jangan begitu, oh ya lihatlah! aku membuatkan makanan kesukaanmu! aku sudah hangatkan di pantry."


Rhine meletakkan sebuah piring makan berisi Roast meat yang tampak begitu menggugah selera di atas meja kerja Jhon.



"Gak perlu repot-repot, maaf aku tidak makan pork lagi." Ucap Jhon sopan.


"Why? Ini kan kesukaanmu?"


" I am a Moeslim now, jadi aku tidak konsumsi pork dan alkohol lagi."


"Really? Maaf aku gak tau, besok-besok aku buat dari beef saja" Ucap Rhine yang kemudian merapihkan makanan di atas meja kerja Jhon.


"Honey!"


Indah tiba-tiba saja datang membawakan kotak makan untuk suaminya, ia segera menghampiri Jhon dan mengecup bibir dan tangan suaminya tanpa peduli dengan Rhine yang masih berada disana.


"Honey, aku bawakan makan siang nih! kita makan sama-sama." Ucap Indah yang secepat kilat membukakan kotak makan untuk suaminya.


"Aaaaa, gimana? enak?" ucapnya sambil menyuapi Jhon, matanya sekilas melirik Rhine yang tampak mengeraskan rahangnya.


Deg!!!


"Wanita itu hamil!!!" Pekik Rhine dalam hati.


Rhine tampak menggenggam nampan yang ia pegang dengan erat-erat, wanita itu langsung keluar dari ruang kerja Jhon tanpa permisi, sedangkan Indah tersenyum menyeringai melihat ekspresi wanita itu.


"Akhhhhh!!!! SH!** !!! Lihat saja aku akan menghancurkanmu, perempuan jal*ng! lihat saja, secepatnya kau akan ku singkirkan!" Pekik Rhine dalam ruang kerjanya.


......................


Sementara itu menjelang sore hari di Apartemen Maxim, tampak Marrie dan Maxim saling melemparkan canda tawa di dalam ruang keluarga.


Pria itu terlihat sedang menggambarkan sketsa wajah seorang pria di dampingi Marrie yang menyebutkan ciri-cirinya.


"Matanya sipit loh kak, kaya orang Jepang!" ujar Marrie merevisi gambar buatan kakaknya.


"Loh jadi orang Indonesia apa orang Jepang?" goda Maxim pada adiknya.


"Ihh kakak! aku cuma bilang bentuk matanya aja yang kaya orang Jepang!"


"Kaya si Kenma juragan petai itu?" tanya Maxim terkekeh.


"Ihhh gak gitu!" Pekik Marrie mengerucutkan bibirnya.


Maxim tampak terkekeh-kekeh dengan tingkah laku adiknya, terlebih ini adalah kali pertama seorang Marrie jatuh cinta pada seseorang.


"Ada apa nih ribut-ribut?" Tanya Mikha membawakan beberapa Muffin hangat dan 3 gelas jus buah dan meletakannya di atas meja.


"Asik kue!!! emmm kue buatan kakak emang enak banget." Ucap Marrie sambil mengunyah sebuah Muffin cokelat di mulutnya.


"Makanlah sepuasmu, Oh ya... kamu lagi gambar apa sayang?"


"Ini loh ada yang lagi jatuh cinta tapi gak berani kenalan, akhirnya nyuruh aku ngelukisin sketsa wajah pujaan hatinya." Ucap Max sambil terkekeh melirik kearah Marrie yang melotot padanya.


"ya biarin aja sih, dari pada kamu dulu gak pernah jatuh cinta sampai akhirnya kepatil sama terong-terongan!" ujar Mikha menyindir Maxim hingga membuat Marrie tertawa terbahak-bahak.


"Pffttt hahaha, ah aku mau bikin nasi goreng untuk kak Mikha dulu ah..." Ucap Marrie yang langsung berjalan ke arah dapur.


"Mikhaaaaaaaaaa awas ya kamu!" Pekik Maxim yang segera menggelitik tubuh istrinya hingga Mikha tertawa kegelian.


......................


Sementara di dapur Marrie nampak kebingungan, gadis itu fokus pada ponselnya yang tengah membuka sebuah halaman pencarian di Go*gle.


"Bawang merah, cabai, bawang putih, emmm..."


gumam Marrie sambil memastikan bahan-bahan yang ia sebutkan benar semua.


Prang... Prang...Prang...


"Nah loh jangan-jangan dapur dikit lagi meledak!" Ucap Max saat mendengar keributan dari arah dapur.


Ia dan Mikha segera menghampiri melihat keadaan dapur yang mungkin saja sudah seperti kapal pecah karena ulah adiknya.



"Kenapa kesini?" Ucap Marrie tersenyum.


"Ma-masih rapih!" Max tergagap nyaris tidak percaya.


Marrie memasak dengan begitu rapih walaupun ini adalah pertama kalinya ia melakukan kegiatan itu.


Aroma nasi goreng buatannya pun mulai tercium, sepertinya gadis itu sama sekali tidak menemukan kesulitan.



"Jadiiii, Nasi goreng buatan Chef Marrie" Ucap Marrie menyodorkan sepiring nasi goreng pada kakak iparnya.


Mikha menghirup aromanya dalam-dalam lalu menyodorkan pada suaminya.


"Sudah puas, sekarang Dede mintanya papa yang makan dan habiskan!"


Marrie tertawa dengan permintaan aneh Kakak iparnya, sementara Maxim terperangah dan terpaksa memakan nasi goreng tersebut.


"Emm dari tampilan dan aromanya sepertinya gak masalah." Ucap Max yang kemudian menyuapkan sesendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.


Wajahnya Maxim seketika berubah, dengan berat ia menelan makanan yang sudah masuk ke mulutnya.



"Kenapa?" Tanya Marrie penasaran.


"Manis banget, kamu ini pakai garam apa gula ?" Ucap Maxim mengerutkan keningnya.


"Aku pakai ini."


Marrie mengambil sebuah toples berisi gula bubuk.


Mikha seketika tertawa terbahak-bahak sementara Maxim menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Itu gula bubuk Marrie Edelweiss Larry!" Pekik Maxim, yang membuat Marrie terkekeh.


"Pokoknya habiskan!" perintah Mikha pada suaminya.


"Hah, habiskan?"


"emmm, Dede minta papanya habiskan nasi goreng Ini."


"Ya Allah sayang, tega banget."


Akhirnya dengan amat terpaksa Maxim menuruti permintaan istrinya, mimik wajahnya amat sangat membuat siapapun tertawa melihatnya termasuk kedua wanita yang kini berada di hadapannya.


Ting Tong!!!


Bel pintu berbunyi, Mikha bergegas pergi untuk membukakan pintu, terlihat sesosok pria bertubuh tinggi besar yang kini berada di hadapannya.


"Kakak!"



......................