Oh My Mister

Oh My Mister
Keresahan hati



Malam semakin larut, kini hanya Maxim yang berada di ruang rawat istrinya sedangkan yang lainnya sudah pulang.


Hati pria itu sebenarnya tidak nyaman, ia mengingat dengan jelas tatapan Ryan yang seolah mengisyaratkan sesuatu kepada istrinya. Entah perasaan iba atau yang lainnya, ia sendiri pun tidak mengerti.


"Kenapa kamu melamun?" Ucap Mikha melihat suaminya yang sibuk tenggelam dalam pikirannya.


"Ah! apa sayang?"


"Kamu mikirin apa sih sayang, sejak tadi tingkah kamu aneh."


"Gak apa-apa, aku cuma gak nyaman jika Ryan dekat-dekat denganmu."


Mikha tersenyum mendengar jawaban jujur dari suaminya, ia sedikit menggeser badannya hingga menyisahkan tempat kosong di ranjang pasien yang ia tempati.


"Sini tidur di sampingku, aku ingin memelukmu." Ucap Mikha menepuk lembut ruang kosong di sampingnya.


Max menuruti kemauan Istrinya, ia membaringkan tubuhnya dan memeluk istrinya yang nampak terlihat lebih sehat.


"Dasar Tuan pencemburu! kau harus tau, jika seandainya kita tidak bersama pun hatiku selamanya tidak akan pernah berpaling darimu."


Deg!


Hati Max terasa sesak mendengar ucapan istrinya, rasanya sangat tidak nyaman mendengar kata-kata yang mengandung unsur perpisahan yang terlontar dari mulut istrinya.


"Kamu bicara apa sih! aku gak suka, memangnya kamu mau kemana?kita harus tetap bersama dan menua bersama! kamu adalah separuh jiwaku." Ucap Max memeluk erat tubuh istrinya dan mengecup kening istrinya.


"Sayang maaf ya, 2 hari lagi aku harus ke Paris selama 3 hari, kamu gak apa-apa kan sementara tinggal di rumah Mommy dulu? Ibu, bapak dan Rika juga akan tetap ada disini sampai libur sekolah Rika selesai." Sambung Maxim menatap wajah istrinya yang nampak sayu.


Mikha memandang sendu wajah suaminya, ia kembali mengingat perkataan Clara. Akankah suaminya berpaling darinya?, pertanyaan itu seolah mengusik hati dan pikirannya.


"Loh kenapa kamu jadi melamun juga, kamu mikirin apa sih sayang?" tanya Max kepada Mikha yang nampak melamun menatapnya.


Mikha menceritakan semua kejadian siang itu tentang kedatangan Clara dan semua pikiran yang mengusik hatinya, ia tidak mau menyembunyikan hal sekecil apapun dari Max karena baginya kejujuran, keterbukaan serta komunikasi yang baik adalah kunci dari suatu hubungan yang sehat terutama dalam membangun mahligai rumah tangga.


Max tersenyum mendengar kejujuran Mikha, ia menatap lekat wajah wanita yang berbaring di sampingnya itu, dan membelai lembut pipi istrinya.


"Jangan berpikir seperti itu, bagaimana pun keadaanmu hanya kau lah satu-satunya wanita di hatiku dan tidak akan pernah terganti."


Max menatap lekat-lekat mata istrinya, ia kembali mencium kening sang istri dan perlahan mengecup bibir Mikha yang sudah lama ia tak sentuh.


"Istirahatlah, besok siang kita bisa kembali ke rumah." Ucapnya yang kini mendekap erat tubuh istrinya.


...****************...


Indah mematung mendengar penuturan Jhon, gadis itu terperangah nyaris tak percaya. Ia berfikir sedikit menguji Jhon agar ia dapat mengetahui perasaan pria itu sesungguhnya.


"Kenapa harus tidak suka? bukankah hubungan kita kan hanya sekedar atasan dan bawahan! bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan siapa-siapa untukmu! Tolong jangan mempermainkan perasaanku Tuan Jhon yang terhormat." Pekik Indah dan segera pergi dari hadapan Jhon yang tampak membeku.


Jhon masih termenung dengan ucapan gadis itu, semua perkataan Indah benar adanya bahwa dirinyalah yang terlebih dahulu membangun dinding pembatas di antara mereka beralasan kesetiaan.


Namun apa daya, ia hanyalah Laki-laki biasa yang butuh seorang pendamping dan juga ibu sambung yang tulus untuk anaknya.


Kini setiap saat ada seorang wanita yang memberikan perhatian penuh untuknya dan kasih sayang kepada anaknya, maka mustahil ia tidak terpikat pada wanita itu.


Jhon beranjak dan berniat menemui Indah, ia mengetuk pintu kamar Indah yang terletak tepat di sebelah kamarnya namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Ah sudah jam 11, mungkin dia sudah tidur."


Pikir Jhon, pria itu mencoba berjalan-jalan untuk mencari udara segar.


Setelah berjalan cukup lama, ia melihat sosok orang yang ia kenali. Ya, Indah dan Tuan Wang!


Terlihat Tuan Wang berlutut di hadapan Indah yang tengah terduduk di sebuah bangku taman.



Jhon memicingkan matanya, berharap apa yang ia lihat bukanlah seperti yang ia duga namun tampaknya ia harus kecewa bahwa kenyataan yang ia lihat di balik jendela adalah Indah berama Tuan Wang.


Pria itu berdengus kesal, entah mengapa ada perasaan terbakar memenuhi hati dan pikirannya. Ia beranjak meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa.


Flashback ON


Indah keluar meninggalkan kamarnya untuk membeli beberapa makanan dan camilan. Ia merasa sangat lapar karena hidangan yang di sediakan di tempat itu kurang menggugah seleranya.


Ia menuju sebuah toko Asia 24 jam yang terletak tidak jauh dari hotel milik keluarga Larry, gadis itu membeli beberapa mie instan dalam cup, sosis dan juga camilan lainnya.


Tak sengaja di jalan ia ia harus terjatuh karena jalan yang licin hingga lututnya terluka karena terbentur pembatas trotoar jalan.


Indah meringis kesakitan, gadis itu jalan tertatih hingga tak sengaja ia berjumpa dengan Tuan Wang.


"Nona Indah, kau kenapa?" Ucap Tuan Wang melihat darah yang menembus celana bahan panjang milik Indah.


"Tidak apa-apa hanya terjatuh, saya permisi dulu!"


Ucap Indah bergegas meninggalkan tuan Wang, namun tanpa permisi pria itu segera mengangkat tubuh Indah dan menggendongnya hingga menuju taman di kawasan hotel tersebut. Indah tampak memberontak saat di gendong oleh tuan Wang namun pria itu tidak memperdulikannya.


"Kau tunggu disini dulu! jangan membantah dan jangan bergerak!" Titah Tuan Wang dengan wajah serius, Indah hanya terdiam merasa terintimidasi oleh aura yang di keluarkan oleh pria tersebut.


Tak lama itu membawa sebuah kotak obat, ia berlutut dihadapan Indah dan perlahan mengobati luka pada lutut gadis itu."


Flashback Off


...****************...


Jhon tampak duduk termenung di sebuah bar yang masih terletak di kawasan hotel tersebut, ia meminum secangkir minuman beralkohol kelas atas yang sudah lama ia tinggalkan.


Bayangan Indah dan Tuan Wang begitu jelas dan berulang-ulang di memori kepalanya, mata pria itu memerah karena menahan gejolak emosi yang tersimpan di hatinya.


"Beraninya kau mempermainkanku gadis kecil! aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, kau harus bertanggung jawab karena telah memporak porandakan hatiku!"


Jhon membanting gelas minuman yang berada ditangannya, tentu tidak ada yang berani menegur pria itu karena ia adalah pemilik dari tempat tersebut.


Jhon melangkahkan kakinya keluar tempat tersebut, entah apa yang ia lakukan dengan perasaan kacau dan begitu meluap-luap, hanya dirinya lah dan Tuhan yang tahu.


...****************...