
Hai teman-teman gak bosan-bosan Author mau bilang
jangan lupa Like dan komentar ya.
kalau boleh Ku minta Rate bintang 5 dan votenya untuk Author yang miss queen ini hehehe
PART INI MENGANDUNG ADEGAN KEKERASAN DAN ADEGAN DEWASA, untuk adek-adek di bawah umur bisa minggir dulu ya say...
Mohon bijaksana dalam menyikapinya semua hanyalah demi kebutuhan alur cerita,
...Oh ya... Mampir yuk ke karya terbaru Author! Gak perlu takut, walau horror tapi gak serem kok say...😘...
...💞Terima kasih💞...
Mikha termenung mendengar ucapan suaminya, namun hatinya terlanjur terluka karena sikap tak jujur suaminya.
"10 menit! cepat jelaskan!"
Max segera menjelaskan semua tentang dirinya hingga ia menikahi Mikha, Mikha menatap lekat mata sang suami mencoba mencari kebohongan di dalamnya namun ia hanya melihat kesedihan dan kejujuran dalam siratan yang terpancar dari 2 bola mata yang tampak sayu tersebut.
"Maaf, aku egois! aku begitu mencintaimu, kamulah penyemangatku untuk menjadi pria normal."
Mikha terdiam, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sejujurnya dari lubuk hatinya terdalam, ia menerima segala kekurangan Max namun rasa sakit akibat kilasan-kilasan bayang-bayang foto dan video itu terus menerus menghujam batinnya.
"Max, maaf lebih baik kita berpisah dulu! biarkan aku tinggal di Apartemen dan kau disini!, kita saling introspeksi diri dan memikirkan baik-baik hubungan ini mau di bawa kemana! aku butuh menenangkan pikiranku." Ucap Mikha melepaskan genggaman Max dari tangannya.
"Aku mohon Mikha, jangan pergi! kau boleh pukul aku tapi aku mohon jangan pergi jauh diriku!" Pekik Max mencoba meraih istrinya kembali.
"Sudah Max, biarkan istrimu menangkan pikirannya."
Ucap Jhon mencoba menenangkan adiknya.
"Mikhaaaaa aku mohon!"
Max terus berteriak, memandang sang istri yang pergi di antar dengan mobil milik keluarganya.
Mikha menoleh lewat jendela mobil tersebut, ia melihat sang suami histeris, jatuh bersimpuh karena hendak mengejarnya.
"Maafkan aku, hatiku belum siap menerima semuanya. Ini demi kebaikan anak kita." Ucap Mikha lirih membelai lembut perutnya.
...****************...
Jhon dan David melangkahkan kakinya ke sebuah bangunan terselubung yang telah lama tidak ia kunjungi, kedua wajah pria itu tampak serius memancarkan aura kebencian di dalam dirinya.
"Selamat datang Tuan". Ucap salah seorang yang menunggu di pintu masuk bangunan itu.
Mereka menuju sebuah ruang bawah tanah yang lebih tepatnya bak sebuah tempat penyiksaan.
Di sana terdapat 5 orang algojo bertubuh besar dan seorang laki-laki yang terikat dengan mata tertutup kain hitam.
"Keluarkan aku dari Sini!" rancau pria tersebut, mengeluarkan caci maki dan umpatan-umpatan buruk.
"Sudah puas kau merancau Tuan Jesson?" Ucap Jhon dengan suara dingin.
"S-siapa kau? keluarkan aku b*rengs*k!"
"hahaha boleh boleh! kau mau keluar dalam keadaan mati atau hidup tapi...ca cat!" Ucap Jhon yang tampak duduk di singgasana kebesarannya.
"Hei aku tak berurusan denganmu!" Pekik Jess yang mulai gemetar.
"Dasar bodoh, kau yang sudah terlebih dahulu mencari masalah dengan anggota keluargaku! hmmm...memang orang sepertimu tidak bisa di kasih hati!"
"Apakah kau tau tadi adikku menangis meraung-raung begitu memilukan! apakah kau mau dengar seperti apa?"
Ucap Jhon perlahan mendekati Jess, dengan membawa sebuah alat pencabut kuku ditangannya. Sosok seorang Jhon yang lembut tampak hilang berganti dengan sosok kejam tak berperasaan.
"Seperti ini!"
Jhon mencabuti satu persatu kuku tangan Jess, tiap teriakan dan raungan memohon ampun dari pria itu tampak begitu merdu di telinganya.
"Sudah siap!" Ujar David datang dengan seorang dokter pribadinya.
"Bawa si pembuat masalah ini keruang operasi! Kebiri dia! buat benda menjijikan miliknya tidak dapat berfungsi lagi! setelah itu lempar dia ke kantor polisi!" Pekik Jhon dan meninggalkan tempat tersebut bersama David.
...****************...
Setelah sampai Jhon segera menemui adik laki-lakinya, pria tersebut tampak termenung menatap sendu ke arah jendela kamarnya.
"Hibur adikmu." Ucap Tuan Andrew yang baru saja pulang bersama istrinya.
"Max, Mikha hanya memenangkan diri saja. Aku yakin dia akan kembali padamu!" Ucap Jhon menyentuh pundak Maxim.
"Benarkah?" Jawab Max menoleh ke arah kakaknya
"Ya, aku sangat yakin!"
"Tapi aku khawatir akan keselamatan dia dan kandungannya." ucap Max lirih.
"Tenang saja, biar aku dan Indah menemaninya! aku juga akan berusaha membujuknya." Ucap Dilla yang datang dengan membawa sebuah tas jinjing ditangannya.
"Indah mana?" tanya Jhon.
"Di kamar, masih bersiap-siap."
Jhon langsung melangkahkan kakinya keluar menemui kekasihnya yang sedang merapihkan pakaiannya.
Cklek
Pintu kamar yang sejak tadi terbuka tiba-tiba tertutup.
Indah terkejut melihat Jhon yang masuk tanpa permisi dan memeluknya.
"Sayang, kau mau ikut pindah?" Ucap Jhon memeluk erat tubuh mungil Indah dan memindahkannya ke pangkuannya.
"Iya, kasian dia apalagi Mikha lagi hamil"
"Tapi aku gimana? hmm aku bisa rindu padamu." Ucap Jhon manja sambil menciumi leher Indah.
"Ih apa sih, geli Jhon! lagian kita ketemu tiap hari dikantor, kok kamu jadi manja gini sih?"
Ucap Indah mencubit hidung mancung milik John.
"Iya dong, aku kan gak bisa mantau kamu 24 jam! bagaimana kalau kau diam-diam berhubungan dengan Wang?" Ucap Jhon dengan wajah khawatir, Indah hanya menggelengkan kepala kala melihat tingkah laku Jhon yang begitu kekanakan saat berdua dengannya.
"Gak usah mikir yang macem-macem deh!"
Jhon menahan tengkuk leher Indah dengan tangannya, perlahan ia mencium pipi kekasihnya dengan gemas, hingga nafasnya begitu terasa hangat mengenai telinga Indah dan membuat gadis itu menggeliat geli.
"Hei, jangan bergerak begitu, kau membangunkannya yang telah tertidur lama sayang"
Bisik Jhon yang membuat Indah mematung merasakan sesuatu yang mengganjal dan mengeras di alas tempat ia duduk.
Jhon menciumi Indah dan me****t bibir mungil milik kekasihnya. Tangannya mulai menjalar masuk ke dalam Rok span sebatas lutut yang di pakainya lalu bergerak membelai lembut paha gadis itu.
"J-jhon...akh..." Ucap Indah gemetar dan merasa geli saat jari tangan nakal pria itu menerobos masuk tanpa permisi, dan memainkan dengan lincah tonjolan kecil yang terdapat pada area sensitifnya.
Nafas kedua insan ini saling memburu, layaknya sudah terpancing nafsu satu sama lainnya.
TOK TOK TOK
"Ndah ayo, supirnya udah nungguin!" Pekik Dilla membuyarkan aktivitas terlarang pasangan yang belum menikah tersebut.
"I-iya! T-tunggu" Ucap Indah gugup dengan wajah memerah dan nafas yang masih terengah-engah.
Ia pun segera membawa tas yang berisi pakaiannya ke luar ruangan, meninggalkan Jhon yang tampak termenung karena hasratnya yang terlanjur tersulut tak dapat tersalurkan.
Di ruang tamu sudah terdapat Nyonya Anna, Tuan Larry , Marrie dan juga Maxim yang tampak mengantarkan kedua gadis itu.
"Mommy titip Mikha ya sayang, kalau ada apa-apa hubungi Mommy." Ucap Ny Anna kepada kedua gadis yang telah di anggap anak olehnya
"Tolong jaga istri...Hoek... Hoek..."
Ucap Maxim yang terputus karena rasa mual yang lagi-lagi datang menghampirinya.
...****************...