
Rika yang baru saja menangani pasien kecelakaan beruntun, nampak terduduk melepas lelah seraya mengibas-ngibaskan sebuah buku yang berada di tangannya. Tubuhnya nampak berkeringat walaupun berada di dalam ruangan ber-AC.
"Dok, ada seseorang mencari Anda," ucap seorang perawat yang baru saja menemukan Rika yang sedang melepas lelah.
"Siapa, sust?" tanyanya.
"Itu loh yang artis kemarin kena paku, emmm Ryan!" jawab perawat tersebut yang nampak berpikir sejenak.
Seketika Rika langsung bangkit dan segera berlari menemui Ryan setelah ia mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut.
Nampak Ryan yang tengah terduduk dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya.
"Hai, Bu dokter. Pasti kamu lapar, kan? Ini aku beliin Ayam geprek kesukaanmu," ucap Ryan seraya memberikan bungkusan makanan itu kepada Rika.
"Wah, Terima kasih. Kebetulan aku belum sempat sarapan. Ikut aku, yuk!" titah Rika, gadis itu langsung menarik tangan Ryan ke dalam ruangannya.
Tanpa aba-aba Rika langsung membuka kotak styrofoam yang berisi sepotong ayam geprek dengan nasi hangat tersebut, matanya sungguh berbinar-binar, perutnya seakan pemberontak untuk diisi.
"Enak," ucapnya setelah menyuapkan potongan nasi dan ayam tersebut ke dalam mulutnya.
Ryan nampak tersenyum simpul sesekali meminum sebotol cola dihadapannya.
"Ini cobain, Kak. Ayo buka mulutmu aaaaa," ujar Rika sambil menyodorkan nasi berisi ayam tersebut dengan tangannya. Ryan hanya menurut sambil terus menatap dokter muda berwajah manis itu.
Ryan mengunyah makanan yang kini berada di mulutnya sambil tersenyum menatap Rika, hingga akhirnya dia merasakan sensasi terbakar pada indera pengecapnya, "Pedes!!!" pekiknya panik.
Rika nampak tertawa dan segera memberikan sekotak susu coklat untuk Ryan, bibir pria oriental itu nampak berubah merah dengan keringat yang mengucur di keningnya.
Di sisi lain Marrie yang sedang berjalan-jalan sendiri nampak melihat sosok pria pujaan hatinya tengah duduk termenung di sebuah Coffee shop. Tanpa berpikir panjang, gadis blonde itu segera masuk kedalam coffee shop tersebut dan berpura-pura membeli sesuatu.
"Hai," sapa gadis blonde tersebut yang kini berdiri di samping meja yang ditempati oleh Dimas, dengan segelas kopi di tangannya.
Dimas hanya melirik sejenak lalu segera memalingkan wajahnya. "Apakah aku boleh duduk di sini?" tanya Marrie dengan menunjuk kursi kosong dihadapan Dimas.
"Duduk saja," jawab pria itu dengan datar.
Sejenak suasana menjadi hening, Marrie nampak serba salah karena sikap Dimas sangat jauh berbeda.
Gadis bermata biru itu mencoba memberanikan diri untuk memulai percakapan kembali.
"Emm Dimas, kau benar-benar tidak mengingatku?" ucapnya gugup.
Dimas hanya melirik dengan senyuman pias yang tersungging di bibirnya, "Tidak, terlalu banyak orang yang aku temui. Yang aku tau sekarang, kau adalah adik dari pria itu," ucapnya dingin.
"Kalau begitu, ayo kita berkenalan ulang. Perkenalkan namaku Marrie," ucap Marrie seraya mengulurkan tangannya. Namun alih-alih menjawab, Dimas malah beranjak dan pergi begitu saja.
...................
Mikha nampak mengerjap-ngerjapkan matanya, nampak sang suami yang masih tertidur pulas dengan lengan yang melingkar sempurna ditubuhnya.
Ia memandangi wajah Max dan sesekali mengelus lembut wajah pria yang begitu ia rindukan.
"Aku sangat mencintaimu, Max." Mikha berucap lirih dan mengelus alis sang suami yang begitu panjang dan menukik.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mikha," ucap Max yang tiba-tiba saja menggenggam tangan istrinya dengan mata yang masih tertutup.
Mikha nampak merona karena malu, ia segera beranjak untuk membersihkan dirinya.
"Awww," pekiknya kala merasakan sakit di **** *************.''
"Kenapa sayang?" ucap Max khawatir, yang dengan sigapnya menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh.
Mikha hanya mengulas senyum tipis, lalu meringis.
"S-sakit sayang," lirihnya.
Max yang mengerti segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari penginapan, mereka segera menjemput Sunny dan Shine di sekolahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di sekolah tersebut.
"Sunny, Shine. Kalian kenapa?" tanya Mikha kala melihat kedua mata buah hatinya nampak sembab.
Mikha seketika langsung menggendong Sunny, sedangkan Max menggendong Shine.
"Aku diledekin ma, teman-teman gak percaya waktu aku bilang papa udah pulang, mereka bilang aku bohong dan terus menyebut kami tidak punya papa," ucap Sunny lirih dengan suara yang masih terisak.
Max nampak mengulas senyum dan berkata, "Kita buktikan besok, papa dan mama akan datang di acara hari ayah di sekolah. Jadi putri cantik dan pangeran tampan gak boleh sedih. Emmm katanya mau jalan-jalan, harus senyum dong," ujar Max yang akhirnya mampu mengembalikan senyum di bibir sepasang malaikat kecilnya.
......................
Hari semakin sore, setelah menyelesaikan pekerjannya, Indah segera berangkat menuju Banjarmasin menggunakan pesawat Cessna yang kini telah menjadi hak miliknya.
Butuh kurang lebih satu jam lamanya, hingga kini ia telah sampai di kediaman milik keluarganya.
"Assalamualaikum Pih, Mih," sapa Indah dan langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam, ya sudah kamu istirahat dulu. Sehabis magrib kita akan bersiap-siap untuk menghadiri makan malam," ucap Pak Arjun dengan tenang.
Indah yang sudah mengerti maksud orang tuanya, hanya bisa mengangguk dan menuruti semua perintah ayahnya. Indah menenggelamkan tubuhnya di atas ranjang dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya.
"Mungkin ini yang terbaik, kamu dan aku memang tidak di takdirkan bersama. Selamat tinggal Jhon," ucapnya lirih dan perlahan ingin merobek foto Jhon yang berada di tangannya. Namun entah mengapa, baru menyobek sedikit, ia segera mengurungkan niatnya dan memilih menyimpan foto itu kembali.
Malam menjelang, rembulan bersinar terang dihiasi ribuan bintang nan cerah gemerlap.
Wanita yang berperawakan mungil itu telah nampak cantik nan anggun dengan polesan Make up natural dan dress yang ia kenakan.
"Cantiknya putri mamih," puji Bu Vera pada anak semata wayangnya namun Indah hanya tersenyum getir menanggapi ucapan Ibundanya.
Kini mereka mulai memasuki mobil, hanya butuh waktu 15 menit perjalanan. Akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang lima di kota itu.
Indah dan kedua orang tuanya di sambut beberapa pelayan yang langsung mengantar mereka pada sebuah meja khusus di restoran yang berada di hotel itu.
Wanita itu nampak menelisik mencari keberadaan sosok pria yang ingin di jodohkan dengannya.
"Mana Pih? Lama banget," gerutu Indah kesal.
Pak Arjun dan Bu Vera nampak tersenyum melihat tingkah putrinya terlebih melihat wajah Indah yang nampak dilipat.
"Senyum dong sayang, nanti cantiknya hilang," Goda Bu Vera sesekali mencubit pipi putrinya.
"Sabar ya, maklum dia dari Jakarta langsung kesini," ucap Pak Arjun tersenyum simpul.
Hingga tak lama sosok yang ditunggu pun tiba, Indah nampak sibuk dengan ponselnya hingga tak melihat seorang pria yang kini tengah berada di hadapannya.
"Selamat malam Tuan Arjun dan keluarga," sapa pria itu dengan ramah.
Indah yang mendengar suara yang begitu familiar nampak mematung, kepalanya sungguh terasa berat untuk digerakkan.
"Sayang, ayo kenalkan ini Mister Jhon Marcello Larry. Pria yang akan papih jodohkan padamu," ucap Tuan Arjun lembut.
Kedua mata Indah membulat sempurna, pandangannya seketika melihat sosok pria blonde bertubuh tinggi besar yang kini tengah tersenyum di hadapannya.
"A-apa! Takdir macam apa ini ya Tuhan?" jerit Indah dalam hati.
......................