Oh My Mister

Oh My Mister
kehancuran keluarga wijaya



Seorang wanita paruh baya dengan pakaian kebaya tradisional namun tetap terlihat nyentrik terkapar tak berdaya, di kelilingi oleh suaminya dan 2 orang wanita muda yang bersikap acuh tak acuh.


Mata wanita itu perlahan terbuka, ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru menimpanya.


"Hartakuuuu!" Pekik wanita itu yang tiba-tiba bangkit.


"Sabar Bu." Ucap sang suami yang tak lain adalah Tuan Wijaya.


"Ibu ingat, kita masih punya investasi! pasti sekarang uang kita sudah berlipat ganda dan bisa menutupi kerugian kita!" ujar Tuan Wijaya menenangkan Istrinya.


"Telepon orang itu sekarang! Cepat pak!"


Nyonya Wijaya memerintahkan suaminya untuk menghubungi seseorang orang menawarkan Investasi kepadanya, namun sungguh di sayangkan, Nomer telepon orang itu tidak bisa di hubungi.


Ia kemudian berinisiatif untuk datang ke kantor orang tersebut yang tertera di sebuah kartu nama, dan lagi-lagi semua yang mereka tunjukan palsu.


Wanita itu semakin panik, ia tak percaya bahwa sekarang ia tak mempunyai apa-apa.


Bahkan sertifikat rumahnya pun sudah ia gadaikan di Bank untuk menambah investasi agar keuntungan yang diperoleh lebih besar, yang ternyata hanyalah sebuah investasi bodong belaka.


"Arghhh ...kenapa aku bisa seceroboh itu! " Pekik Wanita tua itu gusar.


"Mira, Dewi tolong ibu...minta bantuan kepada ayahmu untuk meminjamkan ibu uang."


wanita itu mengiba kepada kedua menantunya yang masing-masing merupakan anak dari kepala desa dan camat di sana.


"huh mohon maaf saja ya, untuk apa aku mempertahankan rumah tangga seperti ini! sekarang suamiku yang mata keranjang itu sudah di penjara dan jatuh miskin, lebih baik aku cerai saja." Ucap Dewi, langsung meninggalkan mertuanya tanpa peduli sedikitpun.


"Mira, Nak kamu tak akan meninggalkan kami kan?"


"hahahaha aku rela menjadi istri kedua Ari karena kalian kaya raya, hmmm...jadi tau dong apa yang akan aku lakukan?"


Ujar wanita muda itu, yang lalu melemparkan beberapa lembar uang di hadapan Nyonya Wijaya.


"Nih, karena aku baik maka aku tak membiarkan kalian kelaparan setidaknya dalam beberapa hari." Ucap Mira, lalu pergi meninggalkan mertuanya yang terlihat menyedihkan.


...****************...


Berbanding terbalik dengan kondisi keluarga Wijaya, Keluarga Pak Ali sedang dalam kondisi yang membahagiakan.


Awan hitam yang membelenggu keluarga ini berangsur-angsur lenyap di gantikan pelangi yang indah.


"Emmm ini enak sekali, aku pernah makan ini di sebuah restoran tapi aku tidak suka karena rasanya hambar." Ucap Marrie yang tiada henti-hentinya memakan tempe goreng cap Micin buatan Indah.


"Tuh kan lihat! betapa hebatnya kekuatan micin" Bisik Indah kepada Mikha.


"Rika, Jadi bagaimana persiapan tempat pernikahanku?" Tanya Maxim kepada Rika.


"Perfect ! pokoknya Mas tenang saja, untuk tempat aku pilih Resort di Kaliurang, karena menurutku tempat akad yang bertemakan outdoor bernuansa pegunungan cocok dengan selera Mba, apalagi akad di mulai pagi hari.


Untuk transportasi warga desa ini pun sudah siap, Marrie sudah menyewa sebuah bus pariwisata untuk mengangkut warga desa, pokoknya semua beres di tangan aku dan Marrie." Ucap Rika bangga.


"Kamu dan Marrie memang bisa di andalkan, lalu dari pihakmu siapa saja yang datang, Nak?" Tanya Pak Ali kepada Maxim.


"Mungkin hanya keluarga intiku dan 3 orang rekan kerjaku, karena di sana juga pasti kita akan mengadakan pesta lagi.


Pak, saya meminta izin untuk membawa Mikha ke Inggris setelah menikah bagaimanapun pekerjaanku ada disana, namun aku pastikan kita akan rutin pulang ke Indonesia."


uhuk...uhukk...


Mikha yang sedang minum tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar pernyataan Maxim, ia tidak menyangka akan hidup jauh dari orang tuanya.


"Haruskah kita tinggal di Inggris? aku akan lebih jauh dari ibu dan bapak." Ucap Mikha lirih.


Setelah mendengar nasihat Ibunya, Mikha yang masih berat hati mencoba menerimanya.


Ya, benar seperti kata Bu Yani bahwa Mikha sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab seorang Maxim Andreas Larry.


Walaupun berat namun begitulah kehidupan, seorang anak perempuan kelak pasti akan mengikuti suaminya.


...****************...


Malam hari hujan turun begitu deras, Jhon sedang terduduk di teras rumah Mikha, menikmati udara malam yang dingin di iringi aroma tanah yang tersiram air hujan.


Tiba-tiba saja Indah berupaya mendekatinya dengan membawakan secankir susu jahe buatannya.


"Hai! Jhon" sapa Indah


"Oh, Hai." jawab Jhon tanpa menoleh, dan asik memainkan gadget-nya.


"Ini susu Jahe untukmu, sangat cocok loh diminum saat udara dingin seperti ini."


"Ya, Terima kasih."


"Apa kau tidak mau masuk? disini dingin loh, sudah malam lagi nanti kau bisa sakit." Ucap Indah mencoba mengambil perhatian Jhon.


"Tidak."


Jhon yang hanya menanggapi Indah seperlunya membuat gadis Itu mendengus kesal, ia bingung harus dengan cara apa lagi untuk melakukan pendekatan dengan pria matang itu, sedangkan seumur hidupnya baru kali ini ia merasa tertarik dan jatuh cinta kepada seorang pria.


"Sungguh mengenaskan, cinta pertama kepada pria berumur lalu di cuekin lagi! mengapa ia sangat berbeda sekali dengan adiknya yang begitu hangat? ta...tapi gw suka sih." Indah terus merancau di dalam hatinya.


Sementara Maxim, Pria yang belum tahu kalau Mikha tidak sedang mengandung.


Masih setia dengan sikap over protektifnya,


sekarang ia memberikan Mikha seglas susu khusus ibu hamil yang sengaja telah ia buat dan Vitamin asam folat dengan maksud agar janin di kandungan Mikha tetap sehat.


"Sayang, minum susu dulu dan vitaminnya?"


Ucap Max menghampiri Mikha yang sedang asik berbincang bersama Marrie.


"Susu? tapi aku kan gak suka susu, lagi pula aku sudah sehat untuk apa aku minum vitamin lagi? dan apa ini, asam folat? kamu pikir aku hamil?" Ucap Mikha yang merebut botol Vitamin itu dan membacanya secara seksama.


"Bu...bukan begitu, k...kan kita mau menikah tentu saja kau membutuhkan asam folat yang lebih u...untuk mempersiapkan kehamilan anak kita nanti." Jawab Max gugup mencari-cari alasan yang masuk akal.


Mikha yang tak mau ambil pusing, hanya menuruti perkataan calon suaminya itu, ia segera meminum vitamin dan susu yang sudah Maxim siapkan untuknya.


Sedangkan di sisi lain si gadis jahil sumber kesalahpahaman itu sedang tertawa puas melihat drama Maxim dan Mikha yang baru saja di lihatnya.


"Seneng amat, hayooooo gak bagi-bagi cerita nih?"


Dilla tiba-tiba saja muncul di belakang Rika yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Eh mba Dilla hehe."


Pada akhirnya setelah di paksa oleh Dilla, Rika memberitahu awal mula terjadinya kesalahpahaman yang tak sengaja di buatnya.


Namun bukannya memarahi Rika, Dilla malah ikut tertawa hingga mengeluarkan sedikit air mata melihat Maxim yang dibodohi oleh anak kecil seperti Rika.


Entahlah sampai kapan kesalahpahaman itu berlangsung, Dilla tak sanggup membayangkannya.


...****************...