Oh My Mister

Oh My Mister
Pelanggan Setia



Hai semuanya mohon dukungannya ya


untuk Like, komen dan Rate.


Boleh dong sekali-kali Author Hottang(Hotdog Kentang๐Ÿ˜) ini minta tiket vote mingguannya


atau hadiah ๐ŸŒน,โค, atau yang lainnya.


Biar aku makin semangat updatenya.


Yang males baca juga bisa dengerin Audio book-nya, denger suara fals Author kentangan ini bacain cerita๐Ÿ˜


dan kepoin juga dong karya Author yang lain (Banyak maunya Yee๐Ÿ˜Œ namanya juga usaha๐Ÿ˜) baik Novel maupun audio book.


Oh ya berhubungan memasuki bulan suci Ramadhan, Aku ingin minta maaf lahir dan batin untuk para Readers ataupun teman-teman Author seperjuangan.


Apalagi aku adalah mahluk yang suka telat mampir hehehe...


Skip, ya sudah segitu aja kata pengantar dari aku


Happy Reading ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


...โคโคโค...


Malam itu Rembulan bersinar cerah di bertabur bintang. Seorang pria tampan tengah termenung mengadah langit, seolah menghitung jumlah bintang yang menghias langit.


Ia menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Terbayang sebuah wajah yang berhasil mengusik hatinya dan akhir-akhir ini membuat hatinya terasa hampa.


Pria itu mengambil sebuah benda pipih yang berada di saku celana, mencari sebuah nomer di kontaknya dan mencoba menghubunginya, berharap ada suatu keajaiban yang tiba-tiba terjadi.


"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Suara jawaban dari operator lagi-lagi membuat ia kecewa. Entah sejak kapan, ia merasa sangat kehilangan sosok gadis ceria dan jahil yang selalu mewarnai hari-harinya.


"Aku rasa otakku bermasalah karenamu, Rika." Ucap Ryan lirih sambil menopang dagunya di balkon apartemen miliknya.


Hari-harinya menjadi terasa hampa dan sepi, tanpa celotehan gadis remaja yang berhasil mengalihkan pikiran dan perhatiannya akan cinta yang salah pada istri sahabatnya.


"Hoy, ngelamun!"


Tiba-tiba saja Jerry datang, hingga membuat Ryan cukup terkejut karena ulahnya.


"Kapan kau datang?" tanya Ryan bingung.


"Aku pencet bel sampe cantengan tapi kau gak bukain pintu, ya sudah aku masuk saja. Huh...mikirin apa sih? mikir jorok ya?" cebik Jerry menggoda Ryan.


Ryan tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dan menoyor kepala Jerry dengan ujung jarinya, "Memangnya aku seperti kau!" balas Ryan tertawa kecil.


"Oh ya aku mau kasih tau sesuatu." Ucap Jerry.


Ryan nampak mengerutkan keningnya dan menatap sahabatnya, "Apa?"


"Maxim berencana membuat sekolah seni dan musik, apakah kau mau ikut berpartisipasi? ia juga ingin membuat program pencarian bakat untuk anak-anak kurang mampu dan memberikannya kesempatan untuk belajar tanpa memikirkan biaya." Ucap Jerry menjelaskan.


"Semacam beasiswa?" tanya Ryan kembali


"Ya, seperti itu. Tapi, mungkin kita juga akan mencari bakat melalui event-event secara langsung dari kota satu ke kota lainnya bahkan antar Negara."


"Tentu aku mau ikut, bagaimana denganmu?" Tanya Ryan pada Jerry.


"Pasti dong, aku ikut. Besok kita akan membicarakannya bersama Max dan David." Jawab Jerry tersenyum lebar.


Hoek...Hoek...


Tiba-tiba terdengar suara wanita yang tengah mual dari arah ruang tamu, sontak Jerry dan Ryan nampak berpandangan dan langsung berlari menghampiri istrinya yang tengah menunggunya.


"Dilla!"


......................


Krincing...Krincing...


Suara lonceng terdengar menandakan seseorang membuka pintu toko kue miliknya Mikha.


"Selamat datang." Sapa Mikha tersenyum, menyapa setiap pelanggan yang memasuki tokonya.


Seorang pria bertubuh tegap, tersenyum menghampiri Mikha. Pandangannya kini beralih pada kue-kue yang terpajang cantik pada sebuah etalase kaca.


"Emm saya gak suka kue yang terlalu manis, kira-kira yang mana yang seperti itu?" Tanya Pria itu tersenyum.


"Oke, Saya mau 1 Slince Tiramisu dan secangkir Americano. Dine in!" Titah Pria itu lalu berjalan menuju mejanya setelah membayar pesanannya.


Mikha segera menyiapkan pesanan tersebut, namun tanpa ia sadari pria itu tampak terus memandanginya dengan senyuman yang melengkung di bibirnya.


Keesokan harinya pria itu datang kembali dan terus menerus berulang pada hari-hari kedepannya, namun Mikha tidak berpikir berlebihan, ia hanya menganggap pria itu adalah pelanggan setianya yang menyukai rasa kue-kue buatannya.


Hari itu cuaca mendung, Mikha nampak menutup tokonya lebih awal karena baru saja mendapatkan kabar kalau Sunny demam.


Lama ia menunggu angkutan kota namun selalu penuh dengan penumpang, begitu pula dengan beberapa tukang ojek yang biasanya mangkal di sebrang tokonya, hari itu nampak tidak terlihat.


"Aduh Indah ke luar kota lagi, emm coba telepon Rika deh." Ucap Mikha bermonolog dengan dirinya sendiri.


Wanita itu nampak mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menelpon adiknya, namun berkali-kali ia menelpon tapi Rika tak kunjung mengangkatnya. Mungkin karena jam tersebut bertepatan dengan jam kuliah Rika.


Langit semakin mendung dengan gemuruh petir seakan sahut bersahut-sahutan, Mikha akhirnya memutuskan berjalan kaki hingga jalan protokol yang cukup jauh dari tempatnya berada.


Tin... Tin...


Sebuah mobil berhenti tepat disampingnya, Mikha nampak berhenti berjalan dan mengerutkan keningnya.


Dari mobil tersebut turunlah seorang pria dengan wajah yang tak asing, lengkap dengan pakaian dinas yang membalut tubuh tegapnya.



Pria yang tampak familiar, ya...dia adalah si pelanggan setia yang nyaris setiap hari berkunjung ke toko kue miliknya.


"Assalamualaikum mba, mau kemana?" Sapa pria itu dengan ramah dan sopan, Mikha nampak tersenyum membalas sapaan pria tersebut.


"Waalaikumsalam."


"Mau kemana mba? Kok tokonya tutup." tanya pria itu kembali.


"Iya mas, saya mau pulang." Jawab Mikha yang nampak resah karena langit semakin menggelap.


"Kemana mba? Mari saya antar, kayanya sebentar lagi mau turun hujan."


"Ah, terima kasih mas. Gak perlu repot-repot, saya mau ke pangkalan ojek di lampu merah depan aja." Tolak Mikha dengan sopan.


Namun tanpa aba-aba air langit pun mulai turun, Mikha tampak panik karena berkebetulan ia tidak membawa payung.


"Ayo, saya antar saja mba." Ucap pria itu.


Hujan semakin deras, pada akhirnya Mikha menerima tawaran pria itu. Mikha masuk ke dalam mobil pria tersebut dengan baju yang sudah sedikit basah karena air hujan.


"Ini tisu mba, Oh ya...alamat rumahnya dimana?" Tanya pria itu sambil menyodorkan sekotak tisu kepada Mikha.


"Terima kasih mas, alamat saya di Perumahan Griya Asri blok A." Ucap Mikha segan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, Mikha tampak sibuk dengan ponselnya sedangkan pria itu nampak mencuri pandang menatap sosok wanita yang berada di sebelahnya.


"Perkenalkan nama saya Dimas, nama mba siapa?" Ucap pria itu mencoba memecahkan keheningan, Mikha yang melamun sontak di buat kaget dengan pernyataan yang terlalu tiba-tiba baginya.


"Ah iya mas, apa?" Ucap Mikha refleks, pria bernama Dimas itu tampak terkekeh melihat tingkah dan mimik wajah Mikha yang terlihat menggemaskan baginya.


"Perkenalkan namaku Dimas, Dimas Pradipta. Nama mba siapa?" Ucap Dimas kembali seraya mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih fokus memegang kemudi.


Mikha tampak tersenyum dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan kepala mengangguk sejenak.


"Saya Mikha Arlista, panggil saja Mikha."


Dimas kembali menarik tangannya yang tidak di jabat oleh Mikha, ia nampak tersenyum dan semakin di buat penasaran dengan wanita yang berada di sampingnya.


"Menarik, aku harus mencari tau lebih dalam tentang dia. Aku rasa ibu akan sangat senang jika mempunyai menantu seperti dirinya." Ucap Dimas dalam hati.


^^^bersambung...^^^


......................


Stttt jangan di close dulu! kita tebak-tebakan yuk!


ada yang familiar sama Dimas gak? dia pernah aku keluarin sekilas di episode-episode sebelumnya.


Tebak siapa dia? dan pas adegan apa?


Untuk Author pertama yang jawab benar aku akan kasih โค senilai 19 koin, tapi maaf Readers aku gak bisa kasih koin karena sekarang gak bisa bagi-bagi koin lagi ๐Ÿ˜ญ.


yukk kita seru-seruan! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†