
Hai semuanya mohon dukungannya ya
untuk Like, komen dan Rate.
Boleh dong sekali-kali Author Hottang(Hotdog Kentang😁) ini minta tiket vote mingguannya
atau hadiah 🌹,❤, atau yang lainnya.
Biar aku makin semangat updatenya.
Yang males baca juga bisa dengerin Audio book-nya, denger suara fals Author kentangan ini bacain cerita😁
dan kepoin juga dong karya Author yang lain (Banyak maunya Yee😌 namanya juga usaha😁) baik Novel maupun audio book.
Sekali lagi, maaf ya aku suka banyak typo😁
Terima kasih kesayanganku😘😘😘
...❤❤❤...
Mikha tampak berbaring lemah sambil menatap lekat-lekat buah hatinya yang baru saja di bawa oleh seorang perawat. Air mata bahagia lolos begitu saja dari kedua matanya, pasalnya ia baru bertemu sang buah hati keesokan harinya setelah operasi karena keadaannya yang tidak memungkinkan.
"Sini gue bantu." ujar Indah, membantu Mikha dengan susah payah untuk duduk di ranjang rawatnya.
"S-sakit Ndah, pelan-pelan." Rintih Mikha lirih, merasa sakit yang amat menyiksa di luka bekas operasinya hingga membuatnya terasa sesak nafas.
"Ya udah lu tiduran aja." Ucap Indah yang tidak tega melihat sahabatnya begitu kesakitan.
"E-engak, G-gue mau gendong anak gue."
Mikha tetap bersikeras untuk beranjak dari tidurnya walau ia harus menahan rasa sakit di lukanya yang masih basah. Mikha menggendong dan menyusui satu persatu buah hatinya dengan penuh rasa sayang.
Menatap lekat-lekat wajah bayinya yang memiliki rupa khas western mengikuti DNA ayahnya, hanya saja manik mata kedua bayinya berwarna hitam mengikuti warna mata dirinya.
"Kesayangan Mama." Ucapnya tersenyum, seakan tak puas menciumi kedua pipi bayinya.
"Nduk, sudah siapkan nama belum?" Tanya Bu Yani sambil menggendong bayi yang satunya.
"Sudah Bu, aku sudah siapkan nama anak laki-laki dan perempuan jauh sebelum aku hamil. Aku gak menyangka akan di pakai bersamaan.
Yang Laki-laki bernama Sunshine Ananda Larry dan yang Perempuan Sunny Adinda Larry, gak muluk-muluk aku memberikan nama itu berharap agar kehadiran mereka dapat menjadi sinar yang cerah untuk ..." Ucap Mikha terputus, ia tiba-tiba aja terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa, Nduk?" tanya Bu Yani yang merasa heran dengan mimik wajah putrinya yang tiba-tiba saja murung.
"T-tidak apa-apa Bu." Ucap Mikha lirih memeluk Putri kecilnya, hatinya begitu sesak mengingat mimpi-mimpi ia bersama Maxim, dan harapan mereka jika kehadiran buah hatinya akan semakin menyinari kehidupan keluarga kecilnya.
"Ndah, gue boleh minta tolong." Ucap Mikha lirih
"Apa Kha?"
"......"
Mikha menjelaskan permintaannya hingga membuat Indah dan Bu Yani terkejut di buatnya.
"Nduk, apa kamu yakin? kamu gak kasian sama anak kamu?" Tanya Bu Yani dengan mimik wajah serius.
"Iya Bu, daripada aku harus menggantung semuanya." Ucap Mikha selaras dengan turunnya buliran air mata di sudut netranya.
......................
Empat bulan berlalu, pria blonde itu masih saja mengurung diri. Tubuhnya nampak tidak terawat, ia semakin putus asa karena usaha pencarian istrinya yang hingga saat ini masih belum membuahkan hasil.
"Mikha kau dimana? Sudah setengah tahun kau menghilang, aku amat sangat rindu padamu." Ucapnya lirih.
Pria itu duduk memeluk kedua lututnya, hingga terkadang mengacak-acak rambut coklatnya.
Cklek
Pintu terbuka, Ryan dan Jerry datang menghampiri si pria yang putus asa tersebut.
"Max, sudahlah jangan begini terus." Ucap Jerry duduk di sisi kiri Maxim.
Max menoleh kearah sahabatnya dan berkata lirih, "Aku sudah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku, hidupku sudah tidak ada artinya lagi."
Tiba-tiba seorang kepala pelayan datang mengetuk pintu kamar Maxim, ia memberikan selembar amplop kepada Max. Ia juga menjelaskan jika ada seseorang pria bermasker yang mengantarkannya, namun pria itu hanya mengatakan bahwa ia hanya seorang suruhan tanpa memberitahu namanya.
Max perlahan membuka amplop tersebut, seketika matanya membulat saat melihat isi dari amplop tersebut.
"Molly, kemana kurir yang mengantar?" Ucap Max lantang.
"Dia sudah pergi sejak lama Tuan, karena surat ini saya dapatkan dari tangan Paul yang tengah berjaga pada jam itu."
Tubuh pria itu melemas, kedua manik mata birunya mengeluarkan air mata. Ia menatap 4 lembar foto yang menunjukkan sepasang bayi kembar yang semakin tumbuh dari bulan ke bulan, dan juga selembar surat gugatan cerai.
"Kenapa kau tega padaku, sampai matipun aku tidak akan pernah menceraikanmu sayang." Ucapnya dengan suara serak, sementara ia langsung memeluk erat foto sepasang buah hatinya.
Ryan dan Jerry menatap iba sahabatnya, mereka mengerti betapa terpuruknya hati dan mental Maxim. Bahkan kabar kematian Jess dan Rhine saja tidak cukup membuatnya senang.
"Max, bangkitlah. Jika kau hanya begini terus, bagaimana kau bisa menemukan anak dan istrimu. Ayolah, kita buat Mikha semakin merindukanmu. Karena aku sangat yakin, dia juga masih mencintaimu." Ucap Ryan yang berhasil menyadarkan Max, kalau tidak ada gunanya jika ia terus-menerus meratapi nasib.
......................
Tiga hari kemudian, berita kembalinya "The Prince" membuat heboh seluruh jagat hiburan seluruh penjuru negeri. Vocal group yang tiba-tiba menghilang selama setengah tahun saat tengah naik daun itu kini tiba-tiba saja menyatakan akan bangkit kembali, di awali dengan konferensi pers yang mereka selenggarakan.
Max berjalan menuju area konferensi pers dengan wajah sendunya, dengan para awak media yang mengelilinginya sejak ia turun dari sebuah mobil.
Di sisi lain, Siaran langsung tersebut mampu mencuri perhatian Mikha yang baru saja pulang dari toko kue miliknya. Ia menatap nanar sebuah TV yang memperhatikan sosok orang yang paling di rindukannya.
Sosok seorang pria yang telah bertahta khusus di hatinya, dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Acara konferensi pers di mulai, Max menjelaskan vacuum-nya "The Prince" dengan alasan keterpurukannya selepas kepergian sang istri karena sebuah kesalah pahaman.
Namun pria itu tidak menjelaskan kesalahan seperti apa yang membuat mereka berpisah karena menurutnya itu bukanlah sebuah konsumsi publik. Terlebih ia tidak ingin media mengetahui Jesson mati ditangannya.
Max mengeluarkan sepucuk surat, dengan mata yang telah memerah karena menahan air matanya.
"Mikha, aku tau kau pasti menonton siaran ini. Lihatlah baik-baik!" Seru Max yang mulai merobek surat gugatan cerai dari istrinya.
"Sayang, aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun. Kecuali jika nyawaku ini sudah lepas dari ragaku. Aku mohon kembalilah, aku akan terus mencari dan menunggu walaupun harus menghabiskan waktu seumur hidupku."
Runtuhlah pertahanan mereka secara bersamaan, ar mata Max dan Mikha jatuh bersamaan membasahi pipi mereka. Seluruh media seakan membisu, mereka turut larut akan aura kesedihan yang tercipta dari sang superstar.
Soledad - Westlife
If only you could see the tears
Jika saja kau bisa melihat air mata ini
In the world you left behind
Di dunia yang kau tinggalkan
If only you could heal my heart
Jika saja kau bisa menyembuhkan
Just one more time
Hatiku sekali lagi
Even when I close my eyes
Meski saat ku pejamkan mataku
There's an image of your face
Kulihat bayangan wajahmu
Dan sekali lagi aku menyadari
You're a loss I can't replace
Kau tidak akan pernah tergantikan
Soledad
Soledad (Kesendirian ; Spain language)
It's a keeping for the lonely
Segalanya terasa begitu sepi
Since the day that you were gone
Sejak hari kepergianmu
Why did you leave me
Mengapa kau tinggalkan aku
Soledad
In my heart you were the only
Di hatiku hanya ada kau seorang
And your memory lives on
Dan kenangan tentangmu akan abadi
Why did you leave me
Mengapa kau tinggalkan aku
Soledad?
Walking down the streets of Nothingville
Menelusuri jalan di Nothingville
Where our love was young and free
Dimana cinta kita tumbuh dan bebas
Can't believe just what an empty place It has come to be
Tak dapat ku percaya betapa hampanya tempat ini sekarang
I would give my life away
Aku rela memberikan hidupku
If it could only be the same
Jika bisa membuatnya seperti dulu lagi
'Cause I can still the voice inside of me
Karena aku masih mendengar suaramu di dalam diriku
That is calling out your name
Yang terus memanggil namamu
Soledad (Soledad)
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad?
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
Soledad?
Time will never change the things you told me
Waktu takkan pernah mengubah hal-hal yang kau katakan padaku
After all we're meant to be
Pada akhirnya kita di takdirkan bersama
Love will bring us back to you and me
Cinta akan membawa kau dan aku bersama lagi
If only you could see
Andai saja kau bisa melihatnya
Soledad (Soledad)
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone (You were gone)
Why did you leave me
Soledad? (Soledad)
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
Soledad?
Why did you leave me Soledad?
Pip
Mikha segera mematikan televisi yang berada di hadapannya, Tubuhnya bergetar karena menangis kala mendengar sang suami bernyanyi dengan begitu pilu dan menyayat hatinya.
"Aku harus bagaimana?" Ucapnya di sela-sela tangisannya, namun seketika ingatan buruk itu kembali berputar. Mikha memang masih sangat mencintai Max, namun tidak dapat di pungkiri, wanita mana yang tidak trauma dan sakit hati melihat suaminya bercumbu dengan orang lain terlebih dengan sesama.
"Kha..." Sapa Indah yang sedari tadi sudah memperhatikan sahabatnya.
Wanita itu perlahan mendekati Mikha yang tengah duduk bergeming di depan sebuah televisi yang kini telah mati.
Mikha memeluk erat sahabatnya, ia menangis tersedu-sedu menumpahkan segala kegelisahan dan kesedihan di hatinya.
"Gue tau kalian masih saling mencintai, lalu bagaimana keputusan Lo? Coba pikirkan baik-baik, terutama untuk masa depan Shine dan Sunny." Ucap Indah.
Mikha nampak terdiam, kata hatinya seakan saling berselisih dengan pikirannya. Kini ia nampak memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan.
"G-gue..."
......................