
Malam itu langit begitu indah ditaburi bintang dan bulan seakan menyapa seluruh penghuni bumi dengan sinarnya yang begitu cerah.
Mikha terlihat menghampiri sang suami yang terlihat sibuk menuliskan lirik lagu yang baru saja ia ciptakan.
"Sayang, istirahat dulu yuk sudah malam." ucap Mikha memijat lembut pundak sang suami.
"Iya, sebentar lagi ya sayang" Jawab Maxim yang membuat Mikha mengerucutkan bibirnya.
"Terserah kamu deh!" Pekik Mikha yang tampak merajuk, meninggalkan Maxim seorang diri.
Maxim tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, ia memang harus lebih e'ikstra sabar menghadapi istrinya yang tengah mengandung. Mikha memang menjadi lebih sensitif dengan suasana hati yang mudah berubah-ubah, terlebih kondisi kandungannya yang semakin besar membuatnya mudah kesal.
Cklek
Pintu kamar terbuka, Max tampak segera menyusul Mikha yang kini tengah berbaring di atas ranjang sambil mengganti Chanel TV.
"Udah dong, jangan ngambek." Ucap Max mendekati istrinya.
"Siapa yang ngambek? dasar baper, wekkk." cebik Mikha sambil menjulurkan lidahnya menggoda sang suami.
Max seketika menghampiri Mikha dan menggelitiki tubuh istrinya, dan sesekali mencubit pipinya
"Hahaha ampun, geli !" Pekik Mikha hingga tampak mengeluarkan air mata di sudut matanya.
Mikha membaringkn tubuhnya dengan menjadikan paha sang suami sebagai bantalan kepalanya, sikapnya hari itu sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Ia menjadi lebih manja dan bahkan selalu saja menempel pada Maxim.
"Sayang, kau kan gak selamanya akan naik daun. Apa rencanamu kedepannya? apa kau ingin bekerja di perusahaan Daddy?" Tanya Mikha sambil memainkan telapak tangan suaminya.
"Emmm aku gak berniat sama sekali mengelola perusahaan, tapi jujur aku belum memikirkan masa depan. Akhhh... nampaknya aku terlalu terbuai oleh popularitas saat ini, harusnya aku sadar bagaimanapun aku punya tanggung jawab padamu dan anak kita." Ucap Max yang baru saja tersadar akan kelalaiannya.
Max memang terlahir dari keluarga kaya raya namun semenjak memutuskan untuk berkarir di dunia tarik suara, ia sama sekali tidak menginginkan keuntungan dari usaha keluarganya. Ia ingin berdiri di kakinya sendiri tanpa mengandalkan harta keluarganya.
"Bagaimana kalau kamu mendirikan agency atau sekolah musik dan seni?" Ucap Mikha memberikan masukan untuk suaminya.
"Sekolah musik?" Tanya Max yang nampak mengangkat sebelah alisnya. Mikha tersenyum dan mengangguk menanggapi pertanyaan sang suami.
"He'umm, selain itu kau bisa membantu anak-anak kurang mampu untuk mengasah bakat mereka lewat program beasiswa. Bukankah itu sangat positif?" Ucap Mikha tersenyum lalu bangkit dari tidurnya.
"Ya, nanti aku pikirkan matang-matang."
Max merengkuh wajah istrinya dan memberikan kecupan-kecupan lembut pada wajah Mikha.
Hingga kecupan itu beralih pada bibir merah istrinya dan terjadilah hal yang wajar dilakukan pasangan suami istri.
......................
Keesokan harinya Mikha pergi kerumah sakit untuk mengecek kandungan, namun sayangnya Max tidak dapat menemani karena ada jadwal pekerjaan.
Selama di perjalanan ada dua pasang mata yang memperhatikan pergerakannya, siapa lagi kalau bukan Rhine dan Jesson.
Rhine bertugas mengawasi Mikha sedangkan Jesson mengawasi pergerakan Maxim.
"Kau yakin? ini beresiko!" Seru Rhine pada Jesson.
"Ya, aku sudah tidak tahan melihat mereka bahagia si atas penderitaanku!"
Ucap Jess dan segera mengambil sesuatu yang berada di tangan Rhine
Di rumah sakit, Mikha tampak tersenyum memperlihatkan layar monitor yang menunjukkan kedua bayinya yang begitu sehat dan aktif.
"Selamat Nyonya, bayinya yang satu lagi berjenis kelamin perempuan." Ucap Dokter tersebut tak kalah senang.
Wajah Mikha tampak berbinar-binar, terlebih saat mendapati selembar foto hasil USG 4 Dimensi yang kini berada di tangannya.
Namun berkali-kali ia mencoba menghubungi suaminya, nomor telepon Maxim tidak dapat di hubungi hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Dilla.
"Hallo Dil, Max udah selesai pemotretan belum?" tanya Mikha kepada Dilla.
"Udah lebih dari sejam yang lalu Kha, ini aja gue sama Jerry udah sampai Apartemen. Lah bukannya dia tadi mau sarapan dulu sebentar habis itu nyusul Lo ke rumah sakit?"
Deg!!!
Entah mengapa perasaannya tiba-tiba gelisiah, ia merasakan terjadi sesuatu pada suaminya.
Mikha segera menaiki sebuah Taksi menuju apartemen dan berharap Maxim sudah berada di sana.
......................
"Loh kok gak di kunci?" Ucap Mikha dalam hati kala membuka pintu unit apartemen miliknya.
Matanya tampak menelisik keseluruh penjuru ruangan, mencoba mencari sosok sang suami.
"Max, Maxim! Sayang!" Pekik Mikha sambil berjalan menuju kamarnya.
"Sayang... Nikmati saja, aku tau kau rindu padaku."
Suara seseorang membuat Mikha mematung di depan kamarnya, suara seorang pria yang begitu familiar untuknya, di sertai suara erangan dan desahan nafas yang begitu terdengar kasar.
Tubuhnya begitu gemetar, pikirannya sudah melayang kemana-mana, ia sangat takut. Takut jika semua terjadi seperti dengan dugaannya.
Perlahan-lahan ia menyentuh handle pintu dan membukanya.
"M-m-mikha...ini ti-tidak!" Ucap Maxim dengan wajah yang begitu sendu dan nafas yang terengah-engah.
Pria itu mencoba dengan susah payah mendekati sang istri yang terdiam bagai patung di ambang pintu.
"Mikha A-Aku..." Ucap Max mencoba menyentuh tangan istrinya.
"Stop! Jangan sentuh aku!" Pekik Mikha dengan tatapan kosong, tubuhnya tampak gemetar menyaksikan adegan tak senonoh dengan mata kepalanya.
"A-akuu..."
"JANGAN SENTUH AKU!!!" Teriak Mikha, kini dengan tatapan tajam menatap suaminya.
"S-silahkan kalian lanjutkan saja, maaf saya mengganggu."
Ucap Mikha yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari unit miliknya.
Mikha segera menaiki taksi, pandangannya begitu kosong. Nampaknya jiwanya benar-benar terguncang menyaksikan Jesson yang tengah mencumbu mesra suaminya, gambaran-gambaran kejadian tak pantas itu terus-menerus berputar di kepalanya. Menyisakan trauma dan luka mendalam hingga relung hati paling dalam.
Mikha berhenti dan turun dari Taksi di sembarang jalan, otaknya seolah berhenti untuk dapat berpikir.
Untuk sekedar menangis pun rasanya ia tak mampu, ia berjalan dengan tatapan kosong mengikuti kemanapun langkah kakinya membawanya pergi.
Di sisi lain Jess tampak menyeringai, pria itu meninggalkan Maxim dalam keadaan mengenaskan, karena selalu berusaha melukai dirinya sendiri untuk melawan pengaruh obat yang di berikan oleh Jesson.
"Hahaha harga yang setimpal karena kakakmu sudah membuatku seperti mayat hidup! Berdoa saja agar istri tercintamu tidak bunuh diri hahahaha." Ucap pria itu lalu melakah meninggalkan Max.
Tangan Max penuh luka sayatan akibat ulahnya sendiri, dan tubuhnya terlalu lemah karena pengaruh obat pembangkit gairah yang di berikan oleh Jesson padanya.
"M-mikha..." Ucapnya lirih mencoba mengambil ponsel miliknya.
Pandanganya kini beralih pada selembar foto hasil USG yang tidak sengaja terjauh dari genggaman sang istri, Max tampak merutuki ketidakberdayaannya dan mengkhawatirkan kondisi istrinya yang pergi entah kemana.
......................