Oh My Mister

Oh My Mister
Pengorbanan Maxim



Pagi yang begitu damai di salah satu desa kecil yang berada di provinsi daerah istimewa Yogyakarta.


Burung-burung berkicau ria, sinar mentari bersinar menyinari hamparan hijau sawah bak permadani di kaki bukit.


"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".


Dua kalimat syahadat di ucapkan oleh seorang pria muda berkulit putih yang di bimbing oleh seorang Ahli agama.


"Alhamdullillahi rabbil' alamin."


Suara seluruh saksi serentak menggema mengisi seluruh ruang di sebuah Masjid di desa itu.


Seorang pria tua yang terduduk di kursi roda tampak memeluk haru pria muda tersebut.


"Terima kasih nak, Bapak berharap kelak kau akan menjadi suami dan imam yang baik untuk anak bapak."


"Tidak perlu berterima kasih pak, ini semua sudah keinginan saya, saya juga akan berusaha kelak menjadi suami yang baik untuk putri bapak." Jawab pria muda itu tersenyum.


"Nak, jika Mikha masih menolak kamu apakah kamu akan menyesal telah berkorban sejauh ini?"


"Tidak pak." Jawab Pria muda itu sungguh-sungguh.


Setelah semuanya selesai kemudian mereka kembali ke rumah untuk bersiap menjemput Mikha yang baru saja di izinkan untuk pulang.


"Wah pak Ali jadi punya mantu, hebat loh calonnya Mikha wong Londo."


Tiba-tiba ada 2 orang bapak-bapak menghampiri Pak Ali dan Max saat menuju Kediaman Mikha yang tak begitu jauh dari Masjid.


"Doakan aja ya pak." jawab Pak Ali tersenyum bahagia.


"huh mau-maunya dia sama Mikha, dengar gak gosipnya kalau Mikha itu sudah di ituin sama si Ari, apa gak jijik!" Ucap seorang ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan gerobak pedagang sayur keliling.


"Alah palingan si bule itu udah nyicipin duluan."Celetuk salah satu wanita bertubuh gempal di sebelahnya.


"Astagfirullah ibu-ibu ini pagi-pagi kok udah buat dosa aja, kalau anak gadis ibu di posisi seperti anaknya Pak Ali bagaimana? sudah jadi korban malah di gunjing." Celetuk Bu RT yang baru saja tiba di tukang sayur tersebut.


"Biarin aja Bu nanti kaya yang di TV TV itu, azab ibu-ibu ghibah di tukang sayur mati di mandikan pestisida."


Tiba-tiba anak perempuan Bu RT muncul di samping ibunya dan membuat ibu-ibu tersebut kesal dan segera membayar belanjaannya.


......................


Siang hari di rumah sakit, Mikha dan ibunya sudah bersiap-siap untuk pulang.


kesehatan fisik dan Mental Mikha mulai membaik namun ia masih tidak mampu untuk berbicara kepada Maxim.


Pria itu terus di abaikan olehnya, Sahabat dan keluarganya selalu menasehati gadis itu namun sepertinya ia masih sulit untuk kembali kepada laki-laki itu.


"Kha, gw sama Indah kayanya harus balik sekarang deh, cuti kita udah habis." Ucap Dilla dengan berat hati.


"Sekarang?" tanya Mikha yang tampak mengeryitkan dahinya.


"iya tapi Jumat besok pulang kerja kita kesini lagi, mumpung di beliin tiket pesawat sama si Max juga hehehe." jawab Dilla


"Lu baik-baik ya, yang lalu sudah jangan di ingat lagi. Oh ya dan satu lagi, bukalah hatimu lagi pada Max, kasian loh dia diabaikan terus padahal dia yang selalu jaga lu.


Jangan selalu menganggap diri lu gak pantas, Dia saja tidak keberatan kha, masa iya lu men-judge diri sendiri."


Indah memeluk tubuh Sahabat yang terlihat lebih kurus dari biasanya.


Rika dan Pak Ali datang, mereka kembali menggunakan mobil yang sudah di sewa oleh Maxim untuk mengantar jemput keluarga itu.


Mikha tampak melihat ke segala arah seakan mencari sesuatu, ia menghela nafas panjang dan tampak kecewa.


"Cari apa mba?" Tanya Rika basa basi, ia sebenarnya sudah tahu apa yang di cari oleh kakaknya.


"huh Lihat tuh kakakmu! ada di cuekin, gak ada di cariin." Bisik Indah kepada Rika yang membuat 2 wanita itu terkekeh.


Mereka meminta maaf tidak dapat mengantar Mikha pulang ke rumah terlebih dahulu, karena jarak bandara dari rumah sakit itu lebih dekat dan jadwal penerbangan merekapun segera tiba.


......................


Selama di perjalanan, Mikha terus memikirkan sesuatu.


Bu Yani dan Rika yang mengerti hanya tersenyum tipis di wajahnya, sepertinya kedua wanita itu sedang merencanakan sesuatu.


"kalau masih Sok gak mau kenapa tidak di paksa saja hehehehehe" gumam Rika menyeringai.


Akhirnya sampailah mereka di kediamannya yang cukup sederhana, Rumah itu tampak sunyi.


Rika membuka kunci pintu dan membiarkan kakaknya masuk terlebih dahulu.


Cklek


Pintu terbuka, Mikha mulai melangkahkan kaki masuk kedalam rumahnya.


"Will you merry me?"


Tiba-tiba Max datang dan berlutut di hadapan gadis itu dengan membawa sebuket bunga mawar merah dan cincin di sebuah kotak beludru berbentuk hati berwarna putih.


Mikha terkejut, tubuhnya kaku membisu.


perasaan berkecamuk di dalam dirinya, antara senang dan sedih bercampur menjadi satu


Gadis itu belum cukup percaya diri untuk kembali pada pria itu.


"Nak, ingat loh pesan ibu." Bu Yani berbisik di telinga putrinya seakan mengingatkan akan suatu hal.


"mba ayolah apa kau tidak sayang pada ibu dan bapak." Ucap Rika menekankan kata-katanya, seakan mengancam kakaknya yang masih diam.


Mikha menghela nafas, ia pun mulai menganggukkan kepalanya perlahan.


Semuanya tersenyum terlebih Max! pria itu tampak sangat bahagia, ia segera memakaikan cincin di jari manis gadis itu dengan sangat hati-hati.


"Mikha terima kasih sudah mau menerimaku, orang tuaku secepatnya akan datang kesini untuk melamarmu! mereka pasti sangat bahagia."


Max ingin sekali memeluk gadis itu namun ia merasa tidak enak hati karena keduanya orang tua Mikha berada di hadapannya.


Ia memberikan sebuket bunga kepada gadis itu, namun Mikha tampak sangat ragu untuk menerimanya.


Hwekk ...Hwekk...


Mikha tiba-tiba merasa mual dan langsung pergi ke kamar mandi.


Kedua orang tua Mikha saling beradu pandang, dan Max hanya diam membisu karena sepertinya mereka memiliki kecurigaan dan pemikiran yang sama.


Max segera menyusul Mikha yang masih memuntahkan isi perutnya di toilet, pria itu tampak sabar memijat-mijat tengkuk leher gadis itu secara perlahan.


keringat dingin membasahi tubuh gadis itu, gadis itu tampak lemas dan menyandarkan diri di pelukan sang pria.


Max lalu menggendong gadis itu ke kamar dan membaringkannya perlahan, Rika tak lama datang membawakan segelas Teh hangat dan sebotol Minyak kayu putih untuk kakaknya.


"Mas aku mau mengoleskan minyak kayu putih ke tubuh mba dulu, mas bisa keluar sebentar?" Pinta Rika dengan sopan, Max dengan berat hati keluarkan kamar meninggalkan gadis itu dengan adiknya.


Sedangkan Bu Yani dan Pak Ali tampak sedang mendiskusikan apa yang ada di pikiran mereka.


"Pak ...pak bagaimana ini? ibu takut dugaan ibu benar." Ucap Bu Yani mengguncang-guncangkan tangan suaminya penuh kekhawatiran.


Pak Ali tidak menjawab, ia hanya memijat-mijat dahinya.


"Ibu dan bapak tak perlu khawatir, aku yang akan bertanggung jawab dengan Mikha dan bayinya." Ucap Max yang tiba-tiba datang dan menghampiri kedua orang tua Mikha.


......................