Oh My Mister

Oh My Mister
Persimpangan



Max dan David hampir datang bersamaan ke sebuah kantor Polisi, di sana sudah menunggu Ryan, Jerry, dan seorang pria yang terkulai lemas dengan wajah yang memar.


"Ryan, Jerry ada apa ini? " tanya David yang panik.


seorang polisi yang menangani masalah itu pun menjelaskan kronologi kejadiannya, sedangkan Ryan dan David hanya diam saja berupaya meredam emosinya.


"Kurang ajar siapa yang menyuruhmu?" David menarik kerah baju Paparazi bayaran itu.


Tidak lama kemudian 2 orang polisi masuk membawa seseorang dengan tangan terborgol.


"Jess!!!" Mata Max terbelalak, sungguh ia tidak habis pikir bahwa Jess ingin kembali menjatuhkan nama baiknya.


Setelah melewati beberapa proses untuk di mintai keterangan akhirnya Max dan teman-temannya dapat keluar dari kantor Polisi tersebut.


Mereka memutuskan untuk pergi ke Rumah Milik David untuk membicarakan masalah tersebut.


"Max sayang sekali cctv di bagian depan cafe itu tidak berfungsi, ahh aku takut Jess akan bebas karena kita kurang bukti keterlibatannya." David menghela nafasnya.


"Max lebih baik kau pergi menghindar dulu deh, aku takut Jess semakin nekat dan berita ini tersebar luas! bagaimana menurut kalian?" Ujar Ryan memberi masukan.


"Ia tapi masalahnya kita masih ada beberapa kali jadwal pemotretan dengan Produk A, dan harus dengan formasi lengkap jadi Max wajib ikut." Jawab David bingung, ia memijat-mijat keningnya berupaya mengurangi rasa sakit di kepalanya.


"Apa tidak bisa si percepat? Aku juga gak masalah sih jika Max harus istirahat dulu, daripada masalah seperti ini muncul lagi, ah Max cepatlah kau nikahi gadis itu, siapa tau orang itu tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Jerry yang membuat David menatap tajam kepada Max.


"Max kau mau menikah dengan seorang wanita? sungguh?" selidik David.


Max menganggukkan kepalanya.


"Kontrak batas usiaku untuk melajang sudah habis kan? tidak masalah dong aku menjalin hubungan dengan seseorang?"


"Ya Bagus lah jika kau menikahi seorang gadis baik-baik. asal jangan lagi kau berhubungan dengan manusia macam Jes! bukan hanya nama baik dan popularitasmu yang turun tapi teman-temanmu juga! sekarang bijaklah dalam bersikap, Aku begini juga demi kebaikan kalian, dan Max sejak kapan kau menjalin hubungan dengan gadis itu?"


"Saat aku pergi ke Indonesia kemarin, tidak sengaja aku bertemu dia dan yang membuat ku tertarik dia sama sekali tidak kenal denganku. Jadi kami berteman dengan normal bukan antara idol dan fans."


Max memberi penjelasan kepada David.


"Oh jadi gadis itu." ucap David tenang nampaknya dia sudah mengetahui sejak awal.


" Kau mengetahuinya?"


"Ya tentu saja, aku mengirim beberapa orang untuk memantaumu di sana, tapi tenang kalau sama dia aku setuju ya... asal orang tuamu juga setuju."


Max terkejut dengan penuturan David, seketika dia memandang Ryan dan Jerry dengan tatapan tajam namun kedua orang itu mengalihkan pandangan mereka seakan-akan tidak tahu.


"Dasar dua bocah tengik! bisa-bisanya pura-pura tidak tau" Max mengumpat dalam hati.


***


Seminggu berlalu, sejak kejadian di Cafe banyak hal yang terjadi pada Max.


Di mulai dari Jess yang dinyatakan bebas tanpa syarat, tiba-tiba tersebar rumor Hoax Personel The Prince menganiaya seorang wartawan hingga Skandal hubungan Jess dan Max yang terlalu di buat-buat.


Hari itu Max memutuskan untuk mempercepat kepergiannya ke Indonesia untuk menghindari kejaran wartawan yang tiada hentinya pasca konferensi pers untuk meluruskan rumor-rumor Hoax yang sudah tersebar luas.


"Max hati-hati nak! semoga urusanmu disana lancar, kabari Mommy jika sudah sampai." Ucap Mommy melepas kepergian anaknya di Bandara.


"iya kak, kakak tenang aja Mommy ada aku yang jaga, dan masalah group dan skandal kakak, Daddy dan kak Jhon juga akan mengatasinya, tinggal kakak tunjukan kepada semua orang kalau kakak tidak pernah punya hubungan spesial dengan orang itu, bawalah kakak ipar kesini ya." Marrie memeluk Max dengan erat, Max Tersenyum mendengar perkataan adiknya dan mengelus pucuk kepala adik kesayangannya.


***


Di tempat yang berbeda, Mikha terburu-buru mempacking baju-bajunya ke sebuah tas ransel, air mata terus menetes membasahi pipinya.


Setelah semua di rasa siap ia pergi menuju ke sebuah terminal bus di antar Dilla sahabatnya.


"Kha hati-hati ya, gw balik ke kantor lagi nih sekalian urus cuti, besok atau lusa gw bisa nyusul lu. Lu kabarin ya kalau udah sampai, semoga pakde baik-baik aja."


Flasback On


Seperti biasanya Mikha sedang sibuk dengan pekerjaannya, tanpa ia sadari ponsel miliknya terus berbunyi.


"Kha hp kamu bunyi mulu tuh! angkat gih siapa tau penting." Ucap mbak Evi, salah satu rekan kerja Mikha yang senior.


"oh iya mbak, makasih ya." Mikha segera pergi keluar ruangan untuk mengangkat teleponnya.


"Hallo dek ada apa?" ucap Mikha memulai pembicaraanya.


"Mbak bapak mba hiks...bapak mba..huhu"


"Kenapa dek? bapak kenapa?Rika jangan bikin mba takut dong!"


"Huhuhu bapak mba, bapak kecelakaan tadi pagi mba, jadi korban tabrak lari saat mau berangkat kerja huhuhu" jawab Rika di serta tangisannya yang semakin menjadi.


Bagai tersambar petir, Kedua kaki Mikha terasa lemas, bahkan bibirnya Sulit untuk berucap, air matanya pun tak kuasa menetes di wajah cantiknya, seluruh badannya gemetar menahan segala emosi di hatinya.


"Ke... keadaan bapak gimana dek?" Mikha berusaha tegar untuk tetap menanyakan keadaan bapaknya.


"Ba...bapak masih di tangani dokter mbak, Hiks...aku takut mba! darahnya bapak banyak yang keluar huhuhu aku takut bapak kenapa-kenapa."


"Ibu mana dek? ibu mana?"


"ibu lagi di ruang UGD mba, ibu pingsan lihat bapak ...aku takut banget mba huhuhu."


"Sabar ya dek, mba pulang ke kampung sekarang! kamu di rumah sakit mana sekarang? mba biar langsung kesana!"


"Di rumah sakit A mba, mba hati-hati."


"Iya kamu kabrin selalu kondisi bapak, kamu yang tenang, jaga ibu."


Mikha memutuskan panggilan teleponnya, ia tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi dia pendam, tingkahnya membuat Indah dan Dilla tersadar, mereka menemui Mikha yang menangis di luar ruangan.


"Kha lu kenapa?" tanya Indah lembut.


"Bapak gw kecelakaan, Ndah huhuhu."


"Ya Allah Kha, ya udah kita temenin urus izin lu dulu yuk ke HRD." Indah dan Dilla menemani Mikha untuk mengurus perizinannya ke kantor HRD.


Setelah selesai, Dilla memutuskan untuk mengantar Mikha hingga ke terminal Bus.


Sejujurnya mereka sangat khawatir dengan keadaan Mikha yang seperti itu jika harus pulang ke kampung halaman sendirian, namun mereka masih mempunyai tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja.


Flasback off


***


Hai Readers, dukung terus karya Author ya


Dengan Favorit ❤, Like 👍, Koment 💬, Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


dan boleh juga minta vote nya hehehe


Jangan bosan-bosan ya mampir, Komentar kritik atau saran yang membangun juga aku tunggu loh...


mau promo juga gak apa-apa kita bisa saling dukung.


ya sudah Terima kasih banyak ya


see you ❤❤❤