
Mikha tampak semangat memilih-milih jenis cake yang begitu menggiurkan baginya, tak lupa Ia membeli sebuah kue Tiramisu kesukaan sang suami.
"Yuk Dil." Ucap Mikha berjalan mendahului Dilla yang sedang membayar kue yang turut ia beli.
Tanpa mereka sadari seseorang mengincar Mikha yang hendak menyeberang jalan di sebuah zebra cross.
Posisi jalan yang lenggang dan sepi mendukung orang tersebut bebas melakukan aksi kriminalnya.
"MIKHA AWAS!!!" Pekik Dilla kala melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah sahabatnya.
Dilla spontan berlari dan mendorong sahabatnya hingga mereka berdua tersungkur di jalan.
Seluruh warga yang berada disana berhamburan untuk membantu kedua wanita itu, tampak Mikha yang memegangi perutnya dan terus meringis kesakitan dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya"
Maxim yang melihat kejadian tersebut di depan matanya langsung berlari dan mengendong istrinya, begitu pula dengan Jerry yang tak kalah panik melihat kening istrinya mengeluarkan darah karena terbentur aspal jalan.
"S-sakit..." Rintih Mikha yang kini berada di sebuah ambulance di temani suaminya.
Max tampak panik, pria itu tak henti membelai kepala Istrinya dengan tangan kiri yang tak lepas menggenggam tangan Mikha.
Sesampainya di rumah sakit Mikha dan Dilla segera di bawa ke UGD sementara Max dan yang lainnya terpaksa harus menunggu.
Hampir setengah jam berlalu, akhirnya seorang dokter keluar menemui Max dan Jerry.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Ucap Max dan Jerry serempak.
Sang dokter mengulas senyum melihat para suami yang nampak begitu mengkhawatirkan istri mereka masing-masing.
"Untuk kondisi Nyonya Fawke baik-baik saja, hanya luka benturan ringan dan kaki kanan yang terkilir."
"Dan untuk Nyonya Larry, Kami bersyukur kandungan Nyonya cukup kuat. Pendarahan sudah kami hentikan sedangkan Nyonya hanya mengalami luka ringan saja."
Ucapan dari sang dokter membuat nafas kedua pria itu terasa lega, mereka langsung menghampiri sang Istri yang berbaring di ranjang yang bersebelahan.
"Dilla! " Pekik Jerry yang langsung memeluk istrinya sedang Max cukup mencium kening istrinya yang masih belum siuman.
"Max, aku curiga ada yang sengaja ingin mencelakai Mikha." Ucap Dilla serius.
"Maksudmu?"
"Aku jelas-jelas melihat mobil itu sengaja menargetkan Mikha, coba kamu selidiki lagi! terlebih tadi sore kami bertemu Clara."
"Clara? dia ada di sini?" tanya Max. mengeryitkan dahinya.
"Iya, Aku dan Mikha tidak sengaja berpapasan dengan wanita itu."
Max terdiam, tangannya mengepal erat menahan marah. Ia segera mengambil ponselnya dan hendak menelpon seseorang yang tak lain adalah Ayahnya untuk membantu mengusut rencana pembunuhan terhadap istrinya.
......................
Pagi hari di kota London, Jhon yang baru saja sampai di perusahaan tampak sibuk dengan pekerjaan yang berada di hadapannya, begitu pula Indah yang sibuk merapikan sisa-sisa pekerjaannya karena hari itu adalah hari terakhir ia bekerja sebagai sekretaris sang suami.
Tok Tok Tok
Pintu ruang kerja Jhon di ketuk, nampak Rhine yang berseragam Office girl membawakan secangkir kopi yang telah di pesan Jhon.
"Ini pesanannya Ce.. eh T-Tuan Jhon." Ucap Rhine meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Jhon.
"Rhine, ada yang ingin saya sampaikan kepadamu! silahkan duduk!" Ucap Jhon menatap wanita yang berada di hadapannya.
"Saya tau latar pendidikanmu, sungguh di sayangkan jika kau berakhir hanya menjadi Office girl." Ucap Jhon memulai pembicaraan.
"Mau bagaimana lagi, lagi pula perusahaan mana lagi yang mau menerimaku mengingat aku seorang mantan kriminal. Di terima di Sini saja aku sudah bersyukur, aku sungguh menyesali perbuatan bodohku dulu."
Ucap Rhine tertunduk lirih, matanya nampak berkaca-kaca menahan air mata yang kian menggenang.
"Sudahlah Rhine, Apa kau benar-benar menyesali perbuatanmu?"
Lolos! air mata begitu saja lolos dari kedua manik matanya, ia melirik sekejap ke arah pria yang di hadapannya hingga senyuman yang nyaris tak terlihat itu tersungging di bibir wanita licik itu.
"Rhine, mulai besok kau bisa bekerja menjadi sekretarisku. Mulailah kehidupanmu dengan lembaran yang baru dan lebih baik."
"S-sungguh?" tanya Rhine, meyakinkan ucapan Jhon.
Jhon menganggukkan kepalanya dan sedikit mengulas senyum.
Senyuman mengembang di wajah wanita itu, ia berkali-kali mengucap terima kasih pada Jhon atas kelapangan hatinya untuk menerima ia kembali.
Cklek
Pintu ruangan Jhon tiba-tiba terbuka, pemandangan yang begitu mengharukan tersaji di hadapan Indah.
Ia menatap erat-erat seorang Office girl yang menangis di hadapan sang suami, hingga pandangannya beralih menatap Jhon untuk meminta seakan menuntut penjelasan dari mulut sang suami.
"Honey, kemari lah!" Ucap Jhon memanggil Indah untuk mendekat padanya.
"Perkenalkan ini Rhine Charly yang akan menggantikan posisi kamu sebagai sekretarisku"
"Rhine Charly?" Ucap Indah memicingkan matanya, ia tampak mengingat-ingat nama yang tak asing di telinganya.
"Ya, latar pendidikannya memenuhi syarat untuk menjadi seorang sekretaris, dan Rhine perkenalkan ini Indah, Istriku!" Ucap Jhon memperkenalkan Indah
Rhine tersenyum tipis walaupun hatinya begitu panas mengetahui kenyataan bahwa Jhon telah menikah dengan wanita muda itu.
Ia pun segera pamit dan pergi meninggalkan ruangan Jhon dengan berkedok senyuman ramah yang ia gunakan.
Sedangkan raut wajah Indah berubah seketika kala baru mengingat tentang Rhine yang pernah di ceritakan Marrie, adik iparnya.
(Bab 73 - Masa lalu Jhon)
"Jhon kita perlu bicara!"
......................
Sebuah Lamborghini berwarna merah menyala tampak memasuki perkarangan sebuah rumah mewah bak istana di kota London, tak lama seorang wanita berparas cantik keluar dari dalam mobil tersebut dan di sambut oleh para pelayan.
"Nona Clara, tuan sudah menunggu di ruang tamu." Ucap seorang kepala pelayan.
Tanpa menjawab Clara langsung bergegas menuju ruang tamu, di sana ia mendapati ibunya tengah menangis di samping ayahnya yang diam menunduk.
Sedangkan di sisi lain, ia mendapati seorang pria tua dengan pandangannya yang begitu mengintimidasi dan juga 2 orang pria berseragam polisi.
"Ada apa ini?" Tanya Clara.
"Maaf Nona Clara mohon ikut kami untuk pemeriksaan." Ucap salah satu polisi dan langsung menghampiri dan menggenggam tangan Clara.
Gadis itu nampak terkejut dan memberontak.
"Apa maksudnya ini?salahku apa? Mommy, Daddy tolong aku!" Pekik Clara memberontak.
"Kamu bisa jelaskan semua di kantor polisi!" Ucap Pria tua itu dingin.
"P-paman Andrew, salahku apa Paman? tolong lepaskanlah aku!" Ucap Clara mengiba, pandangannya lalu berganti lagi kepada kedua orang tuanya yang tampak tak berdaya.
"Mommy... Deddy... aku mohon tolong aku!"
"Cepat bawa dia!"
Titah Tuan Andrew yang nampak gusar, hingga akhirnya Clara di bawa paksa oleh kedua polisi tersebut.
......................