Oh My Mister

Oh My Mister
Dua rasa yang berbeda



Max keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang nampak kusut, berkali-kali pria itu nampak menghela nafasnya mencoba mencerna perkataan dokter yang sangat sulit ia cerna.


"Max bagaimana?" Ucap Pak Ali dan Tuan Andrew bersamaan.


"Setelah Luka pasca operasinya pulih, Mikha harus sesegera mungkin melakukan fisioterapi dan terapi okupasi secara rutin sebelum otaknya mengalami kerusakan permanen."


Flasback ON


Setelah Mikha melakukan beberapa proses pemeriksaan menyeluruh, Beberapa jam kemudian hasil diagnosa pun keluar.


Max dengan perasaan cemas memasuki sebuah ruangan dokter khusus syaraf, ia sangat berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada istrinya.


"Selamat Siang dok!" Ucap Max dan mulai menduduki kursi yang tersedia di hadapan meja kerja dokter tersebut.


"Siang, Tuan Maxim Larry."


"Jadi bagaimana hasilnya?" Tanya Max dengan wajah cemas.


"Karena cedera kepala yang di alami, dengan berat hati saya harus memberitahu bahwa Istri anda mengidap Ataksia."


"Ataksia?" Tanya Max bingung, ia masih mencerna perkataan dokter dengan baik.


"Iya, gangguan pada sistem koordinasi syaraf otak, beruntung semua gejalanya baru sedikit yang terlihat. Jika kita segera melakukan fisioterapi dan terapi okupasi maka kemungkinan besar Nyonya Larry bisa segera sembuh namun jika di biarkan terlalu lama maka bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan sistem koordinasinya."


Hati Max bagai tersayat, lagi dan lagi istrinya harus mengalami hal yang buruk.


Pria itu sedikit termenung memikirkan kondisi sang istri.


"Kapan pengobatan bisa segera di mulai?"


"Secepatnya, setelah Luka pasca operasi telah pulih, kita bisa segera melakukan terapi."


Flasback Off


...****************...


Indah melangkahkan kan kakinya menuju ruang kerjanya, gadis itu terkejut melihat Jhon kini sedang duduk di kursi kerjanya seakan menunggu sesuatu.


"Dari mana saja kau?" Tanya Jhon dengan suara yang berat.


"Makan siang." Ucap Indah singkat.


"Dengan siapa?"


"Dilla."


Jhon segera bangkit dari kursinya sesaat setelah mendengar jawaban Indah, ia segera menyudutkan Indah hingga posisi gadis itu bersandar di tembok sedang kan kanan dan kirinya di himpit oleh kedua tangan Jhon.


Jhon menunduk menatap lekat mata Indah, nafas pria itu sangat terasa panas menghembus wajah gadis itu. Aroma mint yang begitu maskulin dari parfum Jhon begitu terasa di indera penciuman gadis itu.


"T-tuan!" Ucap Indah gugup, jantung gadis itu bagaikan petasan yang meletup-letup tak beraturan.


"Kau bersama Tuan Wang! sejak kapan kalian bersama!"


"A-Aku cuma gak sengaja bertemunya! sungguh!"


"Kau gak usah sok centil di depan pria itu! jangan menghancurkan reputasi perusahaan dengan tingkah lakumu!" Ucap Jhon dengan nada berat.


Pria itu terus menatap tajam Indah dan mengangkat dagu gadis itu hingga wajahnya mengadah keatas .


Mendengar ucapan Jhon, Indah hanya tersenyum. Ia merasa yang tidak beres dengan si pria matang pujaan hatinya, tak biasa ia bertingkah seperti itu.


Indah membalas perbuatan Jhon dengan memberanikan diri menarik dasi pria itu, hingga kini wajah mereka hanya menyisakan beberapa centi.


"Hai Tuan Jhon Marcello Larry, aku tak mungkin menggoda pria lain! saat hatiku sudah seutuhnya jatuh kepadamu."


Jhon terperangah dengan ucapan gadis itu, gadis yang kini tampak begitu menggoda di matanya.


Jantung pria itu begitu cepat berdetak kala memandang bibir mungil menantang yang kini tepat di hadapannya, ia menelan berat salivanya, Jiwa kejantanan pria itu muncul begitu saja.


Bagaimanapun ia adalah pria dewasa normal yang sudah lama tidak merasakan sentuhan dari seorang wanita.


"B-beraninya K-kau!" Ucap Jhon yang semakin mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu.


Pikiran dan hati pria itu sungguh saling bersitegang.


BRAK!!!


Pekik Marrie yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Indah, gadis itu segera berbalik arah setelah menyaksikan adegan di depan matanya.


"owhhh sorry, lanjutkan lah! cepat berikan aku keponakan lagi yah!" Ucap Marrie menggoda Jhon dan Indah.


"Kenapa?" Tanya Dilla yang baru saja mau menyusul Marrie menuju ruangan Indah.


"Jangan kesana! ada adegan 21+ !" Ujar Marrie terkekeh, mengingat apa yang baru saja ia lihat.


Tidak lama mereka melihat Jhon yang terburu-buru keluar dari ruangan Indah dengan wajah yang memerah.


Hahahahahaha...


Marrie dan Dilla saling pandang dan tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah malu seorang Jhon yang begitu lucu.


...****************...


Di ruangannya Jhon yang merasa malu, ia merutuki perbuatan yang baru saya ia ingin lakukan. Jika saja adiknya tidak datang, mungkin saja sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Bodoh! kenapa bisa aku begitu tergoda dengan gadis kecil itu! Aku sudah seperti pria tua mesum!"


Pekik Jhon memukul-mukul kepalanya.


Tiba-tiba ponsel milik berdering, Jhon dengan sigap segera mengangkatnya.


"Selamat siang Tuan Jhon, saya hanya menanyakan untuk kunjungan ke hotel di sekitar danau Windermere bisakah di percepat? karena ada masalah yang harus segera di atasi."


Ucap seorang pria di sebrang teleponnya.


"Baiklah besok saya akan kesana." Ucap Jhon segera memutuskan panggilan teleponnya.


Jhon nampak duduk bersandar di kursinya, ia sesekali menghembuskan nafas kasar dan memijat-mijat kepalanya.


"Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, besok aku harus pergi ke luar kota bersama gadis itu! Akhhhhh...aku harus membersihkan pikiran kotorku ini!"


...****************...


Di sisi lain Marrie dan Dilla yang mulai penasaran, melanjutkan niatnya untuk keruangan Indah.


Kedua gadis itu bukan lagi kesana untuk mengantarkan kue, namun juga karena dorongan rasa ingin tahu yang cukup tinggi atas kejadian yang mereka lihat.


"Hai..." ucap Dilla dan Marrie serempak dengan wajah yang penuh dengan rasa kepo(Ingin tahu).


Di lihatnya Indah yang sedang terduduk di meja kerjanya sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Ahhh Dilla ini gara-gara nasehat lu, gue jadi malu sendiri!"


Dilla yang tidak tahu menahu, membela diri karena tidak ingin di salahkan, "Lah kok gue?"


"Iya, gara-gara nasehat lu waktu itu yang bilang gue harus muka tembok untuk menghadapi Jhon, eh malah jadi malu begini!"


"Emang kenapa sih?" Ucap Marrie menengahi.


Indah pun menceritakan duduk permasalahannya, mulai dari Tuan Wang hingga tindakannya yang tanpa malu menggoda Jhon.


"Hahahahaha otak kau kok cuma setengah sih Ndah kalau soal menyangkut Jhon! maksud gue 'muka tembok' itu, lu harus kebal perasaan dan pantang nyerah buat rebut hati Jhon, bukannya jadi sekretaris penggoda! hahaha"


Ujar Dilla yang tertawa hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya.


"Ishh, seneng lu! Lu tau gak gue malu banget, mana besok gue harus keluar kota 3 hari sama dia!"


"Sungguh!" Pekik Dilla an Marrie serentak dengan mata berbinar-binar.


"Yes, akhirnya aku bisa nambah keponakan lagi! aku mau seorang keponakan laki-laki!" Ujar Marrie asal berbicara.


"Akhirnya temen gue cintanya ada kemajuan juga"


Ujar Dilla tak kalah antusias dari Marrie.


Indah menepuk keningnya, ia sungguh pusing menghadapi 2 orang yang berbicara ngelantur itu.


"Aduhhh mending pada kerja gih sana, dari pada disini makin ngelantur, bikin kepala makin pusing!"


Ucap Indah mendorong Dilla dan Marrie yang sedang tertawa, keluar dari ruang kerjanya.


...****************...