Oh My Mister

Oh My Mister
Touch me please! My Hubby



Eitttts belum selesai promonya wkwkwkwk


kan tadi aku bilang dua, iya dua.


Sebenarnya sih tiga cuma satu lagi belum tanda tangan kontrak.


Nah, Karya yang ini ekslusif aku terbitkan di aplikasi


N . O . V . E . L . L . I . F . E dan sudah berjalan.


Akan update setiap harinya di sana.


Tapi sorry, yang ini sudah kunci bab karena di tentukan pihak sana. Tapi tapi tapi, kalian bisa buka gratis dengan kumpulin hadiah tiket harian. Jadi kayak sistem poin di sini.


Ok, yuk gak usah lama-lama


Mari kita baca!


Judul : Touch me please! My Hubby


Karya : Mustika RahmaDika




...****************...


...****************...


...Chapter 1 - Loser...


Sang Surya semakin beranjak dari peraduannya, menerangi kota Jakarta yang telah berkutat dengan segala hiruk pikuknya. Semua jalan dan fasilitas transportasi umum sudah di penuhi lautan manusia.


Tak terkecuali seorang gadis yang tellah bersiap dengan seragam kerjanya.


Gadis itu tengah menunggu dengan sabar di barisan sebuah halte Transjakarta yang terletak di pinggir kota Jakarta, lautan manusia seolah tak menurunkan semangatnya untuk pergi mengais sedikit rejeki demi kelangsungan hidupnya.


Suara kedatangan sebuah bus samar-samar terdengar, gadis berkuncir kuda itu sudah memasang ancang-ancang. Karena seperti biasa, penumpang bus saat jam sibuk sudah terkenal dengan keganasannya.


"Beri jalan yang turun dulu!" teriak seorang petugas bus sesaat setelah bus Transjakarta gandeng itu berhenti sempurna.


"Tiga, dua, sa-tu," gumam gadis itu, setelah melihat penumpang terakhir yang turun.


Ia segera mengambil langkah seribu untuk masuk kedalam bus yang sudah terlihat penuh sesak.


Hampir satu jam perjalan di tempuh dengan naik dua moda transportasi berbeda akhirnya gadis itu sampai di tempatnya mengais rezeki.


Gadis itu adalah Keysa Adinda, gadis asal Solo yang nekat merantau seorang diri guna membantu perekonomian keluarganya.


"Key, ngantuk amat kayaknya. Jangan bilang begadang lagi?" tanya Santi, seorang supervisor yang bertugas mengawasi pekerjaan para QC atau Quality control.


Keysa menyengir kuda seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Nyaris setiap hari ia begadang demi menulis di salah satu platform online, menulis adalah salah satu hobi dan cita-cita hingga membuatnya rela walau harus menguras energinya.


"Lagian ngapain sih kamu nulis segala? Mending kerja aja yang bener, kayak tulisan kamu bakal hasilin banyak uang aja," cibir Santi kembali.


Keysa hanya tersenyum masam menanggapi ucapan atasannya. Ia sudah biasa dengan cibiran orang-orang di sekitarnya yang menganggap hobinya hanya membuang-buang waktu.


Waktu istirahat makan siang tiba, Keysa memilih menyendiri untuk makan siang sekaligus menulis novel bermodalkan ponsel miliknya. Dilihatnya beberapa komentar, fokusnya tertuju pada komentar seorang pembaca yang nampak baru membaca lnovelnya secara maraton.


'Nice story, i can't stop reading it! Please follback me in Instakilo.'


Sebuah senyuman merekah di bibir gadis berparas cantik itu, sebuah komentar dari pembacanya memang selalu menjadi mood booster baginya.


Keysa segera membuka akun Instakilo miliknya, lalu membuka notifikasi sebuah permintaan pertemanan, dari pembacanya tersebut yang bernama Nolan Bryane.


"Orang luar kayaknya, tapi kok dia bisa paham bahasa Novelku?" gumamnya sendiri, tapi Keysa yang tidak mau ambil pusing hanya tersenyum lalu keluar dari akun sosial media, yang selama ini menjadi wadah ia mempromosikan novelnya.


Drettt Drettt


Ponsel miliknya berdering, dengan cepat Keysa mengangkat sebuah telepon dari orang tuanya.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikum salam. Nduk, kamu ada uang gak? Bapak kumat lagi, ibu gak punya uang untuk berobat bapak."


Keysa memejamkan matanya dan menghela napas panjang, ia hanya memiliki uang seratus lima puluh ribu di dalam dompet sedangkan waktu gajian masih sepuluh hari lagi.


"Iya, Bu. Nanti Keysa transfer," ucapnya mencoba setenang mungkin.


Setelah panggilan telepon berakhir, gadis itu nampak mengurut keningnya. Nampaknya lagi-lagi ia harus berhutang pada kantornya demi kedua orang tuanya.


Keysa menatap jumlah saldo penghasilan novelnya selama enam bulan tertera nominal empat ratus ribu rupiah. Namun, karena jumlah minimal penarikan harus mencapai satu juta lima ratus ribu rupiah membuatnya hanya bisa menelan kenyataan pahit.


Keysa ingin menangis tetapi gadis itu hanya sebatang kara di Ibu kota, tiada tempat untuknya berkeluh kesah menumpahkan segala beban di hatinya.


Sesampainya di indekost yang selama ini ia tempati , Kesya terduduk lemas di kamar berukuran mini itu.


Pandangan matanya kosong, ia lelah dengan kehidupannya yang seperti itu.


Hari itu ia dicaci maki oleh atasannya, karena berusaha untuk kembali meminjam uang sementara hutangnya bulan kemarin pada perusahaan saja belum terlunasi.


Keysa memijat keningnya yang terasa berdenyut, memikirkan bagaimana lagi ia mendapatkan uang.


Terkadang Keysa merasa dunia tak adil baginya, kala teman-teman sekolahnya tengah melanjutkan ke perguruan tinggi, ia harus banting tulang demi menyokong perekonomian keluarganya.


Drett Drettt


Ponsel miliknya bergetar beberapa kali, Keisha segera mengambilnya lalu melihat sebuah pesan singkat dari sang adik.


'Mbak, aku tau mbak pasti lagi nggak punya uang. Mbak enggak usah khawatir, aku tadi dapat rezeki lumayanlah untuk berobat bapak. Jadi Mbak gak usah ngirim uang.'


Luruh sudah air mata di kedua netra indahnya, Keysa menangis tersedu-sedu seraya memeluk kedua lututnya ditekuk. Keysa benar-benar merasa menjadi seorang anak yang tidak berguna dan selalu saja gagal. Bahkan kini, iya harus menerima bantuan dari sang adik yang masih dibawah umur untuk biaya pengobatan ayahnya. Kesya tahu pasti jika Rama, adik kecilnya yang masih berusia enam belas tahun rela menjadi seorang juru parkir setiap pulang sekolah demi membantunya.


Ting!


Sebuah notifikasi kembali berbunyi dari telepon pintarnya, kali ini bukanlah sebuah pesan singkat tetapi, sebuah email masuk dari salah satu platform online berbayar.


Dengan sigap Keisha segera membukanya, berharap ada kabar baik dari email tersebut.


Namun, sepertinya Dewi Fortuna belum berpihak padanya, untuk kesekian kalinya lagi dan lagi Ia mendapatkan sebuah penolakan.


Keysa melempar ponselnya ke kasur dengan sembarangan, ingin rasanya ia menjerit sekuat tenaga.


'Apa salah dan dosaku Tuhan? Kenapa aku selalu gagal? Padahal aku sudah memberikan yang terbaik!'


Gadis berparas cantik itu kembali menghela napasnya perlahan. Dia, meyakinkan dirinya sendiri jika tidak ada usaha yang sia-sia, semua hanya tinggal menunggu waktu saja.


Setelah menenangkan dirinya, Keysa memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak sambil menyegarkan pikirannya.


Malam itu Keysa duduk di sebuah taman yang begitu ramai, maklum saja karena bertepatan dengan malam Minggu jadi banyak muda-mudi yang memilih berjalan-jalan di taman kota yang cukup luas itu.


Keysa kembali membuka ponselnya, terlihat notifikasi pesan masuk dari sosial media Instakilo miliknya.


Sebuah senyuman mengembang di wajahnya, Keysa sangat senang dan bersyukur jika ada seorang pembaca yang nampak begitu tertarik dengan karyanya, bahkan pembaca yang bernama Nolan Bryane tak segan memberikan semangat dan motivasi agar Keysa tak patah arang.


...


Di belahan dunia berbeda, seorang pria tentang menatap tablet miliknya. Sepasang lesung pipi terlihat menyertai senyuman di wajah tampannya.


Kedua manik birunya berbinar-binar, jemarinya asik mengetik sesuatu di sebuah sosial medianya.


Brak!


"Honey! Apa maksud semua ini?"


Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka tanpa permisi, tampak seseorang menghampirinya dengan wajah merah padam.


Pria bermanik biru melirik sosok itu dengan ekor matanya, lalu meletakan tablet miliknya dengan tenang.


"Hey, apa kau tidak punya sopan santun?"


Pria tersebut nampak bergeming, dengan memasang wajah tanpa ekspresi apapun.


"Sudah puas kau bicara? Listen! Kita sudah se-le-sai!"


...****************...


...Chapter 2-Arsy...


"Get out!"


Suara teriakan begitu terdengar menggelegar memenuhi ruangan pria itu.


Tak lama seorang pria datang yang langsung menggenggam lengan sosok yang membuat pria bermanik biru tersebut murka.


"Kau mau keluar sendiri atau saya panggilkan keamanan?" ancamnya dengan lugas.


Pria bermanik biru tersebut kembali duduk dan menghela napasnya, kala tamu tak di undang itu keluar dari ruang kerjanya.


"What happened? Sudah sadar?" ejek pria yang bernama Karl Benedict, yang merupakan asisten sekaligus sahabat pria bermanik biru tersebut.


Dengan santai Karl duduk di sebuah kursi yang berada di hadapan meja kerja sahabatnya. Lalu mengambil secangkir kopi yang tersedia di atas meja.


Pria bermanik biru yang bernama Nolan Bryane menatap sinis sahabatnya yang asik meminum sebuah kopi miliknya tanpa permisi.


"Damn!"


Karl tersenyum lalu menatap sahabatnya dengan pandangan jenaka, "Apa dia sangat menarik hingga membuat seseorang Tuan Nolan sadar?"


"Hey, hey! Jam kerja masih berlangsung, asisten jangan suka ikut campur urusan bos," kilah Nolan tertawa renyah.


...


Sang Surya mulai menampakan wujudnya, pancaran arunika menelusup lewat celah-celah jendela yang tertutup gorden berwarna jingga.


Keysa membuka matanya perlahan, baru tersadar jika ia tertidur saat tengah mengobrol via chat dengan pembaca novelnya yang bernama Nolan.


Keysa segera mengambil handuk dan perlengkapan mandinya, lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi bersama yang terletak di ujung lorong.


Setelah selesai membersihkan diri, gadis berparas cantik itu memicingkan matanya kala melihat seseorang berdiri dan mengetuk pintu kamarnya.


Matanya membulat sempurna saat menangkap sosok tersebut, dengan setengah berlari Keysa memekik, "Arsy!"


"Ya ampun, Key! Aku kira kamu kemana, diketuk gak dibuka-buka, aku telepon dari tadi tapi handphone kamu gak aktif!"


Keysa yang senang masih saja memeluk Arsy, sahabatnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Keysa dan Arsy memang berasal dari kampung yang sama, tetapi nasib hidup membedakan mereka.


Arsy yang merupakan anak kepala desa, kini baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat Strata dua di sebuah Universitas negeri di kota Yogyakarta. Sangat berbanding terbalik dengan Keysa yang harus merantau dan mencari kerja berbekal ijazah Sekolah Menengah Atas.


Walaupun demikian, Keysa dan Arsy bersahabat dengan baik. Arsy tidak pernah malu berteman dengan Kesya yang hanya anak dari seorang buruh tani di desanya.


"Hehehe maaf, handphone aku baterainya lowbat. Eh ... masuk dulu yuk!" titah Keysa semangat seraya menarik tangan sahabatnya masuk kedalam kamar.


Keysa menyediakan secangkir teh hangat untuk Arsy, lalu duduk di kasur lantai miliknya sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"Ada apa kamu ke Jakarta? Aku kira kamu mau balik ke kampung?"


"Ih ngapain? Kalau aku di kampung, yang ada si Karyo ngelamar aku," jawab Arsy bergidik hingga mengangkat kedua bahunya, kala mengingat seorang anak juragan empang yang selalu mendekatinya.


"Kamu gak lupa sama selera aku 'kan? Selera aku roti sobek impor, bukannya modelan roti boy apalagi dorayaki!"


Keysa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya, dari dulu sahabatnya ini sama sekali tidak berubah. Selain cerewet dan sedikit centil, Arsy merupakan penggemar pria-pria bule berbadan kekar dan tentunya wajib berparas tampan. Bahkan saat SMA Arsy pernah dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tua karena kedapatan memiliki majalah dewasa, yang berisi foto-foto panas para pria tampan bertubuh atletis.


Mengingat hal itu, membuat Keysa tertawa terbahak-bahak. Kegilaan sahabatnya ini memang tiada tandingannya.


"Gak usah cengengesan! Pasti inget waktu itu 'kan!" protes Arsy yang semakin membuat tawa Keysa pecah.


Kedua gadis itu asik berbincang-bincang dan bersenda gurau, terlebih kala mengingat kenakalan saat sekolah.


"Kesya, aku 'kan mau kerja disini. Kamu tinggal bareng aku aja yuk! Temenin aku, aku sewa apartemen kecil. Cuma takut tinggal sendirian," ucap Arsy beralasan, walaupun yang sebenarnya,, ia merasa kasihan melihat indekost tempat tinggal sahabatnya yang jauh dari kata layak.


Kamar berukuran sangat sempit, bahkan keberadaan Arsy di kamar itu membuat udara semakin pengap. Ia juga tidak tega melihat kondisi sahabatnya yang semakin kurus tidak terawat, terlebih wajah Keysa benar-benar menyiratkan beban yang ia sembunyikan dalam-dalam.


Arsy ingin membantu Keysa walau hanya semampunya, setidaknya ia ingin memastikan Keysa makan dengan baik dan tinggal di tempat yang layak. Hal inilah yang membuatnya bersikeras tinggal dan mencari pekerjaan di Jakarta.


"Tapi Sy."


"Gak ada tapi-tapian! Pokoknya harus, aku bantuin kamu packing! Emangnya kamu gak kasian sama aku? Lagi pula, lumayan uang yang harusnya untuk bayar kost, bisa kamu kirim ke ibu," ujar Arsy, mengeluarkan jurus andalannya.


Karena jika sudah menyangkut ibu dan bapak, maka Kesya pasti akan menurut.


Keysa menghela napasnya, yang dikatakan Arsy benar adanya. Namun, ia takut menyusahkan sahabatnya, Keysa tidak ingin menjadi benalu untuk Arsy.


"Hah ... ya sudah, tapi aku bantu-bantu beberes tempat kamu ya," ucap Keysa.


"Asik! Boleh bebenah tapi kamu harus ingat, kamu sahabatku bukan asisten rumah tangga! Jadi kamu gak perlu capek-capek ngerjain ini itu, ngerti!" tekan Arsy yang sepertinya sudah bisa membaca apa yang ada di isi kepala sahabatnya.


...


Selepas berkemas, Keysa menyerahkan kunci sekaligus berpamitan dengan seorang ibu penjaga kost. Barang-barang Keysa yang cuma sedikit memudahkan mereka untuk mengemasnya, hingga kini mereka hanya menggunakan sebuah taksi menuju Apartemen yang di sewa oleh Arsy di bilangan Jakarta Barat.


Taksi tersebut memasuki kawasan sebuah pusat perbelanjaan Anggrek garden yang terdapat Apartemen di dalamnya.


Kesya nampak kikuk dan tidak percaya diri kala melangkahkan kakinya masuk ke kawasan yang menurutnya cukup elit. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, terlebih ia cukup risih dengan pandangan orang-orang menatapnya.


"Udah cuekin!" lugas Arsy yang tengah menyeret sebuah koper milik Keysa.


Keysa hanya bisa mengikuti sahabatnya dari belakang dengan kepala menunduk, seumur hidup Keysa sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat semacam itu.


Elevator membawa kedua gadis itu menuju lantai dua puluh. Setelah sampai, Keysa terus mengikuti Arsy hingga kini mereka sampai di depan pintu unit apartemen Arsy.


"Arsy, ini punya kamu?" Kalimat tersebut begitu saja terlontar dari bibir Kesya.


Arsy tertawa terbahak-bahak, terlebih kala melihat wajah polos sahabatnya yang tengah menatap kagum unit apartemen type studio yang akan mereka tempati.


"Bukan, ini punya orang. Aku mah cuma nyewa," jawab Arsy.


"Ih! Piye Kowe iki begini aja kaget, ini cuma apartemen kecil. Kamu 'kan penulis, harusnya lebih tau dari aku tentang tempat tinggal luxury," sambung Arsy kembali.


Sedangkan Keysa hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah membereskan barang-barangnya, Keysa menatap pemandangan kota Jakarta lewat balkon kamarnya. Gadis manis itu masih tidak menyangka akan tinggal di tempat seperti ini.


Drettt Drettt


Ponselnya kembali bergetar, dengan cepat Keysa mengambil sebuah ponsel yang berada di saku celananya. Seketika sebuah senyuman mengembang di bibirnya, mata hitamnya berbinar-binar mendapati nama yang tertera pada layar benda pipih ajaib miliknya.


"Dia lagi."


...****************...


Ok sekian dulu promo aku, semoga kalian ada yang tertarik membaca karya-karyaku.


Sebelumnya, aku banyak mengucapkan terima kasih


karena kalian sudah membaca OH MY MISTER yang merupakan novel kesayanganku walaupun jujur, aku malu sama tulisanku ini.


Banyak sekali kekurangan di dalamnya, bahkan terlalu banyak typo ataupun kalimat pengantar yang tak berarti (Apalagi lirik lagu, banyak banget! Maaf ya.)


Oh ya, siapa tau ada yang mau follow ig aku @rahma.mrpotato


di sana aku post apapun tentang karya-karyaku.


Ya sudah, Sebelumnya mohon maaf kalau aku banyak bicara.


Sampai jumpa lagi pembaca kesayanganku, Bye-bye! 😘