Oh My Mister

Oh My Mister
Kesempatan kedua



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


maaf ya Author mampirnya lama karena emang lagi repot nih say...😭


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


...Boleh juga dong mampir ke karya baru Author...



...Terima kasih😘...


...****************...


Di ruangan yang begitu sunyi, menyisakan seorang wanita lanjut usia yang tengah merawat anak laki-lakinya yang tampak lemah.


Wajah putih pria itu tampak pucat, tidak ada rona merah yang biasanya menghiasi kedua pipinya, dengan infus terpasang di tangannya, berkali-kali ia mengeluarkan isi perutnya hingga tak menyisakan sedikitpun sari-sari makanan di lambung pria tersebut.


Kehamilan simpatik yang di deritanya, di tambah stress yang begitu membebaninya, memperparah kondisi kesehatan pria itu.


"Sayang, makan rotinya ya... sedikit aja" Ucap Ny Anna membelai lembut rambut putranya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


"Tidak mom, aku hanya ingin istriku." ucapnya lemah.


Nyonya Anna menghela nafas, ia paham betul perasaan anak dan menantunya.


Hoek...Hoek...


lagi-lagi Maxim merasa mual, walaupun lambungnya benar-benar sudah kosong.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, Jerry mencoba sekuat tenaga membujuk Mikha untuk menemui Maxim. Pria itu benar-benar merasa kasihan dengan kondisi Maxim saat ini.


"Aku mohon sekali padamu, alasan Max menyembunyikan semua darimu karena ia tidak mau kau merasa ilfeel dan pergi darinya, harus kau tau segala macam cara telah ia tempuh agar bisa menjadi pria normal hingga ia selalu rutin konsultasi ke psikolog. Aku mohon temui dia"


Mikha menghela nafas tampak berpikir, hingga akhirnya ia mengangguk bersedia ikut dengan Jerry menemui Max.


"Untuk apa kau menemuinya lagi?"


Ryan tiba-tiba menuncul, menahan tangan Mikha yang hendak pergi mengikuti Jerry.


"Ryan apa maksudmu?" Ucap Jerry yang mulai kesal dengan sikap Ryan.


"Buat apa kau masih kasian dengan pria pembohong itu, itu hanya menambah sakit hatimu."


"Jaga bicaramu! Ryan, kau keterlaluan!" Pekik Jerry yang telah tersulut emosi..


"Sudah, Stop ! Ryan terima kasih kau sudah mengkhawatirkanku tapi bagaimanapun Maxim masih suamiku." Ucap Mikha melepaskan tangannya dari genggaman Ryan.


Jerry menatap mata sahabatnya dengan pandangan tidak suka, ia tidak habis pikir Ryan berubah karena hanya sebuah cinta yang tidak layak ia kejar.


Hampir 15 menit perjalanan di tempuh, hingga mereka sampai di sebuah rumah sakit.


Hoek...Hoek...


Maxim terus menerus mengeluarkan cairan asam lambung karena memang tidak ada makanan lagi di dalam lambung pria tersebut.


Ia tidak menyadari kehadiran Jerry dan Istrinya di ambang pintu kamar rawatnya, Mikha menatap sendu melihat kondisi suaminya yang tampak lemah dan pucat pasi. Tidak ada lagi senyuman dengan manisnya lesung pipi yang biasanya selalu tersaji di wajah suaminya.


"Max" Ucapnya lirih, perlahan menghampiri suaminya.


Max tersadar akan suara istrinya, menoleh menuju sumber suara tersebut. Pria itu tersenyum sendu mencoba bangkit untuk menghampiri istrinya walau akhirnya ia harus jatuh karena kondisi tubuhnya yang lemah.


"Sayang, maafkan aku. Aku mohon jangan pergi lagi."


Ucap Maxim memeluk erat istrinya yang kini duduk di sampingnya, cairan bening meluncur dari pelupuk mata pria itu.


Mikha tak mampu berkata apa-apa, wajahnya datar tak mampu mengekspresikan apapun. Beragam perasaan berkecamuk di dalam hatinya, ia tidak tau bagaimana harus bersikap dan menghadapi suaminya.


Nyonya Anna tersenyum, wanita tua itu mengecup pucuk kepala putra dan menantunya secara bergantian.


"Berikan kesempatan untuk putra Mommy, maaf nak, Mommy gagal mendidiknya menjadi pria baik. Namun mommy yakin ia akan menjadi suami dan ayah yang baik." Ucap Ny. Anna tersenyum.


Nyonya Anna melangkahkan kakinya keluar ruangan, ia memberikan kesempatan untuk Max dan Mikha untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Max merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri yang tengah duduk di atas ranjang rawat, ia mengelus perut istrinya yang kini telah terisi buah hatinya. Rasanya nyaman begitu ia rasakan ketika berdekatan dengan istrinya, bahkan rasa mual yang menghantuinya tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Sayang mau maafin papa gak? papa sayang banget sama kamu dan mama. Jangan pergi lagi ya, maafin papa udah gak jujur sama mamamu, tapi satu hal yang pasti papa benar-benar mencintai kalian, papa berjanji akan menjadi yang terbaik untuk kalian." Max terus merancau dan mengecup lembut perut istrinya.


Mikha membelai lembut rambut suaminya, seandainya saja tidak ada masalah antara mereka pasti saat-saat seperti itu akan sangat membahagiakan untuknya.


"Max, aku gak akan meninggalkanmu namun maaf, aku butuh waktu untuk menata hatiku lagi."


Max bangkit, dan menatap wajah istrinya. Ia mengerti bahwa sulit untuk Mikha menerima kenyataan akan masa lalu dirinya dengan Jesson.


"Maafkan aku, sekali lagi Maaf kan aku. Aku akan berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Tidak akan ada lagi rahasia yang aku sembunyikan darimu, aku berjanji sayang." Ucapnya merangkum wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Tolong jangan ulangi perbuatan itu lagi atau kau akan benar-benar kehilanganku", Ucap Mikha penuh penekanan.


...****************...


Tak berselang lama Indah dan Dilla menyusul Mikha menuju rumah sakit. Rasa kesal masih bergemuruh di hati Dilla kepada Indah, ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Indah hingga mengungkit hal yang paling terlarang untuk di ucapkan di hadapan Mikha.


Di depan ruang rawat sudah ada keluarga Larry dan Jerry yang menunggu.


Jhon yang melihat kehadiran kekasihnya segera menghampiri gadis itu dan memeluknya, sedangkan Dilla yang terlanjur muak berdecak kesal dan memutar bola matanya.


"Kak aku, Mommy,dan Daddy pulang dulu ya.. aku titip ka Mikha dan kak Maxim." Ucap Marrie berpamitan kepada Dilla yang tanpak menyendiri.


"iya hati-hati ya Mar"


Jarry tampak memperhatikan tingkah Dilla yang aneh, berkali-kali Indah mencoba mengajaknya bicara namun gadis berparas manis itu sama sekali tidak menggubrisnya.


"Dil, mau Kopi?" sapa Indah menawarkan segelas kopi panas kepada Dilla, namun gadis itu malah beranjak pergi meninggalkan Indah tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Ya Tuhan, tadi Ryan sekarang Dilla sama Indah sebenarnya ada konspirasi apa sih?" gumam Jerry menepuk dahinya.


Pria itu segera mengikuti Dilla yang entah mau pergi kemana.


"Dilla tunggu" pekik Jerry mengejar Dilla yang tampak semakin menjauh.


"Kau kenapa? aku perhatikan sepertinya terjadi sesuatu antara kau dan Indah?"


...****************...


Di sebuah kota di Amerika, Rhine tampak gusar.


Wanita berparas cantik itu berkali-kali mencoba menghubungi keponakan kesayangannya namun tidak kunjung tersambung.


"Apa yang di lakukan si bodoh itu?"Pekik Rhine yang sibuk menghubungi Jesson.


"Ah sepertinya aku harus nekat pergi ke sana, si ceroboh itu memang menyusahkan. Aku yakin terjadi sesuatu kepadanya."


Rhine membuka website online untuk memesan tiket penerbangan menuju London, sebuah kota yang beberapa tahun ini ia tinggalkan.


...****************...