
Sebulan berlalu, Max semakin frustasi dan putus asa mencari sang istri.
Beribu cara telah ia tempuh, bahkan mencari Mikha di kampung halamannya namun keluarga Mikha bagai hilang di telan bumi. Kini Max hanya terlihat mengurung diri di kamarnya, bahkan ia sudah tidak peduli akan dirinya dan karirnya. The Prince bagaikan mati suri dan tenggelam dari dunia hiburan.
"Kak, Makan dulu ya..." Ucap Marrie menghampiri Max yang tengah melamun menatap nanar ke jendela, namun pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
(source picture Instagram, maaf akunnya lupa)
"Kak, dari kemarin kau gak makan. Nanti kau bisa sakit." Ucap Marrie yang terus membujuk kakaknya.
"Tidak Marrie, aku tidak ingin makan. Aku ingin istri dan anakku." lirih Max.
Marrie hanya terdiam, gadis blonde itu tidak tega melihat kondisi kakak keduanya. Max dan Jhon memang sama-sama kehilangan seorang istri, namun hati dan pribadi max yang begitu lembut membuat ia jauh lebih terpuruk di bandingkan Jhon.
Di antara ambang pintu terlihat Dilla dan Jerry, mereka menatap iba akan kondisi Max namun Dilla tak dapat berbuat banyak karena ia sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan sahabatnya.
......................
Di tempat lain, Mikha nampak terduduk bersama sang adik dan Indah di sebuah bangku taman pada halaman rumah Indah.
Ia tengah membicarakan masa depannya karena bagaimanapun ia harus mulai bekerja untuk membiayai hidup adik, orang tua dan juga bayinya.
"Ndah, ada lowongan gak di tempat Lo? gue harus kerja dan cari rumah kontrakan. Gue gak enak numpang di rumah Lo terus." Tanya Mikha sambil meminum segelas susu hamil di hadapannya.
"Mba kan lagi hamil, aku aja yang kerja. Kuliahku bisa di tunda dulu." Ucap Rika menimpali ucapan Kakaknya.
Indah tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum melihat kakak adik yang terlihat saling peduli satu sama lainnya.
"Kalian ini apa-apaan sih? Mikha, lu udah gue anggap keluarga sendiri. Lagi pula gue senang banget rumah ini jadi ramai, Tinggalah disini ya... Gue mohon, dan untuk kuliah Rika gue udah daftarin kok, tinggal masuk aja dan gak usah mikirin biayanya." Ucap Indah.
"Tapi Ndah, gue gak mau begitu. Ini sama aja nyusahin Lo." Protes Mikha menatap tajam sahabatnya.
"Emmm gimana kalau mba buka toko kue? kan aku dan ibu bisa bantu-bantu juga." ujar Rika berikan ide.
Mikha nampak berpikir sejenak lalu menghela nafas kasar. "Uang dari mana dek buat modalnya? Mba gak mungkin narik uang di bank, bisa ketahuan mas Maxim."
"Gue modalin!" Seru Indah semangat.
"ENGGAK!" Jawab Mikha lantang
Rika tampak berlari menuju rumah lalu kembali dengan sebuah kotak di tangannya, gadis itu segera memberikan kotak tersebut kepada Mikha.
"Ini buat mba, cukuplah buat modal." ujar Rika.
Mikha memicingkan matanya, dan segera membuka kotak tersebut. Alangkah terkejutnya ia mendapati perhiasan yang begitu banyak di dalam kotak itu. Mikha menatap tajam adiknya seolah meminta penjelasan dari Rika.
"Jadi begini, sebenarnya Mas Max selalu ngirim uang jajan untukku diluar uang bulanan untuk ibu. Jadi karena aku tidak terlalu butuh maka aku belikan emas saja, lumayan kan beli saat harganya turun dan bisa di jual saat harganya naik, daripada hanya aku simpan di bank." Ucap Rika memberikan penjelasan, Indah yang mendengarnya nampak tertawa dan mencubit pipi Rika, "Nah pinter, otak bisnis hahaha."
"Tapi dek..." Ucap Mikha namun segera di potong oleh Rika.
"Gak ada tapi-tapian mba, ini uang dari Mas maka sama aja uang Mba. Sekarang mba pilih deh, mau pakai modal dariku atau dari mba Indah?"
Mikha akhirnya mengalahkan egonya, ia menerima bantuan dari sang adik. Indah segera memerintahkan Novi untuk mencari Ruko yang cocok dan strategis.
......................
Malam itu Rhine dan Jess terlihat baru saja turun dari sebuah Taxi, nampaknya kedua makhluk itu mabuk selepas pulang dari klub hiburan malam.
"Hahaha aku gak sabar menjebak Cello agar ia bisa menikahiku." Ucap Rhine dalam keadaan setengah sadar.
PLAK!!!
Rhine dan Jesson jatuh tersungkur setelah ada seseorang yang memukul belakang kepala mereka dengan begitu keras. Tiga orang bertubuh tegap segera membawa mereka yang telah tidak sadarkan diri.
"Siram mereka!" Suara teriakan seorang pria memenuhi ruangan gelap dan berbau lembab tersebut.
Rhine dan Jesson mengerjap-ngerjapkan matanya, dan perlahan sadarkan diri.
"A-Aku dimana? S-sakit." Ucap Rhine kala merasakan sakit pada area belakang kepalanya.
Kedua tangan dan kaki mereka terikat kuat, dan tampak tiga orang memandangi mereka dari kegelapan.
"Siapa kau, aku dimana?" Pekik Rhine, bertanya pada sosok di hadapannya.
Sosok tersebut mendekat dan berbisik pada telinga wanita yang nampak ketakutan tersebut.
"Heh, masa kau tak mengenaliku?"
"Cello? Cello tolong aku. A-Aku takut!"
Jhon lebih mendekatkan wajahnya pada telinga Rhine dan berbisik lirih hingga nafasnya begitu terasa hangat ditelinga wanita itu, "Tenang saja, Sa...ha... bat..ku..."
Tangannya membelai lembut rambut dan wajah Rhine dengan lembut, hingga membuat wanita itu terhanyut akan belaiannya. Perlahan tangannya turun pada area leher Rhine dan seketika mencekiknya dengan kuat.
"Aku sudah banyak berbelas kasih padamu, tapi ternyata kau begitu tak puas menghancurkan hidupku bahkan adikku! hahaha aktingmu sungguh bagus Rhine Charly." Ucap Jhon penuh penekanan.
Sementara itu Jesson tampak sibuk mengumpat, pria itu merancau dan berteriak-teriak tiada henti.
"Hancurlah kalian, walau kau membunuhkupun. Rumah tangga kalian sudah hancur hahahahaha."
Max yang berdiri di samping David tampak mendekat, pria itu mengambil sebuah handheld stun gun yang berada tidak jauh darinya.
"Brengs*k!" pekik Max seketika yang langsung menempelkan alat kejut listrik tersebut ke tubuh Jesson hingga pria itu terkulai tak berdaya.
"Bangun kau, s*alan!" Pekik Max menendang tubuh Jesson yang terkulai lemas.
Max berubah 180 derajat, pria lembut itu seketika berubah menjadi mengerikan karena rasa putus asa dan amarah yang sudah meluap-luap di hatinya.
Prok...Prok...Prok...
David tampak bertepuk tangan lalu menghampiri dan menepuk pundak Max.
"Kali ini aku serahkan padamu, hukuman apa yang cocok dengan kedua makhluk itu." Ucap David dengan senyuman seringainya.
Max menoleh, matanya nampak memerah melukiskan segala amarah yang meluap-luap di dalam hatinya.
"Masukan mereka kedalam penjara gelap, satukan mereka dengan binatang-binatang menjijikkan. Biarkan mereka hidup hingga mereka milih mengakhiri hidupnya sendiri, kau sediakan saja pisau tumpul dan seutas tali untuk menjadi hadiah kematian untuk mereka." Ucap Max menyeringai.
......................
Mikha nampak menatap cermin di hadapannya, perlahan menutupi kepalanya dengan seutas kain. Ia berharap dengan memulai menutup auratnya, ia mampu menjaga kehormatannya dan juga suaminya meski mereka kini berpisah jauh.
Hari itu juga bertepatan dengan pembukaan toko kue sekaligus coffee shop miliknya, ia juga berharap usahanya bisa membuahkan hasil agar mampu menghidupi keluarganya tanpa ketergantungan dengan Indah yang terus-menerus membantunya.
"Doain Mama ya sayang." Ucapnya sambil mengelus-elus lembut perutnya.
......................