
Assalamualaikum
Suara salam terdengar dari balik pintu kediaman sederhana keluarga Mikha, 2 orang gadis muda tersenyum saat hendak seseorang membukakan pintu untuknya.
"Dilla gemblong, Indah!" Pekik Mikha yang kemudian memeluk erat kedua orang sahabatnya.
"Enak aja gemblong, gw udah kurus tau! Oh ya,
Kha gimana kabar lu, baik-baik aja kan? kita kepikiran lu terus Kha", Ucap Dilla senang melihat kondisi sahabatnya yang sangat jauh lebih baik daripada Minggu lalu.
"Kalian gak kerja? baru minggu-minggu kemarin cuti kan?"
"Tenang aja, Bu Karin HRD ngertiin kok kalau gw harus jadi saksi di persidangan lu, dan nanti juga beliau akan datang saat lu nikah." Ucap Dilla menjelaskan.
Mikha mempersilahkan kedua sahabatnya duduk di ruang keluarga karena tentu saja ruang tamu mereka sedang di huni oleh 3 orang pria yang sedang serius mendiskusikan sesuatu.
Mereka kemudian tak lupa memberi salam kepada kedua orang tua Mikha.
Mikha mencari-cari keberadaan Rika namun anak itu menghilang, tepatnya anak itu pasti sedang berkeliling bersama Marrie!, Entah bagaimana awal ceritanya namun Rika begitu saja mudah berbaur seakan mempunyai hati yang klop dan seirama dengan calon adik iparnya itu.
Tatapan mata Indah diam-diam mencuri pandang pada salah satu sosok pria di ruang tamu, pria yang tampak dewasa namun memiliki kesan lembut dan berkharisma di matanya.
"Kha itu siapa?" tanya Indah penasaran.
"Hah yang mana?"
"Laki-laki tinggi besar yang wajahnya mirip Maxim."
"Itu ka Jhon, kakaknya Max. Kemarin ia baru datang sama Marrie adiknya."
"owhhhhh pantes mirip banget." Jawab Indah merasa puas mendengar jawaban dari sahabatnya, namun berbeda dengan Dilla.
Gadis itu masih penasaran mengapa orang tua Maxim tidak ikut datang bersama anak-anaknya.
"Kok cuma berdua, orang tua Maxim mana? Jhon gak sama istrinya?"
"Kemarin mereka masih ada pekerjaan, ya kira-kira pagi ini mereka baru berangkat bersama anaknya Jhon yang masih balita."
"Istrinya Jhon?"sambung Indah antusias. Mikha menatap Indah dengan tatapan menyelidik, karena baru kali ini seorang Indah begitu Antusias menanyakan hal pribadi seseorang yang baru di kenalnya apalagi seorang pria.
"Kata Max, Istrinya Jhon sudah lama meninggal pasca melahirkan. Hmmm... Ndah, jangan bilang Lo..."
Belum selesai Mikha melanjutkan kalimatnya, Indah tiba-tiba saya berdiri dari duduknya, tersenyum lebar dan menepuk tangan bak seseorang yang habis memenangkan sebuah undian (Berdosa banget si Indah di kasih kabar duka malah bahagiaš).
"Whawww DUREN!!!" (Duda Keren)
Pekik Indah antusias, membuat Mikha dan Dilla saling menatap heran lalu menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Duren? duren apa? durian? kau mau durian?"
Tanya Max yang tiba-tiba saja muncul bak hantu.
"Sudahlah! kau masih lugu Max, gak perlu tau apa maksud si Indah." Ucap Mikha menarik tangan calon suaminya meninggalkan kedua Sahabatnya.
...****************...
Saat yang di nantikan pun tiba, Mikha beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sudah berkumpul di depan pengadilan, tak lupa pula kehadiran seorang pengacara kondang nan terkenal serta Mas Dodo sebagai salah satu saksi, membuat gadis itu percaya diri.
"Mikha dengar gw, apapun yang terjadi di dalam nanti, kau harus kuat! mulai sekarang, Mikha yang lemah sudah tidak ada! kau tak boleh membiarkan orang lain seenaknya menindasmu dan mereka semua harus membayar mahal apa yang telah mereka perbuat padamu!, kau harus membuat mereka terbangun dan sadar dari kesombongannya, bahwa di atas langit masih ada langit. Kini kau adalah wanita kuat dan tegar, serta tak mudah terprovokasi."
Ucap Indah menasehati Mikha, dengan tatapan tajam dan nada bicara yang penuh penekanan menghipnotis pikiran sahabatnya.
Waktu persidangan akan di mulai, dengan angkuhnya Nyonya Wijaya dan suaminya serta kedua istri dari Ari Wijaya memasuki ruang persidangan.
gumam Nyonya Wijaya seraya mengibas-ngbaskan sebuah kipas di tangannya.
"Sayang, jangan kau menundukkan kepalamu! ingat kau harus kuat."
Max menggenggam erat tangan Mikha dan mulai memasuki ruang tersebut.
Dua orang polisi mengawal sang terdakwa untuk memasuki ruang itu, ya dia adalah Ari Wijaya, pria tak berhati yang bahkan saat ini tak terlihat sedikitpun penyesalan dan rasa bersalah di wajahnya.
Maxim menatap pria itu dengan tatapan membunuh penuh dendam dan kebencian, seandainya saja tidak ada aparat hukum, mungkin saja dia sudah menerkam dan mencabik-cabik wajah menjijikan pria itu dan menjadikannya umpan binatang buas.
Tahap demi tahap di lewati dengan sebuah kesaksian seadanya yang di kemukakan oleh pihak korban.
Mereka memang sengaja, membiarkan pihak terdakwa terlebih terbang di atas angin lalu dengan sendirinya mengeluarkan seluruh rencana-rencana kecurangannya.
"Mohon maaf tapi pernyataan anda tidak sesuai fakta, nyatanya pertama saudara Ari wijaya tanpa kesengajaan menabrak Saudara Ali karena beliau yang tiba-tiba saja memberhentikan kendaraan sepeda motornya secara mendadak. Kedua pada khasus saudari Mikha Arlista mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan luka yang di alami saudari Mikha Arlista adalah murni dia yang mencelakakan dirinya sendiri dikarenakan Saudara Ari Wijaya menolak berhubungan dengannya. Kami juga memiliki beberapa orang saksi mata ditempat kejadian yang akan membuktikan bahwa saudari Mikha Arlista lah yang terlebih dahulu menggoda saudara Ari Wijaya." Ucap Pengacara dari pihak terdakwa yang berhasil membuat Maxim geram mendengarnya.
Mikha hanya menyeringai, tatapan matanya tajam menusuk pengacara berlidah racun itu, dan pria busuk yang telah merenggut kesuciannya bahkan berbalik memfitnahnya.
"Heh ...aku telah memiliki sebuah berlian, untuk apa aku menginginkan seonggok batu kerikil yang tak berguna! bahkan jika pria di dunia hanya tinggal dirinya, Aku! Seorang Mikha Arlista lebih baik melajang seumur hidupku dari pada harus bersama laki-laki busuk macam dirinya!
Aku yang telah di nodai olehnya dan kalian begitu mudah memutar balikkan fakta, apakah jiwa kalian masih sehat? Oh salah, apakah hati nurani kalian masih sehat?"
Ucap Mikha lantang dan mencoba tenang, namun badannya bergetar menahan amarah.
kilatan-kilatan kejadian pahit dan memilukan itu kembali tersirat di kepalanya.
Ia masih mengingat dan masih sangat merasakan dengan jelas, rasa hancur dan sakit hati setelah pria busuk itu merenggut secara paksa kesucian yang selama ini ia jaga dengan sebaik mungkin.
Bu Yani memeluk putrinya yang masih berdiri tegak tak bergeming.
"Aku...Mikha Arlista mulai saat ini tidak akan pernah membiarkan siapapun menindasku dan tak akan membiarkan siapapun yang menindasku hidup tenang, KAU........Laki-laki tak berhati dan kau wanita tua licik, si lintah darat busuk! kalian akan me...ra...sa...kan kehancuran yang berkali-kali lipat dari apa yang aku rasakan!"
Mikha menatap tajam dan menunjuk secara bergantian ke arah Ari dan Nyonya Wijaya.
Maxim dan Jhon menyeringai, mempersiapkan kejutan terindah untuk si wanita tua sombong itu.
...****************...
Hai semua , maaf ya kalau ada kesalahan.
maklum author gak tau perjalanan sidang itu seperti apa hehehe, ini hanya bermodalkan mba google aja author cari-cari tau.
Gak bosan-bosan nih author mau sampaikan:
Dukung Author terus, dengan
Favorit ā¤
Likeš
Komentš¬
Rateāāāāā
Vote juga boleh kalau punya poin lebih hehehe
Mau promo? silahkan aku tidak melarang.
Terima kasih semuanya ā¤ā¤ā¤