
Matahari mulai beranjak dari peraduannya, Indah yang sejak pagi buta sudah terbangun tampak membawakan sarapan untuk suaminya yang masih terbuai dalam mimpinya.
"Jhon, bangun! sarapan dulu yuk, lalu minum obat." Ucap Indah menepuk-nepuk lembut pundak suaminya.
Jhon mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan pandangannya mulai fokus pada satu sosok di hadapannya. Sosok wanita yang tetap tersenyum tulus walaupun ia sudah terus menyakiti hatinya.
"Jhon, makan dulu yuk! aku buatin bubur kacang hijau, agar tenagamu pulih lagi." Ucap Indah meletakkan semangkuk bubur dan segelas susu di atas nakas tepat di samping ranjangnya.
Ia kemudian mengambil sebuah termometer lalu kemudian di selipkan pada ketiak sang suami.
"Alhamdulillah suhu tubuhmu sudah normal, masih ada yang terasa sakit gak?" Tanya Indah sambil membantu suaminya duduk di atas ranjang.
Jhon meraih tangan istrinya dan meletakan pada dadanya.
"Di sini sakit, sakit menahan rindu padamu. Maafkan aku sayang karena aku sudah berkali-kali menyakiti hatimu."
Perkataan pria itu berhasil membuat kedua manik mata Indah mengeluarkan air mata, ia yang juga begitu rindu pada sikap manis suaminya segera memeluk Jhon erat-erat.
Jhon menatap intens wajah cantik istrinya, mengecup bibirnya perlahan, merasakan kehangatan dan kelembutan cinta dari wanita yang paling ia cintai.
"Aku mencintaimu Indah, maafkan sikap posesifku yang berlebihan ini."
Jhon membaringkan tubuh istrinya, memeluknya erat-erat seakan enggan untuk melepaskannya.
......................
Suasana pagi hari di Keluarga Larry memang cukup sibuk, pasalnya Nyonya Anna dan Tuan Andrew akan pergi ke Amerika untuk beberapa hari untuk perjalanan bisnis.
Mikha dan Maxim tak lama datang sebelum kepergian orang tua mereka.
"Daddy yakin gak aku aja yang kesana?" Ucap Marrie pada ayahnya.
Tuan Andrew mengulas senyum dan membelai lembut kepala putrinya, "Iya sayang, kamu dan Jhon dari kemarin sudah di buat sibuk. Lagi pula Daddy bosan jika di rumah terus.
Setelah semua selesai, Tuan Andrew dan Nyonya Anna memasuki mobil dengan di antar putra putri mereka.
"Hati-hati Mommy, bye!" Pekik Marrie melambai-lambaikan tangannya hingga mobil yang di naiki orang tuanya menghilang dari pandangan.
"Loh, kalian mau kemana?" Tanya gadis blonde itu kepada Jhon, Indah dan Bella yang sudah tampak rapih.
"Ke kebun binatang, mumpung libur." Ucap Jhon sambil menggendong Bella dan masuk ke dalam mobil miliknya.
Tak lama, Max tiba-tiba menggandeng istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Sekarang kakak mau kemana?" Tanya Marrie kembali.
"Masuk lah, kau mau berdiri di luar terus!" cebik Maxim yang masuk ke dalam rumahnya dan akhirnya diikuti Marrie.
"Kakak mau kemana? temani akulah nonton TV." Ucap Marrie kembali saat melihat Maxim melewati ruang keluarga dan berjalan menuju kamarnya.
"Aku mau olahraga dulu sama Mikha." Jawab Max yang kemudian di cubit kecil oleh istrinya.
"Kok ke kamar?" tanya Marrie kembali dengan wajah polosnya.
"Kepo aja kau Jomblo! Makanya cari pasangan sana! Jangan ngarepin laki-laki tentara itu, bahkan bisa aja dia udah gak ingat kamu! week!" Cemooh Maxim menggoda adiknya, pria itu menjulurkan lidahnya hingga membuat Marrie kesal dan mengerucutkan bibirnya.
......................
Sepasang mata dengan setia mengikuti gerak gerik Jhon dan Indah, ia tampak mengepalkan tangannya erat melihat suami istri yang tampak telah rukun kembali. Sedangkan seseorang lainnya dengan setia mengawasi pergerakan seorang pria berwajah oriental yang tengah memasuki kediaman keluarga Larry.
"Nona, ada tamu bernama Tuan Chandra Wang." Ucap seorang pelayan, menghampiri Marrie yang tengah asik menonton sebuah Film.
"Oh iya, terima kasih ya."
"Maaf menunggu lama, Tuan!" sapa Marrie mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Tidak apa-apa nona, Saya hanya ingin mengantarkan undangan pernikahan saya. Oh ya kok sepi ya? Kemana Mister Andrew Larry dan Mister Jhon Larry?"
Tanya Tuan Wang yang tampak melirik ke berbagai arah, sejujurnya ia mengharapkan bertemu dengan Indah walau hanya sebentar.
......................
Keesokan harinya, seusai sarapan tampak Indah mengantar Jhon yang akan berangkat kerja sampai di ambang pintu.
"Loh kok gak bareng Marrie?" Tanya Indah sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Dia hari ini memantau proyek lagi, Oh ya Sayang kamu kalau mau pergi bilang dulu sama aku ya!" Ucap Jhon sambil mencium pipi buah hatinya lalu beralih mengecup kening dan bibir istrinya.
"Iya sayang, Hati-hati! Kabarin kalau sudah sampai. Ayo Bella ngomong apa kalau Daddy mau kerja?" Ucap Indah pada anak balita yang berada di gendongannya.
"Bye Daddy!" Ucap Bella dengan intonasi yang belum jelas, Gadis kecil berambut pirang itu melambaikan tangannya pada sang ayah.
Jhon melangkahkan kakinya memasuki mobil di hadapannya, entah mengapa ada perasaan berat untuk meninggalkan keluarga kecilnya namun pria itu mencoba mengabaikannya.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu senja telah hampir tiba.
Jhon tampak mengerutkan keningnya kala ponsel milik sang istri tidak dapat di hubungi.
Dua jam lalu Indah meminta Izin untuk pergi ke supermarket namun setelah itu ponsel milik istrinya tidak dapat di hubungi hingga membuat Jhon nampak gelisah dan khawatir.
PIP...PIP...
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel miliknya, Jhon segera membuka pesan dari nomer tidak di kenal.
"Hotel Summer kamar no 14"
Tanpa berpikir panjang, pria itu segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang tertera pada pesan singkat tersebut.
Hingga sampai di tempat yang dituju, Jhon nampak menghembuskan nafasnya. Lalu mengetuk pintu kamar hotel no.14 tersebut namun berkali-kali ia mengetuk tidak ada jawaban dari dalam.
Rasa penasaran yang meledak-ledak dan kesabaran yang mulai habis, akhirnya ia mendobrak pintu kamar tersebut hingga menimbulkan suara yang sangat keras dan membangunkan dua orang yang berada di dalam kamar tersebut.
"APA-APAAN INI !"
Pekik Jhon gusar, kala melihat istrinya dan tuan Wang berada dalam satu ranjang tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
"B*RENGS*K!!!"
Brugh !!!
Jhon seketika menghampiri Tuan Wang dan memukuli pria itu dengan membabi buta, akal sehatnya seketika menghilang. Amarah begitu menyelimuti dan mendominasi hati dan pikirannya.
Indah yang baru sadar seketika terperanjat langsung menutupi tubuh dengan selimut, dan mencoba menghampiri suaminya untuk memberikan penjelasan.
"Jhon, tunggu! dengarkan penjelasanku!" Ucap Indah histeris memegang dan menahan tangan suaminya.
Jhon menatap dingin istrinya dan segera menepis tangan Indah dengan kasar.
"Indah, aku begitu mencintaimu! Kurang apa aku padamu? Apa ?!"
"Jhon, dengar du..." Ucap Indah yang terpotong dengan ucapan Jhon yang begitu menyakiti hatinya.
"CUKUP! KITA BERCERAI! KAMU AKU TALAK !"