
...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...
...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...
...Ingat Promo boleh spam jangan😉...
...Jangan lupa mampir ke karyaku Author yang lainnya ya, Up setiap hari! Tinggalin jejak juga di sana hehheeheh 😝...
......Terima kasih💞......
...🍁🍁🍁...
Dilla menatap nanar ke arah taman rumah sakit tersebut, Jerry yang tidak tau menahu alasan sikap Dilla yang tiba-tiba murung hanya bisa berupaya menghibur gadis itu.
"ihh jelek ih cemberut gitu, pipimu kaya hamster", Ucap Jerry menusuk-nusuk pipi Dilla dengan jarinya.
Dilla yang kesal langsung menoleh dan menggigit jari telunjuk Jerry hingga pria itu meringis kesakitan.
"Galak banget, aduhhh..." Ucap Jerry tampak meniup-niup jari telunjuknya, Dilla yang melihat tingkah dan wajah konyol Jerry, tidak bisa menahan tawanya lebih lama.
"Gitu dong senyum, biar makin senyum gimana kalo kita makan!"
"Malam-malam begini? kau mau bikin aku gemuk?"
Ucap Dilla melotot kepada Jerry.
"Beneran gak mau? aku traktir, sepuasnya!"
"Akh...ayolah! kuy!" Ucap Dilla semangat, langsung bangkit dan menarik tangan Jerry.
Mereka pergi menuju sebuah restoran Korea yang memang buka 24 jam di kota itu. Dilla yang memang penyuka kuliner, sangat bersemangat kala makanan-makanan itu tersaji menggugah selera di hadapannya.
Jerry memandang yg tersenyum pada gadis itu, wanita yang sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia kencani. Sifatnya yang blak-blakan, sederhana dan gak macam-macam membuat daya tarik tersendiri di hati pria itu.
"Hei, perutmu itu terbuat dari karet ya?" goda Jerry pada Dilla yang asik menyantap hidangan tanpa malu-malu.
"Mumpung gratis!" Ucap Dilla cuek, bahkan tidak menyadari Jerry terus-menerus tersenyum menatapnya.
"Kau ini kenapa sih sama Indah?" Tanya Jerry melai menyelidik penyebab Dilla murung.
Dilla menceritakan semua kejadian pada Jerry, mulai dari Mikha yang mencoba menasehati Indah hingga perkataan Indah yang membuka luka hati Mikha.
"Mungkin Mikha gak terlihat marah sama dia, tapi gue udah tau persis Mikha pasti merasa sakit hati. Gue kenal Mikha sudah lama banget, udah hapal banget sifatnya."
"Ya sudah tapi nggak baik lama-lama marahan begitu, aku yakin Indah juga sudah menyesal. Untuk masalah cara ia pacaran, Kamu gak perlu ikut campur lagi karena susah menasehati orang yang sedang mabuk cinta, cukup sekali kamu nasehati dia selanjutnya urusan dia." Ucap Jerry mengacak-acak rambut Dilla.
"Iya jatuh cinta memang bikin orang bodoh, makanya aku tidak mau pacaran. Aku gak mau membuang waktuku untuk menjadi bodoh pada pria yang belum tentu menjadi jodohku!" Ucap Dilla sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
Jerry mengangangkat sebelah alisnya sesaat setelah mendengar penjelasan Dilla.
"Maksudmu kau mau langsung menikah?"
"Yap, walau di jodohkan aku gak masalah. Artinya pria itu serius denganku, tidak cuma mau main-main."
"Bukankah artinya sama seperti membeli kucing dalam karung? bagaimana kalau kau di jodohkan dengan pria tua?" tanya Jerry semakin penasaran.
Dilla nampak tertawa mendengar ucapan Jerry, gadis itu menepuk pundak pria yang berada di sampingnya itu.
"Hahaha gak mungkin lah, orang tuaku pasti memilihkan yang terbaik!"
"Jer, cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa, lagi pula aku ingin merasakan pacaran setelah menikah. Pasti lebih Indah, mau ngapa-ngapain juga gak masalah!"
"Unik, ku harap kau tidak mengingkari ucapanmu ya!"
Ujar Jerry tersenyum penuh arti menatap Dilla, nampaknya pria itu sedang merencanakan sesuatu di kepalanya.
...****************...
Keesokan harinya, rasa mual lagi-lagi menyerang Max. Mikha dengan sabar memijat-mijat tengkuk suaminya. Setelah selesai ia segera membantu Max berbaring kembali di ranjangnya.
"Terima kasih sayang." Ucap Max tersenyum pada istrinya, namun Mikha hanya mengangguk tanpa ekspresi apapun.
"Makan dulu biar cepat pulih, kalau mual coba makan permen mint ini." Ucap Mikha mulai menyuapi suaminya perlahan.
"Aku ingin pulang, aku ingin makan masakanmu."
"ya, nanti coba aku bicarakan pada dokter." Ucap Mikha.
"Sayang, aku mencintaimu!"
Mikha hanya membalas pernyataan cinta suaminya dengan senyuman yang terlihat di paksakan.
Maxim mengerti bahwa istrinya masih belum sepenuhnya memaafkannya namun baginya semua itu tidak masalah selama Mikha masih berada di sisinya, semua hanyalah soal waktu dan seberapa besar perjuangannya memyembuhkan kembali hati istrinya yang terluka.
...****************...
"Dil, tunggu Dil!
Indah mengejar Dilla yang tampak selalu menghindar darinya.
Dari mulai di apartemen hingga di kantor pun gadis itu selalu menghindari Indah.
"Dil, please! gue minta maaf." ucap Indah menggenggam tangan sahabatnya.
"Hah... minta maaf sama Mikha bukan sama gue!" Jawab Dilla malas.
"Iya tapi lu jangan terus-terusan diemin gue dong! Sorry, gue minta maaf banget!"
"Hah... ya sudahlah, lu sudah dewasa bisa memilih jalan hidup lu sendiri."
Dilla yang sudah tidak mau ambil pusing, mencoba mengikuti perkataan Jerry. Indah sudah dewasa, pasti tau mana yang baik dan yang buruk untuknya.
"Ndah, di panggil sama Tuan Jhon!" Ucap salah satu rekan kerja mereka.
Indah melangkahkan kakinya menuju ruangan Jhon, saat waktunya bekerja mereka memang sangat profesional dan tidak mengumbar kemesraan di depan umum, hingga karyawan lain tidak tahu bahwa Indah adalah seorang kekasih dari Jhon.
"Permisi Tuan, ada perlu apa tuan memanggil saya?"
Ucap Indah sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Jhon.
"Persiapkan berkas-berkas kita untuk besok ke China, jangan sampai ada yang kurang!"
Ujar Jhon menutup laptopnya, dan beranjak dari singgasana kebesarannya. Pria itu berjalan menghampiri Indah yang berdiri di depan meja kerjanya.
Jhon menyisipkan sedikit rambut gadis itu kebelakang telinganya, dan berbisik lirih kepada Indah.
"Ingat, di sana kita meninjau kerjasama dengan perusahaan Wang. Kau jangan coba dekat-dekat dengan si Tuan muda itu!"
...****************...