Oh My Mister

Oh My Mister
Extra part 1-Panik Jamaah



Waktu terus berjalan, begitu pula usia kandungan Mikha yang sudah menginjak lebih dari 7bulan.


Hari itu, untuk pertama kalinya Max kembali mengisi sebuah acara pasca kecelakaan yang dialaminya. Walaupun ia masih menggunakan kursi roda nampaknya tidak mempengaruhi semangatnya untuk menampilkan suara emasnya kembali di khalayak umum.


"Semangat ya sayang," ucap Mikha setelah selesai memakaikan kostum sang suami di ruang ganti.


Max tersenyum dan mengelus perut sang istri yang sudah besar, perlahan ia mengecup perut istrinya hingga sang bayi di dalam kandungan nampak merespon dengan gerakan-gerakan yang sangat terasa.


"Hi baby girl," sapa Max pada sang bayi dan terus menghadiahi kecupan pada perut istrinya.


"Sayang, sini sebentar," tutur Max, mengarahkan sang istri agar berlutut sejenak untuk mensejajarkan dengan dirinya.


Pria blonde itu segera menangkup wajah istrinya dan mencium lembut bibir Mikha. Ciuman perlahan berubah menjadi lebih menuntut, Max menjelajahi seluruh rongga mulut istrinya, ******* dan menyesapnya.


"Ehem sorry, Max ayo!" titah David yang tiba-tiba datang.


Mikha dan Max seketika saling pandang dan tertawa terbahak-bahak karena merasa de javu dengan yang baru saja terjadi.


Mikha menatap sang suami yang kini tengah perform di atas panggung, wanita itu nampak tersenyum bangga dengan semangat dan rasa percaya diri sang suami. Max tidak malu untuk menunjukan wajahnya di depan media, walaupun kondisinya masih lumpuh.


"Aduhhh sakit," rintih Dilla yang terus mengusap-usap perut dan pinggulnya yang terasa panas. Usia kehamilan Dilla yang telah masuk bulan ke 9 membuatnya sering merasakan kontraksi kapanpun.


Mikha nampak membantu mengusap perut sahabatnya guna mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Namun nampaknya Dilla trus merintih kesakitan hingga akhirnya keluar cairan bercampur darah yang mengalir membasahi celana yang ia pakai.


"Ya Allah, Dilla!" Mikha nampak panik hingga mencuri perhatian para crew yang berada di sana. Jerry segera lari di tengah-tengah pertunjukkannya, dan sontak menggendong istrinya yang tak henti-hentinya merintih.


"Ayo cepat bantu saya!" titah Jerry, meminta seseorang mengendarai mobil miliknya.


Jerry segera berlari memasuki mobil dan segera menuju rumah sakit terdekat.


Sementara setelah menyelesaikan performanya Max dan Ryan segera menyusul Jerry menuju rumah sakit.


"Sakit Jerry!" pekik Dilla seraya mencengkram baju suaminya.


Jerry nampak kewalahan menghadapi istrinya yang terus mencengkram, menggigitnya, bahkan memukulnya.


"Jerry, aku u-dah gak tahan, emphhh!" teriak Dilla dan nampak mengejan, membuat Jerry semakin serba salah dan panik dibuatnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit, pria blonde bermata sendu itu segera berlari dan berteriak sambil menggendong tubuh istrinya.


Jerry terus menggenggam tangan istrinya yang kini tampak di dorong dengan brangkar menuju ruang tindakan, walau istrinya tampak bertindak bar-bar dengan terus menjambak dan mencakar sang suami, namun nampaknya Jerry hanya bisa pasrah dan bersabar.


"Hahahaha Jerry sudah tidak berbentuk lagi," Max yang baru sampai nampak tertawa lepas melihat kondisi Jerry yang sudah mengenaskan, ia tiada henti-hentinya tertawa hingga air mata keluar di sudut netranya.


Mikha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya, "Awas kualat!" cebik Mikha menyindir sang suami.


Namun Max hanya menyengir, memperlihatkan giginya yang nampak putih.


"Aku dan David menyusul Jerry dulu ya, takutnya dia butuh sesuatu," tutur Ryan lalu segera meninggalkan Max dan Mikha berdua di ruang tunggu.


Setelah jam berlalu, Mikha nampak gelisah merasakan suatu yang tak nyaman di perutnya.


Ia nampak meringis dan mengatur napas berkali-kali.


"Kenapa sayang?" tanya Max bingung kala melihat sang Istri seperti sedang menahan rasa sakit.


Mikha nampak bergeming, tak menanggapi sama sekali ucapan suaminya.


"Sayang?" tanya Max sekali lagi, kini dengan raut wajah yang mulai panik.


"M-Max, ketuban aku pecah," ucap Mikha lirih kala merasakan seluruh celananya basah kuyup karena cairan bening yang berasal dari alat vitalnya.


Max semakin panik, terlebih mengingat usia kandungan sang istri belum cukup bulan.


Deg!


Jantung Max seketika berdetak cepat, ia sangat panik hingga lupa kalau sekarang ia telah berada di kawasan rumah sakit, yang dimana banyak tenaga medis nampak berada dimana-mana.


Max mengumpulkan seluruh tenaganya, pria itu nampak berjuang untuk bangkit dari kursi rodanya.


Grep!


Sontak Max segera bangkit, dan menggendong tubuh istrinya yang tengah meringis menahan kontraksi.


Pria itu berusaha melangkah dengan suara yang terus berteriak meminta pertolongan.


......................