Oh My Mister

Oh My Mister
Kesalahan pahaman karena si Mawar



"Mba kok bisa separah ini sih, dulu cuma pusing aja loh?" Tanya Rika kepada kakaknya yang masih terlihat lemah, gadis remaja itu dengan telaten memijat-mijat kepala kakaknya.


"Maaf mba, aku lupa kasih tau mas Maxim kalau mba Phobia bunga mawar merah."


"hmmm jadi kamu sekongkol sama Maxim merencanakan semua ini?" Selidik Mikha menatap mata Rika dengan tajam, Gadis remaja itu hanya terkekeh kecil tanpa menjawab.


"Dasar anak nakal! ambil saja bunganya untukmu, bawa jauh-jauh dari mba!"


Mikha menyentil dahi adik kesayangannya itu, gadis remaja itu mengerucutkan bibirnya dan mengusap-usap dahinya yang terasa sedikit sakit.


......................


Sedangkan di ruang tamu kedua orang tua Mikha dan Max sedang membicarakan hal yang mereka khawatirkan.


Mereka mengira bahwa Mikha tengah mengandung anak dari hasil pelecehan yang telah di alaminya, kedua orang tua Mikha sebenarnya hanya mengetahui bahwa anak sulungnya tidak menyukai bunga namun hanya tahu sebatas ketidaksukaan saja, karena mungkin bagi sebagian orang desa yang sudah cukup berumur, kata Phobia terlebih Anthophobia itu sangat asing di dengar.


"Nak, apa kamu bersungguh-sungguh?" Ucap Bu Yani menatap Max.


"Tentu saja Bu, aku mencintai Mikha dengan segala keterbatasannya! aku pasti akan menerima anak itu dan menyayanginya seperti darah dagingku sendiri."


Ucap Max sungguh-sungguh yang berhasil membuat Bu Yani menangis haru dan memeluk pria tampan itu, namun di balik sebuah tembok ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.


Siapa lagi kalau bukan Rika, si gadis jahil itu tersenyum licik seakan merencanakan sesuatu.


"Hahaha kesalah pahaman yang seru! berasa lagi nonton drama ini mah, ah... lebih baik aku diam-diam saja! aku mau lihat berapa besar kesungguhan mas Maxim dengan mba!" gumam Rika dalam hati, gadis itu menertawakan Max yang telah salah paham terhadap kondisi Kakaknya.


......................


Di kediaman keluarga besar Larry, tampak keluarga itu sedang membicarakan hal penting di sebuah ruang keluarga.


"Daddy, biarkan aku yang kesana terlebih dahulu." Ucap Jhon kepada kedua orangtuanya.


"Menantuku yang malang, mengapa sulit sekali untuk mereka bersatu dan bahagia?" Ucap Nyonya Anna mulai menitikan air Matanya.


"Kak boleh aku ikut? aku juga mau melihat kakak ipar." pinta Marrie memeluk manja kakak tertuanya.


"Marrie, kau tetap di sini!" Ucap Tuan Andrew Larry dengan tegas.


"Ayolah daddy, mengapa? apa sekarang kau berubah pikiran lagi dan tak menyetujui hubungan kak Maxim?" Ucap Marrie merajuk.


"hah, bicara apa kau! daddy mu tidak sejahat itu, daddy hanya tidak ingin kau menyusahkan mereka dan kedua kakakmu, gadis manja."


Ucap Tuan Andrew menghela nafas, ia sungguh tidak berdaya setiap menolak keinginan anak gadisnya.


"Mom ..." gadis itu merengek pada ibunya seakan meminta sebuh pembelaan.


"Sayang kalau kau ikut, siapa yang membatu Mommy menjaga Bella? "


Jawab Nyonya Anna yang sedang membelai rambut cucu satu-satunya yang baru berusia 2 tahun, Buah hati dari Jhon dan mendiang istrinya yang telah tiada pasca melahirkan.


"ah ada Molly mom, ayolah aku ingin banget ketemu calon kakak ipar ku, ya mom please..."


"Sudahlah mom biarkan saja si manja ini ikut, awas saja kau mengeluh! aku harus membantu Maxim di pengadilan." Ucap Jhon yang sudah pusing mendengar rengekan adiknya.


Marrie yang mendengar itu berteriak senang dan mencium pipi seluruh anggota keluarganya satu per satu.


......................


Keesokan harinya, sikap Maxim semakin menjadi-jadi.


Pria itu semakin protektif terhadap Mikha, Rika yang menyaksikannya hanya bisa menahan tawanya.


"Mau kemana?"


Max menahan Mikha yang ingin beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku lapar, mau makan! sana pergi." Ucap Mikha ketus.


"Ah tidak, kamu tunggu duduk manis saja, aku akan membawakan makanan untukmu!"


Max bergegas pergi ke dapur, Mikha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Max yang aneh dan terkesan berlebihan.


"Bu apa gak sebaiknya Mikha ikut untuk periksa kandungan?" Tanya Maxim.


"Ah nanti saja, ibu takut nanti dia depresi lagi kalau mengetahui dia tengah hamil."


Max mencium tangan wanita tua itu, sepertinya dia sudah cukup terbiasa dengan budaya mencium tangan khas Indonesia.


"Mas, aku juga mau berangkat sekolah dulu ya." Rika mencium tangan Maxim yang sedang mengambil lauk di piring.


"Ini untuk kamu jajan di sekolah."


Max mengeluarkan 3 lembar uang 100 ribuan di dompetnya dan memberikan kepada Rika.


Gadis remaja itu tersenyum merekah senang, maklum saja untuk uang saku dia perhari biasanya hanya di beri 10 ribu rupiah saja.


"Wah... mas sering-sering ya hehehe, makasih banyak mas! Yeyyy!" Gadis itu berteriak-teriak kesenangan, membuat Maxim tersenyum dan mengingat adik perempuannya yang memiliki sifat hampir sama dengan Rika.


Max melanjutkan pekerjaannya untuk kembali melayani Mikha, ia menyuapi Mikha dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Aku bisa makan sendiri." Ucap Mikha mencoba bersikap ketus kepada Max.


"Tidak, aku akan menyuapimu! sehabis ini kita bisa berjalan-jalan keluar sebentar, udara disini sangat bersih dan sejuk serta sinar matahari pagi sangat baik untuk wanita ha..."


Max memutus kalimat terlarang yang hampir saja terlontar dari mulutnya.


"Ha apa?"


"Ha...Ha...Habis opname!" Max tergagap, namun Mikha tidak terlalu perduli.


"Kau yakin akan menikahiku? wanita sepertiku?"


"Iya secepatnya, setelah masalahmu selesai dan aku segera mengurus surat-suratnya."


"Tapi Max, nikah itu bukan masalah sepele! kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, aku ini sangat gak pantas untukmu."


"Apa yang membuat kau berpikiran sempit seperti itu? apa karena hal itu? Mikha dengar aku, aku tidak peduli! aku cinta kepadamu bagaimana pun keadaan dirimu, dan aku juga bukalah pria yang sempurna."


Max menatap lekat-lekat gadis itu, ia menggenggam kedua tangan Mikha menunjukan kesungguhannya.


"ehm terserah kau lah ... lalu kapan kau di Sunat?" Mikha menggoda Max dengan mimik wajah yang ia b


"Cari tau sendiri saja lah, ya sudah aku mau mandi dulu."


Mikha beranjak menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur rumahnya, sedangkan Max yang penasaran membuka G*ogle untuk mencari tahu apa itu "Sunat".


Pria itu serius membaca artikel yang ia dapat, namun seketika raut wajahnya berubah drastis.


"Sunat! Sunat! Sunat! Sunat! Sunat!"


Mulai sejak saat itu, kalimat 'Sunat' menghantui pikirannya terus menerus yang selalu membuat pria itu begidik ngeri membayangkannya.


......................


Hai Readers terima kasih telah mampir ke karyaku


Dukung Author terus yuk, dengan


Favorit ❤


Like👍


Koment💬


Rate⭐⭐⭐⭐⭐


Vote juga boleh kalau punya poin lebih hehehe


Terima kasih semuanya...Love you❤