
Sepanjang perjalanan Mikha tampak melamun, bahkan ia sama sekali tidak menyentuh makanan bahkan minuman yang di sediakan untuknya. Matanya tampak sembab dan memerah karena terus menerus mengeluarkan air mata.
"Kha, makan dulu. Ini udah 10 jam perjalanan tapi lu sama sekali tidak makan apapun." Ucap Indah mencoba membujuk Mikha.
"Gue gak lapar, Ndah." Ucapnya lirih.
"Makan dulu, kasian anak lu." Bujuk Indah yang terus-menerus berusaha menyodorkan makanan untuk Mikha.
Perlahan Mikha memakan makanan yang tersaji di hadapannya, pikirannya berangsur-angsur kembali hingga ia baru menyadari tengah menaiki sebuah pesawat pribadi bukan pesawat komersial.
"Ndah, ini pesawat siapa?"Tanya Mikha polos, hingga membuat Indah tertawa terbahak-bahak melihat mimik wajah sahabatnya.
"Hahahaha Astagfirullah, udah 10 jam lebih dan lu baru nyadar? ampun deh Mikha. Ini punya bokap gue." Ucap Indah tenang.
Mikha tampak memicingkan matanya, pasalnya selama ini ia hanya mengetahui Indah berasal kalangan orang biasa seperti dirinya.
"Bokap lu?" Tanyanya.
"Maaf ya, bukan maksud gue bohongin kalian. Jadi begini ceritanya..." Indah pun menceritakan semuanya, mulai dari asal usulnya hingga konflik yang terjadi pada rumah tangga kedua orang tuanya.
Sementara itu di sisi lain, Max terlihat terus-menerus memuntahkan isi perutnya hingga membuat Jerry dan Ryan yang baru saja datang cukup kewalahan di buatnya.
"Bagaimana?"Tanya Marrie pada Jhon yang nampak sibuk dengan ponselnya.
"Tidak ada penerbangan atas nama Mikha. Kemungkinan ia masih di sini."ucap Jhon menduga-duga.
"Tapi, aku takut kejadian seperti di ka Indah. Apalagi keluarga kak Mikha sama sekali tidak dapat di hubungi." Ucap Marrie yang nampak panik.
Sedangkan Tuan Andrew, tampak murka mendengar cerita yang baru saja ia ketahui. Pria tua itu sibuk mencari keberadaan Jesson yang menjadi akar dari segala permasalahan, di bantu oleh Frans dan juga David.
Ting Tong
Suara bel berbunyi, dengan sigap Dilla yang juga berada disana segera membukakan pintu.
Matanya tampak terbelalak melihat seorang wanita yang berada di hadapannya.
"Untuk apa kau kesini?" Hardik Dilla pada Clara yang kini berada di hadapannya.
"Aku membawa informasi penting, aku mohon izinkan aku bertemu Maxim."
Dilla tampak memicingkan matanya, ia masih tampak tidak percaya dan menaruh curiga pada wanita yang selama ini menyandang predikat "Trouble Maker".
"Aku mohon, aku tidak akan membuat masalah. Ini sangat penting karena menyangkut Mikha dan istrinya Jhon." Ucap Clara memohon.
Akhirnya Dilla mempersilahkan Clara masuk, alangkah terkejutnya ia mendapati apartemen milik Maxim yang begitu ramai dengan orang yang cukup sibuk berkutat pada handphone dan laptopnya.
"Aunty, Ada apa ini?" Tanya Clara pada Nyonya Anna yang nampak terdiam dengan mata yang sembab.
"Clara? Mikha pergi, kami berusaha mencarinya." Jawabnya sendu.
Clara nampak menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, terlebih ia melihat kondisi Maxim yang jauh dari kata baik.
"Ada apa Clara?" suara bariton tiba-tiba saja terdengar, tampak Tuan Andrew menghampiri Clara yang tengah bersama Nyonya Anna.
"Begini Uncle, kemarin aku gak sengaja mendengar pembicaraan dua orang di restoran milik kekasihku. Mereka membicarakan rumah tangga Jhon dan Maxim, dan merencanakan sesuatu. Ini ada rekaman suaranya dan rekaman hasil cctv-nya." Ucap Clara memberikan sebuah flashdisk.
Mendengar ucapan Clara, perhatian Jhon dan David beralih pada gadis itu. Dengan cepat Jhon mengambil Flashdisk dan di hubungkan pada Laptop miliknya.
Seketika Kedua matanya membulat sempurna melihat Rhine dan Jesson pada rekaman cctv tersebut, terlebih rekaman-rekaman suara yang menunjukkan rencana jahat mereka.
"Lihatlah wanita yang kau bela, bahkan sudah menghancurkan rumah tangga kau bahkan adikmu." Cebik Tuan Andrew pada Jhon.
......................
Di tempat dan waktu yang berbeda, sampailah Mikha dan Indah di negara asal mereka. Tepatnya kini mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar, yang merupakan rumah milik Indah di kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan
Di sana mereka sudah di sambut oleh Bi konah dan Senja yang kemudian segera membawa barang-barang Mikha menuju salah satu kamar.
Di ruang keluarga tampak kedua orang tua Mikha dan juga Rika. Mereka segera menghampiri dan memeluk putrinya kala melihat Mikha telah datang.
Ya memang sebelumnya, setelah Mikha memutuskan untuk pergi. Indah di mintai bantuan untuk menjemput kedua orang tua serta adik Mikha di Jogja untuk menuju ke Kalimantan.
Mikha ingin memulai hidup yang baru ditempat yang baru, tanpa khawatir ditemukan oleh Maxim.
"Sabar, Nduk. Ibu yakin Allah memberikan rencana yang lebih baik untukmu." Ucap Bu Yani memeluk erat putrinya.
Mikha tampak memeluk erat ibunya, pertahanannya lagi-lagi runtuh. Ia menangis menumpahkan segala curahan hatinya dipelukan sang bunda.
......................
Malam semakin larut, Mikha tampak melamun menatap jendela di kamarnya, di temani suara musik yang menggema mengisi seluruh sudut ruang kamarya. Sesekali ia mengusap lembut perutnya dan berbicara pada anak dalam kandungannya.
"Maafin Mama ya sayang, karena Mama kalian harus berpisah dengan papa. Kelak jangan pernah membenci papa ya, karena papa tidak salah hanya Mama saja yang hatinya terlalu lemah." Ucap Mikha lirih.
Isyana Sarasvati - Tetap dalam jiwa
Akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati
Bersama nyata hilang dan sirna
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah
Tapi ku tegar menjalani kosongnya hati
Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi
Tersimpan tuk jadi histori
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Sebuah lagu dari Isyana Sarasvati, menyentuh lubuk hati paling terdalamnya.
Lirik lahu yang seakan menjelaskan segala perasaannya saat itu.
Seketika ia mengingat mimpi-mimpi indahnya bersama sang suami, akan masa depan mereka yang mungkin kini hanya sebatas angan-angan tak berujung nyata. Kilasan-kilasan memori kebersamaan mereka kembali berputar berulang-ulang di pikirannya.
Rindu ya... Rasa rindu itu sudah muncul walau baru sebentar ia meninggalkan Maxim, Rasa rindu dan perih yang seakan bercampur aduk menjadi satu.
"Walaupun kita berpisah tapi hatiku hanya untukmu sampai kapanpun." Ucapnya lirih sambil memandang foto dirinya bersama Maxim.
"Hiduplah dengan bahagia sayangku, doaku selalu menyertaimu."
......................