
Di sekolah, setelah Shine dan Sunny tengah berjalan menuju ruang kelas, namun kini mereka tengah di hadang beberapa ibu-ibu penggosip lengkap dengan anak-anak mereka, yang begitu gemar mem-bully walau diusia yang masih sangat dini.
"Mana orang tuamu?" tanya seorang wanita yang bernama Gisna itu dengan nada yang terkesan meremehkan.
"Papa lagi ada pekerjaan, nanti menyusul katanya Tante," jawab Sunny polos sedangkan Gisna nampak memutar bola matanya dengan tangan bersilang di depan dada.
"Cih, alasan. Paling juga gak akan datang, orang kalian gak jelas anak siapa!" cebik Gisna, yang lalu pergi meninggalkan dua anak polos yang tidak mengerti sedikitpun ucapannya.
Di ruang kelas nampak si kembar tengah berlatih membaca puisi yang telah mereka buat dengan susah payah, namun tiba-tiba Affa, Shinta, dan Diqa yang merupakan kelompok anak-anak nakal yang suka mengganggu, dengan cepat merebut selembar kertas yang berasa di tangan Sunny dan Shine.
"Buat apa kau capek-capek baca beginian? Kata ibuku, kau itu gak punya ayah," cebik anak yang bernama Diqa, yang merupakan putra dari Gisna.
"Kami punya papa! Kembalikan!" seru Shine yang mencoba merebut kembali kertas-kertas tersebut.
"Oh ya, kami gak percaya tuh!" ujar anak yang bernama Shinta lalu merobek kertas tersebut menjadi kecil-kecil.
Sunny nampak menangis sedangkan Shine menggenggam tangan kakak kembarnya, "Kenapa sih kalian selalu jahat pada kami? Kami punya salah apa?" pekik Shine lantang.
Ketiga anak itu tertawa dan berkata, "Karena kalian gak jelas, rupa kalian berbeda dengan kami bahkan dengan ibu kalian sendiri. Kata ibu kami, kalian anak haram dan anak haram itu pembawa sial!" ucapnya.
"Itu semua karena kami mirip papa kami!" kesal Shine dengan wajah memerah. Namun lagi-lagi semua itu hanya membuat bocah-bocah pengganggu itu tertawa meremehkan.
"Papa yang mana? Yang waktu itu pakai baju tentara suka antar jemput kalian? Lebih gak mirip!" cebik anak yang bernama Affa. Kemudian ketiga anak nakal itu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Huhuhu adek, bagaimana ini?" ucap Sunny di sela-sela isakan tangisnya. Sedangkan Shine hanya mengulas senyuman tipis, "Gak apa-apa, kita coba buat lagi aja, Kak."
.....................
"Hoek... Hoek... Jerry!" pekik Dilla kala terus-menerus merasakan mual akibat morning sickness yang dideritanya. Penciumannya kini menjadi sangat sensitif sehingga hanya menerima wewangian tertentu saja.
"Iya sayang," jawab Jerry dengan membawa sepotong kulit durian segar kepada istrinya.
Dilla segera merebut kulit durian tersebut dan menghirup aromanya dalam-dalam bak mencium wewangian aromaterapi.
Sedangkan Jerry hanya bisa begidik ngeri melihat kelakuan aneh istrinya, kini ia harus terbiasa mencium aroma durian yang begitu mengganggu indera penciumannya demi sang istri.
"Jerry, berapa kali aku bilang. Jangan cukur jenggot dan kumismu!" Dilla lagi-lagi mengomel pada suaminya, semenjak kehamilannya Dilla cepat mudah badmood pada Jerry hingga mengharuskan Jerry menyiapkan kesabaran ekstra menghadapi istrinya.
"T-tapi semalam kamu bilang boleh," kilah Jerry nampak membela diri. Dilla menoleh dan menatap tajam suaminya,"Boleh tapi hanya 3 helai saja!".
Jerry menghela napasnya kasar seraya menggaruk-garuk kepalanya, "Iya maaf, ya sudah aku meeting dulu sama David," ucapnya mencoba sabar dengan sikap menyebalkan Dilla.
......................
Max dan Mikha nampak terburu-buru menuju sekolah anaknya. Sesaat sebelumnya Mikha mendapat telepon dari salah satu seorang guru kalau Sunny menangis karena habis di jahili temannya.
Sehingga memaksa Mikha memangkas rapat Max bersama David dan kedua sahabatnya.
"Apakah anak kita selalu di perlakukan seperti ini?" tanya Max dengan wajah merah padam, Mikha nampak meremas kedua jemarinya dan menunduk.
"Maaf, seandainya aku tidak pergi darimu pasti mereka gak akan mendapatkan diskriminasi dan hujatan seperti ini," jawab Mikha lirih, karena selama ini Shine dan Sunny sekalu mendapatkan perlakuan berbeda dan di cap anak haram oleh sebagian besar orang tua murid.
Max mengusap lembut kepala Istrinya, dan tersenyum tipis.
"Sudahlah ini bukan salahmu. Setelah acara disekolah anak-anak selesai kita langsung mengurus kepindahan Sunny dan Shine. Aku akan memasukkan mereka ke sekolah di London," ujar Max dengan raut wajah serius.
Perjalanan memakan waktu 20 menit, akhirnya kini mereka sampai di sekolah Sunny dan Shine.
Mereka segera melangkahkan kaki menuju aula di mana acara peringatan hari ayah itu dimulai.
Namun sungguh disayangkan, baru saja Max dan Mikha melangkah masuk,sudah disajikan pemandangan yang cukup menyayat hati. Si kembar tengah berada di atas panggung dengan wajah Sunny yang nampak sembab.
"Maaf Bu guru, puisi yang kami buat telah dirusak. Tapi kami cuma ingin bicara kalau kami memiliki papa, papa kami adalah papa yang hebat, lembut dan selalu menyayangi kami. Kami sayang papa dan mama jadi tolong, stop mengatakan hal buruk tentang kami, kami bukan anak haram seperti yang ibunya teman-teman selalu katakan," ucap Shine dengan lantang, walaupun tubuh kecilnya gemetar.
Hati Mikha terasa tercubit, ia terus menerus menyalahkan diri sendiri atas masalah menimpa kedua buah hatinya. "Max, mereka masih terlfalu kecil untuk mendapatkan hujatan seperti ini," lirih Mikha yang seketika menghampiri dan memeluk kedua buah hatinya.
Mikha memandang tajam satu persatu wajah ibu-ibu yang selalu menyebarkan gosip murahan tentangnya, "Shine, Sunny maafin mama, mama sudah membuat kalian dirundung seperti ini," ucap Mikha lembut dan mengecup kedua buah hatinya.
"Iya ma, Mama tidak salah. Kami sayang mama dan papa," ucap kedua saudara kembar itu secara serentak seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Ibundanya.
Max segera menyusul sang istri dan buah hatinya yang tentu saja membuat semua orang terkejut dan memandang ke arahnya.
"Saya Maxim Andreas Larry, atau yang biasa kalian kenal dengan sebutan Max adalah suami sah dari Mikha dan merupakan ayah dari Shine dan Sunny.
Mohon maaf jika selama ini kehadiran anak dan istriku mengusik kalian, sekarang saya akan membawa kembali mereka. Saya hanya berpesan, tolong jangan suka men-judge seseorang jika kalian tidak tau apa-apa, apalagi sampai mem-bully seorang anak di bawah umur karena dapat merusak mental anak tersebut. Harusnya saya melaporkan anda-anda yang sudah mencemarkan nama baik keluarga saya, namun karena istri saya yang memohon, saya hanya bisa memperingati kalian," ucap Max lantang dengan wajah yang memerah menahan marah.
Max segera menggendong kedua buah hatinya sekaligus, dan segera pergi meninggalkan sekolah tersebut.
"Sayang, besok kita akan pulang ke Jogja sebelum kembali ke London. Sekolah anak-anak akan di urus David," ucap Max mencoba tersenyum di depan istri dan anak-anaknya.
..................
(Yang mau dengar via audio book kalau sudah saya rilis, atau kalau gak sabar bisa cek YouTube hehehe)
...Westlife - My Blood...
You came home crying from school today
Hari ini kamu pulang ke rumah dari sekolah dengan menangis
Walked past me trying to hide the tears there on your face
Berjalan melewatiku, mencoba untuk menyembunyikan air mata di wajahmu
It's hard for me to explain
Ini sulit bagiku untuk menjelaskan
How humans find the pleasure of causing people pain
Bagaimana manusia mencari kepuasan dengan menyakiti orang lain
.
But sometimes there's more to the story
Namun terkadang ada banyak cerita lainnya
And we don't know what's going on in
Dan kita tidak tahu apa yang sedang terjadi
That home, behind closed doors
Rumah itu, di belakang pintu yang tertutup
Maybe there is something wrong
Mungkin ada sesuatu yang salah
So be brave, my little one
I know you can be strong
Aku tahu kau bisa menjadi kuat
'Cause you are just like your mom
Karena kamu seperti ibumu
.
Say my name
Sebut namaku
When you're hurting, darling
Ketika kamu merasa tersakiti sayang
I'll take the demons away
Aku akan mengusir iblis itu pergi
But you know there will come a day
Tapi kau tahu akan ada hari
When I won't be there, but
Ketika aku tidak bisa di sana, tapi
I know that you'll be okay
Aku tahu kamu akan baik-baik saja
'Cause you are my blood
Karena kamu adalah anakku
You're my blood
Kau adalah anakku
.
Oh, I was 22 years old
Oh, Saat itu aku berusia 22 tahun
My mother told me that you learn more as you go
Ibuku berkata padaku bahwa akan ada banyak hal yang di pelajari nantinya
But I've spent many nights alone
Tapi aku sudah banyak menghabiskan malam sendirian
Do I need more for me to make this house a home?
Apa aku membutuhkan lebih untuk menganggap rumah ini adalah rumah?
.
'Cause sometimes there's more to the story
Karena terkadang nanti akan ada lebih banyak cerita
And they don't know what's going on
Dan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi
My life behind closed doors
Hidupku di belakang pintu yang tertutup
Maybe there is nothing wrong
Mungkin tidak ada yang salah
And I will keep holding on
Dan aku akan tetap bertahan
I know I can be strong
Aku tahu aku bisa menjadi kuat
'Cause I am just like my mom
Karena aku seperti ibuku
And she told me, "Say my name
Dan dia berkata padaku, " Sebut namaku
When you're hurting, darling
Ketika kamu merasa tersakiti sayang
I'll take the demons away
Aku akan mengusir iblis itu pergi
But you know there will come a day
Tapi kau tahu akan ada hari
When I won't be there, but
Ketika aku tidak bisa di sana, tapi
I know that you'll be okay
Aku tahu kamu akan baik-baik saja
'Cause you are my blood"
Karena kamu adalah anakku
......................