Oh My Mister

Oh My Mister
O...o..Kamu ketahuan!



Pagi yang cerah di kota London, terlihat Max yang baru saja selesai membereskan koper miliknya.


Pria itu menarik koper tersebut pada tangan kanannya dan berhenti sejenak di hadapan foto istri dan bayinya.


Max menyentuh perlahan foto-foto tersebut dengan tatapan sendunya seraya berkata lirih, "Papa sangat merindukan kalian, Papa berharap semoga Tuhan memberikan papa kesempatan untuk bertemu kalian dan Mama kalian."


Tak lama David datang menjemput, mereka segera berangkat menuju negara yang berada di garis khatulistiwa tersebut.


......................


"Mama"


Shine yang baru saja pulang dari sekolah, berlari menghampiri dan memeluk Mikha di toko kue miliknya.


"Shine, Tante Indah dan Sunny mana?" Tanya Mikha yang nampak mencari keberadaan Indah dan Sunny.


"Tadi ikut ante Indah, katanya mau ke minimarket. Mama, Shine terpilih ikut lomba bernyanyi sama Bu guru loh!" Ucap Shine dengan semangat dan menyerahkan sebuah amplop putih ditangannya.


"Oh ya, wah anak Mama hebat!" , Mikha nampak mencium pipi putranya dan membuka amplop tersebut.


Namun seketika Mikha mengeryitkan keningnya kala mengetahui tempat perlombaan itu di selenggarakan.


"Tapi ini jauh sekali sayang? Kamu harus ke Jakarta." Ucap Mikha, hingga membuat Shine tertunduk lirih dan berkata "Tapi Shine mau ikut ma."


"Sayang, tapi disini kamu cuma berangkat bersama teman-teman lainnya dan ibu guru loh." Protes Mikha.


Shine nampak menunduk dan perlahan mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya.


"Shine mau ikut ma, Shine janji tidak akan nakal."


Mikha menghela nafas kasar dan memijat keningnya,


Sesungguhnya ia berat meninggalkan putra kecilnya tanpa pengawasannya namun ia juga tidak ingin menjadi penghambat untuk Shine berkembang dan mengasah bakat yang ia miliki, "Baiklah, nanti Mama telepon Bu guru ya."


"Yey, makasih Mama!" Pekik Shine senang yang langsung memeluk dan mencium kedua pipi Mikha.


Mikha mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi wali kelas Shine, hingga tak sengaja menjatuhkan sebuah foto dari dalamnya.


Shine yang tak sengaja melihatnya segera mengambil foto tersebut dan memandangnya secara seksama.


Tergambar Foto Ibundanya yang tengah hamil dengan seorang pria berkulit putih yang berada di sampingnya. Shine nampak mengernyitkan keningnya seolah bertanya-tanya, siapakah pria tersebut? Karena memang setelah melayangkan gugatan cerai pada Maxim, Mikha menyimpan seluruh foto Max yang terpajang hingga kini kedua anak kembarnya tidak mengetahui rupa sang ayah.


"Ma?"Sapa Shine saat melihat Ibundanya berjalan mendekatinya. "Mama, Paman ini siapa?" tanya Shine.


Mikha nampak mengelus kepala Shine dan mengangkatnya hingga duduk di pangkuan Mikha.


"Ini papanya Shine dan Sunny, tampan kan seperti Shine." Jelas Mikha tanpa ada yang di tutup-tutupi.


Shine nampak menatap wajah ibunya sedangkan Mikha mengulas senyuman tipis, "Ini papa sayang, papa juga pintar nyanyi seperti Shine."


"Sungguh? Ma... apa aku boleh menyimpan foto papa? Agar aku bisa selalu melihat papa." Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.


"Ya boleh sayang."


Mendengar jawaban dari sang Ibunda, Shine melompat senang dan segera memasukan foto itu ke dalam tas sekolahnya, "Papa temanin Shine sekolah ya." Ucapnya dengan polos yang berhasil membuat hati Mikha tercubit.


"Mikha!!!"


Suara pekikan yang terdengar nyaring tiba-tiba saja terdengar. Indah terlihat tengah tergopoh-gopoh berlari sambil menggendong Sunny.


"Ada apa?" Jawab Mikha bingung melihat tingkah sahabatnya.


"M-mau ada konser The Prince di se-sekitar alun-alun!"


Ucap Indah terbata-bata.


Mikha nampak membulatkan matanya dan terperangah nyaris tak percaya, "A-apa? Bagaimana mereka bisa nyasar kesini?"


"Entahlah, tiketnya pun gratis. Lu mau nonton?"Tanya Indah, Mikha nampak meminum segelas air dan berkata dengan tatapan nanar, "Apa masuk akal mereka konser hingga ke kota ini kecuali dengan maksud tertentu? Gu-Gue gak akan nonton Ndah."


"Kha, lu yakin gak mau bertemu Max?" Tanya Indah meyakinkan.


"Entahlah Ndah, gue bingung. Di satu sisi gue memang masih cinta sama dia tapi di satu sisi lagi kejadian itu seolah masih menghantui gue, hingga membuat mual dan kepala gue terasa sangat sakit." Jawab Mikha lirih.


......................


Hari konser pun tiba, David tampak sibuk memerintahkan "Orang-orangnya" untuk mengawasi dan mencari Mikha ataupun Indah di antara begitu banyaknya penonton.


Sedangkan Max tengah duduk menanti waktu perform di mulai.


Pekik salah seorang crew yang menyajikan berbagai macam kue di hadapan personil The Prince.


Max nampak menatap sebuah kue kesukaannya, kue yang sudah begitu lama ia tidak cicipi karena merasa tidak ada yang bisa menandingi rasa Tiramisu cake buatan sang istri.


Perlahan ia menyuap sesendok Tiramisu ke dalam mulutnya dan seketika matanya membulat sempurna, menyesap rasa yang sangat begitu familiar dan dirindukan di lidahnya.


"R-rasanya seperti buatan Mikha..."


Tiga jam berlalu hingga akhirnya konser selesai namun tidak ada laporan yang menunjukkan kehadiran sosok Mikha ataupun Indah.


BRAK


"Awww!!!!"


Suara pekikan terdengar jelas dari arah ruang ganti. Ryan terlihat menahan sakit karena kakinya tidak sengaja menginjak paku berkarat saat sedang tengah mengganti kostum.


Hingga akhirnya ia segera di larikan menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Ada pasien di IGD, dok!" Suara teriakan seorang perawat cukup mengusik seorang dokter muda yang tengah beristirahat sejenak.


Rika segera menghampiri seorang pria muda yang tengah meringis kesakitan di atas brankar rumah sakit.


Dengan cepat ia membuka tirai yang mengelilingi ranjang pemuda tersebut dan terkejut karena melihat seseorang yang ia kenal.


"Kak Ryan!"


"R-Rika!"


Ucap Ryan dan Rika secara bersamaan, cukup lama tatapan mereka saling terkunci hingga seorang perawat memecah lamunan Rika.


"Dok, Dokter Rika!"


"Astagfirullah, iya!" Pekik Rika yang langsung mengobati luka pada telapak kaki Ryan.


Setelah selesai mengobati Ryan, Rika nampak ingin segera meninggalkan pria itu namun dengan cepat Ryan menahan tangan kanan Rika.


"Kau mau kemana, kenapa terburu-buru sekali." Ucap Ryan, Rika nampak gelisah dengan mata melirik ke setiap sudut.


"A-Ada mas Maxim?" Ucap Rika gugup.


"Ada di depan, Rika aku ingin bicara denganmu!"


"T-tapi ..." Ucap Rika semakin gelisah dan seketika jari telunjuk Ryan berada di depan bibir gadis itu hingga membuatnya terdiam.


"Stttt... Cari alasan agar aku bisa dirawat semalam, Aku dan David ingin bicara denganmu! Panggil dia kesini!." Ucap Ryan menatap tajam gadis di hadapannya.


Rika yang sudah merasa tersudut, mau tidak mau menuruti kemauan pria yang berada dihadapannya.



...................


Di ruang tunggu nampak Max, David, Jerry, Dilla, dan beberapa crew menunggu kabar atas kondisi Ryan.


Bruk!!!


Tiba-tiba saja Dilla pingsan yang membuat semua yang berada di sana panik.


Setelah Dilla di tangani oleh dokter yang lainnya, kini pintu terbuka, keluarlah Rika dengan menggunakan Masker medis dan kacamata yang cukup besar milik salah satu perawat agar tidak di kenali Max.


"Tuan Ryan harus dirawat untuk untuk keperluan observasi karena lukanya cukup dalam, Bisa saya bicara dengan Tuan David?" Ucap Rika mencari alasan dengan wajah menunduk dengan suara yang di samarkan.


Jantung gadis itu berdetak kencang dengan bibir yang gemetar terlebih saat Max terlihat tengah menatap dengan tajam.



"M-Mari ikut saya!" Ucap Rika tanpa mau berlama-lama berhadapan dengan kakak iparnya.


Setelah David masuk ke dalam ruangan rawat Ryan, Disana Ryan sudah terlihat baik-baik saja bahkan mampu berjalan-jalan di dalan ruang rawatnya hingga membuat David mengeryitkan keningnya.


"Loh dok, katanya tadi....k-kamu! adiknya Mikha!"


Pekik David terkejut kala Rika membuka masker dan kacamata yang ia kenakan


......................