Oh My Mister

Oh My Mister
Malam sebelum pernikahan




Setelah acara proses lamaran selesai, seluruh keluarga Mikha dan Maxim segera pergi menuju salah satu Resort milik keluarga Larry yang berada di kota tersebut.


Sebuah Resort mewah bertemakan alam pegunungan yang berada di area kaki gunung Merapi.


Mulai saat itu Maxim dan Mikha sengaja di pisahkan dan di larang bertemu hingga akad Nikah berlangsung, bahkan mereka pergi menggunakan mobil yang berbeda.


Membuat si pria yang sedang di mabuk cinta itu menggerutu sepanjang waktu.


...****************...


Sementara di Resort itu, semua pekerja di buat sibuk di karenakan acara pernikahan putra sang pemilik saham terbesar yang sangat mendadak.


"Aku penasaran seperti apa sebenarnya rupa bos besar kita." Ucap salah satu pegawai wanita yang baru saja istirahat melepas lelah.


"Iya aku juga, kok bisa ya bos besar memilih tempat pernikahan anaknya di Resort ini, padahal lebih besar dan mewah Resort yang berada di Bali. Huh... mana mendadak banget lagi, ya semoga saja kita dapat bonus yang besar."


"Seluruh karyawan harap bersiap menyambut Bos besar dan keluarganya, beliau sebentar lagi sampai!" Pekik seorang Manager, yang membuat seluruh bawahannya panik berlari kesana kemari bersiap mengambil posisi.


2 buah mobil mewah berhenti tepat di pintu masuk Lobby Resort tersebut, tak lama 2 orang satpam membukakan pintu mobil tersebut di iringi beberapa orang bellboy untuk membawakan barang-barang dan seorang Manager yang menyapa hangat.


"Selamat Datang Tuan Larry dan Keluarga."


Ucap sang Manager itu menunduk hormat saat Tuan Andrew Larry dan Nyonya Anna memasuki Lobby.


Tak lama di susul oleh ketiga anaknya dan seorang baby sitter yang mendorong ksebuah kereta bayi, membuat seluruh karyawan wanita terperangah melihat Maxim yang di kenal sebagai seorang idol, ternyata adalah salah satu anak dari keluarga terpandang itu.


Setelah keluarga Larry memasuki Resort tersebut, kini keluarga Mikha yang bergantian masuk.


"Ada apa ini? sampai di sambut segala." Tanya Mikha yang bingung kepada kedua Sahabatnya yang sedang sibuk memandang takjub karena keindahan tempat tersebut.


"cihh ... aku pikir Tuan Muda akan menikahi kalangan bangsawan atau artis terkenal, ternyata hanya gadis kampung seperti itu! apa bagusnya dia di bandingkan aku." Gumam salah seorang Karyawan wanita dengan tatapan sinisnya.


Resort tersebut terbagi menjadi beberapa kelas, kelas paling mewah terdiri dari 5 buah cottage dengan sebuah kolam renang yang berada di tengah cottage-cottage tersebut.


Fasilitasnya pun lengkap, di tambah sebuah taman yang indah yang akan di pergunakan untuk proses akad nikah Maxim esok hari.



Sesudah sampai di kamar masing-masing, Mikha dan Maxim di larang untuk keluar kamar. Ponsel mereka pun di tahan oleh Dilla agar tak saling menghubungi.


Hari yang sangat panjang bagi Maxim, pria itu hanya berguling-guling di tempat tidur dan mengganti-ganti channel TV untuk menghabiskan waktu.


Sesekali Jhon atau Marrie dan Rika mengunjunginya untuk menghibur si pria yang tampak bosan itu.


"Dilla, tolong izinkan aku bertemu Mikha, Semenit aja ya...atau 30 detik gak apa-apa deh."


Ucap Max mengiba, pria itu terus menerus berbicara di balik jendela kamarnya yang sengaja di kunci dari luar agar ia tidak melarikan diri.


"hahahaha rasain Lo, eh...dipingit sehari aja lebay minta ampun! bersyukur lah karena harusnya seminggu lu di pingit!" Goda Dilla yang sangat senang melihat wajah Max yang terlihat sengsara.


Sebenarnya tradisi pingitan hanya berlaku untuk calon mempelai wanita agar tidak keluar rumah dan bertemu dengan calon suaminya hingga akad nikah berlangsung.


Namun karena sifat Maxim yang nekat dan pembangkang, Dilla berinisiatif untuk mengurung Maxim juga agar pria tersebut tidak membuat ulah.


Sementara itu, Jhon dan Ny.Anna sedang sibuk menenangkan Bella yang tiba-tiba saja menangis karena terjatuh saat bermain.


"Kesayangan Daddy sudah dong nangisnya, kan tidak ada yang luka." Ucap Jhon menggendong Bella yang masih menangis.


"Mo...mom"


Semua orang terkejut, terutama Jhon dan keluarganya.


Selama ini Bella yang mulai belajar bicara tak pernah sekalipun mengatakan kalimat itu, bahkan kepada rekan wanita Jhon yang ia temui.


Bella yang tumbuh tanpa figur seorang ibu, ia selalu menjaga jarak dengan seorang wanita yang baru ia kenal, jangankan di gendong bahkan di sapa saja ia bisa langsung menangis. Entah apa yang membuat balita itu mempunyai sikap seperti itu, mungkin karena merasa tak nyaman karena selama ini banyak wanita muda yang mencoba mendekatinya tanpa rasa tulus dan hanya mengincar perhatian dari ayahnya.


Namun kini, tiba-tiba saja ia menangis dan mengarahkan kedua tangan kecilnya kepada seorang wanita muda yang tak berada jauh di dekatnya, dan mengucapkan perkataan yang membuat semua orang terkejut.


"mom...mom. ."


Ucap Balita cantik itu seakan minta digendong oleh Indah.


Indah mendekat dan menggendong Bella ke pelukannya, seketika tangisan balita mungil itu berhenti. Balita itu memeluk erat Indah seakan tak mau lepas dan terpisah.


...****************...


Malam harinya seluruh keluarga Larry berkumpul di cottage tempat mereka beristirahat.


Maxim yang baru keluar dari kamar mencoba menghampiri kedua orangtuanya yang sedang berbincang dan menikmati secangkir teh hangat.


"Emmm ... mom, dad a...aku mau berbicara sesuatu hal" Ujar Max ragu.


Max lalu duduk dekat dengan orang tuanya dengan perasaan cemas.


"Apakah kalian berjanji tidak akan membatalkan pernikahan kami setelah aku memberitahu suatu hal, jujur aku sangat mencintainya jadi aku sangat mohon jangan batalkan pernikahan ini."


"Memangnya kau mau bicara apa sih sayang? bicara saja kenapa gugup begitu, lagi pula pernikahan ini juga sudah sangat kami nanti-nantikan." Nyonya Anna mencoba meyakinkan putranya yang tampak gelisah.


"Se... Sebenarnya Mikha sedang hamil."


"Oh Hamil, hah A-apa? hamil? kau menghamilinya?"


Pekik Nyonya Anna dan Tuan Andrew nyaris bersamaan.


Maxim menceritakan duduk perkara, bahwa Mikha tengah mengandung anak dari hasil pelecehan yang di alaminya, sementara gadis itu tak mengetahuinya karena ia tidak mau Mikha kembali down dan membatalkan pernikahan mereka.


Tentu saja semua perkataan Maxim itu salah karena Mikha sama sekali tidak sedang mengandung, semua ini karena ulah Rika yang membuat kesalahpahaman makin lebar, kini korban kesalahpahaman dari ulah Rika pun bertambah.


"Sudahlah Nak, ini juga bukan kesalahan Mikha, ia hanyalah korban jadi mana mungkin kami membatalkan pernikahan kalian hanya karena masalah ini." Ucap Tuan Andrew.


"Jadi Daddy dan Mommy menerimanya?"


"Tentu saja sayang, Jika kau saja sebagai suaminya dapat menerimanya dengan lapang dada mana mungkin kami menolaknya."


Ucap Nyonya Anna memeluk erat putranya.


"Mungkin ini memang jalan yang terbaik, semoga kau bisa menerima anak itu Mikha. Maaf, karena aku mungkin tidak akan mampu memberikan keturunan kepadamu."


Gumam Max dalam hatinya.


...****************...