
"Hahahaha"
Suara Tawa seorang wanita begitu nyaring terdengar.
ya...wanita itu adalah Clara Rosella Gerrard
Kini seluruh ruangan seketika hening dan pandangan tertuju pada gadis arogan itu.
"Apa kau yakin anak itu anakmu, Max,?"
"Clara, apa maksudmu bicara seperti itu?"Pekik Max yang mulai tersulut emosi, Max menggenggam tangan istrinya erat.
"Kalian semua dengar ya! karena Si J*lang itu, pernikahan aku dengan Maxim akhirnya batal dan apa kalian tau siapa sebenarnya perempuan sundal itu?"
"Dia sangat tidak pantas untuk Maxim, karena dia itu kotor! Dia pernah di perk*sa oleh pria lain beberapa bulan lalu dan bisa saja benih yang ada di perutnya adalah benih dari pria itu! sangat tidak pantas untuk seorang Maxim, dasar perempuan menjijikkan! tidak tau diri!"
Pekik Clara dengan menunjukkan bukti-bukti kasus Mikha dan Ari Wijaya dan memperlihatkannya pada awak media.
Tubuh Mikha bergetar, nafasnya tidak beraturan namun sekuat mungkin ia mencoba menahan agar cairan-cairan bening tidak lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Kilatan-kilatan kejadian buruk itu kembali terulang di kepala, perasaan sakit, takut, dan amarah berkecamuk di dalam hati wanita yang tengah mengandung itu.
"Tutup mulutmu Clara! kau lah sesungguhnya wanita yang menjijikkan, sejak awal aku sama sekali tidak mau di jodohkan dengan wanita angkuh sepertimu!"
Max mulai melangkahkan kakinya, ia ingin menghampiri wanita yang telah membuka luka lama istrinya. Namun langkah Max terhenti kala Mikha menahan tangannya.
Max menatap wajah istrinya, Mikha hanya tersenyum getir lalu perlahan ia menghampiri Clara.
PLAK!!!
Mikha menampar wajah Clara dengan begitu keras, sorot matanya tajam hingga membuat angkuh itu tak bergeming.
"Clara, selama ini kau bisa selalu mencoba mempermalukanku tapi aku tidak mempersalahkannya. Tapi sekarang kau benar-benar keterlaluan! Pertama aku gak pernah merebut Max darimu! dan kedua, kau tidak berhak men-judge apakah aku layak untuk Maxim atau tidak, dan tidak ada seorang wanitapun di dunia ini yang mau mengalami kejadian seperti yang pernah aku alami.
Jika kau menganggap korban sepertiku ini menjijikan, kau bukan hanya menyakiti hatiku tapi menyakiti seluruh wanita di dunia ini yang mempunyai nasib sama sepertiku."
"Kau memang menjijikkan! kau kotor!" Pekik Clara memegangi pipinya yang masih terasa panas.
"Jika aku kotor lalu apakah kau menganggap dirimu suci? Clara, di hadapan Tuhan kita itu sama! apa yang mau kau sombong kan dari dirimu?"
Tak lama Tuan Roger datang, ia menyeret paksa putrinya untuk keluar dan tak henti-hentinya meminta maaf kepada keluarga Larry terutama kepada Mikha dan Maxim.
Max berlari memeluk istrinya, hingga akhirnya ia merasakan sesuatu yang aneh yang terjadi pada Mikha.
Mikha tak sadarkan diri di pelukan sang suami.
......................
"Dasar anak pembangkang! kau benar-benar membuatku kehilangan muka!" Pekik Tuan Roger Gerrard menarik tangan putrinya.
Pria paruh baya itu tampak murka bahkan sang istri tidak dapat berbuat banyak melihat putri semata wayangnya di tarik dengan kasar.
"Daddy aku hanya memperjuangkan apa yang seharusnya jadi milikku!" Ucap Clara tak mau kalah dengan ayahnya.
"Clara sadarlah sejak awal Maxim memang tidak pernah menginginkan dirimu! walaupun kau menikah dengannya bahkan daddy tidak yakin dia bisa mencintai dirimu!"
"Kenapa Daddy? aku bahkan lebih sempurna daripada wanita murahan itu!"
"Karena Maxim seorang pria G*y!"
Clara tampak terdiam dan terpaku menatap ayahnya.
Tuan Roger menghembus nafasnya kasar, ia terduduk di sofa dan sesekali memijat keningnya yang terasa berat.
"Hah...maafkan Daddy Clara, awalnya Daddy menerima perjodohan itu karena berpikir derajat keluarga kita akan semakin naik jika kau menikah dengan Maxim. Walau Tuan Andrew sudah menjelaskan kondisi putranya."
"Mommy-mu menyadarkan bahwa langkah yang daddy ambl salah, walau begitu semua telah telanjur bahkan daddy tidak berani memutuskan perjodohan ini kepada keluarga Larry. Beruntung Maxim kabur saat malam sebelum pernikahan kalian, dan paling yang membuat daddy bernafas lega akhirnya Tuan Andrew sendiri yang meminta perjodohan ini di batalkan."
"D-daddy kau tidak berbohong kan? t-tapi kenapa Max bisa mencintai wanita itu bahkan ia sekarang tengah mengandung!"
"Untuk apa daddy berbohong! yang daddy tau dari tuan Andrew, Max baru pertama kalinya merasa tertarik dengan seorang wanita yaitu dengan Mikha istrinya. Bahkan ia rajin ke psikolog, dan apa kau tau Mikha banyak mengalami bahaya karena perbuatan mantan pasangan sejenis Max. Daddy benar-benar gak bisa membayangkan jika semua itu terjadi padamu."
"Clara, harusnya kau berterima kasih pada Mikha bukan malah menyerangnya. Daddy mohon, hilangkanlah egomu nak, minta lah maaf padanya."
Tuan Roger nampak menitikan buliran air di sudut matanya, sedangkan Clara duduk tersungkur dilantai.
......................
Sementara di tempat lain, Jesson tampak tersenyum puas melihat tayangan live resepsi pernikahan Max dan Mikha dari layar televisi.
"Seperti kau sangat senang." Ucap Rhine membawakan secangkir wine untuk Jesson.
"Sangat lucu melihat orang-orang bodoh itu, Oh ya Rhine apa kau memiliki pemikiran sama denganku?"
"Kau yakin?" Rhine mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jesson.
"hemmm, ya tapi aku harus lebih bersabar sampai kandungan wanita itu semakin membesar."
"Baiklah, biar aku dulu yang bergerak " Ucap Rhine tampak tersenyum licik
......................
Di bawah alam sadar Mikha, wanita itu tampak memutar kembali memori-memori buruk yang pernah menimpa dirinya, perasaan takut yang pernah ia rasakan kembali terulang.
"Tolong... Tolong aku, lepaskan!"
Mikha berteriak walau matanya masih terpejam, Max tampak panik hingga memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Sayang sadarlah, ini aku suamimu." Ucap Maxim berbisik di telinga istrinya.
Mata Mikha terbuka dengan nafas terengah-engah, air mata tak luput mengalir membasahi pipinya.
Ia langsung memeluk suaminya erat.
"A-Aku takut, a-aku bermimpi kejadian itu lagi."
Mikha terisak, ia tak mampu menahan perasaan takut yang tengah mendominasi batinnya.
"Ada aku selalu di sampingmu, kau gak perlu takut lagi! Lihat aku baik-baik, aku akan selalu melindungimu sayang."
Max menatap lekat manik mata istrinya, perlahan Max mengecup kening istrinya dan kembali memeluk Mikha pada pelukan terhangat yang ia miliki.
"Max"
Jhon tiba-tiba menghampiri adiknya dengan nafas tampak tersengal-sengal.
"Kenapa kak?"
"Bisa ikut aku sebentar, kita perlu bicara 4 mata."
Max mengangguk, ia kemudian mengikuti Jhon uang berjalan mendahuluinya.
"Ada apa sebenarnya kak Jhon?"
"Max berita huru hara di pesta pernikahanmu sudah tersebar begitu cepat, aku gak bisa menghentikannya karena semua di siarkan secara langsung. Bagaimana ini? banyak publik salah paham dan merusak reputasi istrimu."
Max tampak berpikir keras, bagaimanapun ia tidak ingin nama baik istrinya rusak begitu saja akibat menanggung kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Siapkan semuanya, aku akan mengadakan konferensi pers. Aku siap membuka semuanya bahkan masa lalu kelamku."
......................