
Sebuah ambulance memasuki perkarangan rumah besar keluarga Larry, tak berselang lama terlihat Jhon membopong tubuh istrinya yang meringis kesakitan dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
Jhon masuk kedalam ambulance bersama istrinya sedangkan anggota keluarga lain menyusul di belakangnya.
"S-sakit huhuhu" Pekik Indah menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan suaminya, baginya menoleh ke arah Jhon hanya menambah rasa sakit yang telah di deritanya, Jhon mencoba menggenggam tangan istrinya namun Indah terus menepisnya.
Flasback ON
Indah belari menuju kamarnya, hatinya sangat sakit mendengar pengakuan dari mulut suaminya.
"Sebenarnya siapa suamiku? Kenapa ia sama sekali tidak pernah terbuka padaku! dan mengapa ia terkesan lebih peduli pada wanita itu daripada denganku!" Ucap Indah dalam hatinya, pikiran-pikiran yang seakan tak berujung terus menerus berkecamuk di kepalanya.
"Aw!!!"
Indah yang tengah menaiki anak tangga tanpa memperdulikan langkah kakinya , tanpa sengaja terpeleset hingga perutnya membentur ujung anak tangga dengan cukup keras.
"Astagfirullah Indah!!!" Mikha berteriak kala melihat persis kejadian itu di depan matanya, ia segera menghampiri Indah dengan setengah berlari hingga tak lama para maid yang berada di sana berdatangan dan membantu menelpon ambulance.
Flasback Off
......................
Jhon terduduk lemas di sebuah ruang tunggu di rumah sakit, rasa sakit akibat memar di wajah dan punggungnya akibat pukulan dari ayahnya tidak ia perdulikan.
Tidak berselang lama pintu ruang tindakan terbuka, seorang dokter muncul bersama seorang perawat di sampingnya.
"Tuan Jhon Larry, bisa ikut ke ruangan saya sebentar?"
Ucap Dokter bernama Catherine, di jawab anggukan kepala oleh Jhon.
Jhon mengikuti dokter wanita yang nampak seumuran dengannya, ia duduk di kursi yang telah tersedia di depan meja kerja dokter tersebut.
"Begini Tuan, Nyonya mengalami kehamilan di luar kandungan dan di perparah dengan pendarahannya, Tidak ada pilihan lain selain secepatnya melakukan operasi pengangkatan jaringan embrio, demi keselamatan Nyonya Indah Larry." Ucap Dokter tersebut menjelaskan.
Deg!!!
Detak jantung Jhon seakan berhenti sejenak, tubuhnya begitu lemas seperti tak bertulang.
"Ha-hamil di luar kandungan? I-istri saya be-benar-benar hamil di luar kandungan?" tanya Jhon gugup meyakinkan kembali pendengarnya.
"Iya, kami butuh tanda tangan persetujuan dari Anda sebelum melakukan tindakan.
Namun Tuan tenang saja, ini semua tidak berpengaruh pada kesuburan istrinya anda. Rahim Istri anda siap untuk mengandung kembali minimal 1 tahun pasca tindakan pengangkatan jaringan." Ucap Dokter tersebut yang sedikit mencoba memberikan ketenangan untuk Jhon.
"Baiklah, lakukan yang terbaik." Ucap Jhon, pikirannya begitu kalut memikirkan istrinya.
......................
Waktu terus berputar, malam kian larut. Semua orang hanya terduduk diam.
Tidak ada yg berkomentar, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kha gimana Indah?" Pekik Dilla yang baru saja datang bersama suaminya dan David.
Sedangkan David menghampiri Jhon yang terduduk di sudut ruangan dengan wajah lebamnya.
"Jhon, sebenarnya ada apa?" Tanya David pada sahabatnya.
"Semua karena aku, semua salahku!" Ucap Jhon lirih.
"Maksudnya? aku gak paham nih."
Pada akhirnya Jhon menceritakan semua duduk permasalahan pada David, mulai dari kemunculan Rhine hingga rahasianya bersama Rhine.
"ah... Jhon kenapa kau bisa sebodoh itu? Oke kau memang pernah bersalah tapi menurutku mau kau pernah menodai dia atau tidak, ia tetap akan mencelakakan Emily." Ucap David santai.
"Maksudmu?" tanya Jhon yang nampak mengeryitkan dahinya.
"Hei apa kau tidak penasaran kenapa aku tidak dekat dengan wanita itu? karena aku tau sifat aslinya. Ia begitu terobsesi padamu Jhon! menurutku, orang baik walaupun di sakiti ia akan terus baik karena itulah sifatnya namun, kalau menurutmu dulu dia baik lalu menjadi jahat, ah... mungkin memang dulu saja dia pura-pura baik karena ada tujuan tertentu! Jangan Naif Jhon!" Ucap David.
Cklek
Seorang dokter keluar, tak lama di susul beberapa orang perawat yang mendorong Indah di atas brankar dari ruang operasi menuju ruang perawatan.
"Bagaimana istri saya?"Tanya Jhon pada dokter tersebut.
"Semuanya berjalan lancar, sekarang biarkan pasien beristirahat dulu, cukup seorang yang menemaninya."
Jhon mengangguk kepalanya, tidak lama Nyonya Anna menghampiri anak sulungnya.
"Kau temanilah istrimu, Max, Jerry dan David biar menunggu di luar. Sementara yang lainnya biar pulang beristirahat, Mommy besok pagi datang lagi Nak." Ucap Nyonya Anna memeluk putranya.
"Baiklah mom, kasian Mikha kalau berlalu lama di sini."
Pada akhirnya tinggalah para laki-laki yang menemani Jhon di rumah sakit, sedangkan yang lainnya beristirahat dan kembali esok hari.
......................
Semilir angin mengibas-ngibaskan rambut pendek seorang gadis manis berwajah oriental, ia tampak memajamkan matanya, merasakan dinginnya udara yang begitu menusuk.
"Hah ...jadi kau lusa ke London? haruskah kau yang kesana? sungguh perasaanku benar-benar tidak enak. " Tanya gadis itu tertunduk lirih.
"Seul Ye, Apa yang kau pikirkan? aku harus mengurus beberapa pekerjaan disana dan menyebar undangan pernikahan kita." Ucap Tuan muda Wang tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"T-Tapi..."
"Jangan berpikir terlalu jauh, kau boleh ikut jika diizinkan orang tuamu."
"S-sungguh?"
Tuan muda Wang tampak menganggukkan kepalanya hingga membuat kedua manik mata Seul ye nampak berbinar-binar, gadis itu segera memeluknya erat pria yang merupakan tunangannya tersebut.
"Terima kasih Chandra, aku sungguh mencintaimu!" Ucapnya tersenyum memeluk Tuan Muda Wang.
Sementara pria itu hanya tersenyum getir melihat sikap Seul ye.
"Maaf aku belum bisa mencintaimu, hatiku masih miliknya namun aku akan berusaha membuka hati untukmu." Gumam Tuan Muda Wang dalam hati.
..................................
Keesokan harinya matahari baru saja sejengkal beranjak dari peraduannya, namun ruang tunggu di rumah sakit itu sudah di buat heboh oleh Maxim yang terus muntah tanpa henti.
"Hoek...Hoek..."
"Aduh kenapa lagi ini bocah." Ucap David yang mulai panik.
"I-ini aku beliin obat pereda mual, minum dulu."
Jerry yang baru datang dari apotek tampak gugup menghadapi sahabatnya.
"A-Aku gak kuat pu-pusing..." Ucap Max lemah, wajah pria tampak pucat, dan di basahi oleh keringat dingin.
Drap...Drap...Drap...
Mikha tampak berjalan setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit yang masih begitu sepi, tampak Dilla dan Marrie yang cukup kewalahan mengikutinya.
"Mikha pelan-pelan, inget tu perut udah mulai gede!" Pekik Dilla yang cukup ngeri dengan tingkah sahabatnya.
"Gue takut Maxim kumat, entar malah nyusahin!"
"Kumat?" Tanya Marrie dan Dilla nyaris bersamaan namun Mikha tidak memperdulikannya, ia fokus agar cepat sampai di hadapan suaminya.
......................