
Mikha tertidur pulas karena terlalu lelah setelah seharian penuh berjalan-jalan dengan suami, saudara dan teman-temannya.
Hingga waktu penunjukan pukul 02.10 dini hari, ia terbangun karena merasa tidak nyaman pada perut bagian bawahnya.
"Aduh..." Rintihan Mikha, ia terus berguling-guling hingga membuat suaminya terbangun.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Max, yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Perutku sakit banget! aduh..." Jawab Mikha lirih dan kembali berguling hingga membelakangi suaminya.
Max terperanjat melihat noda darah yang terdapat pada seprai dan celana istrinya, rasa kantuknya seketika hilang karena pikirannya sudah melayang kemana-mana.
"Ayo kita kerumah sakit!" Ucap Max, yang langsung menggendong istrinya menuju parkiran mobil.
"Aku cuma sakit perut biasa sayang."
"Celanamu berdarah! kita harus kerumah sakit!"
"Ya ampun Maxim, berarti aku sakit karena datang bulan! sudah, kamu gak usah panik! turunin aku!" Ucap Mikha yang terus memberontak minta diturunkan.
"Mikha dengar! Aku gak mau di bantah! Mengerti!"
Karena terlalu panik, Max tidak sengaja membentak istrinya. Mikha yang baru pertama kali melihat Max marah dan membentaknya hanya bisa diam dengan hati yang sangat kesal pada suaminya.
Drama suami istri itu mengusik Dilla dari tidurnya, ia mengintip lewat jendela kamarnya dan melihat Max menggendong Mikha dengan wajah yang pucat dan panik.
Segera ia mengetuk kamar Jerry untuk meminta tolong padanya.
"Jer, bangun Jer!" Pekik Dilla yang terus menerus mengetuk pintu kamar Jerry.
"Hoammmm, eh manis! ada apa pagi-pagi buta begini ketuk-ketuk pintu kamarku? mau ngajak bobo bareng? "
Goda Jerry dengan wajah yang masih mengantuk dan terus menguap.
"Ish!!! gak usah ngaco deh, itu loh itu!" Ucap Dilla yang kini tak kalah panik dengan Max.
"Ya apa?"
"Max lohh, tadi gendong Mikha dengan wajah panik ke arah parkiran! gue takut ada apa-apa! yuk ikutin, temenin gue!" Ujar Dilla yang langsung menarik tangan Jerry yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana boxer pendek bergambar Scooby-Doo.
Gadis itu segera meminjam sebuah sepeda motor milik satpam yang sedang berjaga di sana, karena ia tidak tau harus meminjam mobil kepada siapa.
"Pegangan yang kenceng, gue ngebut nih!"
Ucap Dilla yang mulai melajukan kendaraannya, angin pegunungan yang dingin membuat Jerry menggigil sepanjang jalan.
Mobil yang dikendarai Maxim memasuki kawasan Rumah sakit, pria itu berhenti tepat di depan pintu ruang IGD dan segera kembali menggendong istrinya.
"Suster, Dokter tolong! istri saya pendarahan!"
Pekik Maxim panik.
Mendengar ucapan suaminya Mikha membulatkan matanya, kepalanya penuh tanda tanya.
Namun ia sudah terlalu malas untuk berbicara, sikap Max yang tadi membentaknya membuat wanita itu kesal bukan kepalang kepada suaminya.
Dua orang perawat segera mendorong Mikha yang telah terbaring di sebuah berankar dan membawanya ke ruang tindakan.
"Mohon bapak tunggu disini." Ucap seorang perawat yang segera menutup pintu ruang tindakan.
Tak lama Jerry dan Dilla tampak tergopoh-gopoh menghampiri Maxim.
"Max, apa yang terjadi dengan Mikha?" Tanya Dilla dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ia pendarahan, aku takut ia keguguran." jawab Max yang membuat Indah mengingat bahwa kehamilan Mikha hanya akal-akalan Rika saja.
"Hah? Mikha kan cuma..." Belum sempat ia melanjutkan perkataannya tiba-tiba pintu ruang tindakan terbukanya, dan muncul lah seorang dokter dan Mikha yang berada tepat di belakangnya.
"Tuan Maxim?" tanya dokter tersebut.
"Iya saya dok! bagaimana keadaannya istri saya?"
"Istri Anda tidak apa-apa, hanya sakit karena menstruasi saja." Ujar Dokter tersenyum.
"Menstruasi? bukankah istri sedang hamil?" Tanya Max yang seketika membuat Mikha terkejut dan menatap tajam kepada suaminya.
"Tidak pak, saya sudah periksa keseluruhannya. Ibu Mikha tidak mengandung, baiklah saya pamit undur diri dulu dan ini resep penghilang nyerinya." Ucap dokter itu sopan dan langsung meninggalkan Maxim.
"Kau...punya hu...tang pen...jelasan padaku!" Ucap Mikha menekankan kata-katanya di sertai dengan tatapan yang seakan siap untuk menerkam suaminya.
...***...
"Sayang jangan diam begitu doang, aku minta maaf." ucap Max mengiba, tangannya menggenggam tangan istrinya yang tidak lama di tepis oleh Mikha.
"Gak usah sentuh-sentuh aku ya, jelasin kalau sudah sampai!"
Setelah sampai Mikha bergegas menuju kamarnya di ikuti sang suami yang mengikutinya dari belakang.
Setelah ia selesai mengganti pakaian kotornya ia segera menunggu penjelasan suaminya.
Max, menjelaskan semuanya kepada Mikha tanpa terlewat sedikitpun. Ia sangat takut jika Istrinya marah padanya.
"ya ampun Max! aku itu phobia mawar merah, melihatnya saja aku bisa mual dan kamu kan merencanakan itu semua dengan Rika, memangnya dia tidak memberitahu mu?"
Max menggelengkan kepalanya, ia tidak berani menatap istrinya.
"Rika tau kamu mengira aku hamil?"
"Aku rasa iya, karena aku yang menyuruhnya membelikan susu khusus ibu hamil yang selama ini kamu minum."
"Jadi selama ini kau memberikanku susu ibu hamil?"
Mikha berdengus kesal, ia sudah paham akan semua situasinya. Rika adalah biang kerok dari semua kesalahan pahaman yang terjadi.
"Rikaaaa, kebangetan itu anak!" geram Mikha.
"Sayang, kamu maafin aku kan?" Tanya Max lirih dengan wajah seperti anak kecil yang habis di marahi ibunya.
"Gak!"
"Kenapa? kan aku gak salah?"
"Kamu tadi sudah bentak aku! sekarang kau tidur di sofa, aku gak mau dekat-dekat denganmu!"
Ucap Mikha dan segera melempar sebuah bantal dan selimut ke arah sofa.
Maxim pun hanya bisa pasrah menuruti perintah istrinya.
Ia segera merapihkan bantal di sofa, dan berbaring dengan terpaksa disana.
...***...
Di sisi lain, Dilla baru saja tiba dengan Jerry dengan menggunakan motor pinjamannya.
Setelah mengembalikan motor kepada si pemilik, ia pun segera berjalan menuju kamarnya meninggalkan Jerry yang terus mengekor padanya.
"Hatchu!!!"
Jerry terus bersin-bersin dan menggosok-gosok hidungnya yang mulai berair, tubuhnya pun tampak dingin, Dilla kemudian menoleh ke padanya.
"Lu kenapa?" tanya Dilla yang tampak tidak peka.
"Ti...tidak, Hatchu !!!"
Jerry terus bersin-bersin, dan sedikit membuat Dilla khawatir.
"Ya ampun, jangan-jangan lu masuk angin!" Ucap Dilla menahan tawa, gadis itu baru menyadari bahwa Jerry memakai pakaian yang tidak layak dipakai untuk keluar apalagi naik motor malam-malam dengan udara yang dingin.
Dilla segera mengantar Jerry ke kamarnya dan membuatkan secangkir teh untuk Jerry.
"Minumlah lalu buka bajumu!"
"Heii, kok kamu jadi agresif sih? sabar lah tunggu aku sembuh saja, kalau sekarang nanti kamu bisa tertular." Goda Jerry yang salah sangka dengan maksud Dilla.
"Gak usah mikir jorok! buka bajumu, di jamin besok kau sudah sehat." Ujar Dilla menyeringai dengan membawa uang koin dan sebotol minyak kayu putih di tangannya.
Tanpa di aba-aba ia langsung memulai aksinya untuk mengeksekusi Jerry dengan kerokan mautnya .
"Awww ampun, sakitttttt....."
Pekikan Jerry menggelegar memenuhi seluruh ruang kamarnya.
...***...