Oh My Mister

Oh My Mister
Memulai misi Dilla dan Jerry



Nb : Maaf ya teman-teman Author aku mampirnya telat-telat soalnya mumpung ide di kepala masih ada jadi aku fokus nulis dulu, tapi pasti aku akan mampir kok terutama yang udah ngikutin ceritaku ini, pasti aku meluncur duluan


maaf ya 😭


...****************...


Jarry dan Dilla nampak saling mengedipkan mata, saat Max mau masuk ke dalam rumahnya namun langkahnya di cegah oleh Dilla dan Indah.


"Mau kemana?" Tanya Dilla tersenyum.


"Ya masuk lah", jawab Maxim.


"Perjalanan kita baru di mulai!" Ucap Indah, tidak lama keluarlah beberapa pelayan dengan membawa 3 buah koper.


Dilla nampak mengacungkan ibu jarinya dan di balas oleh Jerry, Max dan Mikha nampak bingung dengan maksud para sahabatnya.


"Kita liburan!!!" Pekik Dilla dengan membawa 6 lembar tiket pesawat dan mengibas-ngbaskannua ke udara.


Max dan Mikha masih mencerna tingkah dan perkataan Dilla dan Jerry, mereka sama sekali tidak mengerti maksud sahabatnya.


"Pergilah Nak, ajak istrimu berlibur mungkin dapat mempercepat proses penyembuhannya, tenang saja kemarin Dilla telah konsultasi ke dokter Jeff, dan ia mengizinkan Mikha melakukan perjalanan jauh asal tidak terlalu letih." Ucap Tuan Andrew menepuk pundak putranya.


"Jangan pikiran yang disini ya, aku dan Rika juga mau jalan-jalan keliling London! " Ucap Marrie merangkul Rika yang tampak senang.


Akhirnya Max tidak jadi kembali ke rumah akibat ulah Jerry dan Dilla, kini mereka berenam yang tidak lain adalah Maxim, Mikha, Jerry, Ryan, Dilla dan Indah memulai perjalanan ke bandara menuju Hawaii.


...****************...


Jhon menyusuri hiruk pikuk kota New York, ia memasuki sebuah toko perhiasan kelas atas yang berada di sana.


Pria itu tampak memilih-milih sebuah kalung berlian yang tampak sederhana namun sangat terlihat menawan.


"Saya mau yang ini!" Ucap Jhon singkat kepada salah satu karyawan di sana dan menyerahkan sebuah black card miliknya.


"Cello? kau sungguh Cello!" Sapa seorang wanita menyebut nama panggilan Jhon semasa sekolah.


Jhon nampak terkejut melihat sosok wanita yang kini berada dihadapannya.


"Lama tidak berjumpa, apa kabarmu?" Tanya wanita itu dengan senyuman manisnya.


"Baik, baiklah aku harus kembali, Rhine!" Ucap Jhon tanpa ekspresi apapun meninggalkan wanita itu.


Wanita itu tampak tersenyum memandang Jhon hingga pria itu menghilang dari penglihatannya


"Kau semakin menawan Cello!" Ucap Wanita itu tersenyum.


...****************...


Perjalanan panjang sedang dilalui Max, Mikha dan keempat sahabatnya.


Dilla tampak mengerjapkan matanya, rasanya ia telah tidur dalam waktu yang cukup lama selama perjalanan.


"Ndah, minta minyak kayu putih dong! Ndah!" Ucap Dilla menepuk-nepuk seseorang yang duduk di sebelahnya tanpa menoleh


"Ndah, ih lu tidur juga Yee...."


Ucapan Dilla terputus kala melihat yang duduk di sebelahnya bukan Indah melainkan Jerry yang tampak tertidur pulas.



"Lah kok jadi si codot, si Indah mana?"


Ucap Dilla dengan mata yang sibuk mencari keberadaan Indah.


"Gue disini!" Ucap Indah dari kursi di belakang Dilla, "si Jerry noh maksa tukeran!" Sambung Indah.


Dilla berdecak kesal, laki-laki itu selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan untuk dekat-dekat dengannya namun kali ini ia harus sabar demi keberhasilan misi untuk Mikha dan Maxim.


"Lucu sih, tapi ishhh...apaan sih gue!" gumam Dilla menepuk-nepuk kepalanya kala tanpa sadar memandang pria yang tertidur di sebelahnya.


Pikiran Jahil gadis itu muncul kala menyadari Jerry yang tertidur sangat pulas bahkan saat pesawat mengalami turbulence yang hebat.


"Ini orang tidur apa semaput sih?" Ucap Dilla yang mulai memoles wajah Jerry dengan Make up yang ia punya.


"Sempurna! Rasain Lo!"


Dilla terkekeh melihat maha Karyanya pada wajah


Jerry, pria itu sudah tampak seperti badut denngan Make up tebal dan berwarna mencolok.


Akhirnya mereka mendarat di bandar udara yang terletak di kota Honolulu, Jerry yang masih tidak sadar dengan percaya diri beranjak dari kursi yang ia duduki.



"Kenapa sih?" Tanya Jerry dengan mata yang masih mengantuk.


"Wajahmu tampan!" Ucap Max menahan tawa, ia baru saja menghampiri ke 4 temannya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju hotel yang sudah di booking oleh Jerry, sepanjang jalan semua orang tampak menatap Jerry bukan karena ia seorang Idola tapi karena Make up buatan Dilla yang masih setia di wajahnya.


"Foto dulu dong sini!" Ujar Jerry yang mulai mengarahkan kamera ke wajahnya, Pria itu pun terkejut melihat wajahnya sendiri yang bagai badut akibat ulah Dilla.


"Dillaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! awas ya kau!"


...****************...


Malam hari mereka bersiap makan malam di sebuah restoran pinggir pantai, Suasana yang begitu tenang dan romantis tentu saja serasi dengan misi tahap kedua yang sudah di rencanakan Jerry dan Dilla.


"Gimana udah bawa?" Bisik Dilla kepada Jerry yang masih tampak merajuk pada gadis itu.


"Emmm!" jawab Jerry.


"Yeee ...tiap di tanya ham Hem ham Hem, ya udahlah bodo amat! niat gak sih? kalau emang gak niat bantuin temen tuh bilang!" Pekik Dilla kesal dengan sikap Jerry.


"Ya kamu mah, lagi ngambek bukannya di bujuk rayu malah galakan kau."


"Dih kaya bocah, malu sama badan! "


"Iya maaf maaf !" Ucap Jerry yang akhirnya harus mengalah daripada terus-menerus mendengar ocehan Dilla yang tiada berujung.


"Nah gitu dong! ya udah, habis makan aku sama Indah ngajak Mikha spa dulu, dan kalau sudah aku chat kau langsung eksekusi Maxim! oke! kamarnya udah aku suruh pelayan dekor dulu biar lebih romantis".


"Sipp!"


"Ingat langsung Giring dia, jangan sampai kau yang di makan!",Ucap Dilla menatap intens kawan bicaranya.


cup


Jerry mengecup pipi kanan Dilla secara tiba-tiba, yang membuat gadis itu mematung dan membulatkan matanya sempurna.


"Buat penyemangat! dan untuk balasan karena tadi kau sudah membuatku seperti badut!"


Ujar Jerry mencolek ujung hidung Dilla dan kemudian kembali bergabung bersama teman-teman yang lainnya, meninggalkan Dilla yang seakan menjadi patung dadakan.


...****************...


"Oke, jadi dia ada di sana! iya aku gak akan mengewakan lagi, sekarang juga aku kesana." Ucap Jhon yang tampak berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Jhon segera merapihkan barang-barangnya dan kemudian melangkahkan kakinya keluar.


"Awwww sakit!"


Karena terlalu terburu-buru Jhon menabrak seseorang wanita hingga kaki wanita tersebut sedikit terkilir.


"Maaf Nona, mari saya bantu." Ucap Jhon mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut yang tampak tertunduk memegangi pergelangan kakinya.


"Baiklah, terima kas...Cello!" Ujar wanita itu sumringah kala melihat wajah pria yang menabraknya.


Jhon membantu membawa wanita itu menuju kamarnya, wajah Jhon begitu dingin dan enggan menatap wanita dihadapannya.


"Terima kasih Cello."


"Ya sudah aku permisi." Ucap Jhon segera membalikkan badannya, namun tangannya di tahan oleh wanita tersebut.


"Tunggu! maafkan aku Cello, aku menyesal!" Ucap Wanita itu lirih seakan penuh rasa bersalah.


"Sudahlah Rhine."


"Bagaimana kabar Emily?"


"Tidak usah kau bahas, dia sudah bahagia di sisi Tuhan."


"Ma-maafkan aku, andai aku..."


"Sudahlah, cukup tidak muncul di hadapanku lagi kau sudah membantu!"


Jhon segera berlalu, meninggalkan wanita itu dengan senyuman smirk yang tersungging di wajahnya.


...****************...