
Hai teman-teman gak bosan-bosan Author mau bilang
jangan lupa Like dan komentar ya.
kalau boleh Ku minta Rate bintang 5 dan votenya untuk Author yang miss queen ini hehehe
PART INI MENGANDUNG ADEGAN DEWASA, untuk adek-adek di bawah umur bisa minggir dulu ya say... kalau masih bandel biarin entar matanya bintitan 7 hari 7 malem!ðŸ˜
Mohon bijaksana dalam menyikapinya semua hanyalah demi kebutuhan alur cerita,
...💞Terima kasih💞...
...****************...
Di sebuah hotel mewah di kota New York, seorang wanita tengah memandang ke arah jendela menatap keramaian kota tersebut.
Sesekali ia menengguk minuman beralkohol di tangannya, dengan senyuman yang masih setia menghiasi wajahnya.
"Betul seperti katamu, dia masih menggoda!" Ucap Wanita yang bernama Rhine itu kepada seorang pria bertubuh atletis yang berada di sampingnya.
"iya ...tapi dia yang telah membuat karierku hancur, bahkan sekarang membuatku seperti buronan!" Ucap pria berambut pirang tersebut.
"Itu Karana kecerobohan kau bodoh! apa kau tak berkaca dari kesalahan ku, Jess kau harus berfikir sebelum bertindak!" Pekik wanita itu.
...****************...
Drtttt... Drtttt...
Ponsel Jerry berdering menandakan masuknya sebuah pesan singkat, ia segera membuka ponselnya dan membaca pesan singkat tersebut.
"Mulai ! hati-hati lah 😂 jangan sampai kau yang di apa-apain wkwkwk"
Jerry membawa 3 gelas jus buah untuknya dan kedua Sahabatnya, sebelumnya ia telah memasukan suatu bubuk ke dalam salah satu gelas jus tersebut. Ia juga sangat hati-hati agar jus yang di campur obat pembangkit gairah tepat sasaran.
Sementara Dilla dan Indah tanpak sibuk membantu menggantikan pakaian untuk Mikha. Penyakit yang di derita Mikha memang membuatnya kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain.
"Udah seger, Udah wangi begini silahkan istirahat dulu, ya sudah gue balik dulu ya... udah ngantuk! entar gue panggil Max"
Ucap Dilla dan Indah kemudian keluar meninggalkan Mikha sendiri.
Mikha yang sudah lelah dan mengantuk pada akhirnya tertidur tanpa membutuhkan waktu yang lama.
Max merasakan sedikit pusing di kepalanya dan detak jantungnya memompa lebih cepat, Keringat mulai membasahi dahinya.
"Max kau istirahat dulu deh, wajahmu pucat!"
Jerry membantu Max menuju beranjak, selama menuju kamarnya Max selalu menolak jika di sentuh oleh Jerry walaupun hanya di bahu, ia takut akan melakukan hal-hal aneh kepada sahabatnya.
"Istirahatlah" Ucap Jerry meninggalkan Max di ambang pintu kamarnya.
Pria itu merasa tidak nyaman di tubuhnya, perasaan yang aneh dan sangat panas , peluh bercucuran di dahinya. Ia menatap istrinya yang sedang tertidur, ada dorongan nafsu kepada wanita yang selama ini bagaikan mati di tubuhnya.
Max semakin mendekati istrinya, membelai lembut wajah Mikha, perlahan ia mencium kening istrinya, beralih ke hidung, kedua pipi lalu bibir Mikha. Entah mengapa tubuhnya memintanya untuk melakukan hal yang lebih, hal yang selama ini tidak pernah ia rasakan kepada wanita manapun.
Max semakin memperdalam ciumannya hingga mengusik sang istri dari mimpi indahnya, Mikha membuka matanya karena permainan bibir sang suami.
"Maxim, kenapa?" Ucapnya melihat tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya.
"A-Aku ingin..." Jawabnya lirih yang membuat jantung wanita itu bagai berdetak kencang.
Tangannya menelusup ke dalam piyama yang masih membalut tubuh istrinya lalu menggapai dua gundukan di dada istrinya, ia memainkan sesuatu di ujungnya membuat bulu kuduk sang istri menegang seketika.
Pria itu beralih ke tengkuk leher istrinya, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang tidak beraturan. Max sejenak menghentikan aktivitasnya, ia menatap mata sang istri seakan meminta izin pada si pemilik tubuh tersebut, Mikha hanya tersenyum kala mata biru tajam dan penuh hasrat itu memandangnya.
Max tersenyum ketika sang istri seakan mengizinkannya berbuat lebih, pria itu meninggalkan satu persatu pakaian yang menutupi tubuh istrinya, ia memandang lekat tubuh polos yang kini terpampang di hadapannya, Membuat Mikha malu dan mencoba menutupi area-area sensitif dengan tangannya.
Jantung pria itu semakin tidak beraturan, aliran darah seakan semakin panas membangkitkan rasa yang tak pernah hidup dalam dirinya.
Pria itu melepaskan pakaian yang ia kenakan satu persatu, membuat wajah istrinya merona kala melihat tubuh polos suaminya.
Max tersenyum lembut, tatapan bagai menyimpan beribu arti, ia kembali mengeksplor tubuh milik istrinya, membuat wanita itu melenguh merasakan kenikmatan yang bagaikan tiada berujung.
Max perlahan memposisikan tubuhnya di antara ke dua kaki sang istri, perlahan-lahan mengarahkan miliknya kepada milik istrinya.
Mikha meringis kala merasakan benda itu berhasil masuk ke dalam tubuhnya, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih di **** *************.
Max berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu menyakiti sang istri, perlahan ia mulai berpacu menuntaskan hasrat yang membakar dirinya.
Suara desahan dan lenguhan seakan bersahut-sahutan dihiasi oleh peluh yang semakin bercucuran di tubuh kedua insan yang sedang memadu cinta.
Max memakin mempercepat gerakannya, pria itu mengeram mengeluarkan benih-benih miliknya menuju rahim sang istri. Pria itu mendekap Mikha pada dada bidangnya yang di hiasi rambut-rambut halus kecoklatan, ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia berhasil melakukannya.
Entah apa yang di berikan Jerry pada dirinya, rasa-rasanya ia harus berterima kasih atas tindakan nekat sahabatnya itu.
Max terus tersenyum dan menciumi kening istrinya hingga mereka larut dalam mimpi.
...****************...
Keesokan paginya keempat sahabatnya telah menunggu sepasang suami istri tersebut di sebuah restoran.
"Ih lamanya..." goda Dilla kepada Maxim dan Mikha kala mereka baru muncul.
Maxim menatap Jerry seakan meminta penjelasan namun pria itu hanya pura-pura tidak tahu.
Di sisi lain, tampak Jhon menyusuri tepi pantai masih dengan menggunakan pakaian formalnya, ia mencoba mencari sosok wanita yang selama ini terus mengusik hatinya.
Berbekal informasi dari Marrie, Jhon mencari Indah di antara banyaknya manusia yang berada di sana.
Hingga ia melihat seorang wanita berbaju merah, senyuman seketika mengembang di sudut bibir Jhon.
Indah termenung menatap kilauan pantulan cahaya matahari yang mengenai hamparan lautan biru di hadapannya, Pikirannya melayang-layang, masih memikirkan kekasih hatinya yang entah berada di sana.
"Maafkan aku".
Ucap seorang pria yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, Indah terkejut sontak membalikan tubuhnya ke arah pria tersebut.
Indah terperangah melihat Jhon di hadapannya, dengan pakaian formal lengkap yang nampak berantakan, pria Itu seketika memeluk erat Indah mengeluarkan segala keresahan dan kerinduan yang selama ini ia pendam.
Jhon berlutut, menggenggam kedua tangan gadis yang berada di hadapannya. Ia menatap mata Indah, mengharapkan maaf atas semua sikap buruknya pada gadis itu.
"Indah aku minta maaf atas segala sikap burukku selama ini, aku mohon maaf atas diriku ini yang tidak bisa jujur padamu. Indah aku sesungguhnya aku mencintaimu, mau kah kau menerima dan membuka hatimu kembali untukku? mau kah kau sudi menerima cinta si pria tua tak tau malu ini?"
Ucap Jhon sendu, pria itu masih berlutut menunggu jawaban atas perasaannya.
...****************...