Oh My Mister

Oh My Mister
PoV Maxim - Flashback "alasan aku mencintaimu"



...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...


...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......


...Agar Author Kentang ini bahagia...


...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini😁...


Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya.


JIKA ADA KEMIRIPAN itu hanya TERINSPIRASI namun ide dan alur tetap buah pemikiran Author sendiri !!!


...Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita**....


...Terima kasih❤❤❤...


...🌸🌸🌸...


Semua rencanaku berjalan dengan lancar, sore itu setelah aku membawa pindah semua barang-barangku ke rumah sewaan atau biasa di sebut rumah kost itu, aku bertemu dengannya.


Sesuai dugaanku, gadis itu masih mengingatku dengan baik bahkan ia sempat memaki-makiku.


Aku melihat ketakutan di matanya, mungkin dia menganggap aku orang jahat. Baiklah, jadi aku harus bersikap manis kepada gadis ini untuk mengambil hatinya.


Keesokan harinya aku mencoba mendekatinya, aku beralasan selogis mungkin agar ia mempercayaiku.


Beruntung, Dewi Fortuna memihak padaku. Gadis itu bersedia menjadi temanku walaupun aku harus mengajarinya berbahasa Inggris.


Ya, aku telah maju selangkah! sekarang hanya tinggal membuatnya nyaman padaku dan jatuh cinta padaku, maka aku bisa merayunya untuk bercinta denganku. Memang terdengar jahat, namun aku sungguh penasaran dengan reaksi tubuhku nanti.


Ia mengenaliku dengan seorang sahabatnya yang bernama Dilla, dia seorang gadis yang manis bahkan gadisku ini kalah cantik dengannya.


Namun entah mengapa di mataku, Mikha tidak pernah ada duanya. Ia selalu berhasil membuatku berdebar-debar dan merasakan ketenangan saat bersamanya.


Dilla ternyata mengenaliku sebagai seorang penyanyi, bahkan gadis itu adalah salah satu fans beratku. Aku mencoba bernegosiasi dengannya agar tidak memberitahu Mikha dan dia setuju dengan syarat aku harus mengenalinya dengan kedua sahabatku.


Seminggu aku berada satu atap dengannya membuatku sedikit merubah pandanganku terhadap Mikha. Sebelumnya aku yang hanya mengenalnya sebagai gadis periang dan blak-blakan kini aku mengerti, sikapnya yang seperti itu hanyalah untuk menutupi beban yang ia harus pikul.


Saat itu pukul 3 pagi, aku yang terbangun dari tidurku, terpaksa dengan malas harus keluar kamar menuju dapur untuk mengabil segelas air guna menyejukkan dahagaku.


Sayup-sayup aku dengar isakan tangis dari dalam kamarnya yang tentu saja tidak kedap suara.


Aku yang penasaran mulai menguping perlahan agar tidak ketahuan si pemilik kamar, aku mendekatkan telingaku pada pintu kamarnya.


Aku mendengar ia menangis dalam doanya, berharap keberkahan dari sang maha pencipta dan pengampunan atas dosa-dosa kedua orangtuanya, bahkan ia menangis karena merasa belum mampu membahagiakan orang tuanya.


Hatiku bergetar, aku malu padanya! Bahkan aku sendiri tidak pernah sekalipun mendoakan orang tuaku. Sisi lainnya ini benar-benar memberikan tamparan keras kepadaku, saat itu aku tahu bahwa ia hidup seorang diri di ibukota untuk membantu keuangan keluarganya bukan untuk dirinya sendiri.


Sejak saat itu aku memiliki kebiasaan baru, aku selalu memasang alarm pukul 3 pagi hanya untuk menguping keluh kesah gadis itu dalam doanya.


Hampir setiap hari ia beribadah di waktu 1/3 (sepertiga) malam, sesekali aku mendengar ia melantunkan ayat suci dengan suara yang indah.


Aku semakin kagum dan jatuh hati padanya.


Aku mulai mendekati sahabatnya yaitu Dilla, untuk mengorek informasi sisi lain tentang gadisku.


Menurut penuturannya gadisku pernah berpacaran saat masih duduk di bangku SMA namun hanya dalam waktu sebentar dan sejak saat itu ia tidak pernah memikirkan percintaan lagi, karena ia terlalu sibuk bekerja demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa menyusahkan orang tuanya.


Aku mulai merutuki pikiran-pikiran jahat yang sempat terbersit dalam diriku. Sungguh sangat hina jika aku merusak seorang gadis murni seperti dirinya hanya untuk rasa penasaranku saja.


Tak butuh waktu lama untuk membuat perasaan ini semakin berakar kuat di hatiku, aku menyadari bahwa kini aku benar-benar jatuh cinta padanya.


Namun sayangnya kebersamaan kami tidak bertahan lama, hari ini adikku memintaku agar segera kembali ke London karena ibuku jatuh sakit.


Sungguh hatiku sangat dilema, namun setelah ku pikir kembali bahwa inilah saat yang tepat meminta restu orang tuaku dan memaksa mereka untuk membatalkan perjodohan konyol itu.


Aku tak tahan, ingin segera menjadikan gadis itu pendamping hidupku! Khayalan indah sudah memenuhi otakku, aku yakin dia akan menjadi seorang ibu yang baik.


Aku bahkan menjadi lupa akan kekurangan diriku ini, aku memang egois yang berusaha sekuat mungkin mengikatnya tanpa memikirkan perasaannya jika ia mengetahui siapa aku sebenarnya.


Malam sebelum kepulanganku sungguh mengharu biru, saat itu aku mulai memahami bahwa perasaanku bersambut padanya.


Malam itu kami hanya saling mengungkapkan kejujuran perasaan masing-masing. Untuk pertama kali aku memberanikan diri mengecup bibirnya, tanpa adanya nafsu hanya tindakan jujur atas perasaan kami.


Keesokan hari ia mengantarku ke bandara, sejujurnya ada perasaan aneh di hatiku. Aku merasa berat sekali meninggalkannya, hatiku sungguh mengganjal.


"Ya Tuhan semoga bukan suatu pertanda buruk"


aku tiada henti berdoa karena sungguh entah mengapa kakiku terasa berat pergi jauh darinya.


Sesampainya di London aku ingin segera menuntaskan urusanku, ayahku murka melihat kehadiranku. Namun sungguh tak ku duga perlahan beliau mengerti keadaanku, ku jelaskan bahwa aku akan menikahi gadis pilihanku.


Raut wajah kebahagiaan begitu terpancar dari kedua orangtuaku. Pertama kali aku merasakan, rasanya membuat orang tua bahagia.


Terima kasih kekasih hatiku, kau banyak mengajarkan ku banyak hal.


Aku memantapkan hati atas segala resiko jika aku ingin meminangnya, tak lupa aku harus meminta restu kepada ayah dan ibuku.


"Mommy dan Daddy membebaskan kau menentukan pilihanmu, asalkan kau masih percaya dengan adanya Tuhan maka kami akan terus mendukungmu. Semua agama pasti mengajarkan kebaikan sayang, kami menghargai pilihanmu."


Begitulah jawaban kedua orang tuaku saat aku memutuskan untuk pindah keyakinan.


Aku telah memikirkannya matang-matang, apapun akan aku korbankan untuk dirinya bahkan jika ia meminta nyawaku sekalipun.


Aku rasa gadis itu sudah benar-benar membuatku gila.


6 bulan ku lalui tanpanya sungguh waktu yang terasa begitu lama, kesibukanku dan perbedaan waktu yang signifikan membuat hubungan komunikasi antara aku dan dia cukup terhambat.


Di tambah aku aku harus mengurus masalahku dengan Jess membuatku semakin sibuk, aku menyesal telah mengenal seorang Jesson.


Hari ini aku akan kembali menemui gadisku, aku sangat tidak sabar untuk memeluknya. Melepaskan kerinduan yang selama ini sungguh membuat hatiku terasa sesak namun entah mengapa aku merasa sesatu yang tidak nyaman. Entah apa perasaan itu, yang jelas rasa ini sama seperti saat aku meninggalkan gadisku, begitu mengganjal dan mengganggu di hati.


Bersambung...


...****************...


Engkau hadir saat diriku


tak mengharapkan cinta pada dirimu


sepi sunyi tak berarti


hatiku resah membenci


tak sadarku pun terpesona


dengan indahnya lantunan kalam cinta


yang berkumandang dari bibirmu...


hatiku pun luluh merindu...


cinta kasih yang kau beri...


membuatku sungguh berarti...


kau anugerah Tuhan terindah untukku


nestapaku kau jadikan dukamu...


salamku untukmu selalu...


wahai kau calon istriku...


berjanji setia bersama s'lamanya


berdua kita hingga menuju syurga


(ost. Assalamualaikum calon imam- Miller Khan version).


...****************...