
Hai Teman-teman, Author gak bosan-bosan bilang, jangan lupa Like, komentar, dan Rate bintang 5 ya...
kalau ada poin lebih bisa kasih Vote nya untuk karya Author yang masih amatir iniπ
...Terima kasih...
...π·π·π·...
Mikha menyibukkan dirinya di dapur, membuat macam-macam aneka kue dan makanan manis, mulai dari Puding coklat, Tiramisu, Cookies, dan Cup cake.
Entah mengapa ia merasa lega setelah melampiaskan segala emosinya pada Clara dengan cara membuat kue.
"Hmm sudah jam 3 sore, dikit lagi Maxim pulang." Ucap Mikha yang segera merapihkan dapur.
"Sayang, kamu dimana?"
Ucap Maxim yang baru saja sampai rumah dan langsung mencari istrinya.
Maxim mencium aroma manis, langsung melangkahkan kakinya menuju sumber aroma tersebut yang berasal dari dapur.
Ia mendapati istrinya yang sibuk mengelap peralatan masak yang baru saja di cuci, di meja pun tersedia berbagai macam kue yang menggugah selera.
"Max, sudah pulang!" Ucap Mikha yang segera melepas apron yang ia gunakan dan langsung mencium tangan suaminya.
"Iya sayang, pemotretan lebih cepat selesainya. Wah...apa ini? banyak sekali, apa kau tidak capek? kenapa tidak beli saja di toko kue." Ucap Max yang menatap berbagai jenis kue yang tampak cantik dan lezat.
"Tidak, aku senang melakukannya. Aku sangat suka membuat kue! ya sudah kamu ganti baju dulu sana!"
"Baiklah Nyonya, Oh iya sayang... tolong siapkan minum dan kuenya juga untuk Ryan, dia ada di ruang tamu. Tolong temani sebentar ya kasian dia sendirian."
"Hanya Ryan, Jerry tidak ikut?"
"Dia sibuk mau kencan!" Ucap Max dan langsung mencium pipi istrinya.
Mikha menyiapkan beberapa potongan kue dan jus Jeruk untuk Ryan dan suaminya. Ia lalu mengantarkannya menuju ruang tamu tempat Ryan menunggu.
"Hei Ryan, ini cobalah! aku habis membuat kue." Ucap Mikha tersenyum sambil meletakkan perlahan satu-persatu piring-piring yang berisi kue.
Ryan tersenyum, jantungnya berdetak lebih cepat kala melihat Mikha yang begitu telaten melayaninya walau hanya sebagai tamu.
"Cobalah!" Ucap Mikha mempersilahkan Ryan menyicipi hidangannya, ia lalu duduk pada sisi lain sofa.
"Enak, sangat enak! Rasa manisnya sangat pas!" Ucap Ryan sambil menyuap perlahan sepotong Tiramisu yang membuat Mikha mengembangkan senyumnya dengan mata berbinar-binar.
"Syukurlah ada orang lain yang menyukainya, selama ini hanya keluargaku saja yang pernah menyicipi kue buatanku. Aku pikir mereka bilang enak hanya untuk menghibur ku" Ucap Mikha yang sedikit mengerucutkan bibirnya.
Ryan terkekeh dengan tingkah Mikha yang berbicara begitu jujur, hingga tanpa terasa mereka menjadi asik mengobrol dan menjadi akrab.
Max yang baru kembali sehabis membersihkan badannya, ia melihat sahabatnya yang pendiam begitu mudah tertawa lepas.
Tidak biasanya sikap Ryan seperti itu terlebih kepada orang baru, ia hanya bisa tertawa dengan orang yang membuatnya nyaman.
Entah mengapa Max merasa tidak suka dengan pemandangan di hadapannya, padahal seharusnya ia senang istri dan sahabatnya bisa berbaur.
Wajah Max kini berubah menunjukan ketidaksukaannya, ia segera menghampiri sang istri dan merangkulnya seakan menunjukan bahwa Mikha adalah miliknya .
Pip...pip...
Tiba-tiba kode pintu terbuka, siapa lagi yang bisa masuk akses unit apartemen mereka selain Marrie.
Gadis itu tiba-tiba muncul di susul Dilla dan Indah yang berada di belakangnya.
"Assalamualaikum!" Ucap Dilla dan Indah serentak dengan wajah bahagia.
"Waalaikumsalam, Dilla Indah! kok gak ngabarin! ya ampun gue kangen banget!"
Pekik Mikha yang langsung berhamburan memeluk kedua Sahabatnya.
Suasana tiba-tiba menjadi begitu hangat kala mereka berkumpul.
Marrie sesekali melirik ke arah Ryan yang sedang asik menatap ketiga wanita yang saling melepas rindu itu.
Tatapan Marrie semakin lama semakin menunjukan ketidaksukaannya saat melihat cara Ryan memandang Mikha.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan kak Ryan, ah ... tapi tidak mungkin ka Ryan begitu! mungkin hanya perasaanku saja!"
...****************...
Keesokan harinya, Marrie sengaja datang lebih terlambat dari biasanya. Ia menjemput Indah dan Dilla terlebih dahulu agar dapat pergi ke perusahaan bersama-sama.
"Dil liat, gimana penampilan gue? udah oke belum? duh entar dulu makannya, liat dulu!" Ucap Indah, mengguncang-guncangkan tubuh Dilla yang hendak memasukan sebuah roti kedalam mulutnya.
"Ya ampun ini bocah, bisa gak sih lu biarin gue sarapan dengan tenang? Lu udah nanya 3 kali ke gue." Ucap Dilla yang mulai kesal dengan tingkah sahabatnya.
"Hallo! Good morning! apa kalian sudah siap?"
Ucap Marrie yang tiba-tiba saja datang.
"Yuk! kalau nanya si Indah tahun depan juga belom siap-siap!"
Ucap Dilla dengan roti yang masih berada di tangannya, ia lalu menarik Marrie keluar di susul Indah yang lari tergopoh-gopoh karena kesulitan berjalan akibat heels yang di gunakan terlalu tinggi.
Tak butuh waktu lama, ketiga gadis cantik ini sudah berada di perusahaan besar milik keluarga Larry.
Marrie segera membawa Indah menuju ruangan sang CEO.
Tok... Tok... Tok...
Marrie mulai mengetuk pintu ruangan milik kakaknya
"Silahkan masuk" Ucap Jhon cukup lantang dari dalam ruangan.
Marrie melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja Jhon, di ikuti Indah dengan badan yang bergetar menahan kecanggungan.
"Ka aku sudah membawa Sekretaris pribadi kakak yang baru!"
Ucap Marrie yang membuat Jhon menghentikan pekerjaannya dan memalingkan pandangannya sejenak dari komputer yang ada di depan matanya.
"Loh?" Ucap Jhon terkejut, kedua matanya membulat sempurna saat melihat Indah yang berada di samping Marrie.
"Marrie, Apa-apaan ini! apa kau yakin dia mampu menjadi sekretarisku?"
Ucap Jhon dengan tatapan tidak suka.
Mendengar semua ucapan dan sorot mata Jhon, Indah sedikit tertunduk. Ada perasaanya sesak di dalam dadanya namun gadis itu kembali mengingat nasehat Dilla, jika tetap mau memperjuangkan Jhon maka ia harus menyiapkan hatinya kuat-kuat.
"Maksudmu apa ka? kau meragukan kemampuanku? hei... pilihanku tak pernah salah!" Ucap Marrie yang kesal dengan sikap Kakak pertamanya.
Jhon menghembuskan nafas kasar, ia segera memerintahkan Indah memperkenalkan dirinya lebih dalam.
Sedangkan Marrie pergi meninggalkan ruangan Jhon dengan senyuman puas.
"Silahkan kau duduk di sana!"
Ucap Jhon yang menunjuk ke sebuah meja kerja yang masih berada di dalam ruangan dan hanya di pisahkan oleh kaca transparan.
"Baik Tuan!" Ucap Indah yang langsung menuruti perintah Jhon yang kini telah menjadi atasannya.
...****************...
Sementara itu Mikha sedang sibuk berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan suaminya.
Semenjak ia mengikuti Max ke Inggris memang Mikha menolak untuk memakai jasa asisten rumah tangga, karena posisinya yang sudah tidak bekerja maka ia akan merasa bosan jika tidak melakukan apa-apa di rumah.
"Max, bangun! sarapan dulu yuk!" Ucap Mikha membangunkan suaminya.
"Emmm iya sayang!" Ucap Max dengan suaranya yang masih berat dan serak.
"Oh ya sayang, boleh kah nanti aku menemani temanku untuk pergi ke mall sebentar?" Ucap Mikha kepada Max.
"Siapa? bukannya Dilla dan Indah kerja?" Ucap Max dengan mata yang masih tertutup.
"Bukan, Oh iya aku lupa cerita ya, aku kenalan dengan seseorang yang bernama Jess..."
"Apa!"
Belum Mikha meneruskan kata-katanya, Max seketika terperanjat mendengar nama 'Jess' di sebut oleh istrinya.
...****************...