Oh My Mister

Oh My Mister
Hati yang hancur



...Hai teman-teman jangan lupa Like, komen dan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...klo ada rezeki boleh dong berbagi vote sama Author yang miss queen ini hehehe...


...Ingat Promo boleh spam jangan😉...


...Boleh dong mampir ke karya baru Author...



PoV Mikha


Sore itu aku pergi menemui pria yang bernama Jesson itu, dengan berbekal alamat klub yang tertera di kartu tersebut aku pergi menggunakan sebuah taksi.


Aku sengaja melakukan itu semua, karena jika aku pakai supir pribadi maka mereka pasti akan membuat laporan kepada suamiku.


"Maaf sayang, bukannya aku mau keluar tanpa izin darimu namun aku terpaksa, rasa penasaranku sudah sangat mendarah daging." gumamku.


Aku turun di sebuah bangunan yang cukup besar, saat sampai di sana Tuan Jesson sudah menungguku di pintu masuk tempat tersebut.


Tempat tersebut sepertinya di peruntukan untuk kalangan high class serta dilengkapi dengan sistem keamanan yang ketat, tak sembarang orang bisa masuk kesana namun karena aku masuk bersama tua Jesson yang notabene seorang member VVIP di sana maka aku dengan mudah di izinkan masuk.


"Huh tempat macam apa ini?"


Gumamku saat melihat banyak manusia sesama jenis saling tampak memadu kasih dan mengumbar kemesraan.


"Ini adalah klub milik temaku, dan aku serta suamimu adalah pelanggan setia di sini."


Aku terkejut kala Jesson mengetahi prihal suamiku padahal aku saja belum mengatakannya.


"kau pasti bertanya-tanya tempat apa ini? yaa ini adalah perkumpulan komunitas kami, dan suamimu adalah pasanganku." Ucap pria itu dengan tenang.


Aku sama sama sekali tidak mengerti, rasanya berkali-kali pun otakku di picu untuk berpikir namun aku tak kunjung mendapatkan jawabannya.


"Apa maksudmu?"


"Aku dan suamimu adalah pasangan sesama jenis sebelum Kau merebutnya dariku!" Ucap pria itu dengan penuh penekanan.


Bagaikan tercekik, rasanya sulit sekali untukku bernafas. Hatiku sakit namun aku tidak boleh percaya padanya begitu saja, aku tidak boleh terlihat lemah di depan orang itu! aku harus kuat!


aku mencoba meyakinkan dan menguatkan diriku walau rasanya tubuhku bagaikan tak bertulang.


"Atas dasar apa kau mengatakan itu? kalau tidak ada yang bisa kau jelaskan lagi aku permisi!"


Aku berbalik mencoba keluar dari tempat memuakkan itu, namun pria itu menarik tanganku.


"Aku punya buktinya!"


Pria itu membawa sebuah laptop dan meletakkannya di sebuah meja, hatiku begitu sakit saat dia memberikanku beberapa lembar foto-foto yang begitu mesra dan menjijikkan antara dia dan suamiku.


"Siapkan hatimu, Nyonya!" ucap pria itu dengan senyuman menyungging di bibirnya.


Aku terperangah, lidahku begitu Kelu untuk berucap.


Sakit, ya...sakit sekali rasanya! beribu pertanyaan berputar di otakku seiring dengan berputarnya sebuah Video yang menunjukan adegan bercinta suamiku dengannya.


Aku mengulum bibirku erat-erat, menahan agar air mataku yang rasanya semakin berat ini tidak lolos di depan pria di hadapanku ini.


Aku menghela nafas perlahan, aku tidak mau membuat pria itu senang! aku kini telah mengerti maksudnya, mungkin saja pertemuan aku dengannya memang sudah di setting olehnya.


"Hah kau pikir dengan begitu saja membuat hubungan kami hancur? kau salah Tuan, aku menerima suamiku apa adanya!" Ucapku mencoba menyunggingkan senyuman yang sangat sulit ku tunjukkan.


"Walau dia tak pernah menyentuhmu? Nyonya, suamimu hanya bisa melakukanya denganku loh!"


"Hah, kau tau apa? bahkan kita selalu melewati malam yang panas setiap hari !" Ucapku mencoba tenang dan menunjukan beberapa kissmark di tengkuk leherku padanya, aku berlalu meninggalkan pria itu dengan wajah yang nampak kesal.


Aku meninggalkan tempat laknat itu, pikiranku kosong mengawang-awang entah kemana.


Aku berjalan mengikuti kemana kakiku melangkah tanpa tujuan.


Aku merasa terasing di negeri orang, dengan nasib rumah tanggaku yang entah akan di bawa kemana.


"Mengapa dia menikahi ku? " kalimat itu terus berputar di otakku, hingga tak terasa hujan turun membasahi bumi.


Kilasan demi kilasan kejadian mulai dari awal bertemu dengannya berputar di kepalaku, aku sangat mencintainya! sangat sangat mencintainya.


haruskah rumah rangga yang baru aku bangun seumur jagung ini harus kandas?


Aku terduduk di sebuah taman yang nampak sepi karena hujan dan angin yang berhembus begitu kuat, namun aku tidak peduli.


Aku bisa menangis sepuas hatiku, ku gigit kuat syal yang melingkar di leherku, agar teriakanku tidak terdengar kemana-mana.


Entah mengapa ada darah yang mengalir dari hingga terlihat ke betisku.


"Mikha sedang apa kau disini?" Ucap seseorang dengan membawa payung menghampiriku, pandanganku mulai memudar, sejak itu aku kehilangan kesadaran.


Aku terbangun, mengerjapkan mataku melihat langit-langit yang tampak putih menyilaukan mata.


"Apakah semua itu mimpi?" hatiku sangat berharap demikian, hingga seseorang menggenggam tanganku.


"Kau kenapa?" Ucap pria itu yang ternyata adalah Ryan.


Tidak lama seorang dokter menghampiri kami dan tersenyum.


"Nyonya mohon jangan terlalu stress ya." Ucap dokter wanita itu tersenyum, aku mengernyitkan keningku. Aku tidak mengerti maksud dokter itu.


"Apa Nyonya belum mengetahuinya?" tanya dokter itu kembali dan aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Nyonya sedang mengandung, kehamilan Nyonya sudah memasuki Minggu ke 8, mohon di jaga karena Nyonya hampir mengalami keguguran."


Ucap dokter tersebut, dan menyerahkan selembar surat dan resep obat kepada Ryan yang di sangkanya adalah suamiku.


Entah apa yang aku rasakan, di satu sisi aku kecewa dengan suamiku namun di satu sisi aku bahagia tengah mengandung buah cinta kami.


Tunggu! buah cinta kami? apakah ia mencintaiku? aku tidak tahu!


Aku di antar pulang oleh Ryan, ia bertanya padaku kenapa aku seperti itu? aku yang malas menjawabnya hanya terdiam dan sesekali tersenyum yang nampak dipaksakan.


Beruntung ia tidak memaksaku bercerita, pria itu tiba-tiba memelukku dan berkata


"Aku ada di sini untukmu?"



Aku tidak mengerti maksudnya dan aku tidak peduli. Pikiranku sudah penuh terisi dengan masalah rumah tanggaku.


Sesampainya di kediaman, aku segera melangkahkan kakiku cepat, aku tak peduli dengan orang-orang yang melihatku.


Aku berpapasan dengannya, dia memelukku.


Hatiku semakin sakit walau ku akui aku masih mencintainya bagaimanapun keadaannya, namun aku tidak mengerti apa alasan dia menikahiku?


"Sayang kau dari mana saja, aku khawatir." ucapnya dengan wajah sendu, wajah yang mampu meluluh lantakkan hatiku.


Namun bayangan di video itu berputar kembali di kepalaku, wajah yang sama saat melakukan hubungan terlarang tersebut dan menikmatinya.


Aku menatapnya tajam mencoba melepaskan diri dari pelukannya.


PLAK!!!


Aku menampar wajahnya, ku lemparkan semua foto-foto yang menunjukan kemesraannya dengan pria yang bernama Jess itu kewajahnya. Nampak ia terkejut karena tindakanku yang tiba-tiba.



Aku berlari menutup pintu kamar dengan kencang dan menguncinya.


Tangisan ku pecah, aku berteriak dan melempar semua yang ada di sana untuk menyalurkan semua emosi yang ada di dalam jiwaku.


Aku memeluk erat-erat perutku, aku rapuh! namun mengapa rasa cinta ini tidak ikut hancur?


"Oh Tuhan, Bagaimana aku harus menghadapinya."


^^^WESTLIFE - UNBREAKABLE^^^


...This love is unbreakable...


...It's unmistakable...


...Each time I look in your eyes...


...I know why...


...This love is untouchable...


...A feeling my heart just can't deny...


...Each time you whisper my name...


...Oh baby, I know why...


...****************...