
Mikha segera pulang ke rumah yang sudah lebih dari 4 tahun ini ia tempati, di sana seluruh keluarganya dan juga Indah sudah menanti mereka diruang keluarga.
Indah memang pulang secara dadakan kala mendapati kabar kalau orang tua Mikha segera pindah kembali ke Jogja sebelum Mikha kembali ke London.
"Mikha, lu beneran mau pindah?" tanya Indah lirih, karena selama ini rumahnya begitu ramai dengan kehadiran Mikha dan keluarganya hingga membuatnya merasakan kehadiran keluarga kedua yang selalu menemaninya.
"Iya Ndah, bapak sama ibu sudah kangen pengen pulang kampung. Gue juga harus ikut Max lagi Inggris, kasian anak-anak kalau jauh dari papanya. Terima kasih ya selama ini lu udah bantu gue, maaf banget gue banyak ngerepotin lu, gue titip Rika sama Marrie ya" Mikha memeluk Indah, sahabatnya yang begitu banyak membantunya di kala saat-saat sulit.
Rika yang harus menyelesaikan masa koas-nya, terpaksa harus tetap berada di kota itu untuk dua Minggu kedepan, dan Marrie beralasan masih ingin menemani Rika dan Indah walau sebenarnya ia tetap berada di sana karena masih berjuang mendekati Dimas.
"Iya gak apa-apa, gue gak merasa direporkan. kalau gue senggang nanti gue akan main ke sana, gue juga kangen sama Bella dan Mommy," ucap Indah yang membuat Mikha, Max, dan Marrie terperangah.
Indah melepaskan pelukannya karena merasa ketiga manusia di hadapannya caramemandang tajam padanya.
"Emmmm begini, se-sebenarnya pria yang di jo-jodohin sama gue itu ya... J-jhon," ucapnya gugup dan lirih saat menyebutkan nama Jhon.
"Hah!" Pekik Mikha, Max, dan Marrie serentak karena terkejut nyaris tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Ting... Tong...
Bel di rumah berbunyi, Konah segera membukakan pintu dan ternyata adalah Dilla, Jerry, David dan Ryan yang datang.
#Ryan dan David
"Max aku sudah membereskan berkas-berkas anakmu, Oh ya, aku dan Ryan pamit kembali terlebih dahulu ya, Dilla dan Jerry katanya mau ikut pulang kampung ke Jogja" ucap David yang kemudian berpamitan dengan kedua orang tua Mikha.
Sedangkan Ryan melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya lalu memandang seorang gadis yang berada di sudut ruangan. Ryan segera menghampiri Rika dan memberikan sesuatu yang berada di dalam tasnya. "Untukmu," ucapnya tersenyum.
Rika segera mengangkat pandangannya, gadis itu perlahan menerima sepasang boneka kelinci berwarna merah jambu dengan senyuman pias. Entah mengapa, ia merasa sedih saat mengetahui Ryan harus kembali ke London.
"Terima kasih," ucapnya lirih, semetara Ryan tersenyum simpul melihat mimik wajah Rika yang sangat jelas merasa berat ditinggalkan olehnya.
"Kamu selesaikan dulu sisa tugasmu, nanti aku akan membawa kau bersamaku," Ryan berbisik lirih dan berhasil membuat Rika mengeryitkan keningnya karena pernyataan ambigu tersebut. Gadis itu memang sangat peka dengan perasaan orang lain, namun entah mengapa kini ia serasa kehilangan kampuannya secara tiba-tiba.
......................
Hari semakin sore, Mikha meminta izin kepada suaminya untuk bertemu dengan Dimas, bermaksud untuk berpamitan. Bagaimanapun selama Mikha berada di Kalimantan, pria itu sudah begitu baik dan banyak membantunya.
Max mengantar Mikha sampai pada sebuah restoran, dan dengan berat hati ia mengizinkan istrinya untuk bertemu dengan Dimas seorang diri sedangkan ia menunggu di dalam mobil.
"Dimas," sapa Mikha kala melihat pria berpakaian tentara tengah menunggunya.
Pria yang tengah menyeruput secangkir kopi itu mengangkat kepalanya dan mengulas senyuman.
"Apa kabar?" tanya Mikha basa basi dan duduk dihadapan Dimas.
"Baik, Kembar gak ikut? Oh ya, mau minum apa?" Dimas menyodorkan sebuah menu pada Mikha
"Ah terima kasih, aku cuma sebentar kok. Dimas terima kasih ya selama ini kamu sudah banyak membantuku, aku pamit karena besok a kan pergi ke Jogja sebelum kembali ke London," ucapnya dengan hati-hati.
Dimas tersentak dan kembali menunduk, "Mikha, apa kau yakin kalau suamimu takkan mengulang kesalahan yang sama? Mengapa kau dengan mudah menerimanya kembali, sedangkan kau tidak pernah bisa menerima perasaanku yang sudah bertahun padamu?" ucapnya lirih, merasa sakit hati yang teramat mendalam.
"Maaf, masalah aku dan suamiku memang hanya karena kesalahan pahaman. Dimas, aku yakin ada gadis di luar sana yang tengah menunggu cintamu. Tolong lupakan perasaanmu kepadaku, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Aku selalu menganggapmu sebagai teman baikku, tolong bukalah hatimu untuk gadis lain," tutur Mikha dengan lembut mencoba menjaga perkataannya agak tidak semakin menyinggung Dimas.
"Ya sudah, aku permisi dulu," Mikha bangkit namun seketika Dimas menahan tangannya.
"Maaf Tuan kami harus buru-buru, terima kasih ya sebelumnya Anda sudah banyak membantu anak dan istriku," ucap Max yang tiba-tiba saja datang dengan tatapan tajam, karena tidak tahan melihat tangan istrinya di sentuh pria lain.
#Dimas
Dimas menatap nanar kepergian Mikha dan Maxim, hatinya sungguh sangat berantakan. Dan tangannya terlihat mengepal erat,
"Gadis itu, ya... Dia juga harus merasakan apa yang aku rasakan!"
......................
Keesokan harinya, setelah berpamitan dengan Indah dan juga para pekerja di rumah Indah. Mikha dan keluarganya segera beranjak menuju sebuah pangkalan udara.
"Rika, Marrie, baik-baik di sini ya. Jangan merepotkan Kak Indah," ucap Mikha kepada adik-adiknya.
Setelah semuanya selesai kini mereka berangkat menuju tanah kelahiran Mikha dan Dilla.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam, kini sampailah mereka di kota dengan seribu kenangan.
Mikha tersenyum simpul, melepaskan kerinduan pada tanah kelahirannya.
"Kita jalan-jalan dulu sebentar yuk, biar anak-anak sama Jerry dan Dilla dulu," bisik Max pada telinga istrinya.
"Tapi kita harus membereskan rumah dulu," jawab Mikha.
Max hanya menyunggingkan senyuman karena selama ini, ia selalu menyuruh orang untuk merawat dan membersihkan rumah mertuanya.
"Aku sudah menyuruh orang untuk melakukannya, jadi ibu dan bapak tinggal istirahat saja, lagipula anak-anak anteng sama Dilla. Kapan lagi kita bisa berduaan," bisik Max menggoda istrinya.
Setelah hasutan Max secara terus-menerus, pada akhirnya Mikha menuruti kemauan suaminya.
Mereka berjalan-jalan, menikmati suasana Malioboro bak sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu.
Max merangkul istrinya dengan posesif, seakan takut kehilangannya kembali. Hingga tak terasa hari semakin sore.
"Pulang yuk, aku takut anak-anak nyariin kita," ucap Mikha yang nampak gelisah. Lagi-lagi Max tersenyum seringai dan berbisik, "Aku sudah menelpon dan memberikan pengertian kepada mereka."
"Pengertian?" tanya Mikha bingung.
"Yap, aku berjanji akan memberikan mereka mainan dan...," Max menjeda ucapnya dan semakin membuat Mikha penasaran.
"Adik baru!" lanjut pria blonde tersebut seraya menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam mobil.
......................