Oh My Mister

Oh My Mister
Kepulangan Mikha



Mikha mengerjapkan matanya kala sinar mentari terasa begitu menusuk.


Ia mendapati suaminya yang telah tidak ada di sampingnya.


"Max?" Ucap Mikha mencari sosok Max di segala arah, ia mendapati sang suami tengah membuatkan segelas susu untuknya.



"sudah bangun sayang? sebentar ya." Ucap Max tersenyum hangat padanya.


Max segera menuntaskan segala sesuatunya dan segera membawakan segelas susu dan sarapan lalu menghampiri serta menyuapi Mikha dengan sabar.


Mikha memandang wajah pria yang tak lain adalah suaminya, ia bersyukur mempunyai suami yang hampir mendekati kata sempurna baginya.


"Terima kasih, Max." ucap Mikha tersenyum


"Untuk apa sayang?"


"Untuk segalanya, terima kasih kamu telah menjadi suami yang baik untukku."


Max tersenyum getir, nampaknya ucapan tulus dari istrinya hanya membuat hatinya tertampar kenyataan.


Max mengecup kening sang istri dan membelai lembut pipinya, tak lama seorang dokter mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruang rawat Mikha.


"Selama pagi Nyonya Maxim, bagaimana kabarnya hari ini." sapa Dokter yang bernama Jeff itu, dan membawa sebuah amplop coklat berukuran besar.


"Tuan ini hasil test keseluruhan Nyonya kemarin, semuanya cukup baik dan lukanya pasca operasinya juga telah tertutup sempurna jadi selamat Nyonya telah kami Izinkan pulang." Ucap dokter tersebut yang membuat pasangan itu tersenyum bahagia.


"Tapi ingat ya untuk selalu kontrol sesuai jadwal dan melakukan terapi secara teratur, agar tangan dan kaki Nyonya bisa secepatnya pulih."


Dokter tersebut kemudian pamit dan berlalu meninggalkan ruang rawat Mikha.


Max yang begitu senang segera menggendong istrinya dan memutar-mutarkan tubuhnya.


"Max sudah ah, aku takut jatuh!" Pekik Mikha memukul-mukul lembut dada bidang suaminya.


Max segera mendudukkan istrinya di ranjang pasien dan menghujani kecupan pada seluruh wajah Mikha.


"Cepat sembuh ya, aku berjanji akan mengajakmu bulan madu ke tempat yang Indah." Ucap Max berseri-seri.


...****************...


"Mengapa kau tampak sedih?" Tanya Tuan Wang memecah lamunan Indah, Indah hanya menggelengkan kepalanya karema rasanya ia terlalu malas untuk berbicara.


"hahaha jujur saja, apa kau ngambek lagi sama di om-om tua duda lapukmu itu?"


Indah terkejut dengan perkataan Tuan Wang, batinnya seakan bertanya "Dari mana pria itu tau umpatan-umpatannya untuk Jhon saat sedang di Rooftop? sedangkan waktu itu ia berbicara menggunakan bahasa Indonesia."


Melihat raut kebingungan dari wajah Indah, pria itu semakin tertawa.


"Aku hanyalah seorang anak adopsi dari keluarga Wang, masa kecilku aku habiskan di panti asuhan yang berada d kawasan Pecinan di Jakarta, jadi tidak mungkin aku tidak mengerti bahasamu."


Indah terperangah, ia tidak menyangka bahwa Tuan Wang hanyalah seorang anak adopsi dari keluarga yang kaya raya di China.


"Namaku Chandra Agustin Wang, panggil saja Chandra."


Ucap Tuan Wang mengulurkan tangannya pada Indah, Indah membalas menjabat tangan pria yang tampak tersenyum lebar.


"Baiklah aku akan memanggilmu Agus!" Ucap Indah yang membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Ah kau ini selalu bisa ya membuatku tertawa, dasar nona high heels si pengumpat ulung!" Ujar Tuan Wang dengan senyum yang masih setia merekah di bibirnya.


Jhon yang sejak awal membuntuti Indah, hanya bisa melihat pemandangan itu dari jarak yang cukup jauh.


Pria itu tampak menatap sendu Indah yang terlihat tertawa lepas saat berbincang bersama Tuan Wang.


...****************...


Seusai sarapan, Max segera membersihkan tubuh istrinya dan bersiap-siap mengemas barang-barang miliknya dan istrinya dalam sebuah tas jinjing berukuran cukup besar.


Ia lalu mengangkat tubuh istrinya dan mendudukinya di atas sebuah kursi roda.


"Sudah siap?"Tanya Max tersenyum, Mikha hanya menganggukan kepalanya.


Max mendorong kursi roda sang istri menuju mobil listrik Tesla kesayangannya yang terparkir rapih di area parkir rumah sakit tersebut.


Perjalanan menempuh waktu hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di kediaman besar Keluarga Larry.


Di depan pintu sudah nampak keluarga serta para sahabatnya yang siap menyambut kepulangan Mikha.


"Selamat datang sayangku! sehat selalu ya" Ucap Nyonya Anna yang segera memeluk menantunya yang kini berada di atas kursi roda.


Kemudian bergantian Bu Yani dan Pak Ali serta Rika dan Marrie serta Dilla memeluk Mikha dengan rasa haru.


"Indah mana?" Tanya Mikha mencoba mencari keberadaan salah satu sahabatnya.


"Lagi ke luar kota sama kak Jhon." Ucap Marrie


"ya sudah kamu istirahat dulu sayang." Ucap Nyonya Anna membelai lembut menantu kesayangannya.


Di kamar Max nampak sibuk dengan teleponnya, berkali-kali ia terdengar membentak seseorang lawan bicaranya di telepon tersebut.


"Max..." Tanya Mikha berusaha berjalan ke arah suaminya.


sekuat tenaga wanita itu berjalan dengan benar namun berkali-kali ia terjatuh dan berjalan tidak sesuai arah.


"Sayang, kenapa kau berjalan? maaf aku tidak dengar." Ucap Max menggendong tubuh istrinya yang terjatuh di lantai dan mendudukkan Mikha di pangkuannya.


"Kamu kenapa?" tanya Mikha memandang lekat wajah suaminya.


Max terlihat termenung, wajah pria itu berubah sendu dan mendekap tubuh istrinya dengan erat.


"Maafkan aku sayang, pertengahan Januari aku harus tour Asia selama 6 Minggu, waktu itu aku menyetujui dan tanda tangan kontrak karena aku pikir bisa mengajakmu tapi aku gak nyangka kamu akan sakit.


Aku gak bisa meninggalkanmu selama itu, aku coba berunding dengan David tapi gak menemukan titik terang, pihak pertama dan sponsor tidak mau jika tour tanpa kehadiranku."


Mikha tersenyum mendengar perkataan suaminya, ia sangat mengerti keresahan suaminya dan bila boleh jujur ia juga tidak ingin di tinggalkan begitu lama dengan Max, namun tanggung jawab pria itu kepada pekerjaannya juga tidak kalah penting.


Mikha menyentuh wajah Max hingga pandangan mereka saling bertemu, wanita itu ingin menunjukan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang dirinya.



"Max, sudahlah hanya 6 Minggu saja kok. Kalau kau tetap tidak hadir, walaupun aku tau kamu mampu untuk mengganti rugi namun pikirkan nama baik teman-temanmu! kalian itu bekerja tim, jika satu nama tercoreng maka semuanya ikut tercoreng dan tidak di anggap profesional."


Ujar Mikha mencoba menenangkan hati suaminya, ia membelai rambut coklat alami milik sang suami yang terasa lembut.


"Terima kasih sayang, aku beruntung memiliki istri yang pengertian sepertimu."


Max menghujani wajah sang istri dengan kecupan-kecupan lembut.


Mikha tersenyum dengan tingkah suaminya, Max adalah pria yang begitu lembut baik lisan ataupun sikapnya, ia merasa begitu beruntung memiliki suami yang nyaris begitu sempurna di matanya.


Semoga saja setelah mengetahui siapa Maxim sesungguhnya, ia dapat menerima kekurangan suaminya.


Karena sesungguhnya manusia tiada yang sempurna.


...****************...