Oh My Mister

Oh My Mister
Kekecewaan Marrie



Hujan semakin lebat disertai kilat dan angin kencang melanda sebagian besar wilayah kota London.


Indah nampak terburu-buru masuk kedalam kamarnya, kemudian ia segera membuka pintu kaca menuju balkon di kamarnya, matanya membulat melihat suaminya tertidur duduk di sebuah kursi di balkon tersebut.


Wajahnya nampak pucat dan sedikit basah terkena percikan air hujan.


"Jhon, bangun." Ucap Indah menepuk-nepuk pundak suaminya, ia merasakan suhu tubuh suaminya cukup panas.


"Astaga Kamu demam, Jhon ayo bangun! masuk ke dalam."


Mata Jhon sedikit terbuka, pria itu tersenyum kala melihat istrinya berada di hadapannya.


"Indah, kamu sudah gak marah lagi kan? maafkan aku." Ucapnya lirih menyentuh lembut pipi istrinya.


"Bicaranya nanti saja! ayo masuk dulu!"


Indah segera membantu Jhon masuk ke dalam kamar, ia membukakan sepatu yang masih dikenakan Jhon lalu membantu mengganti pakaian suaminya.


"Minum dulu obatnya." Ucap Indah, memberikan sebutir obat dan segelas air mineral.'


Jhon menurut pada perkataan istrinya, ia segera meminum obat yang di berikan oleh Indah.


"Honey..." Ucap Jhon lirih menggenggam tangan istrinya.


"Maafkan aku, baiklah aku akan menuruti kemauanmu tapi..."


"Tapi apa?" Ucap Indah menatap tajam suaminya.


"Berikan sedikit waktu mungkin beberapa hari, aku akan mencari pekerjaan untuknya di perusahaan lain."


"Terserah!"


Jhon bangun dari tidurnya, ia memeluk erat tubuh istrinya yang terduduk di tepian ranjang, kepalanya menelusup pada ceruk leher Indah, menciuminya dan menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam.


"Buka bajumu!"Ucap Indah


"Honey, jangan sekarang junior milikku kan belum pulih. Besok aku berobat ke dokter paling bagus agar bisa secepat mungkin pulih." Ucap Jhon yang terus menerus bergelayut manja pada Istrinya


"Kamu itu mikir apa? aku cuma nyuruh kamu buka baju dan tengkurap! cepetan!"


Dengan rasa penasaran Jhon menuruti keinginan istrinya, pria Itu seketika tampak menikmati sentuhan lembut tangan istrinya yang mengusap punggungnya menggunakan minyak kayu putih dan kemudian...


"Awwww sakit sayang......" Pekik Jhon meronta-ronta kala sebuah koin menggosok kasar kulit punggungnya.


Namun kini ia hanya bisa pasrah karena Indah dengan cepat sudah duduk di atas tubuhnya.


......................


Matahari mulai beranjak dari peraduannya, Mikha terbangun kala rasa lapar sudah melandanya.


Ia segera beranjak mencari suaminya yang sudah tidak terlihat di sampingnya.


"Sayang..." Ucap Mikha memeluk suaminya yang sedang membersihkan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di dagunya



"Ada ada apa nih tiba-tiba manja begini? mau lagi?" Goda Max kepada istrinya.


Mendengar perkataan suaminya yang begitu menggelikan, Mikha mencubit gemas pinggang Maxim hingga pria itu sedikit meringis.


"Aku lapar ingin makan nasi goreng!" Ucap Mikha yang terus memeluk suaminya.


"Ya sudah nanti kita cari restoran Indonesia ya..."


"No, aku mau buatan sendiri!"


"Tapi kan aku ada jadwal pemotretan sayang, sarapan pakai yang ada dulu ya."Ucap Maxim mengusap rambut istrinya.


"Iya gak apa-apa, tapi pulang pemotretan aku mau nasi goreng, tapi aku maunya Marrie yang masak."


Max tercengang mendengar permintaannya itu istrinya, mengingat adik perempuannya sama sekali tidak bisa memasak apalagi harus memasak nasi goreng.


"Hah a-apa? Marrie aja seumur-umur gak pernah pegang wajan sayang, aku aja yang masakin ya." Ucap Maxim menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak mau, aku maunya Marrie yang masak! kalau tidak, aku gak mau makan!" Mikha tampak merajuk, membuat Maxim kebingungan menghadapi istrinya yang tengah mengandung.


"Hah... Oke, baiklah nanti aku telepon Marrie."


......................


Max melanjukan mobil listrik kesayangannya perlahan menyusuri jalan di kota London.


Hingga ia sampai di sebuah studio pemotretan untuk suatu majalah, Max langsung berganti kostum dan sedikit di Make-up agar tidak terlihat pucat di depan kamera.


Mikha nampak tersenyum memandangi suaminya, ya... ia sangat suka memandang sang suami kala sedang bekerja.



Senyum Max mengembang, menatap sang istri yang selalu setia menunggu dan menemaninya.


Wajah Mikha terasa memanas dan bersemu merona, untuk yang kesekian kalinya ia merasa terus menerus jatuh cinta pada pria berkulit putih yang sudah lebih dari setengah tahun telah resmi menjadi suaminya.


......................


Sementara itu Marrie melangkahkan kakinya ke ruang kerja kakak pertamanya, ia baru saja mengetahui bahwa kakak iparnya sudah tidak lagi bekerja.


Ya...memang akhir-akhir ini Marrie sangat sibuk di karenakan Dilla sudah mengajukan pengunduran diri dengan alasan fokus mengurus suaminya sehingga ia harus melakukan apa-apa tanpa bantuan asisten .


"Kak Jhon! kenapa kau tidak bilang kak Indah Resign? kan aku bisa buru-buru mencarikan pegantinya!" Pekik Marrie yang masuk tanpa permisi.


"Santai saja, aku ada pegantinya untuk sementara waktu. Kau carikan saja yang sesuai kriteria ku." Ucap Jhon santai.


Tok... Tok...Tok...


Setelah ketukan beberapa kali akhirnya pintu ruang kerja dibuka, Marrie tampak membulatkan matanya kala melihat seorang wanita yang ia kenal masuk ke dalam ruang kerja Jhon.


"Ka..Di-dia, buat apa wanita iblis itu disini?" Pekik Marrie terbata-bata.


"Sudahlah Marrie, Rhine sudah berubah jangan kau mengungkit-ungkit kesalahannya, sementara ia menggantikan Indah menjadi sekretarisku"


Gadis itu nyaris tidak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut kakak pertamanya, Emosinya mulai naik karena tingkah Jhon yang begitu konyol baginya.


"Kau sudah Gila kak! tidak waras! Wanita iblis seperti dia gak akan berubah! Hei iblis kau apakan kakakku!" Pekik Marrie menarik rambut Rhine hingga wajah wanita mendongak ke atas.


"CUKUP Marrie! dimana sopan santunmu!"


Jhon reflek mendorong tubuh adiknya hingga Marrie nyaris terjatuh, sedangkan Rhine tertunduk menangis tersedu-sedu.


"Dia pembunuh!" Marrie berteriak, wajahnya tampak merah padam.


"Kau itu anak kecil tidak tau apa-apa." Pekik Jhon yang mulai tersulut emosi.


"Kak, otakmu sudah bermasalah! kau gila! bodoh!"


"Cukup!!!"


PLAK!!!


Jhon yang mulai naik pitam tanpa sadar menampar adik perempuannya, Mata Marrie nampak berkaca-kaca setelah mendapat perlakuan kasar dari kakaknya.


"M-marrie maafkan Kakak." Ucap Jhon lirih kala baru menyadari perbuatannya.


"Kak, kau menaparku hanya karena wanita itu. K-kau jahat! aku gak mengenal kau yang seperti ini! kau bukan kakakku!"


BRAKKKK!!!


Marrie keluar dari ruang kerja Jhon dan membanting pintu dengan kasar, sedangkan Jhon tampak mengejar adik kesayangannya meninggalkan Rhine yang tersenyum menyeringai.


......................


Marrie segera berlari keluar dari gedung perusahaan milik keluarganya, ia segera menaiki sebuah Taksi meninggalkan mobilnya yang terparkir di halaman kantor.


Sementara Itu, ponsel milik Mikha berbunyi. Dengan cepat ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


Wajahnya seketika berubah, nampak guratan kekhawatiran tersirat dari tatapannya.


"Kenapa sayang?" Tanya Max yang tiba-tiba menghampiri istrinya.


"M-Marrie..."


^^^Bersambung...^^^