Oh My Mister

Oh My Mister
Tekanan perasaan



...WARNING! Bagian awal part ini mengandung adegan dewasa, mohon bijak dalam menyikapinya....


...Jika tidak suka dan masih di bawah umur, bisa di scroll sampai tanda ....... pemisah....


...Terima kasih...


Shared the laughter


Berbagi tawa


Shared the tears


Berbagi air mata


We both know


Kita berdua tahu


We'll go on from here


Kita kan bertahan dari sini


'Cause together


Karena saat bersama


We are strong


Kita kuat


In my arms


Di pelukanku


That's where you belong


Itulah tempatmu


I've been touched by the hands of an angel


Aku tlah disentuh oleh tangant-tangan bidadari


I've been blessed by the power of love


Aku tlah diberkati oleh kekuatan cinta


And whenever you smile


Dan tiap kali kau tersenyum


I can hardly believe that you're mine


Aku tak percaya bahwa kau adalah kekasihku


Lantunan lagu masih terdengar mengiringi atmosfer romantisme yang begitu mendominasi.


Lengan pria blonde bemanik mata biru itu masih melingkar posesif di pinggang istrinya, tatapannya sedikitpun tak beralih dari mata kekasih halalnya.


Perlahan Max mengecup kening istrinya dan berbisik lirih pada telinga Mikha, "Walau beribu-ribu kali aku mengatakannya, namun rasanya aku masih saja tak puas untuk selalu mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, istriku."


"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku," jawab Mikha tersenyum.


Max perlahan mencium bibir ranum istrinya dan menyesap rasa manis nan begitu candu baginya.


Kecupan-kecupan lembut semakin lama berubah menjadi lebih intim dan menuntut.


Lengannya beralih memegang tengkuk leher istrinya, agar mempermudahkannya mengeksplor seluruh rongga mulut istrinya.


"Max," ucap Mikha lirih, kala bibir sang suami telah beralih dan bergerilya bebas pada leher jenjangnya.


Tanpa aba-aba, pria berkulit putih itu segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju ranjang.


Perlahan ia menurunkan zipper pada bagian belakang dress yang dikenakan Mikha hingga mengekspos bebas punggung berkulit kuning langsat milik istrinya.


Mikha memejamkan kedua netranya, merasakan dan menikmati, kala bibir suaminya mulai mengecup punggungnya dengan lembut hingga membuat bulu kuduknya meremang seketika.


Max semakin menurunkan dress yang dikenakan istrinya, serta membuka sebuah pengait pelindung area buah dada istrinya. Pria itu semakin mencumbu lembut istrinya hingga membuat sensasi aneh yang begitu memabukan dan candu. Mikha tak tinggal diam, ia berbalik dan melepaskan satu persatu kancing kemeja Max. Jemari lentiknya seakan menari-nari memainkan bulu halus kecoklatan yang tumbuh di dada Maxim.


"Emmh," Max mengeram saat sang istri perlahan memberikan kecupan-kecupan sensual hingga meninggalkan bekas merah kepemilikan pada dadanya.


Kedua insan itu saling mencumbu satu sama lainnya, hingga mereka semakin tenggelam dalam hasrat yang yang bergelora. Max yang telah sepenuhnya dikuasai hasrat, mulai memposisikan tubuhnya untuk memulai penyatuan.


Perlahan-lahan namun pasti, pria blonde tersebut mulai memompa tubuhnya dengan sepenuh hati agar tidak menyakiti sang istri. Desahan dan eraman terdengar saling bersahut-sahutan dihiasi peluh yang semakin bercucuran seiring lamanya mereka hanyut dalam pergulatan.


"Mikha...akhh...," Max mengeram, menumpahkan benihnya di dalam rahim sang istri. Sedangkan Mikha nampak mengigit bibir bawahnya dan mencengkram pinggang sang suami kala ia telah sampai jua pada puncaknya.


Max ambruk di samping tubuh istrinya dan menciumi kening Mikha beberapa kali, ia berharap semoga Mikha segera dapat mengandung buah hatinya kembali.


......................


Sebuah mobil mewah memasuki rumah milik Indah di kabupaten Tabalong, pria blonde bertubuh tinggi besar itu perlahan menurunkan kaca kala seorang satpam yang bernama Senja menghadangnya.


Setelah memasuki halaman rumah, pria blonde itu di persilahkan masuk oleh Senja dan menunggu di sebuah ruang tamu.


"Jhon," sapa Indah kala melihat Jhon yang tengah memainkan ponselnya. Jhon mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang berjalan mendekat padanya.


"Honey, kenapa kau pulang tidak mengabariku? Aku kan belum bertemu keponakan kembarku," protesnya.


Sedangkan Indah hanya tersenyum kikuk menanggapi Jhon yang seenaknya memanggilnya dengan panggilan sayang. "Nanti juga kau bertemu mereka di London," ucap Indah kembali dan duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh dengan Jhon. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada sebuah koper yang berada di sisi Jhon, "Jhon kenapa kau bawa koper?" tanyanya Indah seraya mengeryitkan keningnya.


Sementara Jhon hanya tersenyum dan menyenderkan tubuhnya di sofa, "Aku akan menginap di sini sampai kau mau menikah denganku," ucapnya seenaknya.


"T-tapi Jhon, ini gak pantas. Kau dan aku...," protes Indah namun lagi-lagi di potong oleh ucapan Jhon


"Belum menikah? Makanya ayo segera menikah lagi. Lagipula di sini ada Marrie dan Rika, gak cuma kita berdua. Oh atau kamu mau kita berdua saja?" kilah Jhon dengan senyuman seringainya.


Indah yang kehabisan kata-kata hanya memakan biskuit di hadapannya dan mengunyahnya dengan kasar. Kini, Jhon terlihat lebih blak-blakan dan agresif dibandingkan dengan sikapnya dulu, tentu saja semua itu membuat Indah lebih kewalahan menghadapi Jhon.


Tak lama terlihat Marrie membawa sebuah totebag berisi kotak makan, buah kerja kerasnya belajar masak dengan Konah, gadis blonde itu sudah nampak terlihat cantik dengan polesan makeup natural.


"Kak Jhon?" ucap Marrie bingung kala melihat kakak pertamanya berada di sana.


"Mau kemana kau?" Jhon menatap tajam adik perempuannya dengan posesif, sehingga membuat Marrie tertawa renyah.


"Hehehe keluar sebentar, emmm bye Kak!" Marrie segera bergegas pergi, karena ia tahu kalau Jhon sangat selektif pada pergaulannya terlebih jika ia dekat dengan seorang pria.


Marrie mengambil sebuah kunci mobil dan mulai melajukannya menuju alamat yang di berikan kakak iparnya, kini sampailah ia di sebuah markas besar TNI AD di kota itu.


Setelah pemeriksaan ketat, Marrie di minta menunggu di sebuah ruangan hingga terlihat sosok pria yang ia cari.


"Hai," sapa Marrie dengan senyuman terbaiknya.


Raut wajah pria itu nampak masam, dan terlihat jelas jika ia sangat malas untuk menanggapi gadis blonde di hadapannya. "Dari mana kau tau alamat ini? Dan ada keperluan apa?" tanyanya tanpa basa basi.



Marrie yang merasa jika kehadirannya tidak diinginkan hanya dapat menelan salivanya kasar, dan berusaha menebalkan wajahnya. Lagi-lagi gadis itu menyuguhkan sebuah senyuman hangat guna menutupi perasaannya.


"Aku membawakannya makanan, kata Kak Mikha kamu sangat menyukai nasi goreng," ucap Marrie tersenyum.


Dimas hanya tersenyum sinis dan menatap gadis itu lekat-lekat dan berkata, "Aku tidak mengenalmu, dan kau tak perlu repot-repotmelakukan ini semua!".


"Tapi aku ingin sekali mengenalmu," ucap Marrie lirih.


"Lebih baik kau segera pergi, daripada kau semakin terlihat seperti wanita yang tidak mempunyai harga diri, menjijikan!" cebik pria berkulit eksotis tersebut dan segera pergi meninggalkan Marrie.


Sakit? Hatinya terasa begitu berdenyut perih, Marrie berusaha mati-matian menyembunyikan air matanya yang sudah begitu berat menggenangi pelupuk matanya.


"Kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku? Sebenarnya apa salahku padamu?" ucapnya lirih, dan meletakan totebag yang ia bawa di sebuah kursi dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


Tanpa ia sadari Dimas memandangnya dari balik sebuah tembok, pria itu perlahan mendekat dan mengambil totebag yang gadis blonde itu letakkan di atas sebuah kursi, setelah ia memastikan Marrie telah pergi meninggalkan tempat itu.


"Maaf," lirih Dimas.


......................


Dua hari berlalu, hari itu harusnya adalah hari dimana Mikha, Max dan kedua anaknya kembali ke London. Namun karena si kembar yang tiba-tiba demam, memaksa Max harus kembali hanya bersama Jerry dan Dilla untuk untuk menemui investor sekolah musik miliknya.


"Papa mau kemana, papa mau ninggalin kami lagi?" rengek Shine yang terus memeluk Maxim. Begitu pula Sunny, yang terus menangis karena tidak ingin di tinggal papanya lagi.


"Sayang, papa kan cuma sebentar. Paling cuma dua hari, nanti papa ke sini lagi buat jemput Shine, Sunny, dan mama," Max mencoba memberikan pengertian kepada kepada kedua buah hatinya namun rasanya sia-sia, Sunny dan Shine semakin menangis.


"Gak mau, mama ayo kita ikut papa!" ucap Sunny dalam tangisnya, dengan wajah merah padam karena suhu tubuhnya semakin tinggi.


Mikha hanya terdiam, karena sesungguhnya perasaannya begitu tidak enak dengan kepergiannya suaminya. Namun ia memilih menutupinya dan mengabaikan perasaan tersebut.


"Max, apa tidak sebaiknya diundur? Kasian anak-anak," ucap Mikha menyentuh punggung suaminya.


Max hanya tersenyum dan mengecup kening istrinya, "Gak bisa sayang, ini hanya sebentar saja kok. Aku segera kembali kesini untuk menjemput kalian," tuturnya meyakinkan.


Mikha menghela napasnya kasar, karena semakin ia tidak memperdulikan perasaan itu maka semakin berat ia melepaskan Max. Ia segera memeluk suaminya dengan erat dengan kedua netranya yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu harus janji segera kembali, kamu harus terus mengabari aku! Kamu harus janji akan baik-baik saja!" pekik Mikha dalam pelukan suaminya.


Max mengulas senyum, kembali mengecup kening istrinya lalu beralih mencium kedua anaknya.


"Papa pergi dulu ya sayang, kalian harus cepat sembuh dan jangan nakal. Harus nurut sama Mama, papa janji gak akan lama," ucapnya kembali lalu beralih mencium punggung tangan kedua mertuanya.


"Aku titip Mikha dan anak-anaknya ya Bu, Pak. Assalamualaikum," ucap Max lalu perlahan pergi meninggalkan keluarga kecilnya.


Mikha menatap sendu kepergian suaminya, hingga mobil yang di naiki suami dan kedua sahabatnya menghilang dari pandangannya.


......................


Sumber


lirik lagu : Westlife-Unbreakable.


picture: ig @irislaw.update