Oh My Mister

Oh My Mister
Bulan madu yang terlambat



Marrie berjalan-jalan sendiri menikmati suasana sore itu, lagi-lagi ia melihat Dimas tengah membeli sesuatu di toko kue milik kakak iparnya.


Gadis blonde bermata biru itu seketika kembali memberanikan diri untuk menghamp Dimas dan mencoba kembali menyapanya, ia tidak ingin kesabarannya yang telah menunggu pria itu selama hampir lima tahun akan sia-sia.


"Hai Dimas, kita bertemu lagi" sapa Marrie tersenyum. Namun pria tersebut hanya acuh dan tak menghiraukan sikap ramah dari Marrie.


"Dimas, sebenarnya apa salahku?" ucap Marrie sendu kala pria itu mengabaikannya dan meninggalkannya begitu saja.


Sedangkan pria itu tersenyum seringai memasuki mobil miliknya, ia ingin gadis tak bersalah itu merasakan sakit hati seperti yang kini sedang ia rasakan.


Sesungguhnya ia masih mengingat jelas pertemuan pertamanya dengan Marrie di bandara, hanya saja ia berpura-pura agar Marrie merasa malu dan menyerah untuk mengejarnya.


Terlebih sikap gadis itu semakin menunjukkan ketertarikan padanya maka semakin ia merasa muak dan kini berniat membalaskan sakit hatinya pada gadis yang merupakan adik dari rival cintanya.


......................


Max melajukan mobilnya menuju sebuah resort bintang lima milik keluarganya yang berada di Yogyakarta. Tempat di mana dulu ia menyelenggarakan akad nikah pertama kalinya dengan Mikha.


Sesampainya di sana ia disambut oleh pegawai yang telah mengenalinya sebagai anggota keluarga pemilik resort tersebut.


"Selamat sore Tuan Muda Larry," ucap manager resort tersebut yang di balas anggukan kepala oleh Max.


"Berikan aku kamar pengantinku dulu," ucap Max tersenyum.


Manager itu segera beranjak dan kembali secepat mungkin, ia segera mengarahkan Max menuju kamar yang dimaksud.


"Selamat beristirahat Tuan dan Nyonya muda, kalau butuh sesuatu bisa langsung menelpon kami. Baiklah saya pamit undur diri," ucapnya dengan sopan lalu pergi meninggalkan Max dan Mikha.


Pandangan Mikha mengedar keseluruh penjuru tempat itu, kenangan-kenangan manis masa awal pernikahannya begitu saja terlintas di kepalanya.


"Kok bengong," ucap Max lembut, memeluk istrinya dari belakang.



Mikha tersenyum dan berbalik memandang suaminya, "Aku jadi teringat dulu, waktu itu ramai sekali. Coba tadi kita ajak Sunny, Shine, Ibu, Bapak, Jerry, dan Dilla," ucap Mikha membayangkan dua malaikat kecilnya bermain di taman yang berada di sana.


Max melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri, dan menatap lekat wajah Mikha.


"Nanti kita ajak mereka, sekarang biar mereka istirahat dulu dan kita berbulan madu," bisik Max.


"Bulan madu?" tanya Mikha bingung.


Tanpa aba-aba Max mengetatkan pelukannya di tubuh istrinya dan berbisik lirih, "Selama ini aku tidak pernah mengajakmu berbulan madu, aku takut jika waktuku tidak cukup untuk membahagiakanmu."


"Max, kamu ini bicara apa? Aku gak suka kamu bicara seperti itu!" Mikha merajuk, karena tiba-tiba perasaannya tidak enak setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya


Max hanya mengulas senyum dan langsung mencium lembut bibir istrinya yang mengerucut, ciuman yang begitu intim dan penuh kasih sayang.


Tidak lebih yang mereka lakukan selain menikmati senja sambil saling merangkul dan memeluk mesra.


Hingga jam sudah menunjukkan pukul delapan, Mikha yang baru saja keluar dari kamar mandi dikejutkan oleh Max yang kini tengah berdiri di samping meja, dengan makanan dan minuman yang tersaji, serta di hiasi beberapa lilin hingga menambah romantisme yang tercipta.


"Max, K-kamu...," ucap Mikha gugup, dan terkejut.


Max seketika menghampiri istrinya yang masih menggunakan bathrobe dan memberikan sebuah paper bag berwarna merah jambu, "Pakailah sayang, kita akan makan malam di sini saja," ucapnya, lalu mengecup kening istrinya.


Mikha segera kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian, ia segera membuka paper bag tersebut yang berisikan sebuah dress selutut berwarna biru dengan leher rendah yang cukup mengekspos bahu dan tulang selangkanya.


Ia juga sedikit memoleskan make up di wajah serta sedikit highlighter di tulang selangkanya, dan membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.


Baru saja ia melangkah keluar dari kamar mandi, seketika sang suami sudah menyambutnya dan menggiringnya di kursi yang telah tersedia.


"Kamu sangat cantik," ucap Max tersenyum, seraya menyuapkan sepotong daging steak kedalam mulutnya, sedangkan Mikha hanya tersenyum menanggapinya.


Suara garpu dan pisau saling berdenting, di hiasi suara musik yang berasal dari ponsel milik Maxim.


Mereka tidak banyak bicara saat makan, hanya saja Max yang terus-menerus memandangi istrinya hingga membuat mikha salah tingkah dengan wajah bersemu merah.


"Max, jangan memandangiku terus seperti itu," ucap Mikha kala telah menyelesaikan makannya.


"Mengapa? Sah-sah saja kan memandangi Istri sendiri?" kilah Max tersenyum, sambil menopangkan dagunya. Mikha semakin salah tingkah di buatnya dan semakin membuat Max tersenyum lebar melihat mimik wajah istrinya.


Tiba-tiba, pria bermata biru itu bangkit dan bersimpuh di hadapan sang istri seraya mengeluarkan sebuah kotak bludru dari saku celananya.


"Untukmu, ibu dari anak-anakku" ucapnya lembut.


Max bangkit dan memakaikan sebuah kalung yang cantik dari kotak tersebut, Mikha nampak menyingkap berambutnya ke samping agar mempermudah sang suami memakaikan kalung tersebut.


Cup


Sebuah kecupan berhasil mendarat di tengkuk lehernya. Seakan tak puas, Max semakin mendalami ciumannya hingga mengeksplor seluruh leher jenjang milik sang istri.


" Akh... Max, " desah Mikha lirih, dan membuat Max semakin liar mencumbu istrinya.


Max beralih pada wajah istrinya, memandang wajah wanita yang sudah 6 tahun mengisi hatinya, wanita yang sudah membuat hidupnya berubah jauh lebih baik.


"Aku sangat mencintaimku Mikha, rasa ini tidak pernah berubah sejak saat aku pertama bertemu denganmu malam itu, bahkan semakin dan semakin bertambah," ucapnya lembut dengan tatapan sendu.


Max bangkit dan mengulurkan tangannya, pria berkulit putih itu mengajak sang istri berdansa di iringi musik romantis nan syahdu yang tengah berputar.


Tangannya melingkar sempurna pada pinggang sang istri sementara Mikha mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya.



Tatapan mereka saling beradu, seakan tenggelam dalam perasaan yang semakin menyatu dengan sendirinya.


...Menggenggam tanganku...


...Touched my heart...


...Menyentuh hatiku...


...Held me close...


...Mendekapku erat...


...You were always there...


...Kau selalu ada...


...By my side...


...Di sisiku...


...Night and day...


...Siang dan malam...


...Through it all...


...Lewati semuanya...


...Baby come what may...


...Kasih, terjadilah yang mungkin terjadi...


Alunan lagu terus saja berputar seiring kemesraan yang tercipta di antara keduanya kekasih halal tersebut. Sepasang anak manusia yang saling mencintai walaupun sudah terpisahkan waktu yang cukup lama.


...Swept away on a wave of emotion...


...Terbawa gelombang emosi...


...Oh we're caught in the eye of the storm...


...Oh kita terperangkap di pusat badai...


...And, whenever you smile...


...Dan, kapan pun kau tersenyum...


...I can hardly believe that you're mine...


...Aku tak percaya bahwa kau adalah kekasihku...


...Believe that you're mine...


...Percaya bahwa kau adalah kekasihku...


Rasanya cukup sudah masalah yang menimpa kehidupan cinta mereka, yang seakan tak habis datang pergi silih berganti. Kini, takdir membawa kembali cinta kepada tuannya. Dua sosok anak Adam yang telah di takdirkan untuk bersama, hingga maut memisahkan.


...This love is unbreakable...


...Cinta ini tak bisa dihancurkan...


...It's unmistakable...


...Cinta ini tak salah...


...And each time I look in your eyes...


...Dan tiap kali kutatap matamu...


...I know why...


...Aku tahu kenapa...


...This love is untouchable...


...Cinta ini tak tersentuh...


...A feeling my heart just can't deny...


...Perasaan yang hatiku tak bisa menyangkalnya...


...Each time I look in your eyes...


...Tiap kali kutatap matamu...


...Oh baby, I know why...


...Oh kasih, aku tahu kenapa...


...This love is unbreakable...


...Cinta ini tak bisa dihancurkan...


......................


Lyric : Westlife-Unbreakable.