Oh My Mister

Oh My Mister
Kedatangan Dua bersaudara



Hai Readers yang tercinta, apa kabar? semoga harimu menyenangkan.


Jangan lupa untuk Like, komentar, Rate⭐⭐⭐⭐⭐, dan vote Author ya😆


Saran dan kritik yang membangun juga aku tunggu.


Selamat Membaca❤❤❤


...****************...


Jhon dan Marrie baru saja menginjakan kakinya di Yogyakarta. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan nampaknya tidak mempengaruhi energi wanita muda itu.


"Yuhuuuuuu, Welcome to Indonesia!"


Pekik Marrie yang berlari-lari dan merentangkan kedua tangannya tanpa rasa malu, Jhon yang melihat kelakuan adiknya hanya bisa menepuk dahinya.


"Aku sangat suka aroma-aroma tropis seperti ini! aku wajib menggelapkan warna kulitku!"


"Aduh ...kau ini!" Ucap Jhon yang sepertinya sudah cukup terbiasa dengan tingkah laku Marrie yang kekanak-kanakan.


Max dan Mikha telah menunggu di pintu kedatangan, Tingkah Mikha yang sedari tadi terlihat meremas-remas kedua telapak tangannya rupanya telah di perhatikan oleh Maxim.


"Kamu kenapa? Gugup ya?"


Mikha hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Maxim, Seketika Max merangkul dan mengecup pucuk kepala Mikha guna menenangkan sedikit perasaan gadis itu.


"Gak usah gugup, mereka baik kok! Itu dia, mereka datang!"


Maxim menunjuk ke arah seorang Pria yang tampak mirip dengannya, dan seorang gadis yang tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangan kepada mereka.


"Ka Maxim....!" Pekik Marrie, berlari merentangkan kedua tangannya dan memeluk erat Maxim.


"Aku rindu padamu!"


"Kakak juga rindu pada anak manja ini!" Ucap Max, mencubit kedua pipi adik perempuannya.


Sementara Jhon nampak kelelahan mengejar Marrie dengan membawa 2 buah koper yang berukuran besar.


"Heh dasar anak manja, kau tega membiarkanku membawa kopermu yang sangat berat ini!" Gerutu Jhon yang membuat Marrie terkekeh.


Setelah menyapa kakaknya, mata Marrie beralih melihat sosok wanita yang sedari tadi hanya tersenyum di samping Maxim.


Senyuman Marrie semakin mengembang, matanya pun berbinar-binar menyiratkan perasaan bahagia. Ia sangat bersyukur, karena gadis itu kini kakaknya bersedia untuk menikah.


"Ka, apakah dia kakak iparku?" Tanya Marrie dengan wajah penuh harapan, Max mengangguk menjawab pertanyaannya, membuat Marrie seketika memeluk erat Mikha.


"Hai kakak ipar, kau sangat cantik! perkenalkan namaku Marrie Edelweiss Larry dan Laki-laki tua bertubuh besar yang selalu sok serius ini adalah kakak pertamaku bernama John Marcello Larry."


Ucap Marrie, yang membuat Mikha tersenyum dan Max mengatupkan bibirnya menahan tawa.


...***...


Sementara di rumah Mikha, Bu Yani dan seorang orang ibu-ibu yang telah di bayar untuk membantunya, tampak sibuk merapihkan rumahnya dan rumah milik Dilla yang berada persis di samping kediamannya.


Maxim sudah meminta izin Dilla untuk meminjam rumahnya yang kini tidak di huni untuk tempat tinggal sementara kakak dan adiknya.


"Wah ada apa toh bu, kayanya mau ada tamu nih?" Sapa 3 orang ibu-ibu yang berkebetulan lewat depan rumahnya.


"Oh iya Bu, keluarga calonnya Mikha mau datang Bu." jawab Bu Yani ramah.


"owh, memang kapan rencana Nikahnya?"


"Insya Allah kalau gak ada halangan hari Minggu besok, kita gak pakai hitung-hitungan mengingat calonnya Mikha orang jauh, kasian kalau harus bulak balik."


"Kok bisa sih mau nerima anak ibu, ya mohon maaf ya kan anak ibu sudah..."


Kring...Kring... Bruk!!!


Rika yang baru saja kembali dari sekolah, melihat dan mendengar semua perkataan yang di ucapkan oleh ibu-ibu yang terkenal sebagai 'Bigos' (Biang Gosip) Plus paling nyir-nyir di kampungnya, melihat ekspresi sedih yang tiba-tiba terlihat dari wajah ibunya membuat gadis itu naik pitam dan sengaja menabrak bokong salah satu wanita bermulut paling tajam itu dengan sepeda yang ia kendarai.


Tin...Tin...


Suara klakson sebuah mobil Alphard berwarna putih yang hendak masuk ke halaman depan rumah Mikha, membuat para ibu-ibu itu segera menyingkir dan memandangnya tanpa berkedip.


Dari mobil tersebut keluarlah Mikha dan Maxim, dan tak lama di susul seorang pria Eropa yang mempunyai aura luar biasa dan seorang wanita Eropa cantik bak model terkenal.


"Assalamualaikum Bu." Ucap Mikha dan Maxim yang kemudian mencium tangan Bu Yani.


"Perkenalkan Bu ini kakak saya Jhon, dan ini adik saya Marrie. Kemungkinan orang tua saya baru menyusul hari Jum'at besok karena masih ada urusan pekerjaan disana."


Ucap Maxim di susul salam perkenalan diri dari kedua saudaranya.


Hari itu mungkin hari yang sangat melelahkan untuk Jhon, setelah sampai dari perjalanan panjang, lantas ia tak kunjung istirahat melainkan harus mengurus segala persiapan untuk menghadapi sidang kasus Ari Wijaya yang akan di laksanakan esok hari, beruntung latar belakang dari keluarganya yang notabene seorang pengusaha yang berkecimpung di dunia pariwisata membuatnya mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan makanan disana.


"Ka, aku mendapat laporan penyuapan yang di lakukan wanita itu!" Ucap Max menghampiri kakaknya yang sedang berada di kamar.


"Hee bagus, biar saja dia senang di atas angin, karena sedikit lagi hari kehancurannya akan tiba!" Ucap Jhon dengan senyum penuh seribu maknanya.


Bagi Jhon siapapun yang mengganggu keluarga dan orang terdekatnya, maka ia tak segan-segan menghancurkan orang tersebut.


Termasuk Jess, dia adalah contoh seorang yang reputasinya telah di buat sehancur-hancurnya di dunia hiburan oleh Jhon sehingga banyak agensi yang sudah menolak merekrut Jess.


...***...


PRANG!!!


bunyi beberapa hiasan porselin mewah yang sengaja di lempar ke segala arah, oleh seorang wanita muda untuk melampiaskan amarah yang bergejolak dalam dirinya.


"Apa! Maxim mau menikah?" pekik wanita tersebut di sebuah kamar yang berada di rumah mewah bak istana.


"Aku tidak bisa menerimanya begitu saja! dia sudah di jodohkan denganku! lihat saja, kehidupan rumah tangganya tidak akan berjalan mulus seperti yang dia inginkan! Aku tidak terima!!!".


" Clara sudahlah nak, banyak yang lebih baik dari Maxim!"


Ucap seorang wanita paruh baya, mencoba menenangkan putrinya yang sedang mengamuk.


"Tidak mom! aku ingin tau, wanita seperti apa yang sudah merebut Maxim dariku!"


Ucap wanita itu dengan tatapan penuh dengan kebencian.


...***...


Keesokan harinya, kala sang mentari mulai bersinar tinggi beranjak meninggalkan peraduannya, di temani kicauan burung dan kokokan ayam menambah ketenangan dan keasrian alam didesa itu.


Aroma dedaunan yang di selimuti embun membuat hati siapapun akan tenang di buatnya.


"Huffff..." Marrie terbangun dari tidurnya, membuka jendela kamar lebar-lebar, menghirup udara segar yang jarang ia temui.


"Aku suka tempat ini, walaupun sederhana namun sangat indah dan nyaman." Ucap Marrie tersenyum dan segera beranjak untuk membersihkan dirinya.


Sementara itu, Jhon dan Maxim sejak pagi buta sudah berkutat dengan segala persiapan untuk menghadapi persidangan hari ini, tak lupa seorang pengacara terkenal sudah menemani mereka untuk menghadapi hari yang sudah sangat mereka nantikan.


"Max, a...aku tidak mau ikut." Ucap Mikha lirih menghampiri ketiga pria itu.


"A...ku takut melihatnya."


Max tersenyum menghampiri Mikha yang berdiri dengan wajah yang nampak pucat pasi, ia lalu membelai kepala gadis itu berupaya memberikan segala kekuatan dan keberanian.


"Sayang, jangan takut! kau seorang calon Nyonya muda Larry, tidak perlu mengkhawatirkan apapun! Aku, Ibu, Bapak, Rika, Jhon, Marrie, Dilla dan Indah selalu ada di sampingmu! mendukungmu! Ingat Mikha, kau harus menyaksikan pria binatang itu membusuk di penjara mempertanggung jawabkan apa yang telah ia lakukan kepadamu! dan sahabatmu dikit lagi datang loh, kau pasti senang kan mereka akan datang lagi?"


Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat begitu besar perjuangan Maxim, Bu Yani dan Pak Ali yang sedari tadi memperhatikan mereka, Tersenyum senang dan bersyukur karena putri sulungnya telah menemukan sosok pria yang amat sangat tulus mencintainya.


...***...