
Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00.
Mikha yang baru saja menutup toko kue miliknya, tampak bercengkrama dengan seseorang lewat panggilan telepon. Sedangkan di tempat yang sama, Max terlihat enggan untuk beranjak dari toko milik istrinya, pria itu tengah menikmati sepotong kue kesukaannya dengan secangkir kopi.
Mikha nampak bertukar cerita dengan Indah, ia sungguh tidak menyangka bahwa Indah juga telah bertemu dengan Jhon, bahkan di hari yang sama.
"Mama, papa mana?" Shine tiba-tiba saja terbangun dan nampak mengucek-ngucek matanya, Mikha segera mengakhiri telepon dari Indah dan menghampiri putranya.
"Ma, papa gak pergi lagi kan?" tanyanya dengan polos, nampak tergambar raut wajah kekhawatiran dari Shine. Mikha mengelus rambut putranya yang terlihat begitu mendambakan kehadiran sosok sang ayah.
"Papa ada di depan, papa nungguin Shine," ucapnya dan mencium pipi putranya.
Tak lama kemudian Max masuk menghampiri Mikha dan anak-anaknya, setelah mengecup pipi jagoan kecilnya, pria itu segera menggendong Sunny yang masih terlelap menuju sebuah mobil yang sudah ia sewa.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka tiba di rumah milik Indah. Tepatnya rumah yang selama ini ia tinggali Besama keluarga dan sahabatnya.
Seorang satpam dengan sigap membukakan gerbang setelah Mikha menunjukan wajahnya lewat jendela mobil, Mikha turun dengan menggendong Shine, sedangkan Max menggendong Sunny.
Namun nampaknya mereka tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sebuah mobil nampak mengikuti mereka sejak keluar dari toko kue milik Mikha.
"Semoga kalian bahagia," ucap pria si pengemudi mobil itu tersenyum getir.
Mikha mempersilahkan Max untuk duduk di ruang tamu, sedangkan ia mengambil alih Sunny dari tangan Max untuk membaringkan putri kecilnya di kamar.
Tidak lama Konah muncul, membawakan secangkir teh untuk seseorang ia anggap tamu.
"OMG, ini Maxim The Prince kan? I not dream kan?" Pekik Konah yang nampak terperangah sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Norak lu, sana cepetan kasih!" cebik Senja, yang berhasil membuat Konah memutar bola matanya malas.
Dengan perasaan riang gembira, Konah segera menghampiri Maxim dan meletakan cangkir teh tersebut di atas meja.
"Mister bule, you Max The prince kan?" ucap Konah antusias, Max hanya tersenyum geli melihat kelakuan Konah yang menggelitik.
Konah sontak mengambil ponsel miliknya dan membuka aplikasi kamera jahanam, yang mampu membuat fotonya sebening artis-artis Korea.
"Foto dulu boleh dong? I mau upload ke Ige, Tok Tok, dan Pesbook biar I makin pemes, dan si Geby geboy sirik sama I," ucapnya yang tanpa aba-aba membidik kamera depan di ponselnya.
Mikha yang melihatnya nampak tertawa geli, sedangkan Max tersenyum kikuk dibuatnya.
"Ehem, ganggu nih." Mikha menghampiri dan duduk di kursi sebelah Max, Konah tertawa kecil dan berkata, "Aji mumpung Miss, wah hebat Miss Mikha kenal Mister Maxim!" seru Konah.
"Mikha kan Istri saya, yang ngambek, salah paham, terus kabur gak pulang-pulang," goda Max seraya mengedipkan sebelah matanya. Mikha nampak mengerucutkan bibirnya, karena kesal dengan ucapan Max yang membuatnya malu.
"Wah, pantesan si baby girl dan baby boy good looking , dan pantesan Miss Mikha selalu nolak Mas gans Dimas. Suaminya aja pria idaman para wanita," ucap Konah asal bicara, hingga Max menatap tajam istrinya, berharap penjelasan tentang seorang yang bernama Dimas.
Tidak berselang lama datang Pak Ali dan Bu Yani. Max yang melihatnya sosok mertuanya segera beranjak dan bersimpuh di kaki kedua mertuanya.
"Bu, Pak maafkan saya. Saya gak bermaksud menyakiti hati Mikha, saya dijebak dan semua hanya kesalahan pahaman. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik," ucap lirih.
Pak Ali nampak menunduk dan membantu menantunya untuk bangkit. Pria tua itu segera memeluk menantu kesayangannya.
"Bapak percaya,le. Maafin bapak karena gak bisa menasehati Mikha," ucapnya dan memeluk Max.
Bu Yani juga nampak mengulas sebuah senyuman, kedua orang tua Mikha memang sangat menyayangi Maxim. Mungkin karena mereka melihat begitu banyak pengorbanan pria itu untuk putri sulungnya.
......................
Keesokan harinya, Pagi-pagi Mikha telah berkutat membantu Bi Konah di dapur. Ia terlihat tengah membuat teh dan susu.
"Sayang," sapa Max yang datang tiba-tiba dan menyentuh bahu Mikha. Pria itu memang menginap namun tidur di kamar yang berbeda dengan istrinya.
Mikha yang terkejut, tidak sengaja menumpahkan segelas susu panas dan mengenai lengan Maxim.
Setelah itu, dengan tergesa-gesa ia mengambil kotak obat dan mengoleskan sebuah salep luka bakar di tangan suaminya.
"Max, tanganmu kenapa?" tanyanya, setelah melihat deretan scar(bekas luka) pada lengan suaminya.
Max hanya mengulas senyum getir karena kembali mengingat akan hal yang membuatnya kehilangan istri serta anaknya.
"Ini semua karena aku melukai diriku sendiri, untuk melawan efek obat yang diberikan Jess waktu itu," ucapnya dengan wajah sendu.
Mikha nampak terperangah karena baru mengetahui akan hal itu, Max memang menyukai pakaian berlengan panjang sehingga membuatnya mudah menutupi luka di tangannya.
Tiba-tiba saja Mikha nampak menunduk dan mengeluarkan tetesan cairan bening dari pelupuk matanya, "Ma-maafkan aku, Max," lirihnya.
Max mengulas senyuman dan mengangkat wajah istrinya yang terus saja merunduk.
"Hei, sudahlah sayang. Aku mengerti, jangan kau menangis lagi," ucap pria blonde berlesung pipi itu.
Namun Mikha hanya terdiam dan menyesali kecerobohannya yang terlalu termakan akan emosi.
"T-tapi Max, karena kebodohanku kau dan anak kita...," ucap Mikha lirih, namun belum sempat ia menuntaskan ucapannya, Max sudah lebih dahulu menyanggahnya.
"Sudahlah sayang, yang lalu biarlah menjadi pelajaran berharga untuk kita kedepannya. Sekarang lebih baik kita lihat masa depan keluarga kecil kita. Sayang, sekali lagi aku tanya kepadamu, maukah kau kembali kedalam pelukanku? Menua bersama denganku, dan mencintaiku seumur hidupmu?" tanya Max yang seketika di balas sebuah anggukan oleh Mikha.
Max tersenyum lebar, pria itu memeluk erat tubuh istrinya.
"Ehem... Ehem... udah kali pelukannya, cepet sana panggil penghulu!" Tiba-tiba terdengar suara pekikan dari seorang wanita.
Indah yang baru saja kembali, langsung menggoda sahabatnya.
"Indah, Lo udah balik?" tanya Mikha.
Indah hanya menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum renyah.
"Gue males ketemu abangnya si Maxim, mending gue kabur. Ja-jadi gue tinggal aja si Novi di sana hehehe," ucapnya yang membuat Mikha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kesel sama Jhon? Kita lampiaskan aja sama adeknya!" ucap Mikha yang mulai menghadiahi cubitan pada perut suaminya.
Indah pun tidak ingin melewatkan kesempatan itu, ia segera mengambil tepung dan dipolesksn pada wajah pria blonde tersebut.
......................
Hai teman-teman, maaf ya author lagi kurang sehat.
tadinya mau up sampai 2000 kata tapi apa daya, aku malah ketiduran habis buka puasa, padahal sudah nyiapin part hotchhhhhhh hihihi.
Besok Insya Allah aku up setelah buka puasa😁
Oh ya minta sarannya dong.
Aku mau ganti cover Novelku yang satu lagi, saran dong bagusnya yang mana. Aku bingung nih!
Jangan lupa mampir kesana juga ya.
Tenang aja, gak serem kok.
Terima kasih,
Jangan lupa like dan komen ya😊