
Max panik saat melihat Mikha terjatuh, ia langsung menerobos kawanan wartawan dengan membopong Mikha yang meringis kesakitan.
Sementara David dan Ryan mengamankan wanita smuang sudah berbuat kasar itu ke kantor polisi terdekat.
"S-sakit"
wanita yang tengah mengandung itu terus menerus merintih dengan memegang perutnya, Max hanya mampu mendekap istrinya hingga mobil ya mereka tumpangi sampai ke sebuah rumah sakit.
"Suster tolong istri saya!!!" Max terus berteriak hingga para tenaga medis berhambur menghampirinya dan segera membawa Mikha ke ruang gawat darurat.
"Mohon Tuan tunggu disini." Ucap seorang perawat, menahan Max agar tidak masuk kedalam ruang tindakan.
"Tapi istri saya..."
"Sudahlah Max, biarkan dokter memeriksanya. Kita berdoa saja agar Mikha dan baby twin baik-baik saja."
Dilla menepuk-nepuk punggung Maxim, wanita itu mencoba untuk tenang walau hatinya juga dilanda kecemasan
Beberapa saat seorang dokter keluar, Maxim yang panik segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, cuma saya menyarankan agar Nyonya Larry jangan sampai terjatuh lagi, karena usia kandungannya masih rentan apalagi ia pernah mengalami pendarahan."
Max bernafas lega, setelah dokter tersebut pergi, ia segera menemui istrinya yang masih berbaring lemah dengan infus di tangannya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Iya, kamu gak perlu khawatir." Ucap Mikha lirih, ia masih memaksakan tersenyum agar suaminya tidak terlalu khawatir.
"Maaf, gak mampu menjagamu dengan baik."
......................
Seorang pria paruh baya dengan gaya bak bangsawan, terduduk tenang di ruang tamu kediamannya yang mewah bagai istana untuk menanti kepulangan putrinya.
Wajah pria itu terlihat tidak baik, namun ia begitu pintar membalutnya dengan perilaku tenang dan terhormat yang ia miliki. Ia asal Roger Gerrard, ayah dari Clara Rosella Gerrard.
"Dari mana kau?" Ucap Tuan Roger dingin, kala melihat sang putri bersenandung ria memasuki kediamannya.
"Hay daddy, Ku hanya habis jalan-jalan."
PLAK!!!
"DADDY!!! apa salahku?" Jerit Clara memegangi pipinya, setelah sang ayah menamparnya dengan mimik wajah yang nampak murka.
"Clara! jangan kau pikir daddy tidak tau kelakuanmu, kelakuanmu benar-benar tidak mencerminkan seorang bangsawan!"
"Tapi Daddy aku tidak salah!" Jerit Clara dengan suara yang tinggi.
"Diam kau! jika Sampai Tuan Larry menarik semua sahamnya maka keluarga kira bisa habis! apa kau tidak berpikir pakai otak!" Pekik Tuan Roger gusar.
"Tapi Daddy, Maxim memang seharusnya milikku! wanita Itu merebutnya dariku!"
"Diam! kau Daddy larang keluar rumah hingga sebulan penuh! sekarang kembali ke kamarmu, renungkan semua kesalahanmu, Clara!"
"Daddy jahat! aku benci Daddy!"
Prang !!!
Sebuah guci mahal di hempaskan begitu saja oleh Clara kesembarang arah, gadis itu berlari menuju kamarnya dengan terus berteriak.
Sementara Tuan Roger tampak mengurut-urut keningnya, sesekali ia berdengus berat melihat kelakuan putrinya.
"Hah... ternyata aku sudah salah mendidiknya, ia benar-benar tumbuh menjadi wanita yang egois."
Setelah Tuan Andrew mendapat telepon dari Maxim, ia segera mencari tahu dalang di balik berita palsu yang menimpa anak dan menantunya. Dengan bantuan para asisten kepercayaannya yang begitu cekatan, akhirnya ia mengetahui sumber masalah yang hampir mencelakai menantu dan calon cucunya.
Tuan Andrew segera pergi menuju Kediaman Gerrard, pria tua itu nampak gusar walau ia masih terlihat tenang.
"Selamat siang Tuan Andrew, suatu kehormatan Anda berkunjung ke kediaman kami, silahkan di minum Tuan." Sapa Tuan Roger Gerrard.
Tuan Andrew tampak menyeruput secangkir kopi di hadapannya dengan begitu elegan, pria itu nampak begitu tenang dan berwibawa.
"Oke, saya tidak ingin berbasa basi, silahkan kau baca."
Ucap Tuan Andrew menyerahkan sebuah amplop coklat besar kepada Tuan Roger.
"C-Clara? I-ini maksudnya apa?"
Pria itu tergagap kala mendapati bukti-bukti kejahatan yang di lakukan anaknya karena telah memprovokasi media dan massa.
"Kau tau sendiri alasan kami membatalkan perjodohan Clara dan Maxim, dan lihat apa yang di lakukan anakmu? dia mencoreng nama baik salah satu anggota keluarga kami, dan yang lebih fatal. Akibat dari perbuatannya kami nyaris kehilangan penerus keluarga Larry."
"M-maafkan anak saya tuan, saya mohon maaf."
"Roger, untuk kali ini saya masih berbaik hati karena masih melihat persaudaraan kita, namun tidak untuk kedepannya. Didiklah anakmu dengan baik, perbaiki atitude-nya!"
Tuan Larry bangkit dari duduknya, pria tua itu berlalu keluar dari kediaman Gerrard tanpa pamit.
Flashback Off
......................
Di sebuah apartemen di pinggiran kota London, Rhine dan Jesson tampak bersantai sambil menonton tayangan infotaintment yang menayangkan gosip tentang Maxim dan penyerangan terhadap Mikha.
Pria itu tampak mengulas senyum dan sesekali melirik Rhine yang berada di sampingnya.
"Hei, apa kau memikirkan sama seperti yang ku pikirkan?" Tanya Jesson tersenyum smirk.
"Maybe, sepertinya setelah juniormu tak berfungsi lagi kini kau menjadi lebih pintar!" Ucap Rhine mengetuk kening Jesson.
"Sial, ini semua karena ulah Jhon-mu itu!"
"Cello-ku bukan Jhon!"
"Owhhhh terserah! kau membuatku mual dengan menyebut Monster itu dengan nama yang imut!", Jess memutar bola matanya.
"Ya... dia memang Monster yang begitu memabukan, apalagi saat di ranjang! sungguh membuatku tergila-gila!"
Wanita itu mendesah kala membayangkan Jhon menjamah tubuhnya, Jess nampak terkejut dan kini wajah pria abu-abu itu nampak di penuhi pertanyaan. Sedangkan Rhine yang melihatnya hanya terkekeh.
"Aku dan dia kenal lama, waktu itu dia mabuk dan aku membawanya ke apartemen milikku dan yah...terjadilah hal yang membuatku tergila-gila padanya, hingga kini aku masih ingat betul rasanya bahkan tidak ada pria yang bisa menggantikan pesonanya."
"Hah tapi sayang, dia malah menerima perjodohan itu, membuatku benar-benar benci kepada wanita itu! tapi tidak apa, wanita itu telah mati." sambung Rhine sambil menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya.
Jess tertawa terbahak-bahak, hingga kini Rhine yang merasa bingung dengan tingkah keponakannya.
"Apa kau tidak tau, kini si monster itu telah memiliki kekasih, kau kalah start lagi Rhine hahahaha."
"Apa!" Pekik Rhine tidak percaya.
"Dan yang lebih mengejutkan, ia memacari daun muda tepatnya teman dari si j*lang itu!"
Jess tampak tertawa puas, sedangkan Rhine melakukan hal sebaliknya. Wanita itu berdengus kesal mendengar penuturan keponakan kesayangannya.
"Akhhhhh, aku harus menyingkirkan wanita itu! harus! Cello hanya milikku!" geram wanita itu.
......................