
Sunny segera turun dari gendongan Dimas dan menghampiri saudara kembarnya yang tengah dalam gendongan Max.
"Paman ini siapa?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya, Max berjongkok dan menurunkan Shine dari gendongannya. Kini tatapannya beralih pada gadis mungil di hadapannya, perlahan ia menyentuh wajah mungil Sunny dan beralih pandang pada Mikha dengan tatapan penuh tanya
"Namanya Sunny, dia putrimu. Kakak kembar Shine," ucap Mikha.
Seketika Max memeluk erat putrinya, dan memberikan kecupan-kecupan lembut pada pipi dan kening Sunny.
"Ma," ucap Sunny yang nampak bingung, Mikha hanya mengulas senyum tipis dan berkata, "Ini papa sayang, papa Sunny dan Shine," jawabnya.
Deg!
Hati Dimas serasa tercekat, mengetahui bahwa sosok seorang superstar yang berada di hadapannya adalah suami dari wanita yang ia cintai.
Pria itu menelan salivanya berat, dan beranjak keluar.
"Papa? Papa pulang ma?" tanya Sunny kembali dan di jawab anggukan oleh Mikha.
"Papa!" Sunny memekik dah berhambur kedalam pelukan sang ayah, kedua netra cantiknya begitu saja mengeluarkan air mata bahagia karena bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan.
......................
Di sebuah kamar hotel di ibu kota, Jhon terlihat tengah merenung. Ia memikirkan bagaimana cara mendapatkan Indah kembali, seketika seutas senyuman melengkung dibibirnya. Jhon mengambil ponsel miliknya dan tampak menghubungi seseorang.
"Selamat malam Tuan Arjun, bagaimana kondisinya?" tanya Jhon memulai pembicaraan.
"Selamat malam juga Mr.Jhon, Alhamdulillah sudah lebih baik. Bagaimana meeting tadi pagi, apakah berjalan lancar?" tanya Pak Arjun.
Jhon melebarkan senyumannya, jemari tangan kanannya tampak mengetuk-ngetuk meja di sebelahnya.
"Sangat lancar, Tuan saya...." Jhon nampak gugup, sesekali ia mengusap kasar tengkuk lehernya. Namun belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Pak Arjun nampak sudah menebak apa yang akan pria blonde itu katakan.
"Hahaha, cantik kan anak saya? Bagaimana, apakah Anda bersedia saya jodohkan dengan putri saya?" tanya pria berusia 60 tahun itu kembali. Jhon nampak mengulas senyum dan menjawab, "Apakah saya masih pantas? Saya hanya single parent beranak 1 dan kini telah memasuki usia kepala 4, sedangkan anak Anda begitu cantik dan terpaut usia yang cukup jauh dengan saya?" tanya Jhon basa basi.
Pak Arjun tampak tertawa kecil mendengar perkataan dari seorang Jhon Marcello Larry.
"Hahaha usia hanya sebuah angka, saya tidak mempermasalahkannya. Lantas bagaimana keputusan Anda, apakah bersedia menjadi menantu saya?" ucapnya.
Pria blonde bermata biru itu semakin melebarkan senyumannya, ya... inilah jawaban yang sangat ia harapkan.
"Ya, tentu saya bersedia!" jawab John dengan mantap.
Di sisi lain, Indah nampak termenung. Wanita itu menatap nanar pemandangan gemerlap malam di ibukota lewat balkon kamar hotelnya.
Novi yang melihatnya perlahan mendekati atasannya dengan membawakan secangkir coklat panas.
"Nona," sapa Novi. "Saya membawakan coklat panas untuk Anda," ucapnya kembali.
Indah nampak menoleh, lalu menerima cangkir yang berisi coklat panas itu dan menyeruputnya perlahan.
"Terima kasih ya, Nov," ucap Indah.
"Nov, tolong jangan adukan kejadian tadi siang sama papih saya ya, aku mohon." Indah meletakkan cangkir coklat panas di atas meja dan menggenggam tangan gadis berhijab itu dengan tatapan memohon.
Novi tersenyum dan menganggukan kepalanya, beribu pertanyaan berkecamuk di hatinya namun ia berusaha meredamnya karena bagaimanapun itu semua urusan pribadi bos mudanya.
"Aku tau kamu penasaran, dia itu mantan suamiku," ucap Indah yang seolah paham tatapan mata Novi.
Novi terkejut, bibir gadis itu nampak membentuk huruf O karena mendengar ucapan Indah.
Indah nampak menghela napas dengan kasar dan kembali mengalihkan pandangannya dengan tatapan kosong.
"Dia adalah kakak ipar dari Mikha, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Hingga akhirnya aku bekerja menjadi sekretaris pribadinya hanya untuk dekat-dekat dengannya. Beruntung, cintaku berbalas. Tapi karena kebodohanku yang tidak mau mendengarkan nasihat kedua sahabatku akhirnya aku terjerumus dalam jebakan cintanya.
Aku hamil di luar nikah," ucapnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Novi semakin terperangah nyaris tak percaya, ia pun mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Lantas apa yang terjadi, Nona?" tanyanya.
"Ia memutuskan berpindah keyakinan dan menikahiku secara siri. Lagi-lagi itu semua karena ide bodohku yang takut papih shock dan murka jika mengetahui aku hamil. Namun tidak lama aku dinyatakan hamil di luar kandungan, tak hanya sampai disitu. Sebelum rencana menemui papih terlaksana, rumah tangga kami di guncang prahara. Aku dijebak dan difitnah berselingkuh, hingga dengan mudahnya ia mengucapkan talak dan membuangku seperti sampah tanpa mau mendengarkan penjelasanku." Indah terisak mengingat kejadian pahit yang begitu memilukan.
Hatinya begitu terasa sakit dan perih, luka hatinya seakan masih terasa basah walaupun sudah lewat 4 tahun lamanya.
"Tapi kenapa aku masih mencintainya, Nov? Seolah cinta dan rasa benciku sama besar padanya. Aku harus bagaimana? Aku senang sekaligus marah melihatnya kembali di hadapanku," ucapnya kembali di sela-sela tangisannya.
......................
Shine dan Sunny tertidur pulas setelah puas bermain dengan Max. Perlahan Mikha dan Max membaringkan tubuh buah hati mereka pada sebuah kasur di ruang istirahat yang berada di toko kue milik Mikha.
"Mikha," ucap Max lirih, ia menggenggam tangan Mikha dan menatapnya dengan tatapan sendu.
"Mikha, kenapa kamu tega meninggalkanku? Empat tahun aku harus berusaha lewati hari-hari beratku tanpa kau. Aku ingin memperbaiki semuanya, tidak sedikitpun rasa cintaku ini berkurang padamu." Max menempelkan tangan istrinya pada dadanya, Mikha dapat merasakan detak jantung Max yang terasa begitu berdetak dengan cepat.
Wanita itu menghembuskan napas kasar, dan segera menarik lengannya kembali.
"Sudahlah Max, aku membiarkanmu di sini karena bagaimanapun kau berhak atas Sunny dan Shine. Namun bukan berarti aku membuka hati untukmu kembali," ucap Mikha.
Tanpa aba-aba pria berlesung pipi itu, memeluk Mikha dengan erat. "Tidak sayang, aku mohon berikan aku kesempatan. Aku sangat mencintaimu, berada jauh darimu hanya membuat batinku tersiksa. Aku mohon dengarkan penjelasanku," ucap Max dengan suara parau, Mikha dapat merasakan tubuh suaminya nampak gemetar.
Mikha memejamkan matanya, sungguh sulit baginya untuk meneguhkan pendirian, hatinya begitu halus dan lemah jika harus berhadapan dengan Max secara langsung.
"Max aku gak bisa, rasanya sakit melihatmu dalam kondisi setengah polos dan bercumbu dengan pria itu. Rasanya sakit Max!" Mikha memekik dalam pelukan Max dan sesekali memukul-mukul pundak pria itu
Max semakin mengetatkan pelukannya, ia ingin segera meluruskan kesalahpahaman yang telah berlangsung sangat lama.
"Mikha! Please, listen to me. Kamu salah paham, kejadiannya tidak seperti itu. Aku dijebak dan diberikan obat oleh Jess, aku mohon percaya padaku. Aku bisa memberikan bukti-buktinya padamu!" pekik Max, ia melepaskan pelukan dan merangkum wajah istrinya.
Perlahan ia menyatukan keningnya dan kening Mikha.
"Mikha aku mohon, jangan menyiksa hati kita lebih lama lagi. Shine dan Sunny juga berhak atas keluarga yang lengkap, tolong percaya padaku dan kamu tidak harus mengkhawatirkan keselamatan anak-anak kita karena Jess sudah menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya," ucapnya kembali dengan netra yang nampak sembab.
Mikha masih saja membisu dan bergeming, Max terus saja merancau. Mengeluarkan segala keluh kesah di hatinya.
"If you are my destiny, I'm sure that, God will bring you back to me. Bukankah kalimat itu yang kau tuliskan untukku? Dan lihatlah sekarang, Tuhan mempertemukan kita kembali walau kau bersembunyi sejauh dan selama ini. Karena aku percaya kamu dan aku ditakdirkan untuk bersama dan hanya maut yang memisahkan," ucap pria blonde itu dengan lembut. Perlahan ia mendekati bibirnya pada bibir merah milik istrinya.
"Stop, Max!" Mikha memekik dan refleks mendorong tubuh Maxim agar menjauh darinya.
"K-kita telah lama berpisah, tidak baik jika kau begitu dekat denganku sebelum kita melaksanakan ijab kabul kembali," ucap Mikha lirih.
Merasa mendapatkan lampu hijau, sebuah senyuman melengkung di bibir pria itu. Max menatap Mikha kembali dan berkata, "Besok kita akan menikah ulang kembali!" ucapnya dengan semangat.
Mendengar ucapan Max, Mikha nampak terkejut dan membulatkan kedua netranya.
"T-tunggu, berikan aku sedikit waktu!" ucapnya gugup.
......................
Seorang pria tampan berwajah oriental nampak memasuki sebuah area rumah sakit dengan membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya.
Dengan tenang ia duduk di sebuah ruang tunggu untuk menanti seseorang yang kini masih melaksanakan tugas mulianya.
Hampir 30 menit ia menanti dengan sabar, hingga akhirnya muncul sosok wanita yang ia sudah nantikan.
"Maaf ya, Kak, lama menunggu," ucap Rika sambil memasukan Snelli kebanggaannya kedalam tas.
"Untukmu," ucapnya tersenyum manis dan memberikan buket bunga kepada Rika.
Rika nampak terperangah melihat sikap Ryan yang tidak seperti biasanya, gadis itu menatap tajam Ryan dan mengarahkan sebuah thermometer pada kening Ryan.
"36.5, masih normal. Tapi ada angin apa kau tiba-tiba ngasih aku bunga, Kak? Kesambet kayanya," ucapnya polos, hingga membuat Ryan gemas dengan gadis di hadapannya.
Ryan mencubit gemas kedua pipi Rika, hingga gadis itu sedikit meringis. Rika benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan sikap polos dan jahil yang tidak hilang darinya.
"Dasar, ayo ikut aku! Aku akan mentraktir kau makan sepuasnya," ucap Ryan.
Kedua bola mata gadis itu nampak berbinar, senyuman tergambar jelas di bibirnya.
"Ayolah, cepetan!" pekiknya dan segera menarik tangan Ryan.
#Rika dan Ryan
......................