Oh My Mister

Oh My Mister
Persegi



Hai semuanya mohon dukungannya ya


untuk Like, komen dan Rate.


Boleh dong sekali-kali Author Hottang(Hotdog Kentang😁) ini minta tiket vote mingguannya


atau hadiah 🌹,❤, atau yang lainnya.


Biar aku makin semangat updatenya.


Yang males baca juga bisa dengerin Audio book-nya, denger suara fals Author kentangan ini bacain cerita😁


dan kepoin juga dong karya Author yang lain (Banyak maunya Yee😌 namanya juga usaha😁) baik Novel maupun audio book.


Sekali lagi, maaf ya aku suka banyak typo😁


Terima kasih kesayanganku😘😘😘


...❤❤❤...


"Sunny kok kamu gak mirip mamamu? jangan-jangan kamu anak pungut hahaha."


"Sunny gak punya ayah, Sunny anak pungut."


Suara sekelompok anak kecil berhasil membuat seorang gadis kecil berambut coklat itu menangis.


Sunny menangis tersedu-sedu kala selalu di cemooh oleh teman-teman sekolahnya, bahkan tak jarang orang tua dari anak-anak tersebut berkata pedas yang membuat gadis kecil itu selalu merasa tidak percaya diri.


"Stop, Jangan ganggu kakakku!" Pekik Shine, yang segera menghampiri Sunny yang menangis di pintu gerbang sekolahnya.


Sunny segera memeluk saudara kembarnya, dengan air mata yang masih membasahi pipi Chubby-nya.


"Kenapa mereka jahat sama kita?" Ucap Sunny di sela-sela tangisannya.


Mikha yang baru saja sampai di Sekolah anaknya, tak sengaja di suguhkan oleh pemandangan yang memilukan. Sepasang anak kembar itu bersimpuh dan menangis di depan gerbang sekolah taman kanak-kanak tanpa ada yang peduli, padahal saat itu sangat banyak ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anak mereka.


"Sayang, kalian kenapa? Kok menangis?" Ucap Mikha menghampiri dan membelai lembut kedua buah hatinya.


"Huhuhu Mama, aku di katain. Katanya aku anak pungut karena gak mirip mama." Ucap Sunny terisak, ia memeluk ibunya sangat erat, sedangkan Shine lagi-lagi hanya diam.


"Ma, kata Bu guru dua Minggu lagi akan memperingati hari Ayah dan kita di suruh membuat puisi tentang ayah dan mengundang Mama serta papa datang, tapi..., aku gak tau rasanya punya ayah dan apakah papa bisa datang, sekali saja." Ucap Shine lirih.


Sunshine Ananda Larry adalah sosok anak pendiam dan tidak ekspresif hingga dia terlihat kuat di usianya yang masih balita. Namun kali ini air mata luruh dari kedua mata cantiknya, membuat hati Mikha begitu sakit melihat kondisi kedua buah hatinya.


"Kan ada Daddy Dimas." Suara bariton tiba-tiba saja terdengar, terlihat Dimas yang baru saja turun dari mobilnya dan menghampiri Sunny dan Shine.


"Paman bukan papa kami, berhenti menyebut Daddy!" Pekik Shine menatap tajam pada Dimas.


"Oke jagoan kecil yang galak, tapi kalian bisa menganggap Paman sebagai papa kalian kok." Ucap Dimas tersenyum, namun Shine terlihat acuh.


Entah mengapa sejak kecil ia selalu tidak ingin dekat-dekat dengan Dimas.


Mikha nampak menggelengkan kepalanya, dan menatap Dimas. "Kok kau bisa ada disini?"


Namun Dimas hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari Mikha, pria itu nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hmmm aku gak sengaja lewat sini dan melihat kalian." kilah Dimas.


"Sunny bagaimana kalau kita ke taman, nanti Paman belikan ice cream." Ucap Dimas yang membuat tangisan gadis kecil itu terhenti.


"Benarkah paman? Aku boleh makan ice cream yang besar?" Ucap Sunny dengan mata berbinar-binar, Dimas nampak berjongkok dah menatap gadis kecil itu, "Tentu saja boleh, Let's go!"


Sunny berhambur ke gendongan Dimas, sedangkan Shine hanya menatap sinis melihat kelakuan kakaknya, "Cih dasar anak kecil, di rayu es aja mau."Gerutu Shine yang terus mengerucutkan bibirnya.


......................


Di waktu dan tempat berbeda, Terlihat Marrie tengah menikmati makan malam bersama rekan kerja prianya. Pria yang sudah setahun belakangan ini selalu menemaninya dan terlihat menaruh perasaan padanya.


"Mar, ada yang aku ingin katakan padamu." Ucap pria blonde bernama James hanson


Marrie nampak acuh tak acuh menanggapi perkataan James, gadis itu tampak menjawab tanpa menatap lawan bicaranya, "Hmm katakan saja."


James tampak mengeluarkan kotak bludru berbentuk hati, dan perlahan pria itu beranjak dan bersimpuh di hadapan Marrie.


Uhuk...Uhuk...


"James, bercandamu tidak lucu." Ucap Marrie terbatuk-batuk karena mendengar pernyataan Hanson yang begitu mengejutkannya.


"Marrie aku tidak bercanda." Ucap pria tersebut dengan serius.


Mimik wajah gadis blonde tersebut seketika berubah, ia menopangkan wajahnya pada tangan kanannya dan menatap intens pria yang berlutut di hadapannya.


"Kau pasti sudah tau jawabanku kan?"



Marrie segera merapihkan tasnya dan beranjak meninggalkan James, namun seketika langkahnya terhenti kala James berkata sesuatu yang menyakiti hatinya.


"Oh ayolah Marrie, sampai kapan kau mengharapkan pria gak jelas itu? Jangan bodoh, dia belum tentu masih mengingatmu!" Sindir James.


PLAK!!!


Sebuah tamparan mendarat dengan tepat di pipi pria itu, Marrie nampak gusar dengan wajah yang memerah.


"Mind your language, please ! Kau tidak mengerti perasaanku!" Ucap Marrie meninggalkan James yang tertegun karena baru menyadari akan kesalahannya.


Marrie segera berlari dan memasuki sebuah taksi, sesampainya di kediaman keluarganya, ia segera berlari memasuki kamar miliknya.


"Aku juga tidak mengerti kenapa perasaanku ini tidak hilang, bahkan wajahnya masih begitu jelas diingatanku!" Pekik Marrie menumpahkan segala perasaannya, gadis itu nampak menenggelamkan wajahnya pada sebuah bantal.


"Dimas, akankah kita bertemu kembali?" Ucapnya lirih.


......................


"Jadi apa idemu?" Tanya Jerry setelah mendengar ucapan Ryan.


"Jadi begini, kita adakan saja konser di Kalimantan aku yakin Mikha pasti datang menonton." Ujar Ryan seenaknya, hingga membuat Dilla menggelengkan kepalanya.


"Aku pikir kamu ini pintar, hih! Kalimantan itu luas banget!" Cebik Dilla.


"Yank, apa kau gak tau mendetail tetang keberadaan Indah, sekecil apapun itu?" Tanya Jerry menatap istrinya.


Dilla nampak berpikir keras, mencoba mengingat-ingat sesuatu yang ia lupakan.


"Aha! Aku baru Ingat, Indah bilang bekerja di salah satu pertambangan walau aku gak tau tambang apa. Jer, coba kau hubungi David pertambangan apa yang terkenal di pulau itu? Yang jelas pasti bukan di kota besar karena seluruh kota besar di Indonesia sudah ditelusuri oleh Jhon dan Max." Ujar Dilla, yang tentunya membuka sedikit jejak Indah dan juga Mikha.


......................


Sunny nampak berlari -lari bahagia di sebuah taman sambil memegang sebuah ice cream di tangannya, sedangkan Shine memilih duduk bersama ibunya seakan tak rela meninggalkan Mikha dan Dimas berdua saja.


"Shine, ayo bermain jungkat jungkit itu bersamaku!" Seru Sunny sambil menarik paksa adik kembarnya.


Dengan malas Shine mengalah mengikuti kemauan kakaknya.


Dimas nampak tersenyum dan menoleh kearah Mikha yang tengah menatap kedua buah hatinya.


"Mikha" Ucap pria tersebut, Mikha menoleh menatap Dimas yang baru saja menyebut namanya.


"Lihatlah mereka begitu lucu, kita sudah seperti keluarga kecil yang bahagia."Ucap Dimas, namun Mikha kembali mengalihkan pandangannya dan berkata, "Maaf Dimas, tapi mereka masih punya papa. Sepertinya gak pantas kamu berkata seperti itu."


"Papa macam apa? Bahkan mereka berdua tidak pernah bertemu dengannya!"


Mikha nampak menghela nafas, berusaha menyembunyikan emosinya yang mulai tersulut.


"Sudah berapa kali aku bilang, aku yang meninggalkanny." ucap Mikha dengan bibir yang gemetar.


Namun Dimas yang belum mengetahui alasan Mikha untuk pergi, seakan tak menyerah untuk mencari tahu dan juga berupaya mendapatkan hati wanita itu.


"Yang pasti sesuatu yang buruk kan? Kalau tidak mana mungkin kau memutuskan meninggalkannya."


Mikha tampak bangkit dan memanggil kedua buah hatinya yang tengah asik bermain, "Shine, Sunny ayo kita pulang!" Pekik Mikha lalu sekilas menatap tajam pada Dimas.


"Jangan terlalu jauh mencampuri urusan rumah tanggaku, yang jelas seumur hidupku aku hanya mencintai papa mereka."


......................