Oh My Mister

Oh My Mister
Rahasia kecil



Max terus menatap istrinya, memastikan Mikha benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Ia tak ingin pembicaraannya dengan Ryan di dengar oleh istrinya.


"Max, jadi bagaimana? bisa?" Tanya Ryan dengan wajah yang serius, Max hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ryan.


"Hah...kau sudah jujur padanya?" tanya Ryan kembali dan lagi-lagi Max hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Dasar bodoh! kau sudah menikah dengannya, jika semakin lama kau menutupinya pada akhirnya pasti akan terbongkar juga! semua hanya menunggu bom waktu saja untuk meledak, kau akan sangat menyakiti hatinya!"


"Ryan, tapi sangat berat untuk Jujur padanya, Aku tidak mau kehilangannya!"


"Ter...serah kau!" Ucap Ryan mencoba menahan rasa kesalnya.


"A...aku akan coba ke psikolog!"


...***...


Di kamar Max terus-menerus merenungkan perkataan Ryan, ia tahu bahwa semua perkataan sahabatnya itu benar.


Namun ia sungguh takut jika Mikha tidak dapat menerima dan memilih meninggalkannya, itu merupakan mimpi buruk terbesarnya.


"Max, kau kenapa sih aku perhatikan kok bengong terus?apa yang kau pikirkan?" Ucap Mikha yang baru masuk kamar dan menutup pintunya.


"emmm...bukan apa-apa, a...aku hanya memikirkan jika di kita sudah ke London, kau mau tinggal bersama keluarga besar ku atau di apartmentku."


Ucap Max berbohong.


Mikha hanya senyum dan berbaring tepat di samping suaminya, wanita itu sungguh mempercayai apapun perkataan sang suami.


Baginya Max merupakan sosok pria baik dan sempurna, hampir tidak ada celah jelek pada diri pria itu.


"Dimana saja, asal terus bersamamu."


"Kira-kira kau mau kita program hamil langsung apa nanti saja?" sambung Mikha melanjutkan perkataannya.


Maxim tergagap mendengar perkataan istrinya, rasa bersalah semakin besar memenuhi perasaannya.


"A...aku tidak terlalu terburu-buru, ba.. bagaimana Tuhan berkehendak saja."


"Kau mau anak perempuan atau laki-laki? aku selalu memikirkannya kita bermain dengan anak-anak kita, itu sangat menyenangkan! pasti mereka akan cantik atau tampan sepertimu."


Mikha terus merancau, memikirkan segala impiannya bersama sang suami, namun semakin Mikha berucap dan mengungkapkan angan-angannya maka hati Maxim terasa semakin sesak.


Pria itu sungguh merasa bersalah yang teramat besar pada istrinya.


"Kalau anak kita laki-laki aku mau memberi nama dia Sunshine Ananda Larry, jika perempuan Sunny adinda Larry! karena mereka bagaikan sinar mentari yang cerah bagi kehidupan pernikahan kita."


Ucap Mikha yang lalu memeluk erat suaminya.


Max hanya tersenyum masam mendengar seluruh celotehan sang istri, ia lalu membalas pelukan sang istri dan mengecup pucuk kepala Mikha.


"Iya...iya terserah Nyonya muda Larry saja, sekarang tidurlah. Besok pagi kita harus berangkat ke Jakarta." Ucap Maxim membelai lembut rambut Mikha.


"Maafkan aku sayang, aku egois memaksamu masuk ke kehidupanku." Gumam Max dalam hatinya yang paling terdalam.


...***...


Malam itu Indah tidak dapat memejamkan matanya, pikiran penuh di isi oleh Jhon.


Pria dewasa itu benar-benar telah mencuri hatinya, mencuri cinta pertamanya.


Indah termenung dan duduk di teras rumah Dilla. setidaknya angin malam mampu menyejukkan segala pikiran dan perasaan yang tak menentu.


Tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi, pada layarnya tertulis kata "Mami".


"Hallo Mih, ada apa?" Ucap Indah, berbicara lewat ponselnya


"Papi?" tanya Indah.


"Iya, kemarin papi datang dan meminta maaf pada Mami, ia juga mengatakan ingin rujuk dengan Mami tapi Mami tak bisa menjawabnya tanpa persetujuan darimu."


"Besok aku pulang, nanti kita bicarakan lagi di rumah mih.


Indah memutus panggilan teleponnya, ia menghembuskan nafas panjang. Lagi-lagi ada saja yang membebani pikirannya.


Indah adalah anak semata wayang dari pasangan Arjun Widandi Kusumo dan Vera Permatasari, sebenarnya ia berasal dari keluarga yang kaya raya.


Ayahnya adalah seorang pengusaha batu bara yang sukses di Kalimantan, namun beberapa tahun yang lalu ibu dan ayahnya harus bercerai karena wanita ke tiga yang merupakan sekretaris pribadi ayahnya.


Indah memilih mengikuti Ibunya yang pergi ke Jakarta, walaupun ia harus melepaskan kehidupan mewahnya dan bekerja keras demi sang ibu.


Indah juga memilih tidak menceritakan latar belakangnya kepada siapapun karena menurutnya itu sangatlah tidak penting, apalagi kini ia memiliki dua orang sahabat yang menerimanya kala senang ataupun susah.


Sangat berbeda dengan teman-temannya kala itu yang hanya datang saat ia senang dan menjauhi bahkan mencibir Indah saat ia terpuruk.


...****************...


Suasananya pagi di kediaman Mikha sangatlah mengharu biru, kedua orang tua Mikha dengan berat harus ikhlas melepaskan Putri sulungnya pergi mengikuti sang suami untuk tinggal di negeri orang.


Bu Yani terus memeluk erat putrinya sulungnya, begitu pula Rika yang memeluk kakaknya.


"Mba maafin aku ya." Ucap Rika kepada kakaknya, Mikha mengelus rambut hitam milik sang Adik dan tersenyum.


"Ia de, mba titip bapak dan ibu ya... kamu juga jangan nakal, belajar yang rajin, kan katanya mau jadi Dokter hebat." Ucap Mikha kepada Rika.


"Le, Bapak titip Mikha ya... Jaga Putri bapak baik-baik, ingatkan dia untuk selalu beribadah tepat waktu." Ucap Pak Ali kepada menantunya yang bersimpuh di hadapannya.


Setelah selesai berpamitan, Mikha dan Max serta teman-temannya memulai perjalanan mereka ke Jakarta sebelum akhirnya kembali ke London.


Sementara orang tua Dilla masih berada dikampung untuk menikmati liburan mereka.


Sepanjang perjalanan di bandara banyak orang yang seolah memperhatikan mereka, bahkan tak segan beberapa gadis meminta foto kepada Max dan teman-temannya.


Mikha menatap bingung dengan pemandangan di hadapannya, sepertinya ia harus menanyakan semua pertanyaan yang telah di simpan di hati kepada suaminya.


Sesampainya di Jakarta David, Jerry dan Ryan pergi ke sebuah hotel yang telah mereka pesan di sebuah wilayah elit di pusat kota Jakarta.


Sementara Dilla dan Indah kembali ke rumah mereka masing-masing dan pasangan pengantin baru itu pergi ke runah kost yang dahulu mereka huni.


"Eh mas Mister balik lagi sama neng Mikha." Sapa bang Udin si satpam penjaga rumah kost itu.


"eh bang Udin, ini oleh-oleh dari kami sekalian aku mau pamit besok sudah harus pindah." Ucap Mikha sambil memberi sebuah paper bag kepada bang Udin


"Lah kok dadakan, mau pindah kemana neng?"


"Aku harus ikut suamiku ke Inggris bang." Ucap Mikha melirik Max yang berada di sampingnya.


"Walah, eneng sama mas bule sudah nikah? wah apa Abang bilang, awal ribut-ribut mulu nanti juga jadi jodoh. Selamat ya semoga langgeng Sampai tua." Ucap Bang Udin dengan senyum yang merekah.


Setelah membersihkan tubuhnya, Mikha membaringkan tubuh di kasur berukuran kecil miliknya, sebelum ia mempacking seluruh barang miliknya setidaknya ia mau beristirahat terlebih dahulu melepas rasa lelah.


Tak lama ia mengingat kejadian di bandara.


"Max, sini deh." Ucap Mikha Kepada suaminya yang baru selesai mandi.


"Kenapa sayang?" Ucap Max yang segera duduk di kasur lantai milik Mikha.


"Max tolong kamu jujur, aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku. Sebenarnya kau itu siapa? mengapa banyak orang mengenalmu?" Tanya Mikha menatap tajam wajah suaminya.


...***...