
Indah menatap tajam suaminya, berharap penjelasan yang masuk akal akan keputusan konyol yang telah di ambil Jhon. Bagaimanapun ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rhine, terlebih dari tatapan wanita itu yang sungguh seakan tersembunyi suatu rencana yang di balut seapik mungkin.
"Jhon, dia mantan temanmu kan? yang sudah meracuni ibunya Bella?" Tanya Indah memulai pembicaraan.
Jhon nampak terkejut mendengar pertanyaan istrinya karena sesungguhnya ia tidak pernah menceritakan apa-apa tentang Rhine kepada Indah.
"Kenapa kamu diam? jawab! maksud kamu apa, Jhon?" Pekik Indah yang mulai tersulut emosi.
"Sayang, dengar dulu penjelasanku" Ucap Jhon yang langsung menceritakan semuanya tentang Rhine bahkan kondisinya saat ini.
"Kau kasihan padanya namun kau tidak memikirkan perasaanku!" Sindir Indah tersenyum masam.
"Indah kenapa kamu bilang begitu? aku gak bermaksud lain."
"Heh...pantas saja kau menyuruhku berhenti bekerja, ternyata dia muncul lagi di hidupmu."
"Honey, sudahlah jangan di perpanjang. Ini hanya masalah sepele kenapa di besar-besarkan!"
"Sepele? sepele katamu! Dia yang sudah membunuh istrimu dulu! apa kau mau dia juga membunuhku!" Pekik Indah dengan nada bicara yang telah meninggi.
"Cukup Indah, dia sudah berubah jangan terus menerus menyudutkannya dan berhentilah bersikap kekanak-kanakan!" Bentak Jhon kepadanya istrinya.
"Kekanak-kanakan? Oh, Ok!"
BRAKKKK!!!
Indah membanting pintu ruang kerja suaminya sedangkan Jhon tampak menahan emosi karena cara bicara sang istri kepadanya.
Indah segera kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil tas miliknya lalu segera pergi.
Wajahnya merah padam menahan marah, dan mengabaikan seluruh tatapan karyawan yang tampak bertanya-tanya.
Hingga ia berpapasan dengan seorang wanita, wanita yang telah menjadi duri dan akar segala masalahnya.
Wanita itu tampak tersenyum ramah pada Indah.
"Heh, jangan kau pikir aku tidak tau kedokmu. Berhentilah memasang topeng menjijikanmu di hadapanku! dasar wanita ular! ingat, aku tidak takut padamu!"
Ucap Indah setengah berisik kepada Rhine.
......................
Sedangkan Jhon mengusap wajahnya kasar, ia sangat menyesal telah membentak istrinya terlebih Indah kini tengah mengandung darah dagingnya.
Pikirannya melayang-melayang, mungkin tindakannya memang bodoh membiarkan Rhine dan memaafkannya begitu saja.
Namun semua bukanlah tanpa alasan, mengingat dosa yang pernah ia perbuat pada Rhine hingga membuat wanita berubah menjadi wanita yang jahat.
......................
Flasback ON - PoV Jhon
"Cello" itulah nama panggilan yang selalu ia sebut untukku.
Namanya Rhine Charly, gadis cantik yang telah lama menjadi sahabatku sejak sekolah.
Ia merupakan gadis yang begitu lembut dan juga ramah, dan selalu setia menemaniku hingga menjadi tempatku bersandar kala lelah.
Sebenarnya aku tahu dia mempunyai perasaan yang istimewa kepadaku, namun aku memilih pura-pura tidak tahu karena aku hanya menganggapnya sebatas sahabat.
Hingga malam itu tiba, Aku di temani Rhine untuk mengurus pekerjaanku di luar kota sekaligus liburan karena bertepatan dengan hari ulang tahun gadis itu.
Namun sayangnya permasalahan di sana terlalu alot di tangani oleh diriku yang masih muda hingga semua memakan waktu dan akhirnya aku mengabaikan Rhine.
Malam itu aku mabuk karena kecerobohanku yang terlalu banyak meminum minuman beralkohol, Rhine yang menemaniku langsung membawaku ke sebuah hotel agar aku beristirahat.
Entah apa yang terjadi, aku terbangun kala sinar matahari mengusikku. Namun aku merasakan ada yang janggal.
Aku terperanjat melihat Rhine tertidur di sampingku dengan kondisi tubuh polos kami yang hanya di tutupi oleh selimut yang sama.
Aku mencoba mengingat-ingat walaupun kepalaku sungguh terasa pusing, mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle ingatan yang terjadi kala ku di bawah pengaruh alkohol.
Aku termenung, aku mengingat semuanya! bahkan aku mengingat kala kejantananku yang memaksa menerobos dan merobek selaput daranya.
"Bodohhh!!!" Pekikku gusar yang akhirnya membangunkannya.
Kami akhirnya mendiskusikan masalah ini dengannya, ia menangis mengungkapkan seluruh perasaannya padaku namun aku yang berhati batu ini sama sekali tak peduli.
Bukankah sudah biasa pergaulan seperti ini di lingkunganku? aku sama sekali tidak ingin ambil pusing. Bagiku semua hanya cinta satu malam!
Aku yang masih muda kala itu sungguh begitu egois mencampakkan perasaan Rhine begitu saja, namun gadis itu tetap setia di sisiku hingga akhirnya aku mendapatkan kabar buruk.
Rhine hamil! ia memberi tahu ku bertepatan dengan malam sebelum pernikahanku dengan Emily, gadis yang di pilihkan Daddy untukku.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Rhine memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Sesungguhnya aku merasa bersalah padanya namun apa daya, pernikahan sudah tinggal menghitung jam dan tidak mungkin aku batalkan.
Sejak saat itu Rhine berubah, sesungguhnya aku mengetahui seluruh kejahatannya pada Emily namun aku memilih menutup mata.
Berkali-kali aku mencoba berbicara padanya agar tidak mengusik Wanita yang tidak berdosa itu namun semua hanya menambah kebenciannya pada istriku.
Hingga aku tak menyangka akibat dari perbuatannya, Emily benar-benar menjadi korban. Ia mengidap kanker rahim akibat obat yang diam-diam Rhine masukan ke makanan yang selalu ia buatkan untuk Emily tanpa sepengetahuanku.
Daddy yang mengetahuinya sungguh murka begitupun aku namun kembali lagi, semua akibat dosa-dosa diriku padanya. Kenapa dia tidak membalas padaku saja? kenapa harus Emily yang tidak tahu apa-apa menjadi korban kami!
Aku yang masih merasa bersalah padanya hanya mampu mengasingkannya ke Amerika dan aku lebih fokus kepada Emily, mencoba menyayanginya walaupun entah mengapa aku tetap tidak bisa mencintainya.
Hingga saat itu tiba, aku benar-benar hancur. Emily meninggal saat melahirkan putri kecil kami, ia menghembuskan nafas terakhirnya karena komplikasi kanker rahim yang ia derita di tambah ia yang memaksakan kehamilannya, aku benar-benar merasa bersalah padanya.
Selepas kepergian Emily aku benar-benar menutup rapat hatiku untuk wanita, hidupku ku curahkan untuk keluargaku dan malaikat kecilku yang bernama Bella.
Hingga kini tidak ada yang tahu kisah kelamku bersama Rhine, aku menyimpannya rapat-rapat bahkan dari keluargaku dan sahabatku David sekalipun.
Flashback Off
......................
Jhon segera mencari Indah ke ruang kerjanya, namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi istrinya walaupun tetap tidak tersambung.
Sementara Indah memutuskan untuk pulang, ia mengurung diri dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Seandainya saja Mikha tidak sedang marah padanya mungkin saat itu ia akan bercerita dan mencurahkan keluh kesah pada sahabatnya.
"Kha, gue butuh lu. Maafin gue Kha" Ucap Indah lirih, hatinya begitu sesak kala Jhon lebih membela Rhine di banding dirinya.
^^^Bersambung...^^^
......................