
Indah baru saja melangkahkan kakinya di halaman rumahnya yang berada di salah satu pemukiman padat penduduk di pinggiran ibu kota.
Ia melihat sepasang sepatu pantofel merk terkenal nan mahal tertata rapih di depan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum" Indah mengucapkan salam sebelum memasuki pintu rumahnya yang memang sudah terbuka.
"Waalaikumsalam, eh anak mami sudah pulang!" Ucap seorang wanita paruh baya, yang langsung menghampiri Indah dan memeluknya.
"Ada papi, mih?" Tanya Indah berbisik kepada ibunya dan di jawab dengan sebuah anggukan serta senyum oleh Bu Vera.
Indah melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya, ia melihat seorang pria paruh baya di ruang tamu rumahnya dan tersenyum melihatnya.
"Indah!" Ujar pria itu yang tidak lain adalah pak Arjun, ayah kandung Indah.
"Iya pi." Ucap Indah dan langsung menculium tangan ayah yang telah lama tidak dilihatnya.
"Kamu semakin cantik Nak, Indah papih minta maaf atas semua kesalahan papi, papi menyesal Nak!" Ucap pak Arjun lirih denagan mata yang telah berkaca-kaca.
Pria itu sungguh meminta maaf hingga bersimpuh kepada anak dan mantan istrinya, ia sungguh-sungguh ingin membina rumah tangga yang harmonis dan sehat kembali.
Kehilangan anak dan istrinya cukup membuat pria kaya itu menderita, ia juga membuktikan bahwa ia tidak berselingkuh dengan sekretarisnya.
Itu semua hanya jebakan sekretarisnya yang memberikan obat per*ngsang hingga ia tidur dengan wanita licik itu dan membuat rumah tangganya hancur berantakan.
Bertahun-tahun ia depresi, mencari anak istrinya yang tak kunjung di temukan. Hingga akhirnya ia menemukan foto Indah di internet saat sedang menghadiri pernikahan Maxim dan Mikha.
Pria itu langsung mencari tahu dan akhirnya menemukan alamat rumah Indah.
"Jadi bagaimana nak, apa kamu setuju?" Tanya Bu Vera dengan mata penuh harapan, sesungguhnya ia masih sangat mencintai mantan suaminya.
Indah tersenyum dan mengangguk, kini keluarga kecil mereka akan kembali utuh kembali.
"Persiapkan dirimu Nak, kita akan kembali ke kalimantan."
Ucap Bu Vera yang membuat Indah terkejut.
...****************...
Mikha masih menatap tajam sang suami, ia sangat menantikan penjelasan akan pertanyaannya.
"Hmmm gimana mulainya ya, jadi Daddy itu pengusaha di bidang pariwisatanya dan kuliner. Banyak taman hiburan, hotel dan Restoran milik keluarga kami di beberapa negara termasuk Resort yang kemarin jadi tempat kita nikah, ta...tapi aku gak bermaksud bohong padamu, karena aku tak punya hak apa-apa untuk itu, aku memilih menjadi musisi dari pada membantu perusahaan daddy."
Ucap Max penuh kehati-hatian.
"Sungguh?" Ucap Mikha menyelidik.
"Aku bersumpah!" Jawab Max bersungguh-sungguh dan mengangkat tangan kanannya.
Mikha menghela nafas, rasanya masih ada yang janggal pada suaminya.
"Sayang, apakah kamu kecewa tidak menjadi istri seorang CEO?" Tanya Max menatap istrinya.
"Untuk apa aku kecewa, bermimpi menjadii istri CEO pun aku tidak pernah. Max, apa pun pekerjaan kamu selama itu halal maka aku akan terus mendukungmu! aku cuma tidak mau ada rahasia antara kita berdua."
Perkataan Mikha menjadi tamparan keras bagi Maxim. Ia sungguh belum siap jika harus mengatakan semua rahasia pada dirinya.
"Lalu mengapa kau begitu terkenal? kau kan bukan seorang CEO, apakah seorang penyanyi kafe di sana bisa begitu boomingnya ya?" Tanya Mikha kembali dan membuat Max tertawa lepas mendengar pernyataan polos dari istrinya.
"Sayang ... Sayang ...aku cuma bilang kalau aku seorang penyanyi tapi aku gak pernah mengatakan kalau aku hanya penyanyi kafe, ihh kamu ini..."
...****************...
Tak terasa waktu sudah hampir pukul 16.00, Dilla dan Indah kini sudah berasa di depan rumah kost Mikha untuk menemani Mikha mengucapkan perpisahan ke rekan-rekan kantornya dan mengembalikan seragam kerjanya, karena besok pagi-pagi Mikha dan Max sudah harus berangkat ke London.
Kini mereka pergi menaiki sebuah Taksi untuk berangkat ke tempat kerjanya.
"Mikha!!!" Pekik Mba Evi saat melihat Mikha datang, wanita itu segera berlari dan memeluknya.
"Kamu beneran mau Resign? Kenapa?" Tanya mba Evi.
"Iya mba, aku harus ikut suamiku." Jawab Mikha.
Kini semua rekan-rekan kerjanya berkumpul mengelilingi Mikha, kecuali seorang wanita yang terus menatap sinis kepadanya siapa lagi kalau bukan Resti.
Karena jam pulang sudah tiba, ia langsung berlalu begitu saja tanpa peduli Hingga sampai di lobby ia melihat seorang pria asing yang sedang sibuk bermain ponsel seakan sedang menunggu seseorang. Wajah yang terlihat tampan walau tertutup masker medis membuat wanita itu penasaran.
"Hai!!! sendirian aja nih" Sapa Resti sok akrab.
Walau tanpa di pedulikan, wanita itu tanpa tahu malu tetap duduk di samping Maxim.
"Perkenalkan aku Resti, nama kamu siapa?"
Ucap Resti mengulurkan tangannya sambil terus membetulkan posisi duduknya sehingga membuat rok pendeknya semakin terangkat.
"Sudah selesai sayang?" Ucap Max tiba-tiba beranjak dari duduknya.
Mikha baru saja turun ke Lobby bersama Dilla, Indah, dan beberapa rekan kerjanya.
"Aduh baru juga di tinggal sebentar kok udah ada lalat nempel sih!" Sindir Dilla kepada Resti.
"Hah? owh ...ternyata dia bule miskinnya si Upik abu! cih... sorry gak level!" Ucap Resti berdecak kesal.
Mendengar istrinya di hina, Max yang dari tadi tidak peduli kini sudah mulai terprovokasi oleh ucapan Resti. Tanpa berpikir panjang ia segera membuka masker yang ia gunakan, sehingga membuat semua orang yang mengenalinya di buat terkejut tak terkecuali Resti.
"Max!!!" Pekik semuanya orang serempak.
"Tolong jangan hina istriku! dan bukankah kau dari tadi menggodaku dengan terus memamerkan paha kurusmu yang tidak ada bagus-bagusnya itu!"
Ucap Max dengan pandangan tidak suka kepada wanita itu.
"Dasar Jal*ng!!!"
Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya menarik rambut Resti dari arah belakang, di ikut seorang pria tua yang tertunduk mengikutinya dari belakang.
"Bisa-bisanya kau menggoda suamiku! apa kau pikir saya tidak tau bahwa kemarin kalian bermalam di hotel X! Jal*ng tidak tau diri!" Pekik wanita tua itu dengan kemarahan yang meluap-luap.
Kini Mikha dan teman-temannya melihat drama pelakor secara langsung, hingga beberapa orang penjaga keamanan melerai mereka dan Resti di panggil menghadap HRD. Entah apa yang akan terjadi pada wanita itu, ia sudah beberapa kali mencoreng citra perusahaan.
Kini fokus semua orang tertuju pada Maxim, mereka tampak bergerombol meminta tanda tangan dan foto bersama Maxim.
Max sesekali melirik istrinya yang setia memandanginya dengan tatapan tajam seolah menanti penjelasan sang suami.
Sedangkan Indah dan Dilla menahan tawa melihat ekspresi Maxim yang mulai terlihat cemas.
" Lihat dia, Dasar Bucin Isti (ikatan suami takut istri), tamatlah riwayatmu!"
Bisik Dilla kepada Indah yang hampir tak tahan untuk melepaskan tawanya.
...****************...