Oh My Mister

Oh My Mister
Penderitaan Jerry



Pernikahan adalah suatu ikatan sakral nan suci.


Namun jika diawali oleh cara yang tidak baik, akankah ikatan suci itu akan berakhir baik?


Cinta itu memang bisa membuat seseorang mabuk namun jangan pernah menjadi bodoh dan bahkan buta dengan sebuah kebenaran hanya karena cinta.


......................


Seusai melakukan pemeriksaan, Indah segera menghampiri suaminya yang juga baru saja selesai melakukan khitan. Dengan menahan tangis ia memeluk erat tubuh Jhon dan menceritakan semua analisa dokter pada kondisi kandungannya.


Bibirnya bergetar hingga kedua air yang tertahan di kedua netranya lolos begitu saja karena luapan emosi yang berkecamuk di dalam hatinya.


Jhon hanya bisa memeluk sang istri dan mengecup pucuk kepalanya, sebisa mungkin ia mencoba menenangkan Indah agar tidak begitu tertekan.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah!" Ucapnya, memeluk tubuh mungil Indah yang bahkan hanya setengah lebih dari besar tubuhnya.


Jemarinya mengusap lembut pipi sang istri yang sudah basah karena air mata yang tiada henti.


"Aku mau gendong kamu tapi sayang masih sakit nih." ucapnya dengan pandangan tertuju pada bagian bawanya yang habis sedikit di amputasi, Indah sedikit mengulas senyum geli dengan tingkah suaminya.


"Nah gitu dong senyum, kan cantik!" Ucap Jhon mengecup kening istrinya.


......................


Malam hari di Apartemen miliknya, Jerry dan Dilla asik menonton televisi sambil memakan Snack yang tersedia. Memang pasangan ini paling berbeda dari yang lain, tidak terlihat romantisme pada keduanya mungkin karena Jerry masih menjaga jarak dengan istrinya hingga ia pulih.


Kruk...Kruk...


Suara perut Jerry jelas terdengar dan berhasil membuat Dilla tertawa terbahak-bahak.


"hahaha itu perut dangdutan!" Pekik Dilla asik menertawakan suaminya.


"Laper nih, bikin pasta yuk yank" Ucap Jerry sambil mengelus-elus perutnya.


"Emang kamu bisa bikinnya?" tanya Dilla, Jerry hanya tersenyum renyah sambil menggelengkan kepalanya.


"Ampun deh, aku masak aja gak bisa Jer."


"Loh bukannya kamu dulu suka masak sama Mikha?" tanya Jerry mengingat-ingat saat di Jojga Mikha dan Dilla selalu masak bersama-sama.


Dilla tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Selama pernikahannya yang hampir genap 2 bulan memang ia selalu memesan makanan dari luar atau makan di luar bersama suaminya. Namun Jerry menganggap semua itu karena mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaan.


"Hehehe aku emang bantu Mikha masak, T-tapi cuma bantuin nyicipin, potong-potong bahan atau nyuci sayur dan piring." Ucap Dilla malu-malu.


Jerry tertawa mendengar pengakuan jujur dari istrinya, ia mengacak-acak rambut Dilla dan mencubit gemas kedua pipi istrinya.


"Ya sudah kita belajar masak yuk, bikin pasta doang. Gampang!!!" Ucap Jerry beranjak dan mengulurkan tangannya pada Dilla.


"Mau kamana?"


"Ayo kita beli bahan di supermarket bawah aja." Ucap Jerry menarik tangan istrinya.


Di supermarket tampak Jerry dan Dilla asik memilih-milih bahan makanan, dari sayuran, susu, daging hingga buah-buahan.


Dilla fokus memilih-milih telur hingga tidak disadar Jerry telah menghilang dari sampingnya.


Sementara itu seorang wanita berparas cantik dan mempunyai bentuk tubuh layaknya gitar Spanyol serta berbalut pakaian yang begitu terbuka, tengah memperhatikan Jerry yang sedang fokus memilih beberapa jenis keju, tanpa ragu dan malu ia segera berlari menghampiri dan memeluk Jerry dari arah belakang.


"Babehhh, kamu kemana saja tidak pernah menghubungiku lagi" Ucap wanita Itu dengan merekatkan erat buah dada over size miliknya, yang nyaris tumpah dari cangkangnya ke punggung Jerry.


Jerry yang terkejut berusaha keras melepaskan pelukan wanita itu.


"Lepas Sharon! Kau membuatku risih!" Pekik Jerry melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar.


"Kenapa? apa kau tidak rindu denganku?" Ucap wanita itu yang tanpa sopan santun membelai dada dan wajah Jerry.


Jerry nampak menahan salivanya berat, bukannya ia tergoda namun ia takut jika Dilla melihat dan salah paham padanya.


"Cukup Shar, aku sudah menikah! jangan membuatku bertindak kasar padamu!"


Prak!!!


" Wedus! Punya nyawa berapa koe rayu-rayu bojoku? tak pateni koe!"


Pekik Dilla dengan bahasa dan logat Jawanya yang tiba-tiba melemparkan beberapa telur tepat ke kepala wanita itu.


"What The f*ck! Dasar wanita gila!"


"Apa Lo ngatain gue gila! berani lu sama gue! kalau kegatelan sama suami orang sini gue garukin pake garpu!" Dilla tampak berdecak pinggang dengan mata melotot sempurna, setidaknya berhasil membuat wanita itu begidik ngeri melihat harimau betina asli negara berkode +62 yang berada di hadapannya.


"Ada apa ini ribut-ribut, mohon jangan membuat keributan disini."Ucap seorang petugas keamanan yang tiba-tiba datang melihat huhu hara disana.


"Ada wanita gila!" Pekik Sharon menunjuk ke arah Dilla.


"Kau yang gila, dasar J*lang!" Pekik Dilla tak mau kalah dan menarik rambut wanita blonde bertubuh lebih tinggi yang berada di hadapannya tanpa perasaan.


Petugas keamanan itu pun tidak mampu menahan keberingasan Dilla yang marah dan mengamuk hingga Jerry menarik paksa istrinya sementara satpam tersebut menarik dan mengamankan Sharon.


......................


Akhirnya permasalahan selesai dengan jalur damai walau begitu Dilla yang masih kesal tampak merajuk berjalan mendahului suaminya.


"Dil tunggu dulu, yank sayang!" Pekik Jerry yang tampak kerepotan membawa barang belanjaan dan berjalan mengejar Dilla yang sudah terlebih dahulu memasuki lift


Ting!


Pintu lift tertutup, Dilla meninggalkan Jerry di lantai dasar gedung Apartemen. Pria itu hanya bisa menghela nafas pasrah melihat tingkah Dilla.


"Sabar, untung cinta!" gumam Jerry yang nampak mengelus dadanya.


Jerry segera menyusul istrinya, ia mencari Dilla ke seluruh sudut ruangan namun tak kunjung bersatu di temukan, hingga akhirnya ia menemukan sang istri dapur sedang mengeluarkan sebuah sosis berukuran besar dari kulkas dan juga sebuah mentimun.


"Yank, aku cari kamu kemana-mana loh. Udah dong marahnya kan aku udah nolak dia terus." Ucap Jerry perlahan mendekati istrinya yang tampak menunduk.


"Jer, aku dengar semuanya loh! dari perkataannya aku sudah mengetahui kau pernah tidur dengannya! apa benar Jer?" Ucap Dilla dingin membuat Jerry begidik ngeri dengan ekspresi sang istri.


"itu dulu, udah lama banget! sumpah setelah kenal denganmu aku gak macam-macam lagi!"


"Cihhh buktinya setelah kau menikah denganku, kau baru memutuskan pacar-pacarmu itu!" Ucap Dilla sinis, Jerry hanya menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Awas ya kau main serong di belakangku, nasib burungmu akan sama seperti ini!"


Tak! Tak! Tak!


Dilla memotong sosis dan mentimun di hadapannya dengan sebuah pisau khusus daging tanpa perasaan, Jerry tampak pucat dan merinding melihat aksi bar-bar istrinya.


Wanita itu menoleh suaminya dengan tatapan membunuh dan menyudutkan Jerry hingga merapat ke tembok.


"Aku dengar dia bisa banget ya memuaskanmu, emang dia aja yang bisa! sembarangan!" Ucap Dilla dingin dan mulai meraba dada kekar milik suaminya


"S-sayang ja-jangan" Ucap Jerry lirih, pria itu nampak menutup mata dan berkeringat dingin.


Jari jemari tangan kiri Dilla nampak menyelusup kedalam kaos yang di kenakan suaminya, sementara tangan kanannya mengelus lembut pipi dan dagu Jerry yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.


"He-henikan sayang, aku nggak kuat." Ucap Jerry menahan nafasnya, tanpa aba-aba Dilla merapatkan dadanya pada dada sang suami sementara bibirnya untuk pertama kali mengecup dan Mel*mat bibir suaminya. (Dilla kebanyakan baca part honey honey para penulis laknat singa.co terutama karya NA_Sari sang ratu +21 dan Konzume Kenma!)


"Ahhh sayang, aku gak tahan!"


Jerry membalas kecupan bibir sang istri dengan rakus


dan tangannya mulai menyentuh buah dada milik istrinya, hingga ia mulai merasa miliknya sudah mulai berdiri tegak kokoh dan ....


"S-SAKITTTT!!!!!!!"


...😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭...